
Sesampai di lobby, mereka memasuki sebuah lift yang kebetulan sedang kosong. Betapa canggungnya, hanya ada mereka berdua. Entah kenapa perasaan Nina Qianchu tak seperti hari-hari sebelumnya. Apa yang terjadi malam kemarin masih menohok hatinya. Perlahan, ia harus membuang perasaannya. Bagaimana pun, kini statusnya adalah seorang istri.
“Tunggu!” terdengar teriakan seorang wanita. Nampaknya ia seperti terengah-engah. “Maaf, aku ikut liftnya.”
Nina Qianchu menghela napas. Setidaknya, ada orang lain di sana.
“Lantai berapa?”
“Tujuh.” Wanita muda itu menoleh. Kedua matanya mengerjap penuh arti. “Apakah Anda berdua anak magang yang baru direkrut kemarin? Wah, senangnya. Baru hari pertama sudah dapat teman.”
“Iya, aku anak magang baru. Tapi pria ini direkrut sebagai karyawan, bukan anak magang,” jelas Nina Qianchu.
Lidah wanita berambut merah itu kelu, begitu juga jantungnya. Tatapan matanya terkunci. Ia kagum melihat ketampanan lelaki di depannya.
Hanya butuh waktu kurang dari lima menit, kini mereka bertiga berada di lantai khusus desainer Yorr Group.
Di ruangan besar yang dilengkapi banyak kertas, mesin fotokopi, alat tulis, dan beberapa unit komputer itu kini terisi sekitar dua puluh empat orang.
Dengan tidak sabar, Nina Qianchu melangkah ke tengah kerumunan, berusaha bersosialisasi. “Apa kabar, nama saya Nina Qianchu. Anak magang baru.”
Krikk!!
Demi apa, tidak ada satu pun yang merespon ucapannya.
__ADS_1
Pfftt! Rangga menahan tawa. Nina melirik, memanyunkan bibirnya.
“Ah!” Seorang gadis berdiri, menggebrak meja menatap mereka. Untuk ke sekian kalinya Nina Qianchu menghela napas lega. Akhirnya ada yang merespon ucapannya. “Bukankah kamu Su Na? Selebgram yang cantik itu?”
Wah, mereka berdua anak berbakat. Apa dayaku yang hanya sebngkah upil ini?
Belum sempat gadis bernama Su Na itu merespon, asisten CEO datang ke ruang desainer.
“Tiga anak magang sudah datang, ya? KaNinan langsung menghadap ke ruang direktur untuk diberi kartu tugas.” Asisten yang diketahui bernama Bella itu beranjak. Mau tidak mau Nina Qianchu mengikutinya.
Lalu sebuah suara yang berat terdengar, “Nona Qianchu, Nona Na, dan Rangga, kan? Sebelum memasuki ruang CEO, saya harap kalian siapkan mental. Karena Presdir Tsukasa sangat dingin. Usahakan senyum alami, jangan terlihat seperti cari muka. Atau kalian akan berakhir hari ini juga.”
Mereka mengangguk. Sampai di depan pintu ruang CEO, Bella memberi isyarat bahwa mereka harus masuk satu persatu. Mereka kembali mengangguk. Dan Nina Qianchu harus menerima bahwa dirinya yang terakhir.
Su Na dan Rangga sudah mendapat kartu nama dan tugas mereka. Nina Qianchu melangkah. Kini gilirannya. Wajahnya pucat pasi. Jika orang lain melihatnya, mereka pasti mengira ia ketakutan.
Rangga membalikkan badan Nina, menatapnya lamat-lamat, “Nina, percayalah Presdir tak semengerikan itu. Kamu tidak perlu cemas sampai pucat begini.” Rangga mengelus, membenarkan rambut poni Nina yang hampir basah terkena keringat.
Dari dua sudut yang berbeda, dua pasang mata memperhatikan Nina dan Rangga. Dan kedua-duanya merasakan dadanya bagai tertohok sangat keras.
Nina Qianchu menepis tangan Rangga dan masuk ke ruangan. Di ambang pintu, ia membalikkan badan, “KaNinan berdua duluan saja. Aku rasa ini tak akan mudah.” Nina tersenyum miris.
“Ta-tapi-”
__ADS_1
“Ayo, Rangga. Kita duluan.” Su Na merangkul tangan Rangga dan menariknya menjauh.
Ceklek!
“Selamat pagi, Presdir. Saya anak magang baru, Nina Qianchu memberi hormat.”
“Ho, inikah gadis yang kemarin malam mengerjaiku di kamar mandi?”
Nina Qianchu hanya bisa menggigit bibir. Ia menahan rasa kesalnya. Untuk hari ini, sampai ia benar-benar resmi jadi anak magang.
Merasa diacuhkan, Yorick melangkah mendekati Nina Qianchu. Oh tidak, ada yang aneh dengan jantung gadis itu. Perasaan sakit apa di jantungnya itu. Debarannya terlalu cepat tak dapat dikontrol. Yorick mendekat hingga badan mereka saling berhadapan.
“Maaf, Presdir. Saya menghadap untuk mengambil kartu nama.” Nina Qianchu masih mempertahankan rasa hormatnya.
Sebuah senyum sinis tercipta dari sudut bibir Yorick. Ia ingin melhat sampai mana Nina Qianchu dapat menahan jati dirinya.
Yorick mendekat dan dengan sengaja mengulang apa yang Rangga lakukan. Membelai dengan penuh ‘kasih sayang’. “Bukankah tadi kamu sangat menikmatinya?” Lelaki ini benar-benar tau bagaimana cara menohok hatinya hingga yang terdalam.
“Terima kasih atas perhatian Presdir. Sekarang, bisakah saya minta kartu nama saya?”
Yorick tersenyum tipis. Ia mengambil kartu nama terakhir yang tergeletak di mejanya, mengangkatnya ke udara.
“Ini? Silahkan ambil sendiri.”
__ADS_1