
Entah karena mimpi buruk apa, pagi itu Nina mendapati asisten Andra di ruang makan. Ia mengedarkan pandangannya. Di depannya kini terdapat beberapa jenis makanan mewah.
“Andra, kenapa kamu di sini? Kenapa ada banyak makanan?”
“Oh, Nona sudah bangun? Tuan Yorick meminta saya menyiapkan makanan ini.”
Nina Qianchu hanya tersenyum anggun karena hingga saat ini ia belum pernah melihat makanan sebanyak, searoma, dan seenak ini. Reaksi Nina sempat membuat Andra tertegun selama beberapa saat.
“Cantik.”
“Hmm? Apa yang kamu gumamkan, Andra? Oh iya, berapa umurmu? Sungguh terlihat sangat muda dan berkelas. Apa kamu perawatan tubuh seperti yang wanita lakukan?”
Sekali, dua kali. Andra mengerjapkan mata. Sungguh pertanyaan yang sangat beruntun.
“O-oh, bukan apa-apa. Tuan Yorick meminta Anda berangkat ke kantor sendiri. Motor Anda ada di garasi. Saat sampai di kantor harap segera ke ruang Presdir. Umur saya 27 tahun, sama seperti Tuan. Maaf, saya tidak perawatan seperti itu. Mohon jangan menganggap berlebihan.”
Nina mengangguk paham dan menyelesaikan makanannya. Walau makanan itu sangat banyak, Nina hanya menghabiskan beberapa saja. Meskipun doyan makan, tapi ia bukan **** liar. Selesai makan ia segera berangkat magang.
Untung saja perjalanannya tidak begitu lama. Nina memarkirkan motornya dan segera melapor ke ruang Presdir. Entah siasat apa lagi yang akan dilakukan Yorick padanya, ia hanya bisa untuk tak ambil pusing.
“Permisi, Presdir, saya datang untuk melapor.”
Seorang gadis cantik terduduk di pangkuan Yorick. Sungguh pemandangan yang begitu mesra, ditambah lelaki itu tersenyum manis. Lagi-lagi, hati Nina tertohok, lebih sakit dari sebelum-sebelumnya.
Beberapa saat mereka terdiam, hingga Nina kembali angkat bicara. “Maaf, sudah mengganggu Presdir. Saya akan melapor lain kali, permisi.”
Nina menutup kembali pintu itu.
Ada apa denganku? Apa aku kecewa dan cemburu? Tidak mungkin! Aku hanya menyukai Rangga Alfa. Ah, hatiku sakit sekali. Apa aku hanya kecewa ternyata selama ini aku hanya dianggap sebagai salah satu mainannya?
__ADS_1
***
Di dapur, Nina tengah menuang air ke dalam gelas yang berisi seduhan teh mint kesukaannya. Tatapan matanya kosong. Ia terus terbayang gadis yang duduk di pangkuan Yorick tadi pagi, hingga tanpa sadar airnya telah tumpah kemana-mana.
“Nina!” gadis yang diteriaki belum sadar dari lamunannya juga.
“Ninaaaa!”
Nina langsung tersadar sepenuhnya setelah diteriaki seperti maling oleh Rangga. Gadis itu langsung gelagapan dan kaget tanpa sengaja air panas itu mengenai tangannya.
“Astaga!” Rangga bergegas mendekat dari ambang pintu. “Kau tidak apa-apa?”
Nina mengangguk.
Rangga mengambil sapu tangan di sakunya dan mengeringkan air panas di tangan Nina. Terlihat sedikit melepuh. Nina meringis kesakitan. Rangga masih mengelap dan beberapa kali meniupnya agar hawa panas di tangan Nina hilang.
“Duh, bisakah kamu jangan ceroboh begini? Membuat khawatir saja.”
Rangga membelalak dan sejenak suasana menjadi hening. “Baiklah, maafkan aku. Bisakah kita kembali ke ruang desain? Waktu istirahat hampir habis. Ada yang perlu ketua Bella sampaikan.
Nina mengangguk. Mereka meninggalkan dapur beserta masalah yang diciptakan. Teh yang tak sempat diminum dan rasa canggung yang belum terselesaikan.
Terdengar suara denting lift dan dua orang berada di dalamnya. Ya, dialah Yorick dan gadis yang ada di ruang CEO tadi pagi. Sontak mereka kaget bisa berpapasan dengan sang pemilik perusahaan.
Rangga bergeser dari depan lift dan membungkuk memberi hormat, begitu jua Nina. Yorick tercekat mendapat tangan Nina lebam sampai begitu merah.
“Kenapa tangan kamu?”
“Maaf, sa-saya…”
__ADS_1
“Bisakah kamu bicara dengan lancar, hah? Saya tidak mempekerjakan orang gagap!” teriak Yorick dengan lantang hingga seluruh karyawan di lantai itu memperhatikan mereka.
Oh Tuhan.
“Maaf, Presdir. Tangannya tersiram air panas saat membuat teh di dapur.” Nina terpaku sampai tak bisa berkata-kata. Ia bersyukur di sampingnya ada Rangga.
Yorick berlalu, melewati mereka begitu saja. “Dasar ceroboh,” gumamnya tepat disamping Nina. Mungkin orang lain tak mendengar. Bahkan Nina sendiri tak begitu yakin.
Rangga berkacak pinggang. Sementara Nina hanya mendesah pelan. “Duh, satu kali bertemu CEO hawanya selalu membuat tegang saja. Sementara Nina hanya mengangguk mengiyakan. Mereka segera masuk ke dalam lift dan menemui karyawan desainer yang lain.
“Oh yeah, akhirnya pemeran utamanya kumpul semuanya. Hari ini saya akan mengumumkan sesuatu yang penting. Nanti malam kita akan mengadakan pesta penyambutan di Kenada Caffe setelah jam kantor berakhir. Dan, sebuah kehormatan, Presdr Yorick akan ikut andil dalam acara ini.”
Seorang CEO perusahaan ikut acara kecil begini? Mereka semua terkejut, tampak memperlihatkan reaksi heran, namun tidak dengan Nina. Bukan hal tabu lagi jika ia selalu melihat wajahnya setiap hari.
“Aah, tapi CEO kita sangat tampan, walau tatapannya begitu dingin. Aku ingin menikah dengannya!” celoteh salah satu karyawan wanita.
“Aku dengar-dengar dia sudah menikah, loh. Tapi istrinya tidak pernah diekspos media. Malah akhir-akhir ini bukannya beliau kena skandal dengan model yang baru saja naik daun?”
“Oh iya. Model yang tinggi putih itu, kan? Kalau tidak salah namanya Kana. Aku melihatnya di TV. Tadi pagi juga aku melihatnya di sini.”
“Tapi, apa yang membuat Presdir mau ikut acara kita? Apa kalian bertiga tahu sesuatu? Bukankah kalian tokoh utamanya bulan ini?
Su Na dan Rangga menggeleng serempak, kecuali Nina. Ia tersenyum polos, lalu berkata dengan nada bercanda. “Mungkin karena aku adalah istrinya, orang yang tadi kalian gosipkan?”
Hening. Sedetik kemudian ruangan itu hiruk pikuk. Tawa mereka pecah, sampai ada yang memegangi perutnya. Ah, apakah hal itu pantas untuk ditertawakan?
“Hei, Nina. Jika kamu istrinya, maka aku adalah pacar pertamanya. Dan Su Na, gadis yang paling cantik di sini adalah Nyonya Yorick.” Ia meneruskan tawanya.
Kata-kata dari rekan kerjanya membuat Nina begitu marah. Ia menunduk, mengepal dengan kesal. Keributan terus terjadi, gosip beredar cepat, sampai Bella mengambil tindakan. Ia takut seluruh departemen akan terkena masalah jika sesuatu terjadi pada Nina. Ia tahu semuanya.
__ADS_1
Bella secara gamblang menjelaskan runtutan acara, apa saja yang perlu dipersiapkan, serta syarat dan ketentuan serta kode etik karyawan mengingat pimpinan mereka menjadi bagian acaranya.
Aku hanya seorang pengganti kakakku. Bagaimanapun, betapa bodohnya ketika aku yang hanya sepotong sandal jepit bisa menggantikan sepatu kaca? Hah, hanya dua tahun, dan kenangan ini akan kutinggalkan.