The Dark Romance

The Dark Romance
PROLOG


__ADS_3

“Ibu, bantu aku! Aku takut gelap!”


Seorang gadis berumur tujuh tahun menyodorkan sebuah permen cokelat pada lelaki seumurannya itu, berusaha menenangkan. “Tenang saja, kita akan segera keluar dari tempat ini!”


Belum sempat membuka permen, seorang lelaki paruh baya datang membawa sebuah pisau tajam, menatap dingin ke arah mereka berdua. Walau samar, di ruang sempit yang hanya disinari satu buah lilin kecil, mereka masih dapat merasakan bahaya yang siap membunuh mereka.


“Salahkan kedua orang tua kaNinan yang tak mau menerimaku! Sekarang, akan mulai dari wajah adik kecil cantik ini.”


Splashh!! Wajah gadis kecil itu tergores, memanjang dari pelipis hingga setengah wajahnya. Hampir saja mengenai seluruh bagian jika anak lelaki itu tak memberanikan diri mendorong lelaki paruh baya itu.


“Ayo kita keluar dari sini!” anak lelaki itu menyeret gadis kecil yang tengah terluka itu sebelum penculik mereka berdiri dan menyusulnya. Setelah dirasa cukup jauh, lelaki itu membuka jas hitam yang ia kenakan, lalu menyeka dan membersihkan darah yang mengucur.


Desir angin malam menusuk tulang, sementara daun kuning mulai berguguran. Hanya ada sorot lampu taman, menambah suasana traumatis mereka pada kegelapan. Sementara, tak bisa dipungkiri bahwa keduanya belum pernah melihat dengan jelas wajah masing-masing. Cahaya masih berpendar, memberi efek remang. Sedangkan serangga perangsang masih saja mengganggu mereka.


“Hei, siapa namamu?” tanya gadis kecil itu.


“Y a ….. Kalau kamu?”


“Baiklah. Aku akan mengingat kamu selamanya. Seorang lelaki pemberani yang sudah menyelamatkanku. Ingat ini baik-baik. Saat aku dewasa, aku akan menikahimu.”


“Hei, kamu seorang perempuan. Yang ada, akulah yang akan menikahimu. Maka sampai saat itu, tunggulah aku.”


Hujan di musim semi. Sungguh fenomena yang langka. Apalagi itu terjadi di Negeri Sakura. Seorang gadis baru saja terbangun dari mimpi yang selama ini terus menghantuinya. Berulang-ulang bagai sebuah pecahan reklame. Mimpi yang seakan tak mengizinkan ia untuk berpindah ke lain hati, mengkhianati janji masa kecilnya dengan lelaki yang sama sekali tak ia ketahui identitasnya. Jangankan wajah, nama pun ia tak mengingatnya.


***


Hari ini adalah hari yang sangat bahagia untuk kedua perusahaan terbesar di Jepang. Bagaimana tidak, kedua pasangan yang selama ini terkenal sangat serasi akan menikah. seseorang tak bisa menepati janjinya. Hari ini, di musim semi yang ‘dingin’, ia harus mematahkan penantiannya.


***


Yorick menghela napas, marasa depan yang tak bisa ia tentukan sendiri sebagai pewaris tunggal “Yorr Group”.


Sementara di sisi lain, tengah terjadi kegaduhan di sebuah rumah mewah bertingkat tiga.


“Tuan, gawat nona pertama melarikan diri!”


“Apa? Bagaimana ini bisa terjadi? Apa yang akan terjadi jika pernikahan ini batal? Qianchu Group akan tamat!”

__ADS_1


Di tengah kekacauan di ruang makan itu, ada satu gadis bungsu yang tetap lahap memakan makanan yang disajikan. Walau kakak pertamanya menghilang, ia tak ambil pusing. Ia paham betul dengan sikap lancangnya. Itu terjadi karena sang kaka sangat dimanja oleh orang tuanya.


“Nina Qianchu, kau harus menggantikan kakakmu!


Seketika, ruangan yang dari tadi ricuh, seketika hening. Suara-suara itu seperti terhempas keluar begitu saja. Tak ada yang berani membuka mulut saat ‘sang ayah’ telah membuka mulut dan menetapkan keputusannya.


“Ta-tapi, suamiku, kondisi wajah Nina tak sebaik dan secantik Merry. Bagaimana ia bisa dinikahkan dengan Yorick? Dia pasti langsung mengusirnya. Bukannya ini akan menguntungkan kita, yang ada malah Yorr Group bisa langsung memberhentikan kerjasamanya. Ini bisa dianggap sebagai penghinaan!”


Mereka berdua berdiskusi panjang lebar. Namun tak satu kali pun menanyakan pendapat dari orang yang bersangkutan. Nina hanya bisa berdiam, menunduk, menahan amah untuk sementara waktu. Ia tak punya kekuatan untuk melawan. Sejak ibunya lumpuh dan menetap di rumah sakit, sikap ayahnya berubah. Ia tak pernah melihat ke arahnya. Di rumah besar itu, walau tiap ornamennya menyala bagai cahaya mentari, hidupnya tetap suram. Hanya satu yang mempedulikan dia.


“Nina, kamu sudah berumur 23 tahun, hanya selisih satu tahun dengan kakakmu. Demi Ayah, demi keluarga kita, maukah kamu menggantikan kakakmu menikah?”


Demi Ayah? Demi keluarga? Hah, sungguh konyol. Sekuat tenaga ia mengerahkan kekuatannya, tak ada yang bisa dilakukan. Bahkan ia harus menikah di sini? Sungguh, ia hanya ingin kembali ke China dan hanya hidup bersama ibu dan neneknya. Haruskah ia menikah dengan seorang bermarga Tsukasa itu dan menetap di Jepang? Sekuat apa pun, ia tak akan pernah bisa lari dari lingkaran takdir yang busuk ini dan hanya bisa mengangguk, berpura-pura tersenyum baik-baik saja.


“Baik, Pa. Nina akan melakukan apa yang kamu inginkan.”


“Anak baik. Reno, panggil perias serta baju pernikahan secepatnya! Kita tak punya banyak waktu dan harus segera memoles wajahnya yang cacat!”


Deg! Cacat? Jadi itu yang selama ini ayahnya pikirkan tentang Nina. Ia masih ingat perlakuan ibu dan kakak tirinya saat ayahnya tak ada. Diperlakukan selayaknya pembantu dan tak bisa membantah. Sebenarnya, Nina sangat kuat apabila harus adu kekuatan mengingat ia pernah mengambil kuNinah tambahan bela diri.


Kamu harus nurut jika ingin ibumu tetap hidup! Ironis! Ibunya sendirilah yang digunakan musuh sebagai tameng terkuat. Dengan dalih akan menghentikan biaya perawatan, Nina tak bisa menghabisi mereka.


***


Dengan polesan sedikit make up, bekas luka yang ada di wajahnya bisa tertutup sempurna. Tak ada yang mengira bahwa Nina Qianchu adalah anak cacat.


Tempat itu terasa asing, wajah asing, dan tatapan dingin dari para pejabat pencari keuntungan memandangnya dengan tatapan beragam. Mulai dari heran, iri, hingga tatapan penuh gairah. Dari beberapa ratus orang yang hadir, dari kalangan pejabat, CEO, hingga artis papan atas, percayalah, tak ada satu pun dari mereka yang hadir dengan tulus memberi selamat. Semuanya hanya sebatas urusan bisnis. Begitu pun dengan pernikahan ini. Sebuah rumah-rumahan dengan hukum di atas kertas.


“Nina, kamu cantik sekali!” Nina menoleh.


“Fara, ternyata kamu.”


“Wah ada apa? Apa kamu kecewa karena aku yang mengatakan bahwa kamu cantik dan buka cowok ganteng? Hei, Nina. Lihat deh, dia adalah Yukki. Penyanyi paling tampan sejagat raya itu! Aku tak menyangka bisa melihatnya di acara pernikahanmu.”


“Sudah omong kosongnya? Kau tak tahu betapa takutnya aku? Aku takut suamiku tak setampan Kak Rangga.”


“Lap dulu ilermu, Lilyku. Kau harus tau posisimu sekarang. Aku heran, bagaimana kau tak kenal dengan Yorick Tsukasa. Dia itu terkenal sebagai CEO paling muda, kaya, pintar, tinggi, dan tampan, lho.” Fara menghitung jari, menyebutkan tiap kelebihan dari suami sahabat karibnya. Tapi sayangnya, ia tak menyebutkan satu pun kekurangannya.

__ADS_1


Alunan musik Jazz berhenti, diganti dengan iringan suara musik piano, menyanyikan lagu khas pernikahan. Seluruh manusia munafik di ruang itu berhenti mengobrol. Seluruh mata tertuju pada sosok laki-laki yang baru saja keluar dari pintu emas di seberang sana.


Memang benar apa yang dikatakan Fara, lelaki ini hampir mendekati sempurna. Tapi, ada yang salah dengan tatapan matanya. Tatapan tajam. Bagai seekor burung elang mendapati seekor kelinci empuk. Ada perasaan takut di hati Fara.


“Tenanglah, Nina. Kamu sudah belajar banyak dari film Korea, bukan? Seorang CEO tak akan peduli dengan istrinya. Dia punya banyak wanita. Kamu tak perlu bersedih. Tentang Rangga, aku akan menggantikan posisimu,” celetuk Fara menenangkan sahabatnya.


Kakinya terasa berat. Badannya menggigil. Aura yang dipancarkan lelaki itu sungguh menakutkan.


***


“Ingat! Kau bukan Merry! Jangan berharap bisa mendapatkan sepeserpun dariku!”


“Hmph! Kau pikir aku mau menikah denganmu? Kau yang merusak hidupku! Kita sama-sama dirugikan. Bagaimana jika kita membuat perjanjian? Kau tak boleh mengatur dan menyentuhku! Maka aku tak akan mencampuri urusanmu. Bagaimana?”


“Hei gadis, kau pikir dirimu siapa?”


“Dan mulai besok, aku mau bekerja di kantormu sebagai desainer group. Tenang saja, aku tak akan mengambil jalur curang untuk masuk. Kau bisa tetap menyeleksiku. Walaupun aku belum selesai kuNinah, tapi jangan remehkan keahNinanku di bidang menggambar.”


Yorick mengacuhkan permintaan gila istrinya dan masuk ke dalam kamar, meninggalkan Nina dalam keadaan marah. Ia berbaring di atas sofa, menonton drama yang masih berputar. Drama yang menceritakan tentang sebuah pernikahan atas dasar cinta.


“Baiklah,. Aku akan mengingat kamu selamanya. Seorang lelaki pemberani yang sudah menyelamatkanku. Ingat ini baik-baik. Saat aku dewasa, aku akan menikahimu.”


Ia masih mengingat janjinya pada anak lelaki kecil malam itu. Sayangnya, ia tak ingat siapa nama dan wajahnya. Baru satu jam berlalu, matanya tdak dapat meahan kantuk. Sedikit perdebatan tadi membuat emosinya meledak. Bukankah disini Nina sebagai korban? Mengapa ini seperti malah sebaliknya.


“Sial! Aku harus mengambil bajuku di kamar utama dan memindahnya ke kamar tamu!”


Rumah sebesar itu, dengan nyala lampu remang. Waktu yang sangat sakral bagi tiap umat manusia menuju alam mimpi. Begitu yang dipikirkan gadis itu. Selangkah demi selangkah, ia membuka pintu kamar yang tak terkunci itu. Aaaah matanya terkontaminasi. Postur tubuh yang sangat menarik, perutnya tak tertahankan, dada yang bidang, dipoles rambut yang masih sedikit basah menambah nilai plus pesona ketampanannya.


“Apa yang kau lakukan?”


“Aa, ma-maaf aku tak sengaja. Aku hanya mau ambil bajuku dan pindah ke kamar tamu.”


”Tidurlah di sini. Aku akan pergi.”


Yorick benar-benar pergi. Ia sendiri lagi


Di tengah dinginnya malam, Yorick justru menikmati ‘hangat’nya suasana klub. Alunan musik DJ yang begitu memekakan telinga tak berhasil mengalihkan pikirannya dari sosok wanita yang hampir berhasil menyingkirkan ‘kekasih masa kecil’nya.

__ADS_1


“Merry, kau dimana sebenarnya?”


__ADS_2