Terpana Asmara Tuan Perkasa

Terpana Asmara Tuan Perkasa
Bab 21


__ADS_3

Sekitar lima belas menit kemudian, Bebi berdiri mendahului Rico dan Wicaksono hingga membuat dua pria itu mendongak dengan tatapan heran.


"Sudah?" Tuan Wicaksono menyergah.


Bebi hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Pasti doanya asal-asalan. Rico langsung berburuk sangka dalam hati. Tatapannya terarah pada Bebi yang masih diam dengan tangan terus menyusut air matanya berkali-kali.


"Aku mau pulang sekarang," lirih perempuan itu mengalihkan pandangannya dari tatapan Rico. Ia sudah lebih dari cukup merasakan ratapan derita di tempat ini. Bebi tidak suka!


Semakin lama di tempat ini, hasrat ingin ikut mati semakin datang menyeruak di hati. Bebi ingin pulang agar bisa menangisi kepergian ayahnya lebih puas di dalam kamar.


Dibantu oleh Rico, Wicaksono ikut berdiri seraya membenarkan tongkat untuk menopang tubuhnya yang sudah sakit-sakitan. Sejak operasi ginjal beberapa waktu lalu beliau mulai tidak bisa lagi berjalan normal. Harus menggunakan tongkat atau kursi roda seperti ini.


"Kamu antar dulu saja istrimu ke mobil, ayah masih ingin lebih lama di sini." Rico mengangguk sambil melirik ke arah Bebi kembali.


Satu tangan Wicaksono merogoh kantung jas untuk meraih sesuatu. "Oh ya, ayah ingin memberikan surat titipan dari ayah Bebi sekarang saja." Beliau mengulurkannya surat yang baru saja dirogohnya pada Rico. "Baca berdua di dalam mobil," ucapnya.


"Hmmm." Rico mengangguk lagi kemudian mengambil surat itu dari tangan Wicaksono. Pria itu beralih pada sang istri. Dengan cekatan ia menarik pundak loyo Bebi seraya menundukkan kepalanya untuk melihat wajah Bebi yang sedari tadi tertunduk menatapi tanah.


"Yakin sudah puas di sini, Beb? Sudah cukup berdoanya? Jangan sampai nanti malam kamu kangen ayahmu dan memintaku untuk mengantarkan ke sini lagi. Berdoa lagi sana, masa untuk ayahnya cuma sebentar!"


Plakk!


Kali ini tepukan kasar dari seorang Wicaksono yang murka mendarat mulus di pundak sang anak. "Jaga bicaramu, Ricooo! Berdoa bisa di mana saja. Istrimu sedang kelelahan. Hatinya berduka!"


Pria itu tak menggubris kemarahan ayahnya sama sekali. "Baiklah, ayo kita pulang! Jika ayahku yang meninggal mungkin aku tidak akan berdoa sama sekali," sungutnya penuh sindiran telak pada sang ayah.

__ADS_1


"Jangan bicara sembarangan di pemakaman, Rico! Kau ini!"


Wicaksono melotot geram. Hatinya berusaha sabar sembari mengelus dada berulang-ulang. Walau tahu omongan Rico tidaklah serius. Namun setengah batinnya kesal sekali dengan ocehan busuk anak itu.


Setelah itu Rico berbalik bersama Bebi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Wicaksono sempat memandang punggung mereka berdua sebelum akhirnya bersimpuh kembali di depan pusaran sahabatnya.


"Aku sudah memberikan suratnya. Kamu tidak perlu khawatir di alam sana, Di. Anakmu pasti baik-baik saja." Pria itu menoleh kembali ke belakang, terlihat Rico menuntun Bebi dengan perhatian penuh saat masuk ke dalam mobil.


Menandakan pecinta Irene Red Velvet itu masih memiliki sedikit perhatian pada sang istri.


*


*


*


Sekembalinya mereka ke dalam mobil, Rico langsung menyuruh supir untuk menyusul ayahnya. Ia takut terjadi sesuatu pada tuan Wicaksono jika ditinggalkan sendirian saja di pemakaman.


“Jangan nangis, besok aku kasih uang dua puluh juta untuk beli Diamond yang banyak. Katanya kamu mau punya Skin limited edition!” Rico tersenyum bodoh. Untung ia ingat kalau Bebi pernah merengek minta uang tambahan untuk membeli Skin Hero.


"Nanti aku kasih uangnya di rumah. Janji!" ucapnya kemudian menghapus jejak air mata Bebi menggunakan sapu tangannya.


"Jangan nangis ya!"


Bebi berpaling memandang kaca sebelahnya. Rayuan terbaik yang Rico keluarkan tak ampuh sama sekali.


Ia sampai pusing harus berbuat apa agar Bebi mau berhenti menangis. Meskipun tidak ada suaranya, tapi Rico sangat terganggu melihat keadaan Bebi saat ini.

__ADS_1


Sebenarnya dia beneran nangis atau pura-pura, sih, kesalnya dalam hati.


Diulurkannya surat tadi kepada Bebi. “Ayah bilang kita suruh baca suranya sekarang. Mau dibaca bersama atau baca sendiri dulu?”


Kali ini Bebi mengangguk. “Aku baca sendiri dulu aja.” Melirih, lantas mengambil surat itu dari tangan Rico.


Perlahan tangan Bebi membuka surat yang katanya jawaban dari segala macam bentuk pertanyaan Bebi selama ini.


Rico membiarkan perempuan itu membaca sendiri walau perasaan kepo melanda jiwa. Ia perhatikan setiap inci dari perubahan ekspresi Bebi. Dari yang awalnya sedih, berubah terkejut, lalu semua wajahnya memucat penuh kekalutan.


“Gak! Gak mungkin!” Gadis itu berteriak histeris. Tangannya menelungkup menutupi sebagian wajahnya.


“Kenapa … ada apa?” Rico langsung ikut panik begitu melihat reaksi Bebi setelah membaca surat itu. Dia seperti habis membaca mantra pemuja setan lantas kesurupan.


“Gak, gak mungkin! Aku gak percaya! Ini semua pasti bohong!” teriaknya semakin jadi.


Rico menangkap dua bahu Bebi karena perempuan itu benar-benar mengamuk dan histeris di dalam mobil.


“Hey, ada apa? Kenapa kamu sampai menggila seperti ini setelah membaca surat itu? Kamu tidak dikasih warisan? Atau jangan-jangan kamu habis di prank dan ayahmu tidak jadi meninggal?” Rentetan pertanyaan bodoh keluar dari bibir Rico tanpa sadar.


“A-ayaaahh.”


“Iya, ayahmu kenapa?”


“A-ayyahku … hikss.” Tenggorokan perempuan itu benar-benar tercekat sampai kesulitan bicara. Bibirnya bergetar-getar diikuti guncangan hebat pada bahunya.


"Kenapa … kenapa? jangan membuat orang jadi ikutan panik!” Rico langsung mengambil surat itu dari tangan Bebi untuk membacanya. Mata pria itu langsung membola. Darahnya berdesir dan seketika menarik punggung Bebi untuk dipeluk.

__ADS_1


“Sabar ….”


***


__ADS_2