The Dark Romance

The Dark Romance
Cinta Pertama?


__ADS_3

BRAKK!!


Suara tinjuan dua tangan itu terdengar nyaring di ruang makan. Kedua bahunya tampak naik turun tak karuan. Seorang Yorick Tsukasa bisa dibuat mati kutu oleh seorang gadis yang bahkan baru 23 tahun, 3 tahun di bawahnya. Bagaimana ia tak marah, istri barunya itu baru saja mengatakan akan ikut pergi ke kantor.


Nina tahu, statusnya sebagai istri sah Yorick, dan diakui sebagai nyonya besar Yorick, hanya segelintir orang yang tahu wajahnya. Selebihnya, mereka harus menyimpat rasa penasaran pada istri sang bos besar di Jepang itu. Walau usianya baru 27 tahun, ia sudah mampu menguasai ilmu ekonomi, bisnis, dan akutansi. Tak heran jika ayahnya mempercayakan seluruh perusahaan kepadanya.


“Aku tak setuju! Hei bocah, kau masih kuliah! Pintarkan dulu otakmu! Ingat, kamu itu hanya istri di atas kertas. Dan juga, seluruh karyawanku tak ada yang tahu wajahmu kecuali Andra!”


“Maka masukkan aku sebagai anak magang, apa susahnya? Lagipula memang sekarang sudah saatnya aku mencari pekerjaan sambil menyelesaikan skripsiku, ya kan? Lalu apa lagi yang kau ributkan?”


Yorick mendekat, menaikkan dagu gadis di depannya. Tatapan dingin dan tajam itu memang sangat menakutkan.


“Ingat posisimu!”


Ia melepaskan gadis itu, meninggalkannya begitu saja. Yorick mengambil jas yang tergeletak di sofa depan, memakainya dengan sembarang. Terlihat jelas, auranya merah menyala. Gadis kecil itu berhasil membuat pening kepalanya. Ia tak mau orang lain mengetahui bahwa istrinya adalah gadis dengan standar yang super biasa, terutama Merry. Dalam hatinya, ia masih menginginkan Merry kembali ke pelukannya. Saat itu tiba, ia akan langsung mengusir gadis pengganti itu.


Mentari bersinar begitu menyilaukan, menerobos tiap dinding kaca di sebuah ruang kerja. Kedua tangan Yorick terlipat di depan dada. Ia menatap beberapa lembar resume calon pelamar kerja. Tak ada yang aneh. Hingga, ia mengerti jika satu dari ratusan tumpukan pelamar itu ada yang janggal. Ia menarik hasil resume itu. Hanya tertera nama panggilan saja, dengan pas foto seorang gadis memakai kacamata.


“Nina? Namanya bahkan sama. Ya ampun, siang begini sudah kena virus.”


***

__ADS_1


Bangku taman dengan nuansa senja, daun yang mulai berjatuhan menambah nuansa romansa bagi para pasangan di sana. Tapi tidak bagi para kalangan jomblo. Salah satunya Nina. Walau bukan jomblo, tapi ia juga tidak punya pasangan. Nina masih asyik memutar musik yang didengarkannya melalui headset. Tangannya dengan mahir menggambar sosok lelaki memasukkan bola ke dalam ring basket. Wajahnya terlihat cerah.


“Nina,” seseorang memanggilnya, dan memang ialah orang yang ditunggu.


“Kak Rangga! Sudah selesai latihannya?” Sesegera mungkin ia memasukkan buku gambarnya ke dalam tas.


“Menggambar lagi?”


“Bukankah hanya itu yang bisa menghilangkan rasa bosan?”


Rangga mengacak-acak puncak rambut Nina. Jantung Nina berdegup. Seperti ada sesuatu yag menghantam dadanya saat ini. Terutama saat tangan Rangga menyentuhnya. Ini adalah salah satu momen dimana Nina harus memilih senang atau sedih. Senang bahwa seseorang yang selama ini ia kagumi perlahan menerima keberadaannya, atau sedih mengingat kenyataan bahwa ia telah menjadi milik orang lain.


Nina meneteskan air matanya. Ya, tanpa ia sadari!


Rangga menghapus air mata gadis di depannya. “Ada masalah apa? Kau bisa cerita.”


“Rangga, menurutmu, apakah buah apel yang telah memilih tuannya dan tanpa sengaja dipetik seseorang sebelum matang bisa kembali dan tetap memilih seseorang”?


Rangga hanya memberi sedikit senyum. Ya, hanya sedikit.


“Apa kamu si apel? Jika iya, maka tak perlu diragukan lagi, aku akan mencuri apel itu darinya. Apapun yang terjadi. Karena bagiku, kamu adalah adik kecil yang sangat imut.”

__ADS_1


Nina menunduk. Langkah kakinya tiba-tiba terhenti. Benar, seseorang yang indah bagai kupu-kupu, terbang bebas tak bisa digapai hanya dengan sebuah pendekatan. Apa lagi yang ia harapkan? Seperti malam yang mulai menyeruak pelan, mentari tak mampu lagi mengganggunya.


“Rangga, maaf sepertinya kita tak bisa pulang bareng. Aku tiba-tiba ada urusan. Bye,” Nina membungkukkan badan, berlalu begitu saja.


Di sebuah ruang tingkat delapan, dua orang gadis masih sama saling diam. Belum ada yang mau buka mulut. Suara detikan jam bahkan terasa sangat asing dan mengerikan.


“Nina, biar kuluruskan masalah ini. Pertama, kamu tiba-tiba datang ke apartemen ini tanpa bilang-bilang. Kau tau betapa buruknya itu? Kedua, kita sudah duduk disini selama satu jam, dan kamu belum ngomong apapun. Oke, jadi sebaiknya aku pergi tidur saja!”


“Fara, aku mau curhat. Kenapa kau tega sekali seperti ini?”


Fara menghela napas berat. Ia memandang sahabatnya. Matanya sembap, wajahnya terlihat begitu murung.


“Oke, sekarang katalankah siapa orang yang membuatmu sedih begitu? Biar kuhajar sampai bonyok!”


“Rangga.”


Hah?


“Maaf Na, aku tak mendengarnya dengan jelas. Rangga? Apa maksudnya? Wah, jangan bilang kamu mengungkapkan perasaanmu padanya. Apa kau gila? Ingat statusmu, kau itu telah bersuami!” Fara berkacak pinggang, sesekali menghela napas berat.


Nina mendongak, menceritakan semua yang terjadi hari ini. Hari yang sangat singkat, namun secara bersamaan terasa panjang dan berat. Fara menatap sahabatnya, ada aura kesedihan. Bagaimana tidak, seorang gadis kecil harus menanggung tiap masalah sendirian. Mulai dari perpisahan, penyelesaian, keluarga, lingkungan, bahkan sampai percitaan. Gadis berumur 23 tahun harus menanggung beban berat di oundak kecilnya itu.

__ADS_1


“Yorick Tsukasa, jika dia bisa menerimanya, pasti tak akan sesusah ini hidupmu, Nina,” gumam Fara dengan suara tertahan.


__ADS_2