The Dark Romance

The Dark Romance
Termakan Berita


__ADS_3

Kehidupan artis tak pernah berhenti dari sorotan kamera. Saat makan, mereka pun harus tetap menjaga image karena banyak paparazi bertebaran, baik mengambil gambar sengaja maupun tidak, menyebarkan dengan sengaja atau tidak. Awak media tak pernah memikirkan kondisi artis, tak pernah meminta persetujuannya. Bagi mereka, menyebarkan berita adalah salah satu tindakan dari kebenaran.


Alur penyebaran berita atau gosip bukan hanya dari awak media saja. Banyak netizen yang memang ditugaskan di lapangan sebagai penguntit. Sekali jepret dan sekali membuat headline, mereka bisa mengubah nasib para artis. Arya, seorang model papan atas yang baru saja direkrut Yorr Group sebagai model couple bersama Kana, keduanya menjadi trending topic akhir-akhir ini.


Kana yang memang sejak sebulan telah digosipkan dekat dengan predisen direktur Yorick sudah terbiasa termakan berita. Bahkan ia sering mengambil keuntungan. Berbeda dengan Arya, walaupun ia bukan model awam dan sudah cukup lama berkecimpung di dunia modeling, ia belum pernah termakan berita yang cukup menggemparkan.


Seorang gadis terduduk di ruang kerjanya, menunggu waktu pulang tiba. Nina memainkan ponselnya. Keningnya mengkerut, menghela napas berat.


“Igh, siapa cewek itu? Tidak cocok sama sekali.”


“Apa-apaan dia, mau rebut Kana dari kami?”


“Arya tampan, sampingnya buruk rupa! Jauh-jauh sana!”


“Najis!”


“Mau jadi artis dadakan,Mbak? Makanya viral.”


“Stop jadi fans Arya kalau dianya udah punya pacar.”


“Rame-rame jadi haters. Hahaha.”


“Arya sok kegantengan.”


“Pencitraan!”


Nina merebahkan kepalanya di atas meja kerja. Jemarinya masih memainkan ponsel. Ia memperhatikan gambar yang saat ini tengah hits. Ia ingat betul kapan kejadian itu terjadi. Hari seminar yang dibuka untuk umum, saat lutut dan tangannya terluka, Arya mengaplikasikan beberapa plester ke daerah yang terluka. Dan saat itulah gambar ini diambil.


Ada beberapa kandidat yang bisa dijadikan pelaku. Bagaimanapun, mengambil gambar tanpa persetujuan adalah hal yang tidak pantas. Apakah mereka wartawan? Jurnalis? Rival Arya? Atau rival Nina sendiri? Seingatnya, ia tak pernah mencari musuh selama ini. Satu-satunya orang yang membencinya adalah Merry, kakaknya.


Rasanya sangat risih punya banyak haters, apalagi saat tidak merasa bersalah tiba-tiba dibenci hingga menusuk tulang. Itulah yang dirasakan Nina. Instagramnya secara mendadak bertambah follower, penuh dengan DM netizen dengan kritikan dan sindiran pedas.

__ADS_1


“Nina, aku akan cari penyebabnya. Ingat, jangan pernah memikul beban sendirian. Ada aku yang selalu mendukungmu dari dekat.”


“Terima kasih, Rangga. Andai saja aku tak terluka waktu itu, andai saja kamu yang datang menolongku. Semuanya pasti tidak akan terjadi.” Nina meletakkan kedua telapak tangannya, menutupi wajah kesedihan yang kini mendominasi sebagian tubuhnya.


“Yang berlalu biarlah berlalu.” Lelaki itu menepuk puncak kepala Nina.


Entah sudah berapa lama Su Na memperhatikan mereka. Ia menggigit kuku, giginya bergemelutuk. Tatapan yang penuh iri dan benci.


Su Na melangkah mendekat. Kedua tangannya tertungkup. Dengan memasang muka polos, tentu ia dengan mudah mengelabui orang-orang di sekitarnya. Apalagi ia memang pandai memainkan mimik wajah.


“Nina, ma-maafkan aku. Aku tidak sengaja.”


“Apa maksudmu, Su Na? Memang apa yang kamu perbuat padaku?”


Su Na menitikkan air mata. Wah, sungguh totalitas sekali ia memerankan drama karakter tertindas.


“Sebenarnya, aku ….” Su Na diam sejenak. Ia ragu untuk mengatakannya.


“Sebenarnya aku yang menyebarkan foto kamu dan Arya. Maaf aku tidak sengaja. Kamu tahu, aku adalah salah satu fans Arya. Beberapa hari itu ia membuka audisi khusus wanita untuk menjadi pasangannya di salah satu agensi modeling. Tapi sayangnya ia membatalkan audisi itu. Aku tak tahu apa sebabnya. Jadi kupikir karena kamu. Aku tak sengaja melihat Arya dan kamu dilorong hampir berciuman, jadi kupikir kamu dan dia –”


Kata-kata Su Na seketika terhenti saat Nina menggebrak tangannya ke meja. Seketika semua orang di kantor itu memperhatikan dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Nina menghela napas berat. Ia yang awalnya ogah-ogahan menatap Su Na, saat itu juga ia menatap dengan tatapan tajam.


“Apa kamu bodoh? Otakmu kau tinggal di rahim ibumu, ya? Woy, kamu tahu Arya model papan atas, kan? Tahu kamu selebgram, kan? Yah, mungkin tak akan jadi masalah jika yang upload adalah Jang So, semuanya tidak akan seperti ini. Lihat ke luar jendela. Mereka semua menantiku.”


“Maafkan aku, Nina.”


Nina melayangkan tangannya ke udara, bersiap memukul gadis di depannya. Pukulan itu terhenti, Rangga menahan tangan gadis itu.


“Lepaskan aku, Rangga! Cewek ini harus dikasih pelajaran biar tahu bagaimana memanfaatkan otaknya.”


“Tapi bukan begini caranya, Nina. Kau tahu dia sama-sama anak magang di sini. Mungkin saja dia tidak tahu bahwa itu adalah kamu. Dia sudah menjelaskannya, bukan? Dia tidak sengaja.”

__ADS_1


Nina terdiam mendengar pemaparan Rangga. Ia tidak menyangka sama sekali jika pria yang selama ini ia andalkan, pria yang baru saja mengatakan akan selalu mendukungnya sekarang berbalik menyalahkannya. Entahlah, mungkin di dunia ini hanya ada dia seorang tanpa ada satu pun yang mendukungnya.


Nina berdiri dan dengan kasar menggeser kursi yang menghalangi jalannya. Ia keluar dari ruang kerja, meninggalkan panggung drama besar di sana. Sementara Su Na masih terduduk di lantai.


“Berdirilah. Dia sudah pergi, percuma kamu terus berrsimpuh begitu.”


“Apa dia membenciku, Rangga?” Su Na terisak, mimiknya memelas penuh rasa bersalah.


“Percayalah, dia bukan gadis seperti itu. Dia hanya kesal seseorang yang begitu dekat dengannya justru yang menyebabkan kehidupannya runyam. Biarkan beberapa hari saja, nanti dia akan baikan.”


“Rangga, bisakah kamu membantuku? Temani aku ke toko untuk mencari hadiah. Aku ingin minta maaf padanya. Kumohon,” Su Na menangkupkan kedua tangannya memohon bantuan Rangga.


Rangga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Berpikir sejenak, lalu mengiyakan ajakan Su Na. Mungkin di sana ia bisa mencari hadiah yang cocok untuk Nina.


Jarum jam menunjuk angka lima sore, yang artinya jam kantor berakhir. Seluruh pegawai mulai pergi satu persatu.


“Nina, ayo pulang,” ajak Rangga.


“Rangga, bukankah kamu sudah berjanji akan menemaniku ke toko? Ayo.” Tanpa persetujuan, Su Na merangkul tangan Rangga. Sementara Nina memandang kejadian itu sambil berpangku tangan.


“Nina tidak keluar bareng?”


“Duluan saja. Masih ada hal yang harus kukerjakan.”


“Tapi diluar banyak –”


Nina tersenyum, melambaikan tangan. "Bersenang-senanglah.” Wajahnya kembali masam.


Sangat pening. Nina ingin sekali rasanya kembali ke rumahnya, lalu tidur dan melupakan semua kejadian hari ini. Badan dan pikirannya sangat lelah. Ia menghela napas. Bagaimana ia pulang kali ini, sedangkan di luar sana banyak wartawan menanti kehadirannya.


Nina mengumpat. Ia tak peduli lagi akan fakta bahwa dirinya akan kembali menjadi sorotan dan menjadi headline news besok. Kakinya melangkah, meninggalkan ruang kerja. Nina tak sadar, sepasang mata mengawasinya dari jauh.

__ADS_1


__ADS_2