The Dark Romance

The Dark Romance
Jahil


__ADS_3

Tangannya mengepal. Sungguh, kesabarannya telah habis. Ia merebut kartu nama yang masih ada di tangan Yorick. Baru dua langkah Nina Qianchu berlalu, tiba-tiba Yorick memeluknya dari belakang dan menyeret tangannya hingga mereka terjatuh di sofa.


Mata mereka kini saling beradu. Saling kaget atau saling terpana, hanya mereka yang bisa merasakan getarannya. Tubuh Nina Qianchu tiba-tiba terasa dingin, ia pun mulai mendapati ada yang salah dengan dirinya. Ini tidak boleh terjadi.


“Woy gadis! Tidakkah kamu berpikir untuk bangun? Apa kau begitu sukanya padaku?”


“Ha-Hah? Jangan terlalu geer dasar kambing beku!”


“Cih! kalau begitu kenapa tidak bangun juga? Mau kupapah, hah?”


Nina Qianchu tersipu. Ia bangun, tak sengaja menekan dada bidang Yorick. Detik berikutnya, ada tangan yang merangkul pinggangnya.


“Hei! Bukankah tadi kamu memintaku menjauh? Kenapa sekarang tanganmu- Woy, perhatikan tanganmu, dasar kambing!”


“Heh, bukankah kamu yang menggodaku duluan? Tidak tahukah kamu dada pria sangat senitif? Sekarang rasakan konsekuensinya.”


Kondisi semakin tak terkendali. Yorick mendekatkan wajahnya, menatap gadis di depannya lamat. Lagi-lagi, jantungnya terasa sesak.


“He-hei, kau mau apa? Ingat perjanjian kita! Kamu tidak boleh menyentuhku, oke?”


Suara wanita itu mencoba menenangkang Yorick yang mulai tak terkendali. Yorick tak mampu mendengar lagi kta-kata gadis itu. Penglihatannya hanya terfokus pada satu sudut manis.

__ADS_1


Cup!


Bibir mereka kini telah bersatu. Yorick menekan hingga terasa sangat lembut. Air mata Nina Qianchu pecah begitu saa. Tapi lelaki di depannya tak menghiraukan sedikit pun. Ia justru melihat hal itu semakin menggoda. Yorick memejamkan mata, menikmati tiap detiknya. Lidahnya hampir turut tak terkendali.


“Presdir, ada berkas yang harus ditanda ta-”


Yorick melirik seorang asisten yang tidak tahu diri. Ini kesempatan. Nina Qianchu menggigit sudut bibir Yorick saat ia tengah lengah.


“Maaf, Presdir. Saya ambil kartu nama ini. Sepertinya Anda sibuk. Mohon undur diri.”


Nina Qianchu bergegas meninggalkan ruangan.9


“Berhenti! Siapa yang menyuruhmu keluar, hah? Tanpa seizinku, tidak boleh ada yang keluar dari sini!”


Hening. Yorick tak memikirkan satu pekerjaan yang cocok dikerjakan Nina. Ia menoleh asistennya yang masih berdiri di ambang pintu, bersiap kabur dari amukan bosnya. Bertahun-tahun ia kerja sebagai asisten pribadi Yorick, ia tahu betapa mengerikannya saat Yorick marah.


“Andra, bawa berkas itu ke sini.”


“Baik.”


Yorick menyerahkan berkas itu ke Nina Qianchu. Kenapa ia merasa ada sesuatu yang aneh?

__ADS_1


“Bawa berkas ini ke sana.” Yorick menunjuk sebuah meja. “Buka komputernya dan salin semuanya. Tidak boleh istirahat sebelum selesai, paham?” tatapannya sangat dingin menunjukkan diktatornya.


Nina membalasnya dengan pandangan bertanya-tanya.


“Asisten Andra, di luar ada mesin fotokopi, kan?”


Andra menangguk polos. Ia gagal paham sama sekali suasananya. Seorang yang sangat tidak peka. Tak heran sampai sekarang ia masih hidup menjomblo. Di sisi lain, sepasang mata dingin menatapnya.


“Aku suruh kamu untuk menyalin, bukan memfotokopinya! Sekarang duduk di sana, dan kerjakan!”


“Andra, sebenarnya arti menyalin itu apa, sih?”


Andra menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sesaat ia menganggap Nina adalah gadis bodoh. Bagaimana ia tak tahu arti kata salin? Suatu kata yang lazim digunakan karyawan kantoran.


“Nina, salin itu artinya memperbanyak. Masa yang begini saja kamu tidak tahu?” Andra menggelengkan kepala prihatin.


Binggo!


Nina terkekeh. “Maka aku hanya perlu memperbanyaknya. Tidak peduli harus mengetik atau memfotokopi. Aku akan pergi ke ruang fotokopi. Sepertinya sekarang sedang sepi. Saya permisi, Presdir, asisten Andra.”


Ekspresi Andra memucat. Ah sial, sepertinya kini ia sadar betapa pentingnya sebuah otak, dan dia tak merawatnya dengan baik. Yorick mendesah pelan. “Andra sepertinya pekerjaanmu terlalu banyak. Apa sebaiknya kau ambil cuti?” Yorick melirik dingin.

__ADS_1


“Tidak perlu, Presdir. Saya sangat kuat. Ini belum seberapa. Permisi.”


Yorick mendesah pelan, “Sepertinya akan menark.”


__ADS_2