
Pintu di tutup rapat-rapat di mana suasana kecanggungan meliputi dua onggok manusia yang sedang bersitatap di atas ranjang.
'Apa yang harus aku lakukan?'
Keduanya sama-sama memiliki pikiran sama untuk yang satu itu.
Ya, benar! Apa yang harus mereka lakukan di saat situasi tinggal berduaan begini? Rasanya ingin terpejam pun tak bisa jika belum berbasa-basi sekadarnya. Di tambah suasana sunyi dan mengdudukung.
Merasa tak enak hati, akhirnya Rico memberanikan diri mengawali sebuah pembicaraan dengan cara ter-unik yang dia miliki.
"Ehemmm."
Rico berdeham. Membuat Bebi menoleh dengan kerjapan mata canggung.
"Kenapa?" tanya seraya mengernyit dalam.
"Kenapa apanya?"
Pria itu tertegun, beberapa kali ia melirik selang infus yang tertancap di atas punggung tangan kiri wanita itu. Merasa iba, tapi Rico tidak tahu harus bagaimana.
'Aku harus minta maaf, iya minta maaf'
Sudah terbesit pikiran seperti itu di kepala Rico sedari tadi. Namun, bibirnya masih saja mengatup tanpa suara. Bahkan untuk sekadar menanyakan keadaan Bebi saja tidak berani. Ia benar-benar dibuat kehilangan nyali karena hal ini.
"Hari sudah malam, sebaiknya kamu tidur." Setelah ribuan kata di kepala berdesakan minta diucapkan, akhirnya hanya kata itu yang mampu ia keluarkan.
Demi apa pun Rico benar-benar canggung. Bukan karena canggung harus tidur dengan Bebi, melainkan ia merasa bersalah karena Dipsy-nya telah membuat benteng takeshi milik Bebi porak poranda sampai divonis kena gejala tetanus.
"Emmm. Aku belum ngantuk," jawab Bebi pelan. Keduanya kini sudah berbaring dengan lampu menyala terang. Tatapan mereka sama-sama mengarah ke langit-langit kamar sambil meredam segala pikiran yang berkecamuk di sekitaran otak.
"Ya sudah kalau belum ngantuk. Sekarang kamu mau apa? Makan? Ngobrol? Minum? Main game? Apa pun yang kamu mau aku turuti sebagai permintaan maaf yang tadi."
__ADS_1
Akhirnya Rico memiliki rangkaian kata yang tepat untuk mengawali permintaan maafnya. Meski terdengar tidak romantis, tapi hatinya tulus saat mengatakan itu.
Bebi menoleh. Melempar senyum kecut seraya memandang wayah gelisah manusia satu itu. "Kamu mau minta maaf yang mana? Salahmu ada banyak sekali padaku, Om!"
"Om?" Kontan Rico memiringkan tubuhnya menghadap perempuan itu. "Sejak kapan kamu jadi keponakanku, hah?"
"Hehehe, kalau begitu Om Suami saja. Panggilan itu lebih cocok untuk kita. Memanggilmu dengan nama terlalu tidak sopan karena usiaku jauh di bawahmu. Jadi Om suami sangat cocok." Bebi menyengir ala kuda, ia pun ikut memiringkan tubuhnya sehingga ia dapat membalas tatapan Rico yang sejak tadi mengarah fokus kepadanya.
"Terserahmu saja lah! Mau panggil dengan sebutan apa saja aku tidak peduli!" ucap Rico santai tidak mempermasalahkan sama sekali. Toh Rico hanya menganggap Bebi anak kecil, pikirnya.
"Deal ... mulai hari ini aku panggil kamu om Suami ya!"
Rico mengangguk. "Silakan! Tapi ngomong-ngomong kamu mau minta apa nih, aku tidak akan mengatakannya untuk kedua kali, ya. Ini terakhir, sebagai permintaan maafku, kamu mau minta apa dariku?"
Lagi-lagi Bebi membalas ucapan Rico dengan tersenyum kecut.
Rico adalah pria arogan kedua setelah ayahnya. Bahkan mau minta maaf saja harus pakai acara bertele-tele. Dasar menyebalkan!
"Enak saja ya! Salahku hanya satu, tahu. Masalah yang tadi siang, aku terlalu terbawa emosi sampai lupa diri dan membuatmu kehilangan mahkota. Itu saja salahku, yang lain tidak ada!"
"Hahaha. Jadi masalah itu? Bukannya Dipsy-mu jauh lebih rugi karena sudah tidak perjaka?" ledek Bebi. "Apalagi yang merenggut keperjakannya orang seperti aku. Pasti kamu merasa harga dirimu jatuh sejatuh-jatuhnya," lanjut Bebi memancing perdebatan.
Rico tampak menghela sebelum bicara. "Keperjakaan Dipsyku memang lebih berharga dari apa pun. Tapi tak dipungkiri bahwa keperawananmu hanya ada satu. Sedangkan aku pria, tidak berbekas sama sekali!"
Mulut Bebi melongo membentuh huruf O.
"Oh ... untuk masalah itu kamu tenang saja! Aku Bebiana, tidak akan menyesali apa yang sudah kuberikan pada orang lain!"
"Jadi kamu tidak mempermasalahkan keperawanmu itu?" Rico tertohok, merasa wanita itu sangatlah aneh. Baru kali ini ada seorang wanita diperawani tetapi tidak mempermasalahkannya. Mungkin di dunia ini cuma ada satu manusia seperti Bebi karena merelakan keperawanannya dijajah oleh pria yang tak dicinta, pikirnya.
"Iya, kenapa kamu sangat terkejut begitu, Om? Kita itu suami istri!" Bebi berusaha mengingatkan jika Rico lupa. "Keperawananku sudah tidak berguna lagi semenjak aku jadi istrimu. Tidak usah dipikirkan! Aku yang salah dan memancing emosimu duluan. Jadi aku tanggung jawab untuk tidak menuntut!"
__ADS_1
"Bagus deh. Kalau begitu terima kasih karena tadi kamu bilang ke ayah dan Eriska bahwa kamu melakukan adegan ngangkang dengan sukarela tanpa paksaan dariku. Jujur itu sangat membantu harga diriku yang berharga!"
"Bahasamu kasar, Om suami!" Perempuan itu melempar wajah Rico dengan bantal guling.
"Memang kamu ngangkang!"
"Kamu yang membuatku ngangkang!"
Mereka berdua tergelak bersama-sama. Sebuah pembahasan yang tak seharusnya jadi bualan mereka semburkan penuh candaan.
Hingga tiba waktunya, Rico kembali memutar topik pembicaraannya ke tujuan semula. "Jadi kamu mau minta apa dariku, Petasan Banting?"
"Masih berlaku ya?"
Bebi menautkan dua alisnya tinggi-tinggi. Entah mengapa malam ini ia merasa pria itu sedikit asik dan nyaman untuk diajak mengobrol.
"Iya, masih! Katakan apa saja yang kamu mau. Mumpung suasana hatiku sudah membaik, aku akan menuruti semua permintaanmu."
Sontak Perempuan itu mengangguk kemudian tersenyum licik. "Apa pun kan?" tanya Bebi memastikan.
"Apa pun," jawab Rico pasti. Tanpa ia tahu bahwa Bebi mengucapkan keinginan yang membuat dirinya terlonjak di detik selanjutnya.
"Baiklah, bagaimana jika aku meminta cinta darimu? Apakah kamu akan memberikannya?"
Apa?
Rico tidak salah dengar, bukan? Petasan banting itu meminta cinta? Sudah gila!
***
Jangan lupa sogok aku pake poin. Kopi dan bunganya yang lancar kalau mau up lagi. Uhuy.
__ADS_1