
Nina memejamkan mata, menepis seluruh memori yang terjadi tadi pagi. Ia harus fokus mempersiapkan seminar desain tata busana hari ini. Sudah cukup ia memikirkan CEO gila itu. Sudah saatnya ia memantapkan masa depannya sendiri. Bukankah mereka hanya dua tahun bersama? Setelah itu ia benar-benar akan menjanda.
Di depannya kini terdapat beberapa tumpukan kardus yang harus diantar ke ruang CEO sebelum jam sembilan. Lagi-lagi ia mendengus kesal. Mengingat wajahnya saja berhasil membuatnya jengkel. Dengan terpaksa Nina mengambil tumpukan kardus itu.
Dengan langkah terseok-seok, Nina berhasil membawa sebagian kardus yang berisi beberapa bahan presentasi.
“Sial, berat sekali! Ini berapa kilo, sih.”
Tumpukan kardus itu hampir menutupi pandangannya. Nina tak bisa memperhatikan langkah kakinya. Begitu juga saat ada satu batu kecil di rute jalannya. Kardus yang berisi sekumpulan kertas itu berserakan, sementara kaki lutut Nina berdarah. Bisa dikatakan luka berat. Lututnya terantuk lantai halaman berlapis paving itu. Bukan hanya lutut, kedua tangannya juga lecet-lecet.
“Kenapa hari ini bikin emosi, sih. Hei batu bangke! Kalau nongkrong lihat-lihat tempat, dong. Masa di tengah jalan begitu. Tidak punya otak, ya! Bikin emosi saja!”
Nina berusaha berdiri, memungut tiap lembaran kertas yang berserakan. Dengan sedikit pincang, ia melanjutkan perjalanannya. Luka-lukanya terasa sangat perih menusuk tulang. Yah, seperti sakitnya orang bisulan saat dipencet. Oh, tidak. Tentu semua orang bisa membayangkan sakitnya tersungkur ke tanah.
Saat-saat seperti ini, betapa romantisnya jika ada yang membantu ia membawakan setengah dari tumpukan kardus itu dan mengobati luka-lukanya. Saat ini situasi Nina amat buruk. Bagaimana bisa ia masuk ke ruang CEO dengan keadaan seperti ini.
Sementara, sepasang mata menatap Nina. Bibirnya menyunggingkan senyuman picik. Ia merasa sangat puas melihat Nina menderita. Dia adalah Su Na. Sejak awal ia tidak menyukai Nina. Bagaimana mungkin ia bisa sangat dekat dengan Rangga. Ia hampir beranjak mengakhiri tontonan menariknya. Tapi, sepertinya ada sesuatu yang jauh lebih menarik sedang terjadi.
“Loh, kamu?”
“Hei, lelaki model mobil. Sedang apa kamu di kantorku?”
“Bisakah kamu jangan memanggilku seperti itu?”
__ADS_1
“Sayangnya tidak bisa,” ujar Nina Qianchu polos.
“Kenapa?”
“Nanti kita ngobrol lagi, ya. Aku sedang terburu-buru.”
Lelaki yang dipanggil model mobil itu tertegun, menyelidik tiap bagian tubuh Nina yang terluka. Tangan mungilnya harus membawa beban yang begitu berat dengan keadaan terluka. Mau lelaki sebrengsek apapun tetap tak akan tega melihat seorang wanita lemah terdzolimi, kan?
“Sepertinya lutut dan tanganmu terluka. Duduklah sebentar, kebetulan aku selalu membawa plester ke mana-mana.”
“Wah, benarkah? Kok tumben.
“Ada alasannya, dan itu rahasia. Akan aku ceritakan jika kamu mau jadi pacarku, bagaimana?” ujar model itu dengan mengedipkan mata kirinya. Oh, ayolah. Apa semua model senarsis dia?
Model itu mengambil sapu tangan di sakunya dan membersihkan luka-luka penuh darah di lutut dan tangan Nina, kemudian menempelkan beberapa plester.
Nina nyengir lebar, berpura-pura menanggapi candaan si model. Memang, semua laki-laki sama saja. Hanya memandang tampang sebagai sebuah kualitas seseorang dan kekayaan sebagai kuantitasnya. Andai saja ia tahu bahwa di wajah Nina terdapat bekas sayatan senjata tajam yang tak bisa dihilangkan meski mencoba bertahun-tahun, menggunakan obat apapun, akankah ia masih mendapat pujian cantik itu?
Nina merasa konyol. Sejak kapan ia menganggap pandangan orang lain sebagai sebuah pedoman hidup?
Hampir pukul setengah sembilan. Mereka mengakhiri pertemuan dadakan yang tak terjadwalkan itu. Nina kembali ke dunianya. Dunia yang mana penuh drama tak berkesudahan. Ah, ia hampir lupa harus menyerahkan berkas ini sebelum jam sembilan.
“Terima kasih atas bantuannya. Benar-benar tertolong. Oh, berikan sapu tangan itu. Biar kucuci di rumah.”
__ADS_1
“Tidak usah sungkan. Ini biar kubawa saja.”
“Baiklah, sampai bertemu lagi.”
Cekrek!
Seseorang berhasil mengabadikan moment ‘mesra’ mereka berdua. Siapa lagi jika bukan Su Na. Ia menganggap ini sebagai kesempatan menjatuhkan Nina di depan Rangga. Di sisi lain, seseorang tersenyum mengerikan sembari mencium aroma darah di sapu tangannya. Tangannya dengan lincah menekan tombol di ponselnya.
“Aku dapat darah seseorang.”
Nina melangkah lagi, perlahan-lahan melanjutkan perjalanan, menahan rasa sakit yang amat nyeri di lututnya. Hingga ia tiba di depan pintu bertuliskan ‘CEO’s Room’. Tangan Nina gemetar memegang gagang pintu yang terbuat dari besi. Kakinya terasa sakit, tapi ia harus bertahan.
Nina mengambil napas panjang, mengeluarkannya perlahan. Ia berharap kambing beku itu tak memelototinya lagi. Ia mengetuk pintu, tak ada jawaban. Hingga untuk yang kelima kalinya, juga tak ada jawaban. Nina berdecak sebal, dan tanpa pikir panjang ia membuka pintu itu.
Nina menggigit bibir, mencoba menahan rasa sakit yang menohok hatinya. Bagaimana bisa Yorick melakukan ini di kantor? Lelaki yang saat pagi memarahinya habis-habisan, mengancamnya dengan nama keluarga itu kini sedang asyik bermesraan dengan seorang perempuan yang tak lain adalah Kana, model utama untuk seminar hari ini.
“Maaf, Presdir. Saya mengantar berkas seminar untuk Anda dan Nona Kana.”
Lelaki bermarga Tsukasa itu menatap dengan tatapan kebencian. Ia mendapati beberapa bekas luka di sekujur tubuh Nina. Matanya terbelalak. Bibirnya komat-kamit, tapi lidahnya begitu kelu. Ia teringat kejadian tadi pagi dan membayangkan apa yang telah dilakukan perempuan ini di belakangnya dengan lelaki bernama Rangga itu.
Yorick melengos, pura-pura tak peduli. “Taruh saja di situ.”
Nina masih terdiam memperhatikan kedua manusia hina di depannya. Kenapa jantungnya begitu sakit? Oh, ayolah jangan bilang ia telah jatuh cinta pada lelaki hidung belang itu. Sungguh, jatuh cinta padanya adalah sebuah pemikiran paling konyol yang pernah otaknya cerna selama 23 tahun belakangan.
__ADS_1
Yorick menatap dengan tatapan tajam. “Kenapa masih di sini?”
Yang membuat Nina menelan ludah, bukan karena ia ingin berada di posisi perempuan itu, sama sekali bukan. Melainkan sebuah pernyataan yang dilontarkan Yorick yang seakan mengusirnya secara halus. Nina sekali lagi berpikir, akan ada masa dimana ia akan kehilangan semuanya, kehilangan semua rekan kerja dan pekerjaannya, dan sialnya ia harus siap dan menerima kondisi walaupun tak ingin.