
⚠️Awas Typo!
⚠️ Jangan lupa voment sahabat
Happy reading guys!! Hope you like this chapter🤗
Malam minggu ini benar-benar digunakan quality time para cowok. Dimana lagi kalau bukan di apartemen Alex. Apartemen yang selalu menjadi bascamp bagi empat sekawan ini.
"Ck. Lo diam mulu napa, Sam?" decak Wildan.
"Cuma kasih tau Apart nya Alex banyak setannya, awas lo kesambet,"
Alex melempar kulit kacang."Heh! Bangsa sendiri lo sebut-sebut."
"Si anying gue ngomong fakta ya!"
"Diam lo, nyet."
"Gesang liat noh di □" Belum selesai ngomong, mulutnya sudah di bekep duluan oleh Alex. Dasar Alex, Tampang Bad, nyali bencong!
"Diam bangsat!"
"Dapur," sahut Gesang.
Alex mengacak rambutnya frustasi. "Anjing! Gue bilang diam, ya diam!"
"Pulang Lo semua!" usir Alex.
"Berani?"
"Sam Lo disini." ucap Alex
Sam menggeleng pelan."Gak, kasihan bunda."
"HAHAHA... mampus lu,"
"Setan!"
"Eits, Lo sendiri yang bilang sesama bangsa gak boleh saling menyebut."
"Kenapa Lo?" senggol Gesang.
"Gakpapa."
"Ajegile... Macam cewek gue aja, Lu, kalo ditanya jawabannya gakpapa," sahut Wildan.
"Cewek lu yang keberapa?" tanya Alex.
Wildan mengitung jari tangannya, "Hampir semua deh kayaknya."
"Tumben lu gak malming."
"Males, cewek-cewek gue lagi pada sensian."
"Ade-adean lo? TTM-an Lo?"
Dewa meringis," Sebanyak itu ya?" gumam Dewa.
__ADS_1
"Ya, menurut Lo?!"
"Biasa aja."
"Titisan dajjal memang beda."
"jangan sebut kakek moyang lo. Kena karma tau rasa lo."
"Titisin dijjil iming bidi. Kek lo sendiri gak kek gue aja,"
Alex menggelengkan kepalanya,"Oh sorry bos, setidaknya gue masih milih-milih ceweknya. Gak kek Lo, biar cabe-cabean juga di embat."
"Perumpamaannya kalau gue milih cewek itu pakai jalur prestasi, Kalau lo jalur gakin," lanjutnya.
"Mulut Lo kayaknya belom pernah gue amplas, Lex," desis Wildan.
"Ya, emang belom,"
"Mau gue amplas?"
"Enggak deh, belom juga nyobain bibir cewek, udah ilang duluan bibir gue."
"Gue, Wildan, Alex, ada disini karena Lo, Sam. Anggap aja dengan kita dengarin keluh kesah Lo itu balas budi dari kita," kata Gesang membuat Wildan dan Alex menghentikan perdebatan mereka.
Sam menaikkan sebelah alisnya, ia sdikit terganggu dengan kata balas budi yang dikatakan Gesang barusan. "Emang gue minta kalian balas budi?"
Ketiganya menggeleng pelan. "Enggak semua bisa gue bagi. Cukup seperti ini gue udah bersyukur." jelas Sam.
...🍫🍫🍫...
Rain pernah baca di salah satu tweet, 'Orang yang suka drakor, belum tentu dia menyukai grupbandnya. Tapi jika orang itu suka grupbandnya sudah dipastikan ia penyuka drakor' dan Rain membetulkan tweet tersebut.
The Lagend of The Blue Sea, itu judul drakor yang sedang Rain tonton.
"Tae oh, baby face banget sih,"
"Ternyata duyung kalau bucin parah yak. Kalau gue mending nyelamatin detak jantung daripada nyari cinta. Ya kalo saling suka, kalau kagak kan gue mati. Gue rugi."
"Mantap gila kartunya,"
"Penipu di Indo begitu, auto banyak yang ketipu nih,"
Begitulah gumaman Rain saat menikmati Drakornya. Hingga kenikmatan drakor itu berhenti saat ada yang memencet bel rumahnya.
Rain mempause drakornya, dan melangkahkan kakinya untuk melihat siapa yang mengganggu kenikmatan malmingnya.
Saat Rain membuka pintu, senyum hangat seorang pria paruh baya yang menjadi objek pertama matanya.
"Do you miss me?"
Rain menggelengkan kepalanya, "No, no, no,"
"Seriously?!" tanya Firman dengan senyum smirk andalannya.
"He'em,"
"Oh yaudah, Ayah balik aja lagi. Mayan sepatunya bisa dikasih ke orang lain."
__ADS_1
"Idih Ayah baperan,"
"Baper? Makanan jenis apa itu? Ayah gak kenal."
"Jadi sepatu Rain mana?" Rain menjulurkan tangannya. Sepatu yang ia inginkan, pasti sudah di belikan oleh Firman.
"Hug me," pinta Firman
"Ayah udah mandi?"
Firman berpikir sejenak, "Sudah sepertinya."
Rain memeluk Firman, dan dibalas pelukan hangat oleh Firman. Walaupun Rain bukan anaknya, ia sudah menganggapnya seperti putri kandungnya sendiri.
"Kemarin,"
"Apa?"
"Mandinya," jawab Firman santai. Di LA itu udaranya sangat dingin. Firman sangat malas untuk mandi.
Tain melepas pelukannya, "Ayah jorok! Gimana bule mau nyantol, kalau ayah jorok."
"Ayah enggak butuh bule, cukup bunda yang tetap dihati ayah."
"Bucin," ejek Rain.
"Ya, Ayah emang bucin. bukan budak cinta, but, butuh cinta."
Rain menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan Sang Ayah. Umur udah tua tapi bahasanya seperti anak muda. Kalau kata gaulnya Daddy Jaman Now. "kalau gak ingat umur ya gini."
Firman terkekeh mendengar penuturan Rain, lalu menyerahkan papper bag yang sejak tadi ia pegang.
"Nih, sepatu khusus buat Sang Putri Hujan."
"Thank you, Ayah paling ganteng sejagat raya. Tapi boong."
Firman kembali memeluk Rain dan mengacak pucuk rambutnya pelan. "Kembali kasih Putri Hujan, Ayah."
...🍫🍫🍫...
...JENG! JENG! JENG! ...
...SAMU(EL) KEMBALI!...
...Kalau ada yang masih bingung Firman itu siapa, sini duduk anteng tak jelasin. ...
...Jadi, Ayah Firman itu orang yang tinggal di sebrang rumah Rain, dan Firman udah Rain anggap menjadi ayah baginya, begitupun sebaliknya, Ayah Firman juga udah nganggap Rain sebagai putrinya sendiri...
...Sampai sini paham? ...
...Jangan lupa pencet ⭐ di ujung kiri bawah, dan komen biar SAMU(EL) cepat updet😉...
...Tetap jaga kesehatan kalian ya😚...
...Salam...
...Penikmat Coklat🍫...
__ADS_1