
Pintu kamar besar dengan warna cat tembok itu terbuka. Seseorang masih terlelap tidur di atas ranjang. Waktu cerah seperti inilah yang biasanya digunakan para remaja untuk kencan di akhir pekan. Tapi hal itu tidak berlaku untuk karyawan Yorr Group saat ini. Mereka akan mengadakan seminar membahas rancangan desain perhiasan terbaru.
Yorr Group adalah perusahaan besar yang memiliki banyak cabang dan anak perusahaan, seperti desain bangunan, perhiasan, tata busana, sampai parfum, semuanya ada. Dan induk perusahaannya adalah yang mana Nina bekerja saat ini.
Mata Nina mengerjap, menatap tiap sudut ruang di sana. Terasa begitu asing.
“Eh, dimana ini? Hah? Baju siapa yang kupakai? Eh? Eeeeh?”
“Berisik sekali, sih! Sini cepat makan, setengah jam lagi kita berangkat.”
“Hah? Rangga? Loh? Kok? Jangan-jangan,” Nina mengambil selimut, menutup sebagian tubuhnya.
Rangga menepuk jidat. “Jangan berpikir yang aneh deh. Walaupun tadi malam saat kamu mabuk, kamu menarik tanganku dah berkata ‘jangan pergi, Rangga. Aku menyukaimu’. Ah, dan kamu hampir saja mengambil ciuman pertamaku, loh.”
“Stop! Hentikan, oke? Jam berapa sekarang?”
“Jam tujuh,” jawab Rangga polos.
“Apa? Ah, aku harus segera pulang dan bersiap-siap.”
Nina turun dari tempat tidur, bersiap pulang. Rangga mencegahnya. Tindakannya lebih cepat dari pikirannya. Tangan Rangga berhasil mengapit Nina di dinding. Jantung mereka berdegup begitu cepat. Beginikah rasanya saling menyukai? Rangga mencondongkan badannya, hingga semakin mendekat. Kini wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
“A-apa yang mau kamu lakukan?”
“Apa kamu yakin mau pergi dengan tampilan seperti ini?” Rangga melirik dari ujung kepala sampai kaki.
“Aku tak apa-apa. Hahah, sudah dulu, ya. Dan, terima kasih untuk tadi malam. Aku tidak tahu jadinya jika tidak ada kamu. Kamu selalu jadi sosok yang bisa kupercaya. Sampai ketemu di kantor.”
__ADS_1
Jantung Nina masih berdegup. Ada apa dengannya?
Nina menampar mukanya sendiri, “Sadarlah, kamu sudah punya suami. Bukan hal yang benar jika jatuh cinta pada dia sekarang.”
Jatuh cinta memang tanpa memandang siapa dia dan tanpa alasan yang jelas. Saat jatuh cinta, jantung akan berdetak lebih dari perkiraan. Sialnya, kau tak bisa memilih kepada siapa genderang itu ditabuh.
Saat ini tak ada yang jauh lebih penting dari pulang ke rumah. Ia tak tahu apa yang sedang menunggunya di sana. Harimau lapar, singa bunting, atau sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Ia tergesa-gesa, menunggu taksi di samping jalan. Sialnya, tak ada satu pun taksi yang lewat.
“Berhenti!”
Nina mencegat mobil yang kebetulan lewat.
“Ada apa, Nona?”
Seorang pria membuka kaca mobil. Sungguh mempesona. Matanya yang sedikit sipit, hidung mancung dibalut kulit putih baby face mendongak. Ditambah dengan rambut sedikit berantakan dan kemeja kotak-kotak. Benar-benar seperti cadangan oksigen untuk seorang istri yang dicuekin suami.
“Bisakah antarkan aku? Nanti suamiku yang akan membayarnya.”
“Ada apa? Duh, maaf Nona. Wajah tampanku ini memang mudah membuat orang jatuh cinta.” Lelaki itu mengedipkan mata kirinya.
Nina hanya tersenyum tipis, memperlihatkan lesung pipinya dan berpura-pura tertawa.
“Benar, seperti vitamin saja. Hahaha, jarang-jarang bisa melihat wajah tampan. Tapi bisakah Anda tidak terlalu percaya diri?"
“Oh, tidak bisa. Karena tampan dan percaya diri adalah modal utama seorang model.”
Dari percakapan pendek itu, akhirnya Nina tahu bahwa dia adalah seorang model. Setidaknya, ia merasa aman sekarang. Beberapa menit berlalu, akhirnya ia sampai di depan rumahnya. Lelaki pede itu melongo saat melihat sebuah bangunan kecil.
__ADS_1
“Tuan, terima kasih atas tumpangannya. Lain kali aku traktir makanan enak, ya. Sampai jumpa.”
Lelaki asing itu mengangguk dan sekali lagi melempar senyum manisnya. Mobil mewah itu kembali ke jalanan dan meninggalkan Nina. Setelah dirasa cukup, Nina berbelok dan membuka gerbang rumah mewah di samping rumah kecil itu.
Dari dalam kaca mobil, lelaki itu masih memperhatikan Nina. “Sudah kuduga. Sepertinya ini akan menarik.”
Sebuah rumah yang begitu mewah menjadi tempat dimana kaki Nina melangkah demi selangkah. Tiap langkahnya berhasil menakutinya.
Benar saja! Ketika Nina hampir memegang gagang pintu, pintu itu telah terbuka dengan sendirinya. Pria tampan dengan setelan jas hitam lengkap itu melangkahkan kakinya keluar rumah. Pandangan mereka saling beradu. Satunya penuh amarah, satunya lagi penuh ketakutan.
“Tidur di mana tadi malam, hah? Apa kalian berhasil membuat anak tadi malam?”
Deg!
Begitukah sosok Nina di pikiran Yorick? Kepala Nina tertunduk. Haruskah ia menjelaskan bahwa dirinya dan Rangga tak ada sesuatu yang terjadi? Tapi untuk apa? Bukankah Yorick juga melakukan hal yang sama dengan model Kana yang sangat cantik itu.
“Jika kamu sudah bosan jadi istri, kita bisa menyelesaikannya sekarang juga. Tapi, akan kuanggap ini sebagai penghinaan, dan kupastikan keluargamu yang akan menanggungnya!”
Nina Qianchu nyaris menangis. Tubuhnya tersungkur ke lantai. Hati wanita memang rapuh, serapuh daun kering. Namun hal itu tak berlaku untuknya. Semenjak ibunya dirawat di rumah sakit, ia sudah terbiasa mendapat penghinaan dan cercaan. Kenapa penghinaan dari Yorick terasa berbeda?
“Berangkat ke kantor segera. Jika kamu beruntung, akan kupertimbangkan untuk tidak memecatmu. Berani terlambat, aku akan benar-benar menghancurkan keluarga Qianchu!”
“Yorick! Seperti itukah pemikiranmu? Apa aku terlihat seperti seorang cewek gampangan? Aku dan Rangga tak ada sesuatu yang terjadi. Semalam aku linglung, makanya Rangga menolongku.”
Yorick menatap dingin. “Apa aku terlihat seperti orang yang meminta penjelasan?”
“Lalu kemana kamu tadi malam? Meninggalkanku sendirian seperti seseorang yang benar-benar tidak peduli?”
__ADS_1
Nina mengira ia akan lega setelah menceritakan semuanya, dan Yorick akan mengerti keadaannya. Tapi kenyataannya, Yorick bahkan tak peduli sedikitpun tentang Nina. Ia hanya peduli dengan statusnya.
Yorick melangkah pergi tanpa pamit, tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Nina. Dia pergi begitu saja. Nina tak tahu takdir apa lagi yang akan menghampirinya. Sekarang, ia harus fokus demi keluarganya.