The Rain Is Pouring

The Rain Is Pouring
Petrichor


__ADS_3

Namaku Petrichora Amelikana Azizah.


"Amel..!!" itu suara nenek yang memanggilku. Aku harus menemaninya kontrol ke RS. Oiya, aku pernah bertanya kepada ibuku mengapa namaku begitu rumit jika pada akhirnya hanya dipanggil "Amel".


Katanya, ibuku suka mencium aroma tanah setelah hujan. Maka dari itu ibuku menamaiku Petrichora yang artinya adalah aroma alami yang dihasilkan saat hujan jatuh di tanah yang kering.


Dan aku lahir tepat di hujan pertama setelah musim kemarau yang begitu panjang.


Dapat kalian bayangkan bagaimana aroma khas tanah yang kering itu menguap ke udara lalu terhirup ke dalam hidung kita. Aromanya sedaaapppp...


Kata itu berasal dari bahasa Yunani. Petra yang berarti batu, dan Ichor, cairan yang mengalir di pembuluh para dewa dalam mitologi Yunani (air mata dewa).


Sebenarnya, ibuku bukan penggemar mitologi Yunani. Hanya saja, aku mencari tahu artinya lebih lengkap lagi dari Wikipedia.


"Amel.. Amel.." lagi-lagi nenek memanggilku.


"Ya, Nek! Sebentar, kukeluarkan motornya dulu." sahutku. Ya, begitulah saat kita berhadapan dengan lansia. Kita harus lebih banyak bersabar dalam merawatnya. Saranku, berlemah lembutlah.


Oiya, nama Amelikana berasal dari kata Amelia yang artinya wanita pekerja keras. "Kana" berasal dari nama ilmiah sebuah bunga yaitu "Cannae Lily" atau bunga tasbih. Kata ibuku, bunga itu mengandung banyak manfaat . Ingat ya, bermanfaat bukan dimanfaatkan.. sampai di sini apakah kalian mengerti?


Dan dari kedua nama tersebut, tentu saja berkaitan dengan ibuku yang menjadi guru Biologi,, jadi namaku tidak jauh-jauh dari sains.


Azizah, diambil dari asmaul husna yaitu Yaa 'Aziz yang artinya Perkasa atau Mulia. Bapak memberi nama ini agar aku tumbuh menjadi wanita yang mulia.


Aku sangat bersyukur kepada kedua orang tuaku karena telah mewariskan nama yang begitu indah dan memiliki arti yang sangat baik. Di saat teman-temanku banyak yang mengeluh kenapa nama mereka kuno bahkan ada yang tidak memiliki arti, hanya asal memberi nama.


Aku bangga menjadi seorang Petrichora Amelikana Azizah, putri tunggal dari Ibu Hestiana Arumsari dan Bapak Galuh Witjaksana seorang dosen Filsafat dari universitas ternama.


Terakhir aku berjumpa dengan mereka saat umurku 8 tahun. Sebelum pada akhirnya mereka menghilang saat pendakian ke puncak Maha Meru.


Seandainya benar mereka telah meninggal, dimanakah jasad kedua orang tuaku? Tidak ada yang menemukan jasad mereka bahkan sampai detik ini setelah 18 tahun berlalu. Seandainya mereka masih hidup, mengapa mereka tidak pernah pulang kepadaku.


Bukankah seharusnya aku menjadi alasan utama mereka untuk tetap bertahan hidup dalam kondisi apapun? Bapak, ibu.. bukankah kalian juga ingin melihatku tumbuh dewasa? Amel rindu..


Ini adalah patah hati pertama dan terberat dalam hidupku


Di sisi sepi, juga sulit


Rinduku tak bertepi


Oh mengapa mencari kalian seperti mencari jarum di dalam tumpukan jerami


Aku sering mengigau memanggil-manggil kedua orang tuaku


Hingga datanglah pada suatu malam, nenekku menangis di samping tempat tidurku


Dari situ aku menyadari bahwa bukan aku saja yang bersedih


Nenekku juga


Bahkan nenek menjadi lebih sedih setiap kali tahu aku sedang meratapi


"Duh, Gusti.. hamba tidak kuat menyaksikan Amel yang terus merindu tanpa ujung. Jika anak dan menantuku masih hidup, tolong kembalikanlah kepada kami.." ia begitu tulus meminta hingga air matanya berlinang.

__ADS_1


Selang satu tahun setelah orang tuaku dinyatakan hilang dan pencarian dihentikan, kakekku meninggal dunia. Aku merasa musibah ini datang berturut-turut.


Mulai sejak saat itu, aku dan nenekku hanya hidup berdua di Jogja. Nenekku jualan kue apem ke pasar setiap harinya pakai sepeda. Aku sering membantunya membuatkan adonan. Nenek membantu biaya sekolahku, adapun saudara-saudara yang turut membantuku dan suka memberi uang saku.


Semua saudara dari bapak dan ibuku sangat peduli terhadapku, sampai ingin mengadopsiku tetapi aku menolak. Karena aku terlanjur nyaman tinggal bersama nenekku. Aku juga tidak tega membiarkannya tinggal sendirian.


Terkadang aku merasa iri ketika melihat teman-temanku diantar jemput kedua orang tuanya. Ketika lebaran bisa sungkem kepada bapak ibunya. Yang ketika ada piknik sekolah ke luar kota bisa ikut, lalu bagaimana denganku? Aku memilih tidak ikut.


"Bagi anak-anak yang tidak ikut study tour ke Jakarta, kalian harus membuat makalah tentang tempat-tempat wisata yang ada di Indonesia.." kata wali kelas SMP ku. Dan aku pergi ke warnet. Begitu pun saat SMA.


"Kenapa hidup ini tidak adil padaku?" gumamku kala itu.


Aku dan nenek hidup dalam kondisi pas-pasan.


Bahkan , saat aku menyukai seseorang aku takut untuk mengatakannya. Tentu tidak lain dan tidak bukan karena kami beda kasta.


12 tahun yang lalu..


"Mel, aku suka sama kamu. Kamu mau tidak menerimaku jadi pacar kamu?"tanyanya.


"Maaf aku tidak bisa nerima kamu.." jawabku.


"Kenapa?" tanyanya.


Sorenya....


"Aku kecelakaan." Sebuah pesan singkat di hape jadul.


"Serius?" tanyaku.


Amel kecil yang sangat lugu menangis tiba-tiba. Di situlah ia merasakan kesedihan. Jantungnya berdebar-debar sangat takut.


"Aku ingin kamu bilang I love U ke aku," katanya


Ada pesan lagi yang masuk..


"Nak saya ayah Raka, tolong jangan tolak anak saya untuk terakhir kalinya. Terima kasih."


Akhirya seorang Amelikana percaya dan menuruti permintaan cowok tersebut.


Ia takut Raka akan mati dan hanya hal ini yang bisa ia lakukan kepada cowok yang malang itu untuk terakhir kalinya, ia berdoa dengan sungguh-sungguh agar operasi Raka berjalan lancar.


"I Love You.."


"I Love You.."


"I Love You Raka!!"


5 menit kemudian..


"Raka?"


"Raka?"

__ADS_1


"Raka?"


"Rakaaaaaaa!!!!!!!"


Amel kecil menangis menggugu, apa ia kecelakaan gara-gara aku? Semua rasa itu berkecamuk menjadi satu.


"Tuhan, jangan ambil dia sekarang dariku.."


setengah jam kemudian..


"Love you too.. aku cuma ngetes kamu aja." balasnya.


"Apaaaaaaaaaaaaaah????" Amel kecil terkejut dan terheran-heran.


"The real LUCKNUT!!"


Setelah itu dia ngeghosting. Keesokan harinya ia jadian dengan cewek lain.


Aku menyesal, seharusnya saat itu aku berdoa " ambil saja dia , aku ikhlas ya Tuhan.."


Apakah cinta baginya hanya sebercanda itu?


Wah.. dia main-main dengan anak yatim piatu!!!


"Rakaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!"


"Jika menghabisimu setara dengan membunuh seekor cicak, dapat kupastikan laki-laki brengsek sepertimu sudah lenyap dari muka bumi ini. What the ****!!!" teriak Amelikana kecil dengan sangat marah.


Pabboo.... polos dan bodoh beda tipis.


Aku yang sedang mengendarai matic sambil tersenyum-senyum ngeboncengin nenekku. Rasanya bengek sekali mengenang kenangan konyol itu dalam hidupku. Dan sekarang aku tidak ingin bertemu kembali dengan laki-laki itu.


Nenekku berada di antrian awal.


"Silahkan dengan dokter Raka." kata petugas.


MAK JLUEBBBB...


Kuharap itu adalah orang lain. Bukan si brengsek itu.


Tokkk.tokk.tokk..


"Silahkan masuk.." sahutnya.


BEUHHH.. BEUUUUUHHHHH..


"Suara itu..? Astaga..Tidak mungkin.." gumamku.


Kurasa masker ini cukup membantu penyamaran.


"Silahkan bu.." ucap dokter itu dan aku sangat terkejut.


"Gilaaa...." gumamku. Aku pura-pura tidak mengenalnya.

__ADS_1


NAMA, TEMPAT, KEJADIAN DAN ORGANISASI MERUPAKAN FIKTIF SEMATA.


__ADS_2