The Dark Romance

The Dark Romance
Yorick Atau Rangga?


__ADS_3

Sore hari yang begitu melelahkan, dihiasi dengan sedikit gerimis kala itu. Ia berjalan tepa setelah pemberhentian. Bus di perjalanan yag begitu lengang. Entah kenapa, kakinya seperti melangkah sendiri di bagian tepi. Langkahnya terhenti. Ia memandang lamat-lamat sebuah bangunan tua, warna temboknya mulai mengelupas di beberapa bagian.


Air mata Nina Qianchu terlepas begitu saja. “Are, kenapa aku menangis?”


Kenangan yang ia rasakan, bercampur antara trauma dan rindu. Trauma akan sayatan pisau tajam yang sampai kini masih saja menghiasi wajahnya, trauma benda-benda tajam, pukulan, sampai hinaan. Tapi, di sisi lain ia rindu dengan sosok lelaki yang menyelamatkan hidupnya, membawa ia keluar dari bahaya. Lelaki yang bahkan ia tak ingat namaya, tak kenal wajahnya. Satu hal yang pasti, Nina Qianchu sangat ingin menemuinya.


“Maaf, aku mengkhianati janji kita. Kini aku sudah –”


“Nina Qianchu?” Suara lelaki yang begitu berat. Nina Qianchu menoleh. “Rangga?”


“Hei, ada apa? Kenapa kamu menangis di sini?”


“Eh?”


Rangga mendekat, menghapus air mata Nina. Ia tersenyum. Jantungnya berdetak tak karuan. Ia merasa Nina Qianchu sangat imut.


“Rangga, kenapa kau di sini?”


“Entahlah, sepertinya kakiku bergerak sendiri. Tempat ini, aku ingat beberapa hal menakutkan.”


Deg!! Hal menakutkan? Apakah Rangga adalah lelaki yang selama ini ada dalam bayangannya? Lelaki yang telah menyelamatkan nyawanya? Mengingatnya saja, hati Nina tersayat. Haruskah ia bahagia? Tapi, bagaimana ia mengatakannya? Ia berjanji akan menikahinya, tapi ia sendiri mengingkarinya.


Nina menangis sesenggukan. Ia tak sanggup lagi menahannya, dan tak mampu mengatakan yang sesungguhnya. Ya, hanya bisa menangis sepuasnya. Rangga mendekat, memeluknya dan mengusap puncak rambut gadis itu.


Di bawah gerimis sore itu, andai saja pertemuan mereka jauh lebih cepat dari sebelumnya, mungkin cerita ini akan berbeda. Bukan tangis yang mewarnai pertemuan mereka.


“Katakanlah, apa masalahmu?” Rangga membujuk Nina membuka mulut.


Gadis itu hanya menggeleng dalam pelukan Rangga, membenamkan kepala dan menutupi kepedihannya.


Dari seberang jalan, tampak sebuah mobil mewah berwarna merah terhenti, menyaksikan mereka berdua berpelukan cukup lama dan begitu mesra. Ia menyaksikan betapa mirisnya pemandangannya, seperti sepasang kekasih saling mengucapkan perpisahan satu sama lain. Lelaki itu menggertakkan gigi, mengepal menahan marah. Bukan cemburu, melainkan kemarahan pada istrinya yang tak tahu diri dan malu.


***

__ADS_1


Rumah berwarna putih dibalut wara cokelat abu itu terlihat indah dan mencolok. Nina Qianchu masuk ke rumah itu dengan kondisi basah kuyup. Seorang lelaki menyambutnya dengan penuh amarah.


“Bagus! Pulang malam, keluyuran, hujan-hujanan. Dasar wanita rendahan!”


Nina Qianchu terus melangkah, tak memedulikan ucapan Yorick seditpun. Gdis it terlihat sangat murung, bahkan ia tak menatap Yorick sedikit pun. Ada pancaran kehilangan di wajahnya. Yorick menarik pergelangan tangan Nina hingga kedua mata mereka saling bertatapan.


Yorick melempar handuk. “Setidaknya keringkan dulu badanmu. Bukannya aku khawatir, ya. Aku hanya tidak mau rumah ini kotor.”


Jantung Nina Qianchu berdegup lagi. Ia seakan tak percaya dengan apa yang dilakukan Yorick. Walau sebenarnya yang dilakukannya hanya semata agar rumahnya tetap bersih, tapi tetap saja hal itu sangat mengganggunya.


Nina Qianchu kembali menangis. Mengapa Tuhan menciptakan hati jika hanya untuk disakiti? Mengapa ada rasa untuk tersiksa? Jika manusia merasa punya cinta, haruskah ia menderita sepertinya? Nina Qianchu hanya berharap semoga cinta yang ia kandaskan akan segera terhapuskan.


“Hei, apa sebegitu sakitnya handuk itu, hah? Aku tidak mau mendengar tangisanmu!”


Bukannya mereda, yang ada justru semakin keras. Sebagai lelaki normal, Yorick tak tega melihat seorang wanita menangis, apalagi seorang gadis kecil. Tanpa sadar, Yorick merangkul Nina, membenamkan kepala gadis itu ke dada bidangnya. Ya, biarlah seperti ini untuk sementara waktu. Walau ia tak suka dengan pernikahannya, tapi bukan berarti ia pecundang.


Yorick melihat Nina Qianchu murung, entah untuk alasan apa. Walau diambang keraguan, sepertinya Yorick sedikit memprediksi, pertemuan Nina Qianchu dan lelaki yang ia lihat di pinggir jalan sepertinya tak lancar. Entahlah, tapi Yorick merasa lega. Dan tanpa disadari, senyum ia merekah.


“A-aku malas mandi. Langsung tidur saja, ya.” Nina membalikkan badan, bersiap untuk kabur.


“Hoo, ternyata begini kejorokan putri Qianchu? Haruskah aku memandikanmu? Aw, sepertinya bukan ide yang buruk, mengingat kita adalah suami istri, bukan?”


“Me-mesum! Kulaporkan kamu atas tindakan pelecehan!”


“Pfftt!! Pelecehan ssuami pada istri sendiri? Ayolah, kau hanya akan menjadi bahan tertawaan media! Aku tidak mau muka tampanku terbawa-bawa ke masalahmu, oke?”


“Iya, aku tahu. Kau hanya takut Kak Merry tahu kau sudah menikah, bukan? Di luar sana, ia pasti berpikir tanpa kak Merry pernikahan dibatalkan. Aku hanyalah seorang pengganti.


Nina Qianchu kembali murung. Ia kembali tersadar, dunia telah meninggalkannya. Tak ada satu orang pun berdiri di belakangnya. Ah, hanya ada dua, ibu dan adiknya, Yui Qianchu. Anak dari pernikahan kedua ayahnya.


“Hei kamu murng lagi? Sini aku mandikan.” Yorick tak tahan melihat Nina bersedih. Ia menarik gadis itu masuk ke kamar mandi.


“He-hei! Kau pegang bagian mana woy!”

__ADS_1


Sial, Nina Qianchu membuat Yorick terpesona. Jantungnya berdetak tak beraturan. Inikah keganasan wanita pemarah? Semakin ia jengkel, semakin mempesona.


Gubrak!


“Keluar kau, pria mesum!”


Sial! Kaki Yorick terkena tepian tembok. Ia meringis kesakitan, sementara Nina Qianchu terkekeh. “Hei, Yorick. Bukankah kamu membenciku? Aku telah merenggut masa depanmu dengan kakakku. Ya, walaupun kurang dari dua tahun lagi kita akan berpisah. Bukankah seharusnya kita musuh? Kenapa kamu berusaha menghiburku? Hei, aku takut kepercayaanku berujung kecewa. Sama seperti sebelumnya.”


“Entahlah,” Yorick kembali mendekat. Semakin mendekat hingga jarak mereka tak lebih dari sejengkal. “Mungkin karena,” Hah? Apa yang dipikirkan? Apakah ia hampir menjawab suka? Pada gadis ini?


“Karena apa?”


“Arrgh! Dasar cerewet! Kepo! Beginilah sifatku, peduli pada wanita lemah. Makanya banyak yang antri mau jadi pacarku. Haha. Sayangnya, aku malah nikah sama gadis berdada ra-”


“Woyy! Sakit!” Yorick meringis lagi, mengusap ujung kakinya yang baru saja mendapat hantaman maut.


Nina menggigit bibir, menahan agar tidak tertawa. Ia terpaksa jongkok, memeriksa kaki yang baru saja dibogem. Rasanya sangat puas melihat ‘suaminya’ kesakitan. Ia diam-diam mencuri pandang ke arah Yorick, melihat raut wajah lelaki yang selama ini dicap sebagai lelaki dingin seantero rakyat Jepang.


Nina menghela napas berat. “Maaf deh. Sebentar, kuambilkan kotak obat dulu. Kamu tunggu di sini saja. Atau mau kamu yang ambil dan aku yang nungguin?”


Yorick tertawa sinis. Ia menoleh ke arah Nina Qianchu, membalas tatapannya. Sorot mata mereka mulai beradu. Tangan Yorick seketika merangkul pinggul Nina. “Hei, apa sekarang kamu sedang menggodaku, ‘istriku’? Haruskah kita ke ranjang sekarang?”


“Ya.” Oh My, kata apa yang baru saja keluar dari mulutnya?


“Ma-maksudya, ya- lebih baik kamu tidur di sini. Sepertinya kamar mandi lebih cocok untukmu, dasar mesum! Ingat perjanjian kita!”


Nina pun beranjak pergi. Meninggalkan Yrick sendiri di kamar mandi. Mengambil obatkah?


Satu jam kemudian.


“Woy, Musang! Mana obatku? Kakiku akit gara-gara kamu. Woy!”


Sementara Nina Qianchu tidak menggubrisnya. Dari satu jam yang lalu ia tengah asyik menggarap desain baru yang akan dipresentasikannya lusa. Tawanya pecah. Bagaimana bisa Yorick masih menunggunya? Bukankah yang luka hanya kaki kiri?

__ADS_1


__ADS_2