The Dark Romance

The Dark Romance
Lampu Hijau


__ADS_3

Yorick mengambil ponsel miliknya. Matanya terbelalak menatap layar ponsel yang menyala di tengah redupnya cahaya aula. Dengan cekatan ia memencet tombol-tombol dan menghubungi seseorang. Ia keluar dari aula, mencari tempat yang dirasa agak tenang.


“Cari tahu siapa yang melakukan ini! Lacak sumber informasinya dan akuisisi. Hubungi awak media yang menyebarkan berita itu. Suruh mereka menghapus artikelnya. Paham? Aku tak mau dia melihat berita ini. Bergunalah sekali-kali, Andra.”


“Ashiap, Bos.”


Yorick memutuskan sambungan telepon. Ia memasukan kembali ponselnya ke saku celana dan berniat kembali ke ruang aula. Acara itu belum selesai. Di tengah lorong, tepatnya di depan WC wanita langkahnya terhenti.


“Wah, ini benar-benar Nina? Hebat sekali bisa dekat dengan Arya. Padahal model terkenal, tampan lagi.”


“Benar. Di kantor dia juga dekat dengan Rangga. Benar-benar bikin sakit hati saja. Nina mirip cewek penggoda tidak, sih? Siapa pun diembat.”


“Iya, CEO kita juga sepertinya kepincut. Yah walaupun endingnya pasti hanya untuk bersenang-senang, sih. Bukankah kamu suka Rangga, Su Na? Apa rencanamu?”


“Su Na selalu punya rencana.”


Perbincangan yang terjadi di dalam toilet tidak sengaja terdengar oleh Yorick. Dari suaranya, ia tahu siapa mereka. Tidak lain dan tidak bukan adalah Su Na dan Jang So, salah satu follower instagram Su Na.


Dari arah berlawanan, seorang gadis tampak berjalan terburu-buru. Tangannya memegangi bagian perut, seperti menahan sesuatu. Saat ia tiba di depan toilet wanita, langkah Nina terhenti. Yorick dengan ekspresi terkejutnya menatap gadis itu dan mencari cara menghentikannya. Ia tak mau Nina mendengar pembicaraan buruk tentang dirinya. Ia membentangkan kedua tangannya, melarang Nina masuk ke dalam toilet.


“Apa yang kamu lakukan? Cepat minggir. Aku sudah tak tahan.”


“Kamu tidak boleh masuk.”


“Hah? Kamu mabuk, ya? Haruskah aku kencing di sini?” Nina menunjuk lantai dengan jari telunjuknya.


Yorick mengangguk, menatap dengan sorotan yang serius. Sementara lawan bicaranya hanya bisa melongo dan kaget sedikit heran. Apakah lelaki ini sinting?


“Minggir!” Nina mendorong tubuh Yorick dan meningkirkan lengan kekarnya.

__ADS_1


“Toiletnya rusak!”


“Hah? Disaat genting begini? Ah, sialnya aku. Kalau begitu aku boleh pakai toilet di ruanganmu? Aku sudah tak tahan. Kalau harus pakai di lantai lain tidak keburu.”


Yorick mengangguk, mengiyakan.


Sekalipun kata sayang tak pernah ia lontarkan, dan sikapnya selalu terlihat marah-marah dan dingin pada Nina, namun jauh di dalam lubuk hatinya, Yorick tidak ingin kehilangan Nina. Selalu mengawasi dari kejauhan. Apakah ia mulai jatuh cinta? Atau hanya salah satu dari sikap ketergantungan dan terbiasa ada Nina di hidupnya?


Yorick menghela napas lega memandang Nina perlahan menjauhi ambang toilet. Tangannya mengepal, melirik dinding kaca di celah pintu. Ada saja orang-orang yang membuat sebuah kelompok untuk menjatuhkan seseorang.


Dari arah belakang, Yorick mengikuti Nina menuju ruang CEO, duduk di atas sofa menunggu gadis itu keluar.


Sudah hampir setengah jam berlalu, dan Nina belum juga keluar. Hal itu membuat hati Yorick jadi sedikit tak tenang. Apa semua wanita bisa sampai berjam-jam kalau sudah masuk ke kamar mandi?


“Argh! Bikin khawatir saja. Sedang apa, sih bocah itu? Apa ketiduran?”


Dengan berhati-hati, Yorick memegangi gagang pintu, mencoba mendorong sedikit. Hanya sedikit, tidak sampai dua senti. Pintu yang terbuat dari kayu itu terbuka sedikit, artinya tidak dikunci.


“Aku masuk.”


Keduanya sama-sama kaget, menatap satu sama lain. Untuk pertama kalinya, tatapan keduanya saling bertemu, memiliki arti yang sama dan satu waktu. Tanpa drama, tanpa iba, dan tanpa tekanan. Tatapan yang mengisyaratkan satu makna.


Gadis itu meringkuk di pojok kamar mandi. Lututnya tertekuk, matanya terlihat sangat sembap.


“Nina, ada apa?”


Gadis yang ditanya itu hanya terdiam. Ia tak menyangka, masuk ke ruang CEO bisa melukai hatinya. Saat langkah kakinya bermaksud mencari toilet lain, sosok yang tak diinginkan muncul. Dialah Yorick, lelaki yang sedang ia hindari.


“Hei, ayolah cerita. Jangan sampai kamu keluar dari sini dalam keadaan berantakan. Aku tidak mau orang-orang menganggap pemimpin di sini berperilaku buruk pada bawahannya. Ingat, kita harus merahasiakan hubungan kita. Orang bisa menodong kita, mengambil kesempatan untuk menjatuhkan, sementara kita tidak bisa berbuat apa-apa.”

__ADS_1


Entah bagaimana Yorick bisa berkata begitu jahatnya di depan Nina.


Nina kembali menangis dalam diam. Kenapa ia harus mendengar kata-kata yang tak mau ia dengar. Benar, dari awal, mereka hanya hidup dalam drama dan kepura-puraan. Hidup yang bergantung pada lembaran perjanjian. Tidak sampai dua tahun lagi mereka akan kembali menjadi orang asing.


“Dadaku sakit.” Hanya itu yang keluar dari mulutnya.


“Bohong.”


“Apa kamu akan percaya jika kubilang aku selalu menginginkan kelembutan dan kasih sayangmu? Tentu kamu akan merasa konyol, bukan? Aku hanya ingin mengatakan, kejadian semalam dan tadi pagi tidak seperti yang kamu bayangkan. Jika tidak percaya, ayo kita ke dokter dan tes laboratorium. Aku benar-benar-”


Yorick mengelus pipi Nina, menghentikan ocehannya yang tidak berkesudahan. Dengan sedikit gemas, ia mencubit batang hidungnya. “Apa kamu bodoh?”


“Hah? Coba ulangi sekali lagi apa yang kamu katakan tadi.”


“Bodoh.”


“Kamu yang bodoh! Tak ada orang yang begitu bodoh mengatai istrinya sendiri bodoh.”


Mereka cekikikan. Sepertinya kesalahpahaman di antara mereka telah terselesaikan. Yorick memandang Nina penuh arti. Diiringi dengan suara seminar samar-samar dari ruang aula, jantung mereka berpacu lebih cepat dari biasanya. Ditambah sorotan cahaya lampu kekuningan menambah suasana.


Yorick menelan ludah. Ia tak mau kejadian kemarin terulang lagi. Bibirnya bergerak, mengatakan sesuatu. “Boleh aku menciummu?” Wajahnya memanas. Betapa malunya ia berucap demikian.


“Ti-dak.”


Yorick menundukkan kepala. Dengan susah payah ia memberanikan diri, dan ujungnya ditolak.


Betapa puasnya Nina menangkap ekspresi lucu itu. Ia mengambil ponselnya, mencari aplikasi kamera dan berhasil mengabadikan ekspresi langka seorang presdir.


“Hei, apa yang kamu lakukan?”

__ADS_1


Terlambat. Nina telah memasukkan ponselnya kembali ke saku. Jika suatu saat ini akan berakhir, biarlah ia membawa kenangan ini bersamanya.


Jika di masa depan harus ada penyesalan, bagi Nina hanya satu buah kesalahan terbesar yang mengganggu momen bahagia saat ini. Ya, jika harus menyalahkan, mengapa kenangan bahagia itu harus terjadi di kamar mandi.


__ADS_2