The Rain Is Pouring

The Rain Is Pouring
Pahlawan dalam Gelap


__ADS_3

Aku berjalan pulang menyusuri trotoar.


"Sushi!" kataku. Berlari ke arah mini market langgananku. Di sana selalu ada sushi berbentuk segitiga.


Aku membelinya 4 buah dan matcha 1 cup. Nenek tidak suka matcha, jadi untukku saja. Aku berjalan keluar, tidak sengaja aku terpeleset. Sushi itu masuk ke selokan.


Entah mengapa tapi aku merasa jorok untuk mengambilnya.


Ahhhh.. gajian masih 5 hari lagi, aku harus menghemat agar bisa menabung. Rasanya sedih banget, padahal aku sedang ingin makan sushi.


"Dita!!!" seseorang memanggil sebuah nama.


"Eh, May?" sahut gadis berambut pendek sebahu itu.


"Ta, kenapa kamu ga balas chat aku? Aku lagi butuh uang nih. Bisakah kamu mengembalikannya hari ini?" tanyanya.


"Gue kan belum kerja May.. gue belum bisa balikin sekarang, dan gue gada duit. Harusnya kamu ngerti dikit dong." jawab Dita dengan nada sedikit emosi. (kok jadi galakan yang ngutang ya, udah biasaaaa....)


"Tapi kan kamu dapat duit dari kartu pra kerja Dit? Kan elu bisa balikin separuh dulu." kata May mengiba.


"Tenang aja nanti kalo gue udah dapat kerja trus gajian gue kembalikan." jawab Dita.


"Tadi malam lu makan-makan di restoran dan lu abai sama gue yang lagi butuh duit itu kembali. Bisanya?" sahut May juga kesal.


"Ya itu kan traktiran temen gue May.. Yaudahlah, gue pergi dulu." kata Dita.


Maya terlihat pasrah tidak mendapatkan uangnya kembali.


Terkadang kamu memberikan pinjaman uang kepada seseorang, bukan berarti uangmu sedang berlimpah. Tetapi karena rasa kemanusiaan kamu masih ada. Nanti dia makan apa ya, terus kekmana kalau dia kelaparan. Kan kasihan.. (Kamu hanyalah orang yang selalu berpikir positive terhadap orang-orang yang bermuka dua).


Padahal, tidak semua yang meminjam uang ke kita itu benar-benar kasihan. Memang ada yang meminjam karena benar-benar butuh atau dalam kondisi darurat, dan ada juga yang meminjam hanya untuk sesuatu yang bersifat hedon.


Saat mereka mendapatkan gaji atau income yang cukup, mereka masih lupa untuk mengembalikannya. Atau lebih tepatnya melupa...


Mereka mempersulit keadaan orang lain.


Dia kredit rumah, storynya mobil dan rumah masa depan. Bahkan edisi makan-makan yang menurutmu sangat tidak beretika , ketika dia foya-foya tapi masih memiliki tanggungan utang lalu selfi sana-sini dan pake kemeja rapi masih bisa nyanyi-nyanyi tapi ga peduli sama chat kamu. (terkadang berasa seperti pengemis. Malu lah.. kita malu untuk meminta , harusnya sadar diri. Udah dilonggarin tapi molorrrr terus..).


Bisa ya elu kredit rumah terus makan foya-foya pake duit temen? Mungkin dia pikir temannya ATM berjalan. Kaya gini ni punya temen gada hati nurani. Padahal kalo pas lagi butuh sopannnyaaaaaa.


Seharusnya kamu kurangi bergaya dan hiduplah apa adanya.


May, atau mungkin namanya Maya atau May May lainnya. Air matanya mengalir dari pelupuk matanya. Semua orang pasti tahu bagaimana jengkelnya kalau berada di posisi May seperti itu.


Ingin marah tapi percuma, uang itu tak juga kembali padamu. Ia mengusap air matanya seolah meyakinkan diri it's okay, kemudian masuk ke dalam minimarket.


Ah, sushiku.... aku mencoba meraihnya barangkali masih ada yang bisa terselamatkan dari comberan itu.


"Ah, jijik kaliii.." gumamku. Akhirnya tidak kuambil.

__ADS_1


"Mel.."


"Aiman?" kataku terkejut ia berdiri di depanku.


"Bawakan ini untuk nenek, hari ini aku memborong sushi untuk rapat. Keberatan nih, ambil satu kotak ya. " kata Aiman.


"Makasih ya,Man.." kataku.


"Kamu baru pulang ,Mel?" tanya Aiman.


"Iya, Man. Kebetulan tadi mampir minimarket." kataku.


"Lain kali kalau sudah jatuh ke selokan jangan dipungut lagi , Mel." kata Aiman.


"Soalnya sayang kalau misal masih bisa dimakan, kan masih terlindung oleh kemasannya." jawabku.


Aku merasa malu sekali.


"Aku antar Mel. Lagian kantorku kan juga deket." kata Aiman.


Sampai rumah aku terkejut melihat nenek terbaring lemah. Seluruh tubuhnya menggigil. Aku panik.


"Tenang Mel, aku bantu bawa nenek ke RS ya." kata Aiman.


"Tapi kamu harus balik ke kantor untuk rapat," kataku.


"Thank's ya Bro.." kata Aiman kepada Arsyah yang sudah sigap menggantikannya.


"Anytime.." jawab Arsyah.


"Aiman, terima kasih banyak. Maaf merepotkan." kataku.


"Tolong mampir ATM ya , Man." ucapku.


"Oke Mel," jawab Aiman begitu tulus.


"Melda, tolongin gue dong. Urgent, bisa ga kalo gaperlu ngantri?" Aiman menelpon seseorang.


"Iya , Man. Langsung aja ke ruangan gue." jawab seorang wanita.


Ia menjelaskan bahwa temannya adalah seorang dokter di RS tersebut,jadi nenek tidak perlu antri.


The power of orang dalam.


"Alhamdulillah..." aku merasa lega.


"aku ga tau kenapa nenek bisa begini. Tadi pas kutinggal ia baik-baik saja," kataku.


"Tenang Mel, nenek akan segera diobati. Gausah mikirin biaya dan lain-lain," kata Aiman.

__ADS_1


"Tapi, Man.." kataku.


"Enggak, Mel. Aku tahu kalian. Aku juga ikhlas nolongin nenek dan kamu. Anggap aja kamu bantu aku ngisi kolom kebaikan aku hari ini. Soalnya hari ini kolom aku cuma penuh dengan tebar senyum, salam , dan sapa aja, Mel." kata Aiman.


"Kamu.." gerutuku.


"Kamu udah banyak banget baik sama aku ,Man.." kataku.


"Jangan-jangan aku yang paling banyak ngisi di kolom kebaikanmu?" tanyaku.


"Bisa jadi...." Aiman menjawab.


Aku tersenyum.


"Orang tua kamu telah mendidikmu dengan sangat baik. Padahal aku..." ucapku merasa bersalah.


"Engga Mel, jangan merasa bersalah untuk apapun. Dan jangan pernah menolak kebaikan orang lain. Karena mereka juga membutuhkan manusia yang lainnya untuk bisa mencapai niat baiknya. Oiya jngan pernah menganggap semua ini sebagai hutang budi." ucap Aiman seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan.


"Alangkah mulianya pemikiran orang ini," gumamku. Aku kagum."


"Sejujurnya, Mel. Aku tidak mau kamu merasa tidak nyaman sama aku. Aku cuma pengen berteman sama kamu, sama nenek. Aku menyayangi kalian." kata Aiman.


"Tapi, Man.. tidak ada pertemanan yang murni antara pria dan wanita. Jika tidak, salah satu pasti ada yang menaruh harapan." rasanya aku ingin berkata seperti ini.


Sampai di RS nenek langsung diperiksa dan diberi obat. Kami mampir di warung soto lalu membawa makanan itu pulang.


Aiman menyuapi nenek dan membantunya meminum obat, membuatku ingin menangis. Pria ini masih selalu baik pada kami. Padahal aku terlampau sering mengacuhkannya dan menghindarinya.


Membuatku merasa makin bersalah.


"Alangkah beruntungnya siapapun yang mendapatkannya," gumamku.


"Nek, istirahat ya. Aiman pamit dulu." kata Aiman kepada nenek.


Nenek yang terbaring lemah hanya bisa tersenyum dan mengangguk.


"Makasih, nak. Hati-hati." kata nenek , beliau berusaha keras untuk dapat berkata-kata.


Aku mengolesi badan nenek dengan minyak kayu putih lalu mengerokinya.


Aku juga mengambilkannya air hangat untuk diminum.


"Nenek baring dulu ya, biar Amel ambil kompres dulu." kataku.


Hanya orang tua ini satu-satunya yang kumiliki. Nenek telah memilih tetap bersamaku dalam kehidupan yang tidak pasti ini.


Terima kasih nenek tidak pernah meninggalkanku.


NAMA, TEMPAT, KEJADIAN DAN ORGANISASI MERUPAKAN FIKTIF SEMATA.

__ADS_1


__ADS_2