
"Bagaimana jika aku meminta cinta darimu? Apakah kamu akan memberikannya?"
Rico terhenyak. Terbangun dari posisi tidur seraya membulatkan matanya lebar-lebar.
"Apa kamu bilang?"
"Bagaimana jika aku meminta cinta darimu?" ulang Bebi untuk kedua kali.
Deg.
Jantung pria itu berdentam secara tak wajar. Bahkan setelah Bebi mengatakan kedua kali, rasanya Rico masih saja terkejut bukan main mendengarnya.
Ia begitu takut jika Bebi melanggar perjanjiannya untuk tidak saling menuntut cintai selama-lamanya. Awas saja kalau sampai berani!
Dengan tatapan menyalang tajam ia menegaskan. "Jangan sembarangan bicara ya, Terong Ungu! Lupakan hal itu karena semuanya tidak mungkin terjadi! Saat kita hendak menikah aku memang pernah bilang tidak akan menceraikanmu, tapi bukan berarti aku wajib memberikan cinta! Kamu sendiri kan sudah tahu alasannya sejak awal."
"Memangnya kenapa? Bukankah seorang istri wajib mendapat cinta dari suaminya? Dasar aneh kamu!" pancing Bebi seraya menautkan dua alisnya tinggi-tinggi.
Dan ... sudut hatinya kini berteriak hore karena sudah berhasil membuat Rico kalang kabut dengan permintaannya barusan.
"Dengarkan!" Untuk kedua kalinya Rico menegaskan. "Kata cinta tidak akan pernah ada di hubungan kita! Kalau kamu mau meminta itu dariku, langkahi dulu mayat Iren Red Velvet!" kesal Rico kemudian.
__ADS_1
"Hahaha." Bebi tertawa sumbang. Bibirnya terjulur penuh aura mengejek. "Wajahmu sampai pucat sekali Om suami! Padahal aku hanya bercanda. Mana mungkin aku meminta cinta padamu! Bercanda tahu ...."
"Bercanda?"
"Iya bercanda."
Ah, sialan!
Sambil menjabak rambutnya, Rico mengumpat kesal dalam hati. Padahal ia sudah setegang ini sampai jantungnya nyaris copot. Ternyata anak kecil itu hanya iseng-iseng mengerjai. Dasar Petasan Banting sialan! Bocah tengik! Terong ungu busuk!
Berbagai umpatan ia lontarkan dalam palung hati terdalam. Ia menyipitkan matanya, menatap sinis ke arah Bebi yang terus tertawa tanpa ada henti.
Kata-kata Bebi membuat Rico kembali menoleh. Masih dengan posisi setengah duduk, kemudian memandangi Bebi yang terlentang di bawah selimut.
"Bagus! Jangan sampai kamu berani mencintaiku karena itu berat!" hardik Rico tegas.
"Ya aku tahu," jawab Bebi santai.
"Pintar!" Pria itu manggut-manggut. "Ingat kata-kataku, ya. Kalau bisa aku ingin menjalani hubungan pernikahan yang sehat sesehat-sehatnya denganmu. Dalam arti berhubungan baik layaknya kakak beradik. Om atau ponakan juga boleh. Yang penting jangan gunakan perasaan di dalam hubungan kita."
"Ya, aku tahu! Kamu sudah sering mengatakan hal itu padaku Om!"
__ADS_1
Rico tersenyum.
Ada helaan napas lega yang kemudian ia embuskan secara perlahan. Lantas kembali ke topik utama soal adegan cepak-cepak jeder.
"Mengenai hal yang terjadi tadi siang, kalau bisa aku ingin kita berdua sama-sama sepakat melupakannya. Anggaplah semua itu tidak pernah terjadi di antara kita. Bagaimana, bisa 'kan?"
"Bisa," jawab Bebi pelan.
Sebenarnya di titik ini Bebi merasa bingung. Entah rumah tangga model apa yang sedang ia jalani bersama Rico karena dua-duanya memiliki alasan masing-masing sampai memilih main rumah-rumahan seperti ini. Kalau dipikir lagi, semua alur ceritanya terlalu tidak jelas. Bahkan Bebi sampai merasa tidak pernah melangsungkan sebuah pernikahan dengan pria itu.
Astaga!
Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Hal buruk mungkin saja akan terjadi jika tidak segera ditanggulangi. Bagaimana kalau kejadian tadi siang menimbulkan dampak yang tidak bisa ia terima. Sambil meguk salivanya pelan, ia pun bertanya,
"Oh ya, Om! Tapi yang tadi gak akan bikin aku jadi hamil 'kan?"
Hamil?
***
Up dua bab skaligus gengs. Tunggu yang satu ya.
__ADS_1