The Dark Romance

The Dark Romance
Menjagamu Dari Belakang


__ADS_3

Pukul lima sore lewat tiga puluh menit, semua rekan kerja Nina sudah berkumpul. Bella sengaja membooking Kenada Caffe, sebuah tempat dengan fasilitas cukup lengkap. Ada ruang makan, kamar kecil, tempat karaoke, bar, sampai tempat bermain bilyard.


Nina berbincang ringan dengan Rangga di sebelahnya. Tersenyum manis, tertawa lepas, setidaknya itu yang ia rasakan.


Sedetik kemudian semuanya terdiam, lalu berdiri. Nina tahu apa yang sedang terjadi. Yorick dan asisten pribadinya, Andra, telah sampai. Huh, suasana yang awalnya ceria tak beraturan dalam sekejap berubah menjadi hening membeku.


“Oke, langsung saja. Saya selaku pimpinan Yorr Group mengucapkan selamat kepada Nina Qianchu, Su Na, dan Rangga Alfa. Selamat bergabung, and welcome to the hell." Sebuah kalimat penutup yang penuh kedinginan.


Dapat Yorick lihat dengan picingan tajam, Nina tak memperhatikan ucapannya. Ketika karyawan yang lain bersorak, bahkan Nina turut bertepuk tangan pun tidak. Ia hanya bermain-main dengan minumannya, menggoyang-goyangkan gelas yang kini berada di tangannya.


”Karena hari ini adalah perayaan kedatangan anak magang, bagaimana kalau mereka yang memesan?” tiba-tiba Bella memberi usul.


Tersirat ekspresi kaget di wajah seluruh karyawan. Bagaimana asisten Bella punya ide kurang ajar seperti itu? Bukankah hal itu sama saja tidak menghargai pimpinan perusahaan? Yorick berdeham, menyadarkan Bella yang bicara seenak jidat sendiri, dan menyadarkan Nina akan keberadaannya.


“Benarkah bisa seperti itu? Kalau begitu saya pesan daging sapi dan cola, ya. Terima kasih.”


“Nina, kamu tak kuat minum. Bagaimana bisa memesan itu?”


Nina hanya memberi senyuman tipis. Tersirat bahagia di dalamnya. Rangga menghela napas, tak tahu apa yang harus diperbuatnya.


“Kalian berdua pesan apa?”


“Apapun.” Rangga dan Su Na menjawab serentak.


Nina menelan ludah dengan susah payah dan kembali mengeluarkan suaranya. Gads itu menggerakan bibirnya dengan susah payah. “Wa-wah, kalian kompak sekali, ya?”


“Benar. Kaya pacaran saja. Apalagi yang cowok tampan, yang cewek cantik. Serasi sekali.”


Su Na membenarkan poninya yang tidak berantakan. Ia tersipu.

__ADS_1


Suasananya kembali hening, hingga muncul aroma wangi yang menyebar ke seluruh ruangan. Makanan pesanan sudah datang. Sungguh sulit dipercaya, makananlah yang menyelamatkan istana beku itu.


Rangga mendekatkan wajahnya, membisikkan sesuatu ke telinga Nina. Setelah itu mereka cekikikan. Tak ada satu pun yang tahu pembicaraan macam apa yang berhasil membuat Nina tertawa.


Su Na menunjukkan raut kebencian pada Nina. Baru hari pertama magang tapi ia merasa harus menyingkirkan Nina. Dan satu orang lagi yang hanya melirik sekilas dan berpura-pura tidak peduli.


“Kenyangnya.” Nina mengelus perutnya yang hampir meledak.


“Bagaimana tidak. Makan pun seperti kucing liar,” gumam Yorick.


“Sip, semuanya sudah kenyang. Sekarang kita masuk ke ronde dua. Karaoke!”


Nina tersenyum girang. Menyanyi adalah satu hobinya. Saat kuliah dulu, ia sempat mengambil UKM vokal walaupun pada akhirnya tidak diteruskan.


“Siapa yang mau duluan?”


Tidak perlu berpikir dua kali, bukan? Nina langsung mengangkat tangannya. Ia sudah mempersiapkan lagu kesukaannya, ‘Wherever You Are’.


Dimanapun dirimu, aku akan selalu ada di sampingmu


Apapun yang kamu katakan, akan selalu ada dibenakku


Aku berjanji padamu selamanya mulai saat ini


Nina menatap Rangga, menitikkan air mata. Lagu yang dalam, sebuah lantunan skeptis yang selalu mengingatkannya pada sosok lelaki saat ia diculik. Sosok lelaki yang menyelamatkan nyawanya dan saling berjanji untuk menikah. Lelaki yang saat ini ada di sampingnya, namun kenyataan tak bisa mengubah apapun.


Terkejut? Ekspresi itulah yang kini ditunjukkan Rangga. Mengapa Nina menangis? Setidaknya itulah yang dipikirkan saat ini. Ia melangkah, mengambil satu mikrofon dan menyanyikan lagu yang sama.


Jujur saja, kondisi Yorick kini semakin dingin. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal. Hah, mereka memang sangat cocok.

__ADS_1


Nina beristirahat sebentar. Ia menatap sebotol cola yang sempat ia pesan. Rasa sedihnya tak bisa dibendung lagi. Ia membuka botol minuman yang sudah tak dingin itu dan meminumnya.


“Rangga Alfa,” gumamnya pelan.


Walaupun sudah habis satu botol, belum cukup menghilangkan gundahnya. Ia mengambil botol berwarna hijau terang yang tertera di meja. Belum sempat membuka, Rangga terlebih dulu mencegahnya. Ia menggeleng-gelengkan kepala tanda larangan.


Yorick mulai geram. Ia menggebrak meja, lalu berdiri. “Hari ini sampai sini. Kalian lanjutkan saja. Dan jangan lupa untuk pulang tepat waktu.”


“Mengerti, Pak,” jawab mereka serempak.


Nina merebut botol yang ada di tangan Rangga. “Ayolah, satu gelas saja. Aku sudah bukan anak SMP lagi,” rengek Nina.


“Kamu tak kuat!”


“Hei Rangga, aku sudah ada kemajuan. Mari kita buktikan!”


Sedetik, kini botol itu sudah pindah tangan. Benar, Nina benar-benar hanya minum satu gelas dan langsung terkapar.


Rangga menepuk jidat. Sudah kubilang, masih ngeyel. Dasar anak manja. Sekarang bagaimana? Rangga undur pamit dan akan mengantar Nina yang linglung itu pulang.


Ia menggendong gadis itu setelah keluar dari taksi. Karena Rangga tak tahu alamat rumahnya, ia terpaksa membawanya pulang.


“Woy, sial lelaki berengsek! Beraninya kau-” Rangga terperanjat kaget. Igauan gadis itu sangat lucu, begitulah kiranya pemikirannya tentang Nina yang mabuk.


Malam adalah waktu yang sangat romantis. Ditambah gemerlap bintang menghiasi tiap sudut langitnya.


“Nina, apa kamu sudah sadar?” tidak ada reaksi. “Nina, maaf walaupun aku tahu kamu menyukaiku, bukan berarti aku mengabaikanmu. Aku hanya takut, kedekatan kita akan hilang jika berubah status. Aku hanya belum siap. Apalagi, aku punya dosa besar yang harus ditebus. Bagiku, cukup memperhatikanmu dari dekat maupun jauh bisa membuatku tenang. Kau tahu, Nina, sejak kamu jadi juniorku, masuk HMJ, saat itulah aku jatuh cinta padamu. Bagiku kamu-”


Jantungnya sesak. Nina merangkul Rangga terlalu kencang.

__ADS_1


“Aku tak akan melepaskanmu!” Nina sepertinya mengigau lagi. “Tak akan, dan tak pernah akan,” terus Nina dengan nada perlahan melemah.


Seandainya dengan cara ini kita bisa terus bersama, aku tak masalah. Biarpun akhirnya kau memilih jalan setapak lain, aku tak masalah. Aku akan selalu jadi bayangmu di belakang, yang jika kau merasa jalan yang kau pijak salah, kau bisa menoleh ke belakang. Karena selalu dan selamanya ada aku di belakangmu.


__ADS_2