
Hamil?
Jantung Rico serasa diajak lomba lari. Sebuah persatuan yang terjadi antara kaum adam dan hawa memang tidak menutup kemungkinan menghasilkan setitik nyawa sebagai penerus bangsa.
Ah, bagaimana ini?
Demi apa pun Rico belum siap menjadi ayah dari anak si Terong Ungu itu. Entah akan jadi seperti apa jika adonan mereka sampai berhasil. Please, demi neptunus dan kerang ajaib, jangan sampai hal itu terjadi.
Karena tak kunjung mendapat jawaban. Akhirnya Bebi berkata lagi. "Maaf, aku hanya memastikan. Terus terang aku phobia dengan anak bayi. Aku takut nasib anakku akan jadi mengenaskan sepertiku. Makannya aku tidak suka hamil. Mungkin konsepnya sama denganmu yang tidak bisa mencintai wanita lain selain Irene Red Velvet. Bedanya aku tidak suka bayi dan belum ada keinginan menjalani kodrat sebagai wanita sungguhan."
Ya Tuhan!
Rico terdiam. Pikirannya berkelana mulai membayangkan hal yang tidak-tidak. Dan hal itu membuat Bebi merasa terabaikan sampai harus menepuk pundak pria itu dua kali.
"Om suami, aku nggak akan hamil 'kan?"
Hentikan! Pertanyaan Bebi benar-benar membuat pikiran Rico makin berantakan.
Duh! Benar yang dikatakan Petasan Banting, bagaimana kalau benih-benih penerus bangsa berhasil lolos sampai garis finish? Apalagi tadi mereka tidak menggunakan pengaman sama sekali, 'kan?
"Aku tidak mau hamil Om!"
Glek!
__ADS_1
Ditelannya ludah sendiri dengan susah payah. Memangnya siapa yang mengizinkanmu hamil bocah tengik?
Kata 'hamil' terus terngiang-ngiang di pikiran Rico. Pria itu menarik ulur napasnya berkali-kali sebelum membalas kekhawatiran yang ada di pikiran Bebi.
"Emm. Tenang saja! Yang kita lakukan tadi siang tidak sama dengan kegiatan bom bom cuap yang dilakukan suami istri sungguhan. Itu hanya semacam kegiatan menyalurkan sel darah putih. Tidak akan membuatmu hamil!"
"Masa sih?" Kening Bebi mengernyit tidak yakin. "Menyalurkan sel darah putih gimana maksudnya?"
Lagi-lagi Rico dibuat tertegun. Jelas dia sedang membohongi Bebi dan diri sendiri yang berusaha meyakini bahwa kegiatan itu pasti tidak akan menghasilkan apa-apa.
"Ya .... ya, semacam menyalurkan sel darah putih! Bukan bibit bayi sungguhan," ujarnya setengah ragu-ragu.
"Aku nggak paham! Tapi yang penting nggak hamil. Itu udah cukup." Perempuan itu menarik selimutnya. Jauh berbeda dengan Rico, ekspresi Bebi terlihat santai dan tenang karena sudah terlanjur percaya terhadap perkataan Rico.
Dia sedikit bergumam-gumam. "Sel darah putih ya, asal nggak hamil, yaudah gak papa, aku gak masalah gak perawan, yang penting jangan sampe ada anak kecil di perut ini." Sambil mengusap-usap perutnya di balik selimut.
"Eh .... Ngomong-ngomong, memangnya kamu beneran tidak bisa mencintai wanita lain selain Irene Red Velvet itu, Om? Hatimu mati begitu? Sebenarnya aku rada aneh! Bisa-bisanya ada orang mati rasa sepertimu. Harusnya kamu homo atau setidaknya anumu impoten."
Sembarangan sekali mulut **a**nak satu itu!
Pertanyaan Bebi berhasil mengalihkan pikiran Rico dari kata hamil yang sejak tadi memenuhi isi kepala.
Pria itu tak langsung menjawab. Ia kembali berbaring di ranjang, menaruh tangannya di bawah kepala seraya menatap langit-langit kamar sejenak.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian barulah ia balik bertanya, "Menurutmu aku orang seperti apa?"
"Aneh," jawab Bebi meyakini tanpa ada rasa ragu saat mengatakannya. "Terlihat biasa-biasa saja, tapi sebenarnya lebih aneh daripada aku soal selera pasangan. Masa iya kamu suka artis Korea sampai segitunya. Hal yang tidak mungkin kamu jangkau sampai kapan pun!"
"Jadi, kamu percaya dengan kata-kataku yang satu itu?"
Membuat Bebi menoleh. Mengangguk polos dengan tatapan tajam menjurus yakin. "Tentu saja percaya, apalagi kamu bilang tidak pernah dekat dengan wanita mana pun selama ini. Bahkan sampai setua ini kamu tidak ada niat mencintai wanita lain, 'kan. Apa namanya kalau bukan setia mencintai yang tidak bisa dijangkau?"
"Hahaha. Dasar kamu, tuh."
"Tapi benar, 'kan?"
Tak ada jawaban. Rico masih terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.
"Kok gak dijawab, Om?" tanya Bebi lagi. Kini tangan satunya bergerak menggeser guling di atas kepalanya ke tengah-tengah mereka sebagai pembatas tidur.
"Kamu juga jomlo! Kenapa sibuk mengurusi perasaanku?" ketus Rico mengalihkan pembicaraan.
"Siapa yang jomlo?" Bebi berseru tidak terima.
"Sebenarnya aku punya pacar di kampus tahu! Malahan ada tiga. Gara-gara tadi siang kamu datang mengaku sebagai suamiku, sekarang gosip pernikahanku menyebar, dan salah satu pacarku tadi sore ngajakin putus."Dengan santainya Bebi bercerita.
Tanpa ia sadari bola mata Rico sudah melotot tajam ke arahnya. Ia terkejut bukan main dengan penuturan bocah tengik satu itu.
__ADS_1
"Jadi kamu berani selingkuh dariku, sialan?"
"Hah, selingkuh. Selingkuh apanya?"