
Kesedihan Bebi sedikit berkurang setelah berhasil mengerjai suami gila itu dengan perbuatannya.
Ia dapat merasakan bahwa Rico teramat kesal lantaran harus menyuapi dirinya makan yang katanya itu adalah pertama kali bagi pria itu.
Selepas Rico pergi, Bebi berniat memejamkan mata karena rasa kantuk sudah datang melanda sejak tadi. Andai bisa diajak bicara mungkin tubuhnya sudah menjerit meminta jatah istirahat.
Sejenak ia meraih ponsel yang sejak tadi berdering-dering . Terdapat banyak rentan pesan yang tidak ia hiraukan sejak tadi siang. Mulai dari teman-temannya yang mengajak main game, sampai pesan kepo dari teman-temannya yang belum percaya bahwa ia telah menikah dengan om-om.
Setelah membaca pesan-pesan itu, Bebi menaruh ponselnya kembali ke atas nakas tanpa berniat membalasnya satu pun.
Bebi memang karakter wanita yang kurang suka menjalin banyak interaksi ketika hatinya sedang kurang baik. Meskipun itu hanya sekadar mengobrol atau mengirim pesan, Bebi tak suka melakukannya.
"Hoammm!" Mulut Bebi sudah menguap-nguap. Ia merebahkan tubuh letihnya di atas ranjang selepas mematikan lampu utama.
Ia kembali melamun di tengah-tengah pencahayaan lampu pendar. Ingatannya kembali pada kejadian di pemakaman. Saat ia membaca surat berisi fakta menyakitkan dari sang ayah. Surat di mana sang ayah menyuruhnya bertanya pada tuan Wicaksono tentang keberadaan sang ayah kandung.
Bebi tak mau melakukan itu. Demi apa pun Bebi tidak ingin bertemu dengan ayah kandung yang telah menyia-nyiakan hidupnya.
__ADS_1
Jika ayah kandungnya memang peduli, tak mungkin ia membiarkan Bebi dirawat oleh orang yang tak seharusnya.
Bagi Bebi Dianu adalah ayah satu-satunya. Meskipun hubungan mereka kurang baik, tetapi Dianu tak pernah berniat membuang Bebi. Dan terlebih Bebi sudah mengerti alasan apa yang membuat ayah Dianu sangat membenci kelahirannya.
"Arghh!" Tiba-tiba Bebi merasakan sakit yang teramat sangat dari bagian pangkal pahanya. Kali ini sakitnya lebih menuntut dari yang sebelum-sebelumnya.
"Kenapa ini? Apa ini ada hubungannya dengan Dipsy?" Perempuan itu meringis ngilu. Ia langsung memeluk bantal guling untuk meredam rasa sakit yang membuat sekujur tubuhnya ikutan panas dingin.
"Kenapa dengan ituku! Apa aku hamil? Ah, gila! Mana ada melakukan sehari langsung jadi. Pasti ini gara punya dia yang kebesaran! Sialan! Lain waktu aku harus membuat miliknya merasakan sakit yang sama dengan yang aku rasakan!"
Tiba-tiba pintu terbuka disaat Bebi tengah asik ngomong sendiri. Rico datang dengan tidak tahu diri, menyalakan saklar lampu , lantas menutup pintunya kembali seolah ini adalah kamarnya.
"Ngapain kamu ke sini?" gertak Bebi waspada. "Kamu tidak salah masuk kamar 'kan?" Bola mata gadis itu melotot heran ke arah Rico.
"Tentu saja tidak. Malam ini aku harus tidur di sini. Kamarku ditempati ayah. Sepertinya dia mulai curiga kalau selama ini kita tidur terpisah," ucap pria itu seraya melangkah pelan menaiki ranjang.
Bebi refleks menggeser tubuh ke samping. Tak mau secuil tubuhnya bergesekkan dengan manusia sialan yang mengambil kegadisannya secara tidak hormat tadi siang.
__ADS_1
"Jangan naik!" teriak gadis itu penuh nada ancaman. Namun Rico terkesan santai dan tak menanggapi kekesalan Bebi.
"Aku ngantuk! Kalau kamu tidak mau tidur satu ranjang denganku, tidurlah di sofa atau lantai sekalian sana!"
Pria itu sudah berbaring dan membentangkan selimut yang ia bawa setelah mematikan lampunya kembali. Matanya berusaha terpejam agar malam penuh kesialan ini cepat berlalu.
Memang siapa yang sudi tidur sekamar dengan dia kalau tidak kepepet begini, batin pria itu dalam hati. Jika ditawari Rico juga enggan tidur berdua dengan Bebi si jarang mandi.
"Sana pergi! Kenapa kamu masih di sini? Bukannya kamu tidak ingin satu ranjang denganku, kan?
Bebi diam tak membalas. Rasa sakit yang menyerang pangkal pahanya masih bersarang. Terpaksa Bebi diam di tempat lantaran tubuhnya sulit sekali untuk digerakkan.
Aduh, sakit sekali, bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Jangan sampai si gila ini tahu kalau aku sedang menderita sakit luar biasa. Bisa-bisa ia tertawa dan semakin mengejekku seorang yang lemah.
***
Hargai karya ini cukup dengan like, komen, dan jangan pelit-pelit kasih poin gratisnya. Terimakasih.
__ADS_1