Terpana Asmara Tuan Perkasa

Terpana Asmara Tuan Perkasa
Bab 7


__ADS_3

Satu bulan berlalu, neraka di dalam pernikahan itu masih berjalan sebagai mana mestinya walau dilakukan dengan penuh keterpaksaan.


Seperti biasa, setiap pagi pukul tujuh, Bebi selalu datang dan nyelonong masuk ke kamar Rico seenak jidatnya sebelum pria itu berangkat kerja.


Gadis itu membuka pintu kamar agak kasar sampai berbunyi,


Brakk!


"Jatahku hari ini mana?" teriak Bebi tanpa basa-basi. Tidak peduli ia masuk ke dalam kamar Rico saat pria itu tengah bersiap-siap pergi ke kantor, untung Rico sudah pakai baju lengkap.


Dasar gadis tidak tahu etika!


"Bisa tidak ketuk pintu dulu sebelum masuk, hah?"


"Engga bisa, aku sudah telat ngampus! Mana jatah uang jajanku?" Tangannya menodong, membuat Rico langsung mendecak marah melihat aksinya.


"Selingkuh saja sana!"


Kalimat itu keluar dari bibir Rico karena sudah tak tahan menjalani rumah-rumahan dengan boneka berbie versi produk gagal yang satu ini.


Padahal pernikahan mereka baru satu bulan lamanya. Tapi ia sungguh tidak kuat lagi menjalani hidup dengan preman pasar yang tak pernah absen meminta uang sepuluh juta setiap paginya.


Rasanya ingin menembak mati gadis itu dengan MG-24 koleknya, habis itu melemparkan jasadnya ke rawa buaya untuk santapan mereka.


"Hahaha, aku istri setia Om Suami! Mana mungkin aku bisa selingkuh." Bebi menyahut sekenanya.


Sialan! Rico menggeram, mengambil segepok uang dari dalam laci.

__ADS_1


Seringai tawa penuh nada mengejek itu membuat Rico mendengkus dengan lirikan mata malas. Kemudian melempar uang itu dan ditangkap senang oleh Bebi.


"Setiamu meresahkan hidupku! Lama-lama aku bisa miskin jika harus menafkahimu sehari sepuluh juta. Pantas saja kamu dinikahkan, jadi beban keluarga saja sih, bisanya!"


"Bodo amat! Terima kasih banyak uangnya, Om!" Gadis itu berlari riang tanpa peduli. Uang sepuluh juta untuk membeli amunisi game sudah di tangan.


Selang beberapa menit kemudian, sekretaris Rico yang bernama Doni datang untuk menjemput pria itu ke kantor.


Ini sudah menjadi rutinitas barunya sejak tuan Wicaksono pensiun. Setiap jam tujuh sampai setengah delapan pagi Doni akan datang menjemput tuan barunya, Jirico Albraham.


"Selamat pagi Tuan! Hari ini Anda ada jadwal meeting dengan Eco Company dari perusahan asuransi jam sembilan pagi. Ingin membahas tentang kerja sama waktu itu."


"Hmmm." Pria itu mendongak. Tas kerja yang ia siapkan sendiri sudah tergeletak di atas meja. Siap untuk dibawa.


"Don, kamu lihat wanita rambut ungu yang tadi keluar dari ruang kerjaku tidak?" Enggan membahas masalah pekerjaan sepagi ini, Rico mengalihkan pembicaraannya pada si gadis racun yang kini sudah sah menjadi istrinya.


"Iya, dia! Siapa lagi yang aku maksud kalau bukan anak itu. Bagaimana menerutmu? Apakah dia cantik?"


"Maksudnya ,Tuan?" Doni mengernyitkan dua alisnya bingung. Salah-salah bicara ia takut nasibnya akan jadi kambing guling.


"Iya aku tanya ke kamu, istriku cantik atau tidak?"


Demi neptunus! Ingin rasanya Doni bertanya pada kerang ajaib tentang jawaban apa yang harus ia berikan kepada Rico saat ini juga.


Sambil melipat bibirnya canggung, akhirnya pria polos itu menjawab, "Cantik Tuan, kalau tidak cantik Anda tidak mungkin menikahinnya."


"Nah!" Rico menggebrak meja!

__ADS_1


Pria yang baru dua bulan menjadi sekretarisnya itu dibuat terkejut bukan main.


Doni belum begitu paham tentang Rico, apalagi istrinya yang hanya ia lihat sekilas saat sedang menjemput dan mengantarkan Rico kerja.


"Kamu masih jomlo, 'kan?"


Doni mengangguk. "Iya, Tuan!"


"Bagaimana kalau kuberikan Bebi untukmu secara sukarela? Terserah mau kamu apakan anak itu! Aku ihklas!"


"Yang benar saja Tuan! Nona adalah istri Anda." Setelah dibuat terkejut, kini Doni dibuat spot jantung mendengar penuturan bosnya itu.


"Iya, dia istriku! Tapi kalau kamu minat ambil saja untukmu! Aku sudah tidak tahan lagi hidup dengannya. Barang kali jika denganmu dia bisa taubat!"


Dalam sekejap Doni paham bahwa pria itu sedang ada masalah rumah tangga.


"Maaf Tuan! Kalau boleh tahu apakah akhir-akhir ini Anda sedang ada masalah dengan nona Bebi, kenapa Anda bicara seperti itu?"


Rico mengambil tas kerjanya setelah selesai mengikatkan dasi pada kerah lehernya.


"Bukan akhir-akhir ini, tapi hampir setiap hari aku mendapat masalah sejak kehadiran anak setan itu!" tukas Rico.


Membuat Doni melotot saat mendapati bossnya melayangkan kalimat sarkasme tentang istrinya sendiri.


Ada gonjang-ganjing apa di rumah tangga mereka? Kupikir pasangan yang terlihat serasi dari berbagai sisi itu bahagia. Ternyata dugaanku salah!


***

__ADS_1


__ADS_2