Terpana Asmara Tuan Perkasa

Terpana Asmara Tuan Perkasa
Bab 28


__ADS_3

Dokter pribadi sudah datang memeriksa keadaan Bebi di dalam sana. Namun, Bebi dengan gamblangnya melarang sang suami untuk ikut masuk selama pemeriksaan itu berlangsung.


Sehingga Rico hanya dapat mondar-mandir tidak jelas di depan kamar karena dokter tak kunjung keluar juga.


"Apa yang mereka berdua lakukan di dalam kamar? Sialan! Kenapa otakku tidak bisa berhenti memikirkannya?" Pria itu meninju udara dengan tangan kirinya.


Sementara di bawah, tepatnya di ruang tamu, tuan Wicaksono mulai berulah dengan mengumpulkan semua pelayan, tukang kebun, dan juga para satpam.


Jarum jam sudah melewati angka dua belas malam saat tuan Wicaksono menggaduhkan seisi rumah dengan membariskan para pekerja seperti anak SD sebelum masuk kelas.


Mereke semua kebingungan. Sambil menahan mata yang terkantuk-kantuk, semuanya saling pandang, saling lirik, saling berbisik satu-sama lain. Menanyakan kenapa mereka dikumpulkan di tengah malam begini.


Ada apa?


Apa aku melakukan kesalahan?


Apa tuan Rico bangkrut dan melakukan pemecatan masal?


Berbagai ragam pertanyaan memenuhi seisi kepala. Saat semuanya sudah berkumpul, tuan Wicaksono mulai menjelaskan kenapa semuanya dibangunkan.


"Maaf membangunkan kalian dari istirahat nyenyak. Saya tahu semuanya pasti terkejut dan bingung, tapi keadaannya sangat mendesak, saya sangat membutuhkan bantuan kalian sekarang juga!"


Pak Pram selaku kepala asisten rumah tangga mewakili untuk bertanya, "Bantuan apa, Tuan?"

__ADS_1


Wajah tuan Wicaksono berubah serius saat pak Pram bertanya pada bagian itu.


"Tolong perintahkan anak buahmu untuk menggali semua tempat-tempat mencurigakan di sekitar rumah ini. Halaman depan, halaman samping, halam pagar luar juga jangan sampai lupa diperiksa."


"Ta-tapi kalau boleh tahu untuk apa, Tuan?"


Pertanyaan pak Pram berikutnya mewakili rasa penasaran semuanya.


Ya benar, untuk apa tuan Wicaksono memerintahkan para pekerja melakukan hal tidak penting di tengah malam begini? Harusnya mereka sedang enak-enak tidur, tahu!


"Ada hal yang tidak beres di rumah ini. Segera lakukan saja apa yang kuperintahkan. Jika kalian menemukan gundukan tanah bekas galian segera bongkar isinya. Cari benda berbentuk jenglot, atau bungkusan apa pun yang mencurigakan yang ditimbun di sekitar rumah ini."


Kontan semuanya mengernyit. Tak terkecuali pak Pram yang tadi sempat disuruh Rico memanggil dokter pribadi di tengah malam begini.


Bukannya hanya ada yang sakit? Kenapa masalahnya jadi berbuntut lebar begini?


"Kenapa diam? Cepat lakukan!" Bentakkan tuan Wicaksono menggelegar ke seluruh penjuru ruangan karena semuanya masih diam tak melakukan apa-apa.


"Apa kalian pikir perintahku sebercanda itu, hah!"


"Ba-baik, Tuan!" jawab mereka kompak.


Marahnya tuan Wicaksono sangat menakutkan. Mereka langsung berhamburan ke segala penjuru, ada yang mengambil cangkul, pisau, sendok, garpu, atau apa pun alat yang bisa dipakai untuk menggali tanah sesuai perintah tuan Wicaksono.

__ADS_1


Rupanya suara teriakan Wicaksono memancing rasa penasaran Rico di atas sana. Lelaki itu membawa langkah kakinya perlahan menuruni anak tangga satu demi satu untuk melihat ada keributan apa di ruang tamu.


"Ada apa sih, ribut-ribut?" Mata Rico menangkap para pekerja yang membawa alat penggali dari pintu yang dibuka lebar-lebar.


"Ayah, kenapa Anda menyuruh para pekerjaku bekerja tengah malam begini? Dosa apa mereka di masa lalu sampai harus kerja rodi begitu?" tanya manusia itu lagi.


"Ini bukan bekerja! Ayah menyuruh mereka mencari keanehan di rumah ini . Ayah yakin pasti ada orang jahat yang bermaksud mencelakai istrimu!"


Sontak Rico membola. "Maksud Ayah apa?"


Karena satu-satunya orang jahat di rumah ini adalah Rico.


"Huh, memangnya kamu tidak lihat tadi istrimu kesakitan? Ayah yakin istrimu pasti terkena sejenis santet atau guna-guna. Bisa jadi ada yang menaruh remukan paku dan seng di rumah ini agar perut istrimu kesakitan sampai mengeluarkan banyak darah. Atau mungkin ada yang memainkan boneka santet dari kejauhan agar istrimu menderita."


"Astaga, Ayah! Berhentilah menghalu sesuatu yang tidak masuk akal! Percaya dengan hal-hal seperti itu sama sekali tidak ada gunanya," geram Rico kesal.


Entah sejak kapan ... mereka terlihat sedikit lebih akrab. Terutama Rico yang mulai tidak canggung lagi memanggil Wicaksono dengan sebutan ayah.


"Istrimu itu berasal dari kampung. Tentu saja hal seperti itu masih sangat dipercayai di tempat tinggalnya. Cepat telepon Doni, suruh asistemu mencari orang pintar untuk merukiyah Bebi sekarang juga!"


Wicaksono makin menggila. Membuat Rico tercengang dengan mulut terbuka lebar.


"Doni sudah tidur, Yah! Kita tunggu saja dokter selesai memeriksa! Lagi pula Bebi saja sudah mirip boneka santet. Untuk apa orang menyantet sesama boneka santet?"

__ADS_1


***


Jangan lupa tinggalkan komentar dan likenya.


__ADS_2