
Nina Qianchu selesai mengambil obatnya di apotek. Ia berjalan, mendekati kamar dengan pintu bernomor L21A. sebuah kamar rawat inap darurat dengan penanganan cepat. Ia mengepal, matanya sembap. Sosok wanita paruh baya masih terbujur kaku di atas kasur.
Ia memaksa senyum, walau tak ada yang melihat. Bahkan wanita yang ia harapkan.
“Selamat pagi, Ibu. Ini Lili bawakan bunga segar, loh. Baunya wangi. Kalau nanti Ibu bangun, pasti bakal suka. Ini bunga Lili putih. Bukannya ibu suka bunga ini? Mulai hari ini Lili sudah mulai magang di kantor suami Lili. Jangan khawatir, dia orangnya baik kok. Hah? Mama Tara? BeNinau memperlakukan Lili dengan baik. Ayah, kak merry juga baik. Mulai minggu depan Yui juga kuliah di kampus Lili. Ia tumbuh jadi lelaki tampan, loh. Ah, andai saja dia bukan adikku, pasti Lili naksir berat.”
“Bu, Lili sudah cerita banyak. Sekarang giliran Ibu yang cerita. Hmm? Ibu ketemu Ayah di mimpi? Hoo, apa ayah memperlakukan Ibu dengan baik? Bukankah sekarang Ibu sudah tidak secantik dulu?
Nina Qianchu membenamkan kepalanya. Ia menangis sejadi-jadinya. Rindu sosok wanita kuat yang selalu mengelus puncak rambutnya, selalu tersenyum walaupun hatinya tersakiti. Sosok yang selalu terlihat kuat meskipun aslinya lemah tak berdaya melawan takdir.
“Hebatnya, Ibu bisa berpura-pura selama tahunan. Sementara aku?” Nina sesenggukkan, mencoba menahan agar tangisnya tidak pecah.
__ADS_1
Nina Qianchu beranjak. Ah, hampir saja ia lupa pada obatnya. Sepertinya bekas luka di wajahnya susah dihilangkan. Serutin apa pun ia oleskan obat, sesering apapun ia konsultasi, hasilnya tetap berbekas.
Gadis bermarga Qianchu itu melirik jam meja yang tergeletak di sudut ruang. Sudah satu jam kiranya ia menemani ibunya. Ia harus segera berangkat. Hari ini adalah hari pertama ia mulai magang. Magang ini sangat penting untuk masa depannya. Selain ada kemungkinan ia akan dicampakkan Yorick, ada pula alasan mendukung lainnya. Ia tak mau bergantung pada keluarga Qianchu yang bahkan tak menginginkannya.
Untuk ke sekian kalinya Nina Qianchu mendongak, menahan air mata yang hampir saja terjatuh.
“Lily beranggkat, Bu. Doakan kali ini sukses hari pertama.”
“Yui? Sedang apa dia di sini? Apa mau jenguk ibuku? Hmm… sepertinya bukan. Dokter itu bukan dokter spesialis ibu.” Nina Qianchu bertaya\-tanya. “Yui!” ia berteriak memanggil nama adiknya. Tapi tak ada sahutan. Justru orang yang dipanggilnya melangkah pergi.
Nina Qianchu menunjukkan raut muka kaget. Ia mengingat kenyataan bahwa magangnya kali ini jauh lebih penting daripada rasa penasarannya. Ia segera bergegas keluar rumah sakit mengendarai motor matic yang sudah menjadi bagian hidupnya.
Hanya butuh waktu lima belas menit, Nina Qianchu sudah sampai di depan perusahaan Yorr Group. Ia memandang dengan skeptis tiap sudut gedung, warna yang begitu natural. Ia masih tak percaya dirinya akan mejadi bagian dari Yorr Group. Yah, walaupun perusahaan Qianchu menduduki posisi kedua sebagai perusahaan terbesar di Jepang, tapi perbedaan keduanya sangat besar.
__ADS_1
“Lily, kenapa kamu hanya berdiri di sini? Bukankah hari ini kita ada presentasi?” Seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
“O-oh, Rangga-senpai. Aku hanya masih tak percaya bisa masuk perusahaan ini.”
“Kagum boleh, tapi kau tidak mau diusir dari sini bahkan sebelum menginjaknya, bukan? Lima belas menit lagi masuk waktu kerja. Sebagai anak magang, tentu kamu tidak ingin memberi kesan negatif pada atasan, kan?”
“Te-tentu saja tidak.”
Rangga tersenyum. Ia menggandeng tangan Nina Qianchu dan memasuki kawasan perusahaan Yorr Group dengan bangga. Nina agak kaget dengan tindakan Rangga yang secara mendadak itu dan tanpa aba-aba. Bagaimana jika ada yang melihatnya? Bukankah itu memalukan?
“Rangga, bisakah kamu melepaskan tanganku? Kita sudah hampir sampai di lobby.”
“Oh, maaf.”
__ADS_1