The Dark Romance

The Dark Romance
Candaan Takdir


__ADS_3

Bruk!


Nina sontak memundurkan tubuhnya saat ia merasakan seseorang menabraknya ketika hendak masuk ke dalam lift. Tampak seorang gadis meringis kesakitan, tersungkur di lantai depan pintu. Su Na. Beberapa karyawan di sana menatap kejadian itu dengan tatapan penuh arti. Tatapan yang mengatakan bahwa Nina sengaja mendorongnya agar Su Na terluka.


Melihat wajah Su Na yang begitu sok polos dan sok tertindas benar-benar membuat Nina merasa sangat jijik. Bukankah harusnya gadis itu meminta maaf atas postingan ‘tak sengaja’nya itu?


“Maaf, Nina. Aku benar-benar ceroboh.” Su Na mengambil lembaran kertas yang berantakan di lantai lobi.


“Hei, ‘gadis polos’! Bukankah ada sesuatu yang harus kau katakan?”


Su Na mengeratkan kepalan tangannya saat Nina membalas kalimatnya, yang bahkan merujuk pada kejadian tempo hari. Sedetik kemudian terdengar suara pintu lift terbuka. Lift khusus presdir. Yorick muncul di tengah-tengah kejadian ambigu itu.


“Aku yang salah. Aku benar-benar minta maaf, Nina. Aku tak sengaja menabrakmu.” Su Na berusaha untuk berdiri dan membungkuk untuk minta maaf. Tatapan orang-orang semakin terlihat jelas menyalahkan Nina.


Semua orang menatapnya dengan tatapan benci dan tak suka. Oh ayolah, ia bukan aktris yang punya banyak haters, bukan?


“Su Na, aku tak butuh maaf darimu. Klarifikasi saja berita waktu itu. Maka aku akan mengakhiri drama pertemanan kita.” Nina beranjak meninggalkan Su Na yang masih berpura-pura menjadi gadis lemah.


“A-apa maksudmu, Nina?” Su Na berusaha meraih tangan Nina.


“Lepaskan!” Lagi, Su Na tersungkur ke lantai. Benar-benar drama yang memuakkan.


Yorick berdeham. Sudah berapa detik lamanya ia merasa terasingkan.


“Yor-Presdir!” Hampir saja Nina melonjak kaget. Betapa bodohnya ia sampai bertengkar di depan lift pribadi Yorick. Dan lebih bodoh lagi, ia tak menyadari keberadaan laki-laki itu.


Yorick menahan kesal. “Punya nyali juga kalian berdua. Waktu istirahat, temui aku di kantor. Sekarang minggir!”


“Ma-maafkan saya, Presdir. Saya tidak sengaja bertengkar dengan teman karena kecerobohan saya sampai terjatuh dan mengganggu Presdir. Lain kali, saya tidak akan bertengkar di sini.”


“Ho, sepertinya Nona Su Na berniat akan bertengkar terus untuk ke depannya. Dapatkah kuartikan seperti itu?”

__ADS_1


Su Na menutup mulut. Sepertinya rencananya gagal. Padahal ia sengaja mencari gara-gara pada Nina untuk mencari perhatiannya. Berharap Nina akan dipecat cepat atau lambat.


“Hmph! Dan untuk kalian berdua, mataku bukan mata minus seperti orang bodoh yang tak bisa melihat. Pebisnis selalu bisa menerawang hanya dari sorot mata.”


“Aduh!” Nina memegang bagian pahanya. Sontak Yorick menoleh, khawatir.


“Kau kenapa, Nina?” Su Na jauh lebih cepat dari Yorick.


“Jangan sentuh aku! Sial, ini hanya dering HP. Tidak perlu heboh begitu.”


Nina mengangkat telepon. Di seberang sana, terdengar suara seorang lelaki dengan nada yang begitu panik. Suaranya setengah berteriak meminta Nina cepat datang. Hanya beberapa detik dan sepatah kata, badan Nina begitu lemas. Ia merasakan sekujur tubuhnya bergetar. Air matanya hampir saja terjatuh. Tak ada waktu. Ia harus segera ke rumah sakit.


Walau ingin rasanya Nina meminta bantuan Yorick, di sisi lain ia harus menjaga jarak saat berada di tempat umum. Seperti seseorang yang ingin menggapai sesuatu. Terasa jauh dan memerlukan begitu banyak tenaga. Saat dikejar, orang itu akan perlahan menjauh.


Nina berlari sempoyongan dengan air mata terus menuruni pipinya. Kakinya masih bergetar. Ia melewati Yorick tanpa mengucapkan apapun. Orang-orang yang melihat kejadian itu semakin berpikiran sempit dan menganggap Nina kurang ajar. Tak ada sopan santun sedikit pun pada atasan.


Yorick mengepalkan tangannya kuat-kuat. Saat Nina menangis, tak ada yang bisa ia lakukan.


“Baik.”


Waktu menunjuk hampir siang. Cuaca di luar ruangan sangat panas. tapi gadis bermarga Qianchu itu tak merasakan apa pun. ia menatap tak percaya orang yang tengah berbaring lemas di sampingnya. Di atas tempat tidur itu terbaring sosok wanita paruh baya yang selalu ia panggil ibu. Bibirnya terlihat sangat pucat. Raut wajahnya begitu kering dan memudar.


“Syukurlah, Ibu Anda bisa di selamatkan. Nona, mari ke ruangan saya. Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan.”


Nina mengangguk lemas.


“Aku ikut ya, Kak.”


Nina hampir lupa seseorang yang berdiri di sampingnya. Satu-satunya keluarga Qianchu yang tak ia benci. Yui.


Nina mengangguk lagi. Di ruang dokter yang tak begitu besar, tiga orang berkumpul. Tatapan gadis itu begitu kosong. Walaupun Nina dan Yui bukan terlahir dari ibu yang sama, namun Yui bisa merasakan apa yang dirasakan kakaknya.

__ADS_1


Dokter menghela napas berat. “Nona Nina, kondisi Ibu Anda benar-benar kritis. Saya tidak tahu sampai kapan ia bisa bertahan. Maaf, saya harus mengatakan ini.”


Perkataan yang membuat Nina mematung. Gadis itu lantas menunduk, menangis dalam diam.


“Saya hanya berharap agar Anda memiliki hati yang besar untuk menerima kenyataan.”


Nina tak menjawab. Ia sedang tak ingin bersuara apapun. Beberapa detik, suasana lengang sejenak.


“Dok, bisakah Anda mempertahankan hidup ibu saya?”


“Maaf, saya bukan Tuhan. Saya hanya bisa berusaha.”


“Benar, Anda bukan Tuhan! Maka dari itu, jangan mengklaim ibu saya tidak bisa disembuhkan! Dia masih muda, tentu saya tidak akan menerima kalau Dokter meminta saya menerima kematiannya begitu saja! Saya masih belum tau apa yang terjadi sebenarnya! Tolong sembuhkan dia, Dok!”


Air mata tak berdosa itu terus melaju. Yui berusaha menenangkan.


“Hanya dia satu-satunya harapanku. Aku sudah mengalah, dan aku sudah lelah! Aku rela menikah dengan orang yang sama sekali tidak kucintai hanya demi biaya pengobatan Ibu. Aku tak masalah harus hidup menjadi bayang-bayang Kak Mery, rela diperlakukan terhina oleh keluarga sendiri demi Ibu. Bahkan aku melepaskan orang yang kucintai. Jika Ibu saya tak terselamatkan, lalu untuk apa pengorbananku selama ini?


“Kakak, tenanglah.” Yui membelai puncak kepala Nina.


“Yui, kamu tidak tau apa-apa. Sejak kecil hidupmu enak. Keluarga lengkap dan sayang padamu. Kalian keluarga Qianchu menari di atas kehidupan suramku!” Hati Yui tertohok.


Nina menangis tersedu-sedu. Ia tidak lagi mampu menahan air matanya. Mengetahui kenyataan bahwa apa yang ia perjuangkan selama ini agar berakhir sia-sia. Takdir memang suka mempermainkan.


"Maaf, Kak. Aku tidak tau apa yang Kakak alami selama ini begitu menyakitkan. Tapi percayalah, dibalik takdir Tuhan yang begitu egois, selalu ada hal indah yang selama ini tidak kita duga. Sakit adalah salah satu bentuk takdir dimana kita harus siap akan kehilangan."


Yui masih memeluk kakaknya, berusaha menenangkan sebisanya.


"Apakah dia akan kembali menangis saat aku yang pergi?" gumam Yui dalam hati.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata memperhatikan dari balik pintu ruangan.

__ADS_1


__ADS_2