The Dark Romance

The Dark Romance
Romantis di Hari yang Salah


__ADS_3

Baru satu langkah dari pintu perusahaan, dirinya kini telah tertelan awak media.


Tolong jelaskan hubungan Anda dan model Kana.


Bisa beri sedikit penjelasan mengapa Anda bisa dekat dengan Kana


Nona Nina, apakah kalian berdua resmi pacaran?


Semakin lama, keadaan di sana semakin kacau. Terjadi aksi dorong mendorong, para wartawan ingin menjadi yang terdepan dan bisa merekam suara Nina. Hampir saja ia terjatuh ke lantai. Untung saja, seseorang menopang badannya dari belakang. Ialah Yorick.


Yoricklah yang dengan sukarela maju, menyembunyikan Nina di belakang punggung lebarnya. Entahlah, ada rasa tenang yang dirasakan Nina.


“Tidakkah kalian sadar tindakan seperti ini bisa mencelakai seseorang? Nina adalah karyawanku, dan Arya adalah salah satu model Yorr Group. Bukankah wajar jika mereka bertemu di atap gedung yang sama? Apakah kalian juga akan membuat konten yang sama jika itu terjadi pada orang-orang di pasar? Pada penjual sayur dan penjual bawang merah? Ayolah gunakan otak kalian. Segera buat berita seperti yang saya katakan tadi. Atau jika masih ada stasiun yang tidak mengklarifikasi berita itu, kupastikan kalian akan keluar dari dunia jurnalis. Sekarang bubar!”


Nina sendiri tak tahu lagi harus mengatakan apa untuk setidaknya berterima kasih. Di saat genting seperti ini, Yorick masih saja melindunginya.


“Sekarang masuk mobil.” Yorick memberi perintah tanpa memandang gadis itu.


Ada apa lagi dengannya? Apa dia marah? Lagi? Perbuatan apa yang telah dilakukannya? Semakin dipikirkan semakin pening.


Mobil yang dikendarai secara pribadi oleh Yorick pun melaju di jalanan kota Tokyo. Nina menatap sekeliling. Ada yang tidak beres dengan mobil itu. Bukankah itu bukan jalan ke rumah?


“Yorick, kita mau ke mana?”


Yorick hanya melirik, tidak menjawab pertanyaan gadis di sampingnya.


Suasana di dalam mobil lengang sejenak. Selama sepuluh detik lelaki yang masih rapi mengenakan jas hitam dan dasi yang sedikit dilonggarkan menekan tombol-tombol ponsel di tangannya.


“Apakah semuanya sudah siap?” Entah pada siapa Yorick bicara di seberang sana. Ia menganggukkan kepala.

__ADS_1


Yorick memutuskan sambungan telepon. Nina menghela napas. Sepertinya Yorick benar-benar marah padanya.


“Yorick, apa aku berbuat salah lagi? Ayolah, jangan diam saja. Kamu bukan orang bodoh kan?”


“Kamu yang bodoh! Sudah tau kondisi kamu sekarang seperti apa. Bisa-bisanya punya pikiran menerobos wartawan, hah? Coba kalau tidak aku sudah pulang. Memang, kamu orang bodoh pertama yang selalu membuat orang kepikiran, suka banget orang khawatir, ya?”


Sepanjang perjalanan, Yorick terus mengomel. Tanpa disadari, Nina justru menutup mulutnya menahan tawa agar tak menimbulkan suara. Namun percuma saja, Yorick mendengarnya.


Lelaki yang dijuluki orang tertampan sekaligus terdingin di negara Jepang itu membanting stir, menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Kini nyali Nina menciut. Ia merasa sangat bersalah.


“Begitukah cara kamu berterima kasih, hah? Wah, benar-benar. Sebentar, aku perlu mengecek sesuatu.”


Kini hanya terdengar deru napas Yorick di tengah hiruk pikuk jalanan ibu kota. Ia mencondongkan badannya, mendekati Nina. Suasana di dalam mobil kian panas. Nyala AC tidak berpengaruh lagi, suara alunan musik yang diputar bagai berhenti dalam sekejap. Nina menunduk, wajahnya panas tak terkendali.


“Nina.”


“A-apa?”


Nina mendongak. Seketika itu pula tatapan mereka saling bertemu dengan jarak yang tak kurang dari lima senti.


“Aku hanya ingin memastikan.” Yorick memegang dahi Nina dengan penuh kelembutan. Ia semakin mendekat, membisikkan kalimat ke telinga Nina dan menimbulkan efek tiupan. “Apa otakmu masih ada di dalam sini?” lanjut Yorick menunjuk kepala gadis itu.


“Apa? Woy, tidakkah kamu berpikir pertanyaanmu itu sangat konyol?”


Matahari mulai menghilang di bagian barat, menyisakan warna jingga yang sangat romantis. Berjalan di antara ratusan orang berlalu lalang di sekitar ibu kota, lentera yang mulai terpasang. Oh, apakah hari ini adalah hari spesial? Nina menatap sekeliling. Rasanya, orang-orang makin larut makin ramai.


Yorick menggandeng tangan Nina, mengajaknya ke Menara Tokyo, sebuah bangunan paling tinggi di sana. Berkali-kali ia menatap jam tangannya.


“Ada apa? Apa kau buru-buru? Kita bisa pulang.”

__ADS_1


“Ha? Kau gila? Jam berapa ini.”


“Hei, apa otakmu benar-benar masih menempel? Bukankah tadi sore kau mengejekku otak udang? Hmph.. tapi sepertinya kau sendiri yang bodoh. Lihat, sudah malam begini. Kau mau kita nginap di sini?”


Yorick mencondongkan badan. Sebenarnya bukan Yorick yang terlalu bodoh atau Nina yang diambang kebodohan, tapi ini merupakan rencananya.


Jam dua belas malam tepat. Kembang api meluncur begitu saja menghiasi langit malam yang tak berbintang. Nina menatap dari balik jendela kaca.


“Waahh… cantiknya,” gumamnya.


“Nina, selamat ulang tahun,” Yorick mengakhiri basa-basinya.


Nina terkesiap mendengar ucapan lelaki di depannya. Terharu? Ya. Nina menitikkan air mata yang kian detik semakin deras. Terlihat jelas bagaimana ia berusaha menahan laju air matanya. Ditambah, dari balik tangga muncul beberapa orang suruhan Yorick membawa karangan bunga mawar yang begitu cantik.


“Kau melakukan ini untukku?”


“Hmph! Jangan senang dulu. Semua ini kulakukan hanya untuk menarik berita besar. Bukankah dengan cara ini para wartawan dan netizen jadi melupakan beritamu?”


Nina menyeka air matanya. Ada yang sesak di bagian dadanya.


“Terima kasih, Yorick. Tapi maaf, aku harus mengatakan sesuatu padamu. Mungkin ini akan membuatmu kecewa.”


“Apa itu? Kau punya selingkuhan? Punya orang yang kau suka? Tenang saja. Aku sudah tahu! Dan malam ini, kau harus membayarnya.”


“Bu-bukan itu.”


“Lalu?”


“Hari ini,” Nina agak ragu mengatakannya, “bukan ulang tahunku.”

__ADS_1


“Apaaaaa? Kau bercanda?”


Malam masih panjang. Sedangkan langit tak berkompromi. Bunga yang dibiarkan rontok dengan sendirinya, dan suara kembang api yang mulai bersahutan dengan suara ayam berkokok dan deru mesin pabrik tak dapat mengalahkan rasa malu seorang presdir muda itu.


__ADS_2