The Rain Is Pouring

The Rain Is Pouring
Cinta Seperti Kopi


__ADS_3

"Mba, cappucinonya satu ya!" seorang pelanggan berkulit putih bersih mengorder. Namanya Sela, hari-hari dia ke sini untuk memesan a cup of coffe. Sepertinya cappucino sudah menjadi teman hidupnya.


"Baik, ditunggu ya.." ucapku.


"Okee.." jawabnya ramah.


Dia membayarkan uangnya.


Cappucino, minuman yang terbuat dari espresso dan susu. Minuman Italy yang terkenal di seluruh dunia ini memiliki filosofi yaitu penggemar cappucino adalah orang yang santai dan tidak terburu-buru.


"Sel.. Buruan, kita ada meeting pagi ini." kata temannya.


"Anette, tenang aja masih sempat kok!" kata Sela.


Hmmm... kurasa memang benar, dia pecinta cappucino tulen.


"Mba, ini pesanannya.." kataku


"Terima kasih mba," jawabnya.


Tidak lama kemudian.. ekspresinya tampak tidak enak.


"Mba ini kok hambar rasanya ya? Beneran ini Americano?" katanya wanita itu seakan tidak percaya.


"Mba beneran baru kali ini pesan ya?" tanyaku.


"Mmmm..benar mba, Americano memang pahit, ringan dan tawar. Lebih cocok untuk yang diet karena rendah kalori," jawabku memberikan sedikit informasi.


Komposisinya begitu sederhana, hanya berupa espresso dicampur air plus es batu.


"Ice Americano," Raka mengorder.


Sela terkejut pria itu memesan Amerikano.


"Why? Kenapa anda menatapku seperti itu, sis?" Raka geregetan ditatap begitu.


Sela menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Drakor memang selalu melebih-lebihkan rasa. Lebih enak bikin sendiri deh," gerutunya. Anette tertawa.


Raka memperhatikan wanita tadi dengan pandangan terheran-heran.


"Kuno," kata Raka.


Ya, begitulah ekspresi orang yang baru pertama kali mencobanya. Saat pertama kali mendengar namanya, kamu akan berekspektasi lebih tinggi lagi tentang rasanya.


Seperti saat kamu pertama kali mendengar kata cinta. Mendengarnya saja bisa membuatmu memiliki harapan yang cukup tinggi, namun setelah kamu mengenalnya, rasanya hampir tidak jauh dari Ice Americano. Dingin dan hambar. Ada yang mengatakan seperti comberan.


Americano sangat hits di Korea Selatan, Americano hampir selalu muncul di dalam drama-drama mereka.


Orang Korea menyukai Americano karena mereka sangat sibuk sehingga membutuhkan asupan tenaga agar mereka selalu segar, seperti kafein.


Namun, demi menjaga penampilan, mereka cenderung menghindari kafein yang tinggi gula.


Sehingga mereka memilih ice Americano.


Mirip seperti rasa kopi classic brand X yang di jual di toko kelontong yang kelebihan airnya. ANYEPPPP....


Tapi sebenarnya Americano tidak seburuk itu guys jika kalian menilainya dari segi kebutuhan. Tergantung selera masing-masing.


Jadi saat melihat ekspresi mbaknya tadi aku cuma pengen bilang hiiiiihiiiiihiiiiii.


"Ini punyamu.." kataku kepada Raka.


"Thank's ya , Mel." jawabnya.


"Bukankah itu tidak menyehatkan?" tanyaku.


"Sesekali boleh asal tidak berlebihan. Lalu kenapa kalian menjualnya?" tanyanya balik.


"Karena laku," jawabku.


Dia tertawa.


"Apa kamu mendendam padaku?" tanyanya.


"Apa kamu merasa punya salah kepadaku?" aku bertanya balik.


"Kenapa kamu selalu membalikkan semua pertanyaanku?" tanyanya mulai jengkel.


"Karena kata-katamu bisa dijungkir balikkan," jawabku.


Saat jam istirahat kafe ini selalu ramai. Bahkan dipenuhi para ojol yang mengantri untuk pesanan delivery mereka.


"Terima kasih," ucapku kepada setiap pelanggan yang telah bersabar menunggu.


"Mba, apakah tidak bisa ditambah pelayan lagi agar lebih cepat?" tanya seorang ibu-ibu yang merasa maha dewi di sini.

__ADS_1


"Ini sudah standar kafe kami, jadi mohon untuk lebih bersabar ya Bu." jawabku.


Mukanya tampak kesal. Kami tahu bahwa kalian juga ingin cepat-cepat. Akan tetapi mengertilah bahwa kami sudah berusaha melakukannya semaksimal mungkin dan meningkatkan pelayanan kami untuk kepuasan hati kalian.


"Sekali lagi kami himbaukan kepada para pembeli untuk mematuhi protokol kesehatan," suara dari speaker mengingatkan.


By the way, aku bersyukur mendapatkan pekerjaan di tempat seperti ini. Meskipun terkadang harus bertemu dengan toxic people.


Tetapi aku merasa nyaman karena rekan-rekan kerjaku adalah orang yang peduli satu sama lain, atasan kami juga sangat bijaksana. Dan jam kerja kami sangat enak.


Jika shift pertama mulai dari jam 06:00 WIB-14:00 WIB, shift kedua dari jam 14:00 WIB -22:00 WIB.


Meski tidak bekerja kantoran atau pun buruh pabrik yang memiliki overtime banyak, aku masih bisa mendapatkan gaji UMR, membayar uang kuliah, kebutuhan sehari-hari, beli token listrik, tagihan air, dan kontrakan. Aku juga masih bisa menabung walau hanya sedikit. Aku masih muda, sehat, dan kuat bekerja. Nikmat Tuhan mana yang telah aku dustakan..


Nenekku juga tidak sakit-sakitan, ya sakit pernah tetapi tidak terus-terusan. Nenekku juga masih jualan kue setiap paginya. Dan yang paling penting aku tidak di PHK di masa pandemi seperti ini.


"Ice Americano dan sup ikan."


"Baiklah, silahkan untuk memilih tempat duduknya pak," kataku. Aku yang habis jongkok lalu berdiri merasa terkejut melihat Aiman yang memesan.


"Sepertinya kalian sangat sibuk," kata Aiman.


"Iya, apa ada lagi yang ingin dipesan? aku akan membuatkan orderannya," kataku.


"Sama hati," jawabnya.


"Apa?" tanyaku.


"Mmm..hati ayam. Sambal hati ayam," jawabnya.


"Ohhh.. baik kalau begitu, silahkan memilih tempat duduk dulu," kataku.


Hampir merasa kepedean.


"Baiklah," jawabnya.


"Aku rasa baru kali ini ia memesan di kafe ini saat jam makan siang," gumamku.


"Aiman," perempuan itu datang.


"Chika, kamu kok di sini?" tanya Aiman.


"Mama kamu bilang kalau kamu makan siang di luar sendirian. Lagi pula ini juga tidak jauh dari kantor aku," kata Chika.


"Tumben kamu ke sini?" tanya Chika.


Lalu Aiman melihat ke arahku. Aku pura-pura sibuk melihat ke arah lain.


"Mba saya pesan menu yang sama dengan Aiman," kata wanita itu.


"Oke.." sahutku.


"Mba, paket nomor 8 dibungkus ya.." kata Aiman.," kata Aiman.


"Baik, pak." jawabku.


Mereka menyelesaikan makanannya. Aiman menghampiriku.


"Chika kamu duluan aja," kata Aiman.


"Oke,"kata Chika.


"Ini pesanan bapak yang dibungkus. Terima kasih," kataku.


Dia menempelkan posid di kotak itu.


"Bolehkah saya titip sesuatu? Nanti tolong serahkan kepada teman saya atas nama ini ya," kata Aiman.


"Boleh," kataku.


"Makasih ya , Mel." ucap Aiman.


Kulihat nama itu.. Petrichora Amelikana Azizah... (dengan tulisan Aiman yang sangat artistik).


"Aiman.." ketika kupanggil orangnya sudah menghilang.


Seperti jalangkung.


PETRICHORA AMELIKANA AZIZAH (Pak Arif mengeja)


"Ajiiiiiibbbbbbb..." kata Pak Arif, chiefku.


"Udah ganteng, baik, lihatlah.. dari tulisannya saja sudah mencerminkan orangnya." kata Lestari.


"Kamu beruntung Mel," kata Niken.


"Kenapa yang ganteng-ganteng semua larinya ke kamu?" kata Didit.

__ADS_1


"Aku jadi minder mau saingan sama mereka." kata Didit.


"Jangan! Jangan pernah saingan sama mereka!" kataku melarang.


"Kenapa? Apa aku ga worth it? Kamu rasis sekali, mentang-mentang aku gak tampan," sahut Didit.


"Bukan gak worth it, tapi .... gak tahu diri.." sahut Tari.


"Ohhhhh... aku tersinggung banget Tar. Mulutmu itu kalau ngomong nylekiteeee ra umum. Jaluk dikruwessss..." sahut Didit kesal.


HIKKKKKKKKSSSSSSS.


Semua jadi ngekek melihat kelakuan keduanya.


"Kalian lho malah dagelan," sahut Niken.


"Tidak! Bukan begitu mas Didit, hanya saja.. aku tidak ingin terbebani oleh perasaan orang lain." jawabku.


"Berarti aku beban.." ujarnya.


"BEBAN HIDUP!!!" seru Niken dan Tari.


Pecahhhh....


"Niken, Tari.. seneng sekali kalian kalo liat temen sengsara.." sahut Didit ngambek.


"Cinta ini sama seperti espresso.." kata Didit.


"Kenapa?" tanya Pak Arif.


"Pahit.." jawab Didit.


"Waaaaakkkkkkkk...." Lestari menahan tawa. Didit menjep ke arah Tari.


"Tampang boleh kurang, tapi tutupilah kekuranganmu dengan kerja keras, sampai tetangga bilang kalau kamu pakai pelet." sahut pak Arif.


"Eakkkkkkk!!" sorak yang lain.


"Itu yang susah asal bapak tahu.." sahut Didit.


"Itu juga yang membuat tampangku sampai saat ini tidak termaafkan," sahut Didit.


"Sebenarnya kamu tidak jelek Dit," kataku.


"Lalu apa yang benar,Mel?" tanyanya.


"Kamu manis kok.." jawabku.


"Kaya kolak yang kandungan gulanya bikin diabetes dan santannya bikin dating." sahut Lestari.


"Apa dating?" tanya Didit.


"Darah tinggi naik..." seru Tari.


EAAAAAAAKKKKKKK.... (Sorak semua)


"Kurangajar ya kamu Tari.. merusak kesenangan orang," sahut Didit dengan muka masam.


Anak-anak tertawa melihat kelakuan Didit dan Tari yang saling serang.


"Mel, kamu tahu engga bedanya kita?" tanya Didit sambil menyejajarkan tangannya dan tanganku.


"Apa?" tanyaku.


"Aku black dan kamu white.." kata Didit.


Aku tersenyum sama dia.


"Telek cecak mas? Black and white." sahut Lestari.


"Iya, itu kamu," sahut Didit.


"Tari, kamu tahu gak kalau kamu itu kaya .." sahut Didit dan tiba-tiba tidak menyelesaikan kata-katanya.


Membuat semua orang berpikir keras.


Iiiiiiiiihiiiiiiiiiiihiiiiiiiiiiihiiiiiiihhh....(Didit tertawa melengking)


Lalu suasana menjadi pecah.


BWUUUUUUURRRRRFFFFFFFHHHHH..!!


Pak Arif sampai ikutan tertawa dan menyemburkan kopi yang diteguknya.


☕☕☕☕


NAMA, TEMPAT, KEJADIAN DAN ORGANISASI MERUPAKAN FIKTIF SEMATA.

__ADS_1


__ADS_2