
Jam di dinding kamar Rain sudah
menunjukkan pukul 22.00. Rain sudah siap dengan seragam kerjanya. Semua barang yang ia butuhkan sudah dimasukkan kedalam tasnya, tak lupa ia mengambil masker untuk dipakainya. Sampai di ruang keluarga, Rain menatap bingkai foto keluarganya. Ia tersenyum pedih. Lagi, dan lagi, kenyataan menampar hatinya.
"Pah, Mah, Bang, doain Rain ya, supaya bisa jadi cewek yang kuat." Rain meninggalkan ruang itu. Ia mulai menyalakan mesin mobilnya dan melaju membelah jalan raya untuk sampai di tempat kerja. Jarak rumahnya memang lumayan jauh dari rumahnya.
Di lain tempat, Samuel meminta teman-temanya untuk ngumpul. Ia perlu sedikit hiburan malam ini. Sam segera mengambil kunci motornya.
Saat keluar kamar, Sam berhenti karena merasa diperhatikan oleh seseorang. Yap, siapa lagi kalau bukan Bunda.
"Bunda kayaknya kurang banyak masang jam dirumah deh," ujar Bunda yang menyender pada ujung pintu kamar. Kebetulan kamar Sam dan kamar bunda sebelahan.
"Eh, Nda gak tidur? Besok kalau bunda bangunnya telat gimana? Gak takut rejekinya dipatok ayam?"
"Mulai deh, aturannya bunda yang tanya sama kamu. Malam-malam gini mau kemana? Gak takut telat bangun besok?"
"Alex minta ditemani Nda. Mangkanya kita pada mau kesana. Oh iya, Sam juga tidur ditempatnya Alex ya, Nda." Dalam hati Samuel meminta maaf pada bundanya karena telah berbohong. Kalau ia ngomong jujur, mana bakalan diizinin.
"Nanti kalau ada apa-apa, telpon aja Sam. Oke, Nda."
Samuel menyalakan motornya. Sebelum pergi tadi ia sudah sempat salim dan mencium pucuk kepala bundanya. Hanya bunda yang bisa dapat perlakuan manis Samuel Megantara. Kalau yang lainnya mah, lewat. Jangankan mau diperlakuin lembut di tengok aja enggak.
Setelah 20 menit ngebut-ngebutan di jalan, akhirnya Sam sampai di tempat tujuannya. Sam memasuki tempat itu. Suara dentuman musik keras yang memekakan telinga menyambutnya saat masuk. Belum terlalu malam club ini sudah ramai sekali. Dia melihat sekeliling, tiga kunyuk itu pasti belum datang, batin Sam. Sam memilih duduk di bar sembari menunggu teman-temannya.
"Qi, Beetwen the sheets, satu," pesan Sam.
"Oke, tumben lo kesini lagi, Sam." jawab betender itu a.k.a Harqi. Ia mulai meracik coktail pesanan pelanggannya.
"Biasalah, suntuk gue."
"Nih, segelas beetwen the sheets." Harqi menaruh segelas minuman alkohol itu dihadapannya Sam. "Gue tinggal yak. Banyak pelanggan nih," lanjutnya.
"Yoi."
Setelah kepergian Harqi, 3 kunyuk datang. Siapa lagi kalau bukan Gesang, Wildan, dan Alex.
"Oy, udah minum duluan aja lo." Wildan menepuk pundak Sam pelan.
"Mba, pesan vodka nya 3 ya," pesan Gesang pada betender yang baru saja masuk menggantikan Harqi.
"Siap, Kak," betender itu mulai meracik minuman alkohol dan memberikan kepada tiga laki-laki yang duduk didepan bar.
"Mbaknya kalau buka masker pasti cantik deh," celetuk Wildan.
Alex melempar korek yang ia pegang ke kepala Wildan. Otak temannya ini harus segera disucikan."Dasar sarap. Semua cewek aja lo gombalin."
"anjing, sakit, monyet!"
"Tunggu deh, kayaknya gue pernah liat lo deh," celetuk Gesang
"Ah ... Mungkin gak sengaja ketemu kali kak," jawab Rain ragu. Jujur tadi Rain sempat kaget saat melihat mereka berempat datang ke club.
"Hmm ... Mungkin juga."
...🍫🍫🍫...
__ADS_1
"Malas gue sekolah. Pasti gerbang udah tutup."
"Duain. Kepala gue masih pusing anjir."
"Sang, lo sekolah?"
"Gk tau. Pingin gak sekolah, tapi bokap gue pasti tau, and you know lah ujung-ujungnya gimana."
"Mati aja lo semua kalau gak mau sekolah. Gak usah jadi sampah masyarakat." mati! Makan tuh lambe tajamnya Sam.
"Yaelah, Sam, sehari gak sekolah gak bakal bikin kita goblok."
"Pilihannya cuma dua. Mati atau sekolah."
"Sekolah!" Meski mereka tahu kalau Sam hanya mengertak mereka saja, paling mentok cuma nonjok. Tapi lebih baik nurut kan daripada muka yang jadi sasaran.
Sesampainya mereka berempat di sekolah, Sam melihat Pak Mamat akan menutup gerbang. Sam memberikan aba-aba kepada Alex, Gesang, dan Wildan.
1
2
3
WUSHH!
Mereka berempat berhasil melewati gerbang diikuti teriakan Pak Mamat. "BOCAH EDAN!!"
"MAAF PAK!"
"Kalian darimana aja jam segini baru datang?" Dalam hati Sam menggerutu kesal. Pasti mereka akan berdiri lebih lama lagi untuk mendengarkan guru sejarahnya ini berceramah.
"Darimana-mana hati Alex senang."
"Alex! Saya serius!"
"Wah ... Ibu minta diseriusin sama Alex? Silahkan bu, uangnya dia banyak. Tiap bulan dapat kiriman dari supir," celetuk Wildan.
"Supir pesawat," ralat Gesang.
Bu Mar memijat pelipisnya. Bisa-bisa kena darah tinggi menhadapi empat murid didepannya ini. "Duduk," perintahnya.
"Nah ... Gitu kek bu, dari tadi. Udah kesemutan kaki saya."
Bu Mar mulai menjelaskan tentang Sistem Politik indonesia masa Reformasi. "Jadi kita akan membahas mengenai perkembangan politik dan ekonomi pada massa pemerintahan B.J. Habibie, Abdurrahman wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono."
Setelah tiga jam mereka berkutat dengan pelajaran masa lalu A.K.A sejarah, kini Rain, Pipit, Keisha, dan Rania akhirnya bisa mengisi perut di kantin.
"Deg-deg an gak lo sekelompok berdua sama Sam?" tanya Keisha.
"Deg-deg an apaan? Yang ada gue malah takut. Omong-omongan aja enggak pernah malah dikasih satu kelompok." Rain mulai membayangkan bagaimana kakunya mereka jika kerja kelompok nanti.
"Yaudah tukaran sama gue aja gimana?"
"Ye ... Si Markonah. Kalo itu sih mau lo aja," Pipit melempar botol air mineral yang sudah kosong ke Keisha.
__ADS_1
"Hahaha, Sabar Rain, takdir gak bisa di ubah."
Sebenarnya Rain sendiri juga bingung. Bagaimana caranya dirinya dan Sam mengerjakan tugas, sedangkan berbica dengannya saja tidak pernah.
...🍫🍫🍫...
Pulang Sekolah Rain mampir terlebih dahulu ke market yang tidak jauh dari sekolahnya. Ia akan membeli isi kulkasnya yang sudah kosong.
"Bumbu dapur, udah, telor, udah, jajan, udah, apa lagi ya yang belum," Rain monolog. "Es krim kayaknya enak deh," lanjutnya.
Saat Rain ingin mengambil es krim kesukaannya, tiba-tiba ada tangan lain duluan yang mengambil. Saat Rain melihat siapa yang mengambil es krim nya, mata Rain sangat berbinar.
"Mas Daffa!" Rain langsung memeluk orang yg mengambil es krim tadi. Ternyata dia adalah Mas Daffa, sepupu jauhnya. Sudah 6 bulan lebih Daffa merantau. Hal itu membuat Rain sedikit sedih, karena hanya Mas Daffa yang selalu menemani dan menenangkan Rain setelah kepergian keluarga Rain.
Setelah selesai berbelanja, Rain dan Mas Daffa memilih kafe terdekan untuk bercerita.
"Gimana sekarang?"
"Emm ... Not bad, lah,"
"Masih mau kerja disana?"
"He'em. Rain sedikit ngelupain beban Rain, kalau kerja."
"Kenapa gak mulai pelajari tentang perusahaan Om Iwan?"
"Hehe ... Belum waktunya, Mas," Rain masih belum punya cukup kecerdasan untuk mengatur pekerjaan almarhum ayahnya. Maka dari itu untuk sekarang kantor ayahnya masih di urus oleh adiknya ayah.
"Belum waktunya atau kamu yang malas mikir?"
Rain mengeluarkan senyum pepsodent, "Dua-dua nya, Mas."
"Lagian, Rain enjoy sama pekerjaan Rain sekarang."
"Masih ingat pesan Mas kan?" tanya Daffa. Daffa hanya ingin mengetes Rain saja. Masih ingat Tau tidak.
"Masih."
"Apa?" tanya Daffa memastikan.
Rain berdehem sebentar, mencoba menirukan suuara Mas Daffa. " Kamu boleh kerja jadi betender asal kamu tau batasan. Disana bukan tempat yang baik. Mas bakalan ngerasa gagal nge-jaga kamu, kalau kamu sampai kelewat batas."
"Good girl."
...🍫🍫🍫...
...Bab 2 publish🎉🎉...
...Gimana nih tanggapan kalian sama part 2?...
...Dont forget vote and coment ya😉...
...Salam...
...Pemikmat Coklat🍫...
__ADS_1