
⚠️Awas Typo!
⚠️ Jangan lupa voment sahabat
...Happy reading guys!! Hope you like this chapter🤗...
Flashback on
"Ck! Nda, masih lama?" keluh Sam.
"Udah kamu berdiri aja disitu. Nanti kalau ada yang datang layani."
Sam memutar bola matanya malas. Apa-apaan dirinya dijadikan pegawai kasir pengganti oleh bundanya sendiri.
"Senyum, Sam," tegur Bunda.
Sam melirik jam tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 21.00
Damn it! Sam lupa jika ia sudah membuat janji.
"Nda, tutup sekarang aja," ucap Sam.
"Kenapa? Lagian kan biasanya jam sepuluh baru tutup," balas Bunda.
"Sam ada janji."
"Mau kabur pasti ini," tebak Bunda.
"Kalau enggak paling ke apartemen Alex. Udah Alex suruh kesini aja. Sekalian jagain butik bunda. Siapa tau tambah rame kalau yang jaga pada ganteng," kekeh Bunda.
Sam memutar bola matanya malas. Ada ada saja pemikiran bundanya ini. "Sam mau ngerjain tugas kelompok."
Bunda mengerutkan dahinya tidak percaya. "Jam segini?" tanya Bunda.
"Sam lupa."
Setelah itu Samuel menyalimi Bunda dan mencium pucuk kepalanya lalu pergi.
"jam segini udah tidur belum ya?" gumam Sam.
Bodo amatlah. Daripada tidak datang.
Ditengah jalan Sam menjalankan motornya dengan ugal-ugalan dan bersenandung kecil. Dirinya tidak sadar bahwa ada mengikutinya sedari tadi.
Sam sedikit tersentak.tiba-tiba gerombolan sepeda motor berada di sisi kanan, kiri, dan belakang Sam. Sam semakin melajukan motornya. Ada yang tidak beres ini.
Hingga di jalanan yang menurutnya sepi Sam turun dari motornya.
Ada yang tidak beres. Ia ingin tahu siapa yang mengikutinya tadi. Seingatnya dia tidak pernah berkelehai dalam waktu dekat ini.
"Suruhan siapa lo pada?!" ketus Sam. Ada saja yang mengganggunya saat ia tengah buru-buru.
"SERANG!"
Seketika perkelahian tidak seimbang dimulai. Bagaimana tidak lawan Sam sangat banyak sedangkan dia hanya sendiri.
Beberapa bagian tubuhnya terkena pukulan balok kayu. Di tengah perkelahian Sam meludah saat merasakan anyir dimulutnya. Sebagian dari gerombolan sudah terkapar. Masih ada sekitar 10 orang lagi. Sam membabat habis orang-orang itu. Meski tenaganya telah habis dan kepalanya mulai berkunang-kunang Sam masih memukuli orang-orang itu. Satu lagi, Sam ingin tahu siapa wajah di balik helm itu. Pasti itu pemimpinnya.
"Gue yang buka, atau lo yang buka sendiri," desis Sam.
"Masih kuat Lo?" tanya orang itu meremehkan.
Sam tersenyum kecil. "Gue gak bakal mati kalau cuma buat ngabisin Lo."
Dengan segera Sam menendang perut orang yang masih belum ia ketahui. Orang itu pun tak mau kalah dan menendang kembali perut Sam. Butuh beberapa menit buat Sam menjatuhkan lawannya.
"Buka helm Lo!" titah Sam. Dari tadi ia hanya menyerang ulu hati dan dada lawannya. Sedangkan lawannya terus-terusan memukul wajahnya. Sam merasa belum puas jika belum memukul wajah lawannnya ini. Enak saja mukanya bonyok, sedangkan lawannya tidak.
__ADS_1
Karena tidak ada pergerakan dari sang lawan, dengan kasar Sam membuka helm tersebut.
"Shit!" maki Sam saat melihat wajah si lawan.
"Segitu rendahnya cara Lo lawan gue," desis Sam. Dengan segera Sam membabi buta wajah lawannya itu. Dirasa cukup hasil maha karyanya, Samberjalan sempoyongan menuju motornya.
Flashback off
Samuel membuka matanya perlahan-lahan dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sejauh ia perhatikan,matanya menangkap nuansa putih dan beberapa benda asing yang tidak mungkin ada di kamarnya. Indra penciumannya bekerja dengan baik mencium bau obat-obatan yang menyengat. Sekarang Sam yakin, dirinya berada di rumah sakit.
Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Sam melirik ke sebelah kirinya, baru sadar jika ada seseorang yang tertidur. Ia sangat yakin jika orang ini adalah orang yang membawanya ke rumah sakit. Siapa lagi kalau bukan Rain.
"Rain." Sam mencoba membangunkan Rain. Hari ini hari Rabu. Tidak mungkin kan Rain bolos?
Rain mengerjapkan matanya. Ia menggerakkan pinggangnya ke kanan dan kiri hingga menimbulkan suara. Tidur dengan keadaan duduk membuat badannya sedikit remuk rasanya.
"Lo ada pusing atau apa gitu?" tanya Rain.
Sam menggeleng pelan. "Thanks."
Rain menghembuskan nafasnya kasar. "Jantung gue rasanya mau copot pas liat muka lo penuh luka. Mana pelipis lo ngeluarin darah terus. Lo habis di keroyok ya? Ngapain lo? Maling?"
Sam terkekeh pelan. Bisa-bisanya ia dituduh maling. "Emang muka gue cocok jadi maling?"
"Maling gak mandang muka kali," dengus Rain.
"Hp gue dimana?" tanya Sam.
Rain mengambil Hp Sam di tasnya dan memberikan ke pemiliknya.
"Berapa?"
Rain menyatukan kedua alisnya bertanda bingung.
"Gue gak bakal bisa nginap disini kalau Lo enggak bayar administrasinya. So, lo bayar berapa?" tanya Sam lagi.
"Gak usah," tolak Rain.
"Sam, udah gue bilang gak usah," tolak Rain lagi.
"Nomor rekening Lo."
"Sam, gue bilang gak usah ya gak usah," ujar Rain kesal.
Sam menatap Rain dengan tajam. "Rain Alexandria, berapa nomor rekening Lo?"
Tenggorokan Rain terasa tercekat saat Sam menyebutkan nama panjangnya. Dulu saat ia atau abangnya berbuat salah, pasti papanya selalu menyebut nama panjang, dan Sam melakukan hal yang sama. Dengan segera Rain memberikan nomor rekeningnya kepada Sam.
Setelah beberapa detik Sam mengotak atik kan handphonenya, Sam menunjukkan sebuah bukti transfer.
"Segini cukup?" tanya Sam memastikan.
Rain membelalak kaget saat melihat nominal yang Sam transfer ke rekeningnya. "Sam lo transfer kelebihan."
"Salah sendiri tadi gue tanya berapa lo gak jawab," balas Sam acuh.
"Ya tapi lo bisa kira-kira dong."
"Biarin aja. Anggap aja itu balasan lo udah nolong gue."
"Udah jam lima seperempat, Lo mending pulang. Sekolah."
"Lo?"
"Gue udah suruh Gesang kesini."
Rain mengangguk dan masuk ke dalam kamar mandi untuk cuci muka sebentar. Lalu saat kembali ia melihat Gesang, Wildan, dan Alex sudah berada di sisi kiri dan kanan bangkar Sam.
__ADS_1
"Lawan berapa orang lo muka sampe bonyok begini?" tanya Wildan. Ia meringis pelan saat melihat lebam-lebam biru diwajah Sam.
"Lima belas kali," jawab Sam acuh.
Sam meringis pelan Saat Alex menyentuh perban di pelipisnya. "Gue tebak ini jahitan. Berapa jahitan?"
"Berapa?" tanya Sam pada Rain yang baru saja keluar kamar mandi.
"Berapa apalagi?"
"Ini berapa jahitan?" tunjuk Sam ke pelipisnya.
"Empat,"
"Kalian bolos?" tanya Rain menatap teman Sam satu per satu.
"Enggak tadi gue izin diare," jawab Alex.
Wildan menggetok kepala Alex gemas. "Si anying, dikasih diare beneran tau rasa lo."
"Lo emang apa?"
"Badan gue panas. Setidaknya gue masih mendi daripada Lo."
"Sang, Lo enggak kasih keterangan? Bokap lo tau?" tanya Sam. Walaupun Gesang nakal belom pernah ia membolos kecuali kalau dirinya sakit atau ada acara diluar kota.
"Gue jujur apa adanya aja, bokap gue ngijinin, guru ngijinin, selesai," jawab Gesang dengan santai.
"Anjir! Tau gitu tadi gue jujur aja. Gak juga pake acara boong boongan," keluh Alex yang dianggukin Wildan.
Sam terkekeh lalu meringis pelan saat merasa ujung bibirnya terasa nyeri.
"Sam, gue pulang dulu," pamit Rain.
"Kasih tau bunda Lo kalo lo dirumah sakit," Lanjutnya.
"Rain," panggil Sam sebelum Rain membuka ganggang Pintu.
"Thanks," ucap Sam tulus, dan dibalas senyuman tipis oleh Rain.
"Gue gak tau kenapa muka lo sampe bonyok kayak gitu, dan gue rasa kayaknya gue gak berhak tau. Tapi sebelum lo buat luka kayak gini, ingat ada orang tua Lo yang khawatir kapanpun, dan dimanapun itu, Sam," pesan Rain lalu berlalu di balik pintu.
Setelah memastikan Rain benar-benar menghilang, Gesang membuka suaranya lagi. "Siapa?"
Lanjut aja dulu!
Scroll lagi!
Tiplus❗
...🍫🍫🍫...
...Huwa! Samu(el) datang kembali!...
...Yah... Gantung :) ...
...Sakitan mana di gantung sama cerita atau digantung sama doi?...
...Penasaran?...
...Sama author juga penasaran😂...
...(plak! Lo yang buat cerita kok lo yang ikut penasaran sih Thor!)...
...Jangan lupa pencet ⭐ di ujung kiri bawah, dan komen biar SAMU(EL) cepat updet😉...
...Tetap jaga kesehatan kalian ya😚...
__ADS_1
...Salam...
...Penikmat Coklat🍫...