The Perfect Samu(El)

The Perfect Samu(El)
part 4


__ADS_3

⚠️Awas Typo!


⚠️ Jangan lupa voment sahabat


...Happy reading guys!! Hope you like this chapter🤗...


KALIAN BACA PART INI JAM BERAPA?


Apartemen Alex yang tadinya bersih, dan tertata dengan rapi, kini sudah tidak berbentuk lagi. Kabel PS yang saling melilit di lantai, bungkus ciki dan minuman kaleng tergeletak di sembarang tempat, dan jangan lupakan suara gaduh yang bisa membuat siapa saja yang mendengarnya akan mengeluarkan kata-kata mutiaranya.


"Anjir, Lek, Lo jangan main nyerang aja. Gue belom siap, Nyet!" Pekik Wildan panik.


"Alah, tinggal tembak aja susah betul lo," timpal Alex yang tetap serius menyerang Wildan.


"******, awas kalo gue keluarin senjata kakek moyang lo teriak-teriak,"


"Lo kalo mau menang gak usah banyak bacot. Itu ada demay sebelah kanan, lo tembak terkapar tuh." Gesang yang dari tadi diam menyesapi kulit kacang yang asin, akhirnya bersuara karena jengkel sendiri melihat Wildan terlalu banyak bacot.


"Oke-oke. Sang, enakan nembak dari depan atau belakang? Semuanya bikin bergairah. Atau gue tembak depan belakang aja ya. Biar double nikmatnya," cerocos Wildan.


"Serah. Susah emang kalau punya teman yang tololnya udah sampai DNA."


Sam yang dari tadi duduk di atas sofa hanya bisa gelng-geleng kepala. Teman-temannya ini memang tidak pernah beres. Entah dirinya harus bersyukur atau sebaliknya karena punya teman yang gesrek semua.


Ting!


Tanda satu pesan masuk di ponsel Sam.


Bang Keneth.


Sam, dmna lo?


30 mnt lagi udh mulai, njir


^^^Apartemen Alex, Bang.^^^


Anjir! Gercep.


Ah.. Iya. Gue lupa.


Mlm ini bawa goncengan.


Paham kan lo?


Sialan! Waktu 30 menit lagi dan harus cari goncengan? Sebenarnya mudah saja ia mendapatkan goncengan, tapi Sam masih tetap pada prinsipnya. Ia tidak suka cewek ribut.


"Napa Lo?" tanya Gesang.


"Gue lupa kalo malam ini balapan. Mana bawa goncengan lagi."


Alex dan Wildan seketika mem-pause game yang mereka mainkan. Mereka menoleh ke arah Sam dengan mata berbinar.


"Hayuklah, gass!" seru Wildan dan Alex semangat.


"Halah. Gak usah lo berdua cari koleksi lagi. Tobat sana!" Gesang sangat muak ketika melihat kedua temannya ini memulai drama menye-menye dengan pacar mereka.


Wildan melayangkan tatapan tidak setuju kepada Gesang. "Lo pernah dengar gak, kalau masa masa kita sekarang adalah masa paling indah dan berkesan yang suatu hari nanti yang bisa lo buat cerita ke anak cucu lo?"


"Ya! Terus lo mau ceritain kalo lo dulunya playboy cap kakap, nilai anjlok, suka goda guru, cewek bertebaran kayak laron, Gitu?" sembur Gesang.


"Sebut terus, sebut!"


"gue ngomong fakta."

__ADS_1


Sam melenggang pergi, saat sampai depan pintu, ia menoleh kebelakang. Ternyata teman-temannya masih ribut. Sam menghela nafas kasar dan berakhir memilih keluar duluan. Biarkan saja. Toh saat mereka sudah sadar, mereka akan mengejar Sam.


"Sam, lo pilih dua kunyuk ini atau gue?"


"Sam dah pergi,"


"Jingan emang, Sam."


Dilain tempat, Sam yang menunggu tiga kunyuk di lobby apartemen melihat seseorang yang ia kenal baru saja keluar dari lift.


Ting!


Bang Keneth


Sam buru anjir.


Lo dmna?


^^^Otw^^^


...🍫🍫🍫...


Rain menatap sekitar dengan pandangan yang sulit di jabarkan. Suasana seperti ini yang ia rindukan. Keramaian, suara bising kenalpot motor, serta teriakan para penonton.


Ya, Rain sedang di arena balap. Tempat dengan sejuta kenangan bersama abangnya dulu, sebelum abangnya meninggalkannya untuk selamanya.


Tapi, Rain kini kembali datang ketempat ini bersama seseorang yang memaksanya untuk ikut. Orang itu kini berada disebelahnya.


"Gue gak mau lo teriak-teriak pas gue bonceng nanti," ucap Sam.


Rain tertawa pelan. Tidak tahu aja Sam kalau Rain sudah terbiasa dibawa ngebut-ngebutan oleh abangnya dulu. Lagi dan lagi abang yang selalu Rain sebut. Tapi itu memang kenyataan.


"Setelah lo ajak gue ngebut-ngebutan tadi, apa gue ada teriak?" tanya Rain balik.


"Woy, Sam!"


Merasa dipanggil, Sam pun menolehkan wajahnya. Ternyata Keneth yang memanggilnya.


"Ayo," Sam mengamit tangan Rain dan mengajaknya menghampiri Keneth. Rain pun tak menolak walau sempat terkesiap.


"Cewek lo, Sam?" tanya Ken.


Sam menggelengkan kepalanya, "Bukan. Bukan cewek gue."


"Berarti boleh dong buat gue aja. Lumayan, nambah koleksi."


"Tapi gue rasa selera dia bukan om-om," balas Sam santai.


"Anjir, umur gue masih kepala dua, bego!"


Ken memgalihkan tatapannya pada Rain. Lalu ia menjulurkan tangangannya, "Gue Kenneth. Sam biasa manggil gue Bang Ken. Gue teman arenanya Sam."


Rain menatap wajah Sam sebentar. Begitu Sam menganggukan kepalanya, Rain baru menjabat tangan Keneth. "Elrain, Bang."


"Sam, lo udah ditungguin di start." Seorang cewek yang berpakaian minim menghampiri mereka bertiga.


"Oke," jawab Sam singkat.


...🍫🍫🍫...


Di balik helm full face, Rain menikmati angin yang menerpa wajahnya dengan kencang. Sedangkan di depannya, Sam mengendarai motornya seperti orang kesetanan. Meliuk-liuk melewati setiap tikungan tajam. Meski Sam fokus pada jalanan didepannya, ia tetap berhati-hati mengingat ada satu nyawa yang ia bawa.


Sam menarik tangan Rain yang di pundaknya, lalu melingkarkan tangan itu dipinggangnya. Sam bisa merasakan tubuh Rain yang tiba-tiba tegang.

__ADS_1


"Gue takut badan lo terbang." Setelah itu, Sam kembali memacu motornya dengan kecepatan penuh.


Ciiitttt!!


Kini orang-orang di sekitarnya bertepuk tangan dan memandang Sam dan dirinya kagum. Begitu helm full face-nya mereka dibuka, sorak sorai yang mereka lontarkan semakin kencang.


Keneth menghampiri keduanya sambil berdecak kagum. "Samuel Megantara. Lo emamg pantas gue nobatkan jadi rajanya arena balap,"pujinya untuk Samuel.


Samuel tersenyum miring. "So, apa yang gue dapat malam ini?"


Kenenth menggeleng-gelengkan kepala sebentar, lalu merogoh jaketnya. "Heran gue, kapan lo kalah di arena balap?"Keneth memberikan sebuah kunci mobil kepada Samuel.


"Never," jawab Sam. Lalu Sam menyimpan kunci mobil itu kedalam saku jeans-nya. "Thanks, Bang."


...🍫🍫🍫...


Flashback


Rain melirik jam dipergelangan tangannya. Kini jam sudah menunjukkan pkul 23.30. Ia sudah sangat terlambat untuk berangkat kerja.


"Kenapa coba Bang Daffa gak bangunin gue. Kalo kayak gini ceritanya yang ada gaji gue dipotong," cerocos Rain.


Ia masih sangat kesal dengan Daffa. Bisa-bisanya ia tidak dibanguni dan hanya ditinggalkan sebuah note di nakas.


...Maaf abang harus balik. Kamu tidur aja, gak usah kerja. Sehari gak kerja gak bakal bikin kmu miskin kok. Itu ada martabak di meja kalo kmu mau....


Rain dikejutkan saat ia keluar dari lift ada yang menarik tangannya. Hampir saja Rain berteriak jika sang penarik tangan tidak membekap mulutnya.


Mata Rain membelalak lebar saat melihat siapa yang menarik tangannya tadi. Samuel Megantara. Dia lah yang menarik tangan serta membekap Rain barusan.


"Ngapain sih lo?!" cerca Rain.


Rain memincingkan matanya. Curiganya makin menjadi. "Atau, lo nguntit gue. Iya 'kan? Ngaku Lo?!"


"bisa ikut gue?" tanya Sam dengan nada rendahnya.


"Gak!" tolak Rain.


Sam mengeluarkan dompetnya, dan menulurkan sebuah kartu kepada Rain. "Kalo lo ikut gue, besok lo bisa pake kartu ini sepuasnya."


"Lo mau bawa gue kemana? Jangan bilang lo mau jual gue ke om-om. Terus lo iming-iming pake kartu lo biar gue ikut," Rain menerka-nerka dengan segala pikiran negatif nya.


"Bodoh!" umpat Sam kepada seluruh pikiran negatif gadis di depannya ini.


"Gue gak bakal ngelakuin semua yang ada dipikiran buruk lo. Pegang janji gue."


"Kasih tau dulu, Lo mau bawa gue kemana?"


"Balapan."


Flasback off


...🍫🍫🍫...


...Yuhu!!! Samu(el) part 4 udah Publish🎉🎉...


...Maaf kalau masih ada typo yang bertebaran. Kalian bisa komen mana aja yang typo. Biar nanti bisa gue perbaiki🤗...


...Tetap stay home and safe healty...


...Salam...


...Penikmat Coklat🍫...

__ADS_1


__ADS_2