
Di sebuah aula yang punya mesin pendingin itu kini penuh sesak. Beberapa pejabat tinggi, model, artis papan atas, dan para presdir perusahaan lain turut meramaikan acara tahun ini. Memang, seminar kali ini bisa dikatakan tingkat nasional. Yorr Group menyebar undangan pada seluruh pejabat dan pebisnis di negara sakura itu.
Nina mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang harusnya hadir di antara para tamu. Senyumnya kembang-kempis mendapati sosok lelaki beruban di antara para pebisnis muda. Cukup mudah baginya mengenali ayahnya. Yang ia tahu, ayahnya menjadi salah satu pembicara seminar.
Dua menit sudah ia mengamati ayahnya dari pojok ruangan. Baginya, melihat senyuman sang ayah yang terlihat bahagia sudah lebih dari cukup. Baginya, tak masalah jika ia menopang beban sendirian. Mungkin, keputusannya menikah di atas kertas sudah tepat. Senyumnya terpaksa sirna saat bahunya ditepuk dari arah belakang.
Nina menoleh.
“Yo, Kakakku termanis, apa kabarmu?”
“Yui?” senyum Nina kembali merekah, lebih lebar dari sebelumnya.
Benar, lelaki tampan ini adalah Yui. "Aku mengikuti Papa ke sini, sekalian melihat Kakak. Benar-benar rindu omelanmu.”
“Dasar.” Nina menjitak jidat adik kesayangannya itu.
“Kak, hari ini adalah hari terakhir aku di rumah. Besok aku sudah pindah ke kost dekat rumahmu. Dan mulai besoknya lagi aku sudah jadi mahasiswa, loh. Wah, sudah tidak sabar pengin lihat kakak tingkat yang cantik-cantik.”
__ADS_1
“Benar-benar anak bandel seperti biasanya. Yui, sepertinya Kakak pernah melihatmu di rumah sakit. Itu kamu bukan?”
Yui terlihat sedikit kaget. Bagi Nina, sangat gampang menerjemahkan tiap sorot mata dan ekspresi Yui. Nina tahu jawabannya tanpa perlu Yui sendiri yang mengatakannya.
“Ha-hah? Rumah sakit? Kapan? Ayolah, Kak. Kamu tak bisa melihat betapa sehatnya adikmu ini? Lihat, bukankah aku begitu machonya?”
Nina yang berada di sebelahnya menutup mulut, mencoba menahan tawa. Ia menggapai lengan tangannya, menyentuh kerah bajunya, memegang dada dan perutnya yang sama sekali tidak terasa ABSnya. Sekali lagi Nina terkekeh.
“Oke, aku anggap tertawamu sebagai ejekan.”
"Bagiku, pakaian seperti tampang seseorang. Menyembunyikan kebenaran dengan mengkambinghitamkan. Seseorang pura-pura kaya hanya lewat pakaian, banyak. Seorang CEO memakai pakaian anak magang hanya untuk mengawasi karyawannya dari dekat, ada. Saya punya cerita. Kisah gadis kecil yang dibuang orang tuanya di depan kediaman orang ‘kaya’ hanya karena di depannya terdapat mobil mewah dan rumah yang terlihat besar. Apalagi di depannya terdapat taman bunga dan air mancur.
Orang tua yang tak bertanggung jawab ini merasa mereka mampu menjaga dan membahagiakan anaknya. Padahal dia tidak tahu, takdir apa yang telah menantinya. Saat gadis buangan ini bertumbuh besar, ia disiksa oleh keluarga itu, dijadikan babu, disuruh ini itu. Lalu, kepada siapa gadis itu mengadu?"
"Begitu juga dengan busana. Bisa menipu, mengelabui, membodohi. Makanya, saya ingin ke depannya, kita terutama pebisnis di bidang busana. Bisa menciptakan karya yang mempesona secara alami, tidak membodohi. Tidak hanya terkesan mewah, tetapi juga elegan dan tidak membosankan."
"Seperti seorang gadis buangan yang saya ceritakan. Sesuatu yang menipu, penempatan yang tidak sesuai dengan tempatnya hanya bertahan sementara, tidak selamanya."
__ADS_1
"Ingat satu hal, cintailah sesuatu dengan apa adanya, bukan ada apanya. Mencintai secara sederhana dari hati, bukan dari mata. Karena cinta bisa muncul tanpa sengaja, bahkan sebelum otak kita mencernanya. Terima kasih."
Sontak, seisi ruangan ricuh, hiruk pikuk suara tepuk tangan dari seluruh hadirin. Mereka sampai berdiri menghormati Henry Qianchu. Memang, beliau adalah seorang pembicara yang cerdas, mampu mengambil hati lawan bicaranya. Tak heran, perusahaan Qianchu nangkring di urutan kedua sebagai perusahaan terbesar di Jepang.
Tak ada yang menyadari, ayah Nina menitikkan air mata. Bahkan kamera CCTV tak mampu menangkapnya.
“Gadis buangan, kali ini topik Ayah sangat mengharukan.”
Yui mengangguk setuju.
“Baiklah, untuk selanjutnya, mari kita sambut dua model utama kita yang akan mengenakan desain terbaru dari Yorr Group. Beri tepuk tangan yang meriah untuk Tuan Arya dan Nona Kana!”
Terdengar suara-suara berisik di dalam aula yang berasal dari suara tepuk tangan rekan kerja Kana dan Arya, para pebisnis yang menanti pertunjukan hebat, juga tak lupa para wartawan dan jurnalis yang siap mengekspos berita terhangat.
Yorr Group adalah perusahaan besar, ditambah CEO mereka yang tergolong sangat muda dan tampan. Walaupun beberapa perempuan dari kalangan muda maupun tua sempat patah hati karena terdengar berita pernikahan Yorick, hal itu tak bisa menghilangkan fakta bahwa Yorr Group adalah salah satu perusahaan berpengaruh di Jepang.
Nina terdiam. Sorot matanya menangkap Yorick yang tengah menatap Kana penuh arti. Tangannya bersedekap. Berpikir sejenak, kiranya apa yang membuat ia kalah saing dengan gadis yang berdiri di atas panggung itu.
__ADS_1