
⚠️Awas Typo!
⚠️ Jangan lupa vote + komen
...Happy reading guys!! Hope you like this chapter🤗...
Wildan meminta Sam, Alex dan Gesang datang ke sekolah pagi-pagi. Sekarang waktu masih menunjukkan pukul 06.10 dan empat sekawan ini sudah duduk melingkar di atas rooftop.
"Lo mau kasih lihat apasih. Ya Allah, masih ngantuk gue," ujar Alex lalu menguap lebar.
"Halah, sok nyebut Lo. Salat aja kagak pernah," ejek Wildan.
"Rajin salat gue dirumah Gesang," bela Alex.
"Cepat!" seru Sam yang sudah tidak sabar.
"Ada yang kepo nih. Mau tau aja, atau mau tau banget?" usil Wildan.
"Sekali lagi, gak ingat jalan pulang Lo!" ancam Sam yang pastinya tidak sungguh-sungguh.
"Uhh, atuutt," balas Wildan dengan meniru suara seperti anak kecil.
"Satu!"
"Aelah, iya bentar." lalu Wildan mengeluarkan handphone dari saku celananya.
"Lo pasti bakal kaget, se kaget itu."
"Alay anjir!" seru Gesang.
Wildan membuka galerinya dan menaruhnya di tengah-tengah.
"Lo kasih lihat apasih! Ini cewek pakai bikini, sial!" oceh Alex.
"Lah, salah." Wildan mengambil handphonenya dan memberikannya kembali. Di foto tersebut terdapat Rain yang inin masuk ke dalam mobil yang dibuka kan oleh seorang pria.
"Rain," gumam Sam.
"Rain simpanan Om-om!" jerit Alex.
"Seperti yang lo lihat," ujar Wildan.
"Lo kok enggak kaget, Sang?" tanya Wildan pada Gesang.
"Karena Gue udah nebak."
Sam mengambil handphone Wildan dan memperbesar layar tersebut.
"Jam tangan itu sama kayak punya... Ah, enggak. Yang punya jam tangan ini banyak." Sam menggelengkan kepala berusaha membuang jauh-jauh pikirannya.
__ADS_1
"Kirim ke gue fotonya. Mulai besok lo enggak usah ke club," ujar Samuel.
"Lah, kenapa? Gue ikhlas lahir batin padahal."
"Alah, lo ikhlas karena lo megang kartu Sam," ujar Alex.
"Woya jelas!"
...🍫🍫🍫...
Bagaimana rasanya pelajaran olahraga saat jam 10 pagi? Mau ngeluh takut dihukum, mau nego ganti jam takut kena omel, mau enggak mau ya harus ikuti aja. Bodo amat tuh muka yang tiap malam dikasih skincare jadi sia-sia.
"Huh, kalau bukan karena Pak Agam ganteng, enggak mau gue panas-panasan," ujar Key sambil mengipas-ngipaskan mukanya dengan buku entah milik siapa.
"He'em. Mana udah panas, disuruh pemanasan lagi," keluh Pipit.
"Pak, main kasti aja Pak!" seru Wildan.
"Pembelajaran kasti setelah lari, Wildan," ujar Pak Agam.
"Yah, Pak. Lagi lemes ini saya. Mending kasti aja deh, Pak. Heh, kalian mau kasti atau lari?" tanya Wildan pada teman-teman sekelas.
"KASTI!"
"Yasudah Wil, ambil tongkat sama bolanya sana. Sekalian minta kapur sama Bu Rusma," suruh Pak Agam ke Wildan.
Sebenarnya olahraga kasti dan lari itu tidak jauh berbeda. Sama-sama lari. Tetapi kasti itu tentu saja lebih seru ya walaupun resikonya terkena lemparan bola. Ya enggak sih?
"Seperti biasa, tiang yang sebelah kanan itu menjadi base 1, pohon pucuk merah yang di ujung sana base 2, tiang yang sebelah kiri base 3. Paham?"
"Paham, Pak!"
Wildan dan Alex suit untuk menentukan tim penjaga dan tim pemukul. Namun, bukan Alex dan Wildan namanya kalau tidak ada percekcokan.
"Heh, namanya suit itu gunting, batu, kertas. Lo apa-apaan jempol, telunjuk kelingking," ujar Wildan geregetan saat ia membentuk tangannya menjadi gunting, Alex malah hanya menunjukkan jari jempolnya.
"Bilang dong. Suit anak kota. Gue taunya suit anak kampung," ujar Alex tak mau kalah.
"Lo anak kota anjir! Sejak kapan lo jadi anak kampung ha?!"
"Lah, iya, ya."
"Bego!" umpat Samuel yang tepat berada di belakang Wildan.
"Dah lah. Ayo, gunting, batu, kertas!"
Kelompok satu satu berseru senang saat mereka menjadi tim pemukul. Sedangkan kelompok dua menjadi tim penjaga.
Sebagai tim penjaga, Sam memposisikan dirinya di sebelah base 3, wildan di sebelah base 1, Rania dan Pipit di tengah-tengah, Ardi di sebelah base 2 dan sisanya yang lain memencar.
__ADS_1
Sedangkan di tim pemukul mereka sedang berembuk siapa yang akan memukul terakhir. Karena pemukul terakhir busa dibilang menjadi penyelamat.
"Gue atau lu, Sang yang terakhir?" tanya Alex oada Gesang.
"Lo aja," jawab Gesang.
Alex mengangguk setuju. "Okelah. Siapa yang mau pertama mukul?" tanya Alex pada anggota kelompoknya.
"Gue!" Rain mengangkat tangan.
"Awas kalah."
"Gak bakal."
Rain sudah bersiap dengan tongkat pemukul ditangannya. "Ar, segini," ujar Rain pada Arya agar melambungkan bola kastinya sesuai yang Rain inginkan.
Pak Agam membunyikan pluit. Lalu Rizal melambungkan bola kasti sesuai yang Rain inginkan.
Dan...
BOM!
Seperti yang Rain prediksi, bola itu berhasil dipukul dan terlempar jauh.
Rain segera berlari menuju base 1, lalu base 2, saat ia ingin berlari lagi menuju base 3, teriakan teman-temannya menyuruh berhenti.
"RAIN BERHENTI WOY! ITU NIA UDAH PEGANG BOLA!"
Mau tidak mau Rain berhenti di base 2 padahal ia ingin berlari sampai ruang bebas tanpa pemberhentian.
Setelah itu teman-temannya yang lain beegiliran memukul. Tahu tidak apa yang terjadi? Mereka semua berkumpul di base 1. Entah apa yang para cowok diskusikan membuat anggota cewek yang lebih dulu memukul.
Tepat setelah para anggota cewek habis, Gesang bersiap memegang tongkat. Pukulannya yang sangat jauh membuat semua yang ada di base 1 berlari, termasuk Rain yang di base 2. Saat ia ingin sampai di ruang bebas, ada yang menyenggolnya dengan kuat hingga Rain tejatuh.
"Aww!"
"Rain jatuh elah!"
...🍫🍫🍫...
...HAII SAMU(EL) UPDATE❗...
...Kalau pelajaran olahraga kalian lebih milih lari atau kasti?...
...Tim kasti👉...
...Tim lari👉...
...Oh iya, kalau misalnya cara main kastinya salah, maaf banget. Soalnya aku juga agak lupa. Atau, kalau misalnya memang salah, kalian komen deh yang benar gimana biar aku perbaiki ^^...
__ADS_1
...Salam...
...Penikmat Coklat🍫...