
Geminiblue ingin mengikuti Anda.
Siapa ini Geminiblue?
Orang ini sangatlah misterius. Ia tidak menunjukkan wajahnya sama sekali di setiap postingannya.
Ia selalu menutupi wajahnya dengan bunga.
Akhirnya aku menerima permintaan pertemanannya.
" Kenapa harus seperti ini. Aku gagal ujian kali ini.." aku masih merasa kesal pada diri sendiri.
Tiba-tiba hapeku berbunyi.
๐Dari Junot...
๐me : Halo assalamu'alaikum..?
๐Junot : Wa'alaikumussalam, kak Amel. Ini David adiknya bang Junot. Saya di depan pintu, ada bang Junot titip uang untuk kak Amel.
๐me : Baik dek, sebentar saya ke luar.
Kulihat nenek sudah baring di kamarnya.
"David ayo masuk..," kataku kepada anak berusia 10 tahun itu.
Dia meminta maaf karena datang malam-malam.
"Begini kak Amel, ada bang Junot titip uang ke kak Amel." katanya.
"Kenapa dia ga transfer sendiri atau kalau engga dateng sendiri? Apa dia lagi sibuk bikin konten?" tanyaku
"Tidak kak. Sebelumnya terima kasih banyak sudah membantu ujian bang Junot. Bang Junot tidak bisa memberikannya langsung karena dia koma." kata David.
"Bang Junot koma ? Astaghfirulloh. Apa bang Junot kecelakaan ?" aku terkejut.
"Tidak kak, bang Junot sudah dua tahun ini berjuang melawan kankernya. Kata dokter sudah stadium akhir.." kata David dengan serius. Ia tampak khawatir dengan kondisi abangnya.
"Astaghfirulloooh Junot... bang Junot tidak pernah cerita apapun ke kakak. Sudah berapa hari dia koma?" tuturku.
"Bang Junot baru semalam koma tetapi sudah 10 hari opname. Abang memang tidak pernah mau menceritakan sakitnya kepada siapapun." jawabnya.
"Sebenarnya, bang Junot ingin membantu kakak bayar kontrakan. Makanya dia menyibukkan kakak. Dia juga ingin mempersembahkan nilai yang bagus untuk mama. Atas nama bang Junot saya minta maaf." kata David.
"Masya Allah.. Junot.. kamu baik sekali," gumamku.
"Maaf , apa kakak boleh menjenguk bang Junot besok pagi?" tanyaku.
"Maaf kak, dia belum boleh dijenguk. David mohon doa dari kak Amel untuk bang Junot." kata David..
"Baik kakak akan berdoa buat kesembuhan bang Junot, bolehkah saya minta nomor telpon David untuk tahu perkembangan kabar bang Junot ?" tanyaku.
David memberikan nomornya. Lalu pamit..
"Tolong, jangan beritahu siapapun kalau kakak mengerjakan ujiannya. Kak Junot ingin membuat mama bangga dengan hasilnya. Aku tahu ini dosa.." kata anak kecil itu.
Rasanya aku terharu dengan kekompakan adik kakak itu.
"Mel, plis ya.. bantu gue.. kali ini aja.. Lu butuh duit, gue butuh nilai. Jadi kita simbiosis mutualisme, Mel?" kata Junot di VC kala itu.
"Lu pikir ikan paus sama ikan remora? Gimana ya.. gue juga lagi butuh tapi lu tahu kan kalau itu dosa. Temen ga baik lu." kataku.
__ADS_1
"Kali ini gue pengen bikin nyokap bangga. Biar gue bisa cepetan lulus bareng elu." kata Junot.
"Aelah , alasan lu aja. Pasti sibuk bikin konten brekele deh. Ya kan??," sahutku..
"Nah itu lo tahu. Ayolah, mel bantu gue mel.. bantu gue.. Sebentar lagi ni trending. Kalo gue berhasil jadi yutuber nanti, gue elu-elukan deh nama lu di depan gedung DPR!!!" Banyolnya.
"Kapan lu bakal trending.. omong doang.. Moooooooo....!" ejekku
"Pingggg!!!!"
Dari 3344
Lalu dia kasih DP yang fantastis. Padahal kami belum ada kesepakatan.
Akhirnya aku iyakan. Tapi bisa dikatakan kalau itu bukan DP melainkan cash.
"Itu udah gw DP ke rekening lu ya. Awas ya gak lu pake buat bayar kontrakan." kata Junot.
"Aelah iyeee.. Serius ini DP? banyak kali. Makasih ya Not. Elu sangat baik dan merepotkan." kataku.
"Yang penting gue baik." jawabnya.
"Btw.. PPKM bukan harusnya kamu melebar ya tp gue rasa elu menciut deh. Kenapa kepala lu botakin?" tanyaku.
"Ya kan gue udah sadar gaya hidup sehat, Mel. Tahu gak? nyokap gue kasih gue makan vegetarian terus. Gue juga udah rajin olahraga Mel. Lihat noh alat olah raga gue. Ga perlu joging ke luar rumah sekarang. Banyak corona di luar." jawabnya.
Dan aku tidak menyadari bahwa dia sedang berjuang melawan kankernya pada saat itu. Aku menangis teringat banyolan terakhir kami.
David mengirimkan kondisi Junot yang terbaring lemah dengan peralatan medis di wajahnya.
Aku menangis.
Ya Allah jangan panggil Junot secepat ini...
David menelpon.
"Innalillahi wa innailaihi roji'un.." aku langsung terduduk di lantai.
Kini Junot sudah tidak ada lagi. Allah telah mengambilnya sebelum ia ikut wisuda.
"Junot..." aku menangis.
"Kenapa Mel?" tanya nenek.
"Junot nek, Junot meninggal.." kataku.
"Teman kamu yang gemuk itu? Innalillahi wa innailaihi roji'un.." kata nenek.
"Iya nek.." kataku.
"Kematian tidak pandang usia, maka hiduplah dengan banyak beramal soleh.." kata nenek.
"Apakah termasuk amal soleh jika menyuruh teman untuk mengerjakan ujian demi menolong teman yang lagi butuh uang buat bayar sewa ..?" tanyaku.
"Tentu saja itu amal yang salah. Dosa bagi yang meminta sama yang menerima pekerjaan itu." kata nenek.
"Astaghfirullohhal 'adziiim..." kataku keras. Langsung speechless.
"Apa kamu mengerjakan ujian orang?" tanya nenek.
"Engga dong, Amelikana Azizah tidak begitu nek.." jawabku berbohong.
__ADS_1
"Maaf, nek. Kepepet." gumamku.
Aku dan nenek lalu mengambil air wudhu untuk sholat ghaib untuk alm. Junot.
Keesokan paginya aku pergi takziah ke rumah Junot.
Di halaman rumahnya ada beberapa papan karangan bunga. Dari beberpa komunitas dan kampus. Sepertinya ia cukup dikenal baik oleh orang banyak semasa hidupnya.
Jenazahnya sudah dimakamkan tadi malam langsung. Rumahnya agak sepi tapi ada lalu lalang tetangga dan teman-temannya yang datang turut belasungkawa.
Setelah selang beberapa waktu aku pamit pulang.
"David harus ikhlas ya.. harus bersabar dengan kesabaran yang baik," ucapku pada David.
"Terima kasih ." kata David.
"Terima kasih," kata ayah dan ibunya.
"Siapa kakak itu David?" tanya ibunya.
"Teman bang Junot kuliah , ma." jawab David.
Aku mendengar percakapan mereka.
Kesedihan begitu menyelimuti hati mereka.
Junot bagiku, sosok yang kuat dan tak suka mengeluh. Dia juga suka menolong orang, anaknya ceria. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa Junot, diringankan hisabnya dan diterima amal ibadah almarhum semasa hidupnya.
Selamat tinggal Junot. Selamat engkau telah berhasil melewati semua kesulitanmu. Semoga engkau tenang di sana. Aku merasa kehilanganmu. Kamu salah satu teman terbaikku di sini.
Junot mengajariku bagaimana ia menolong orang lain tanpa orang itu harus merasa rendah diri.
Sedangkan di jaman sekarang, banyak orang menderma namun justru membuat penerimanya harus mengorbankan harga diri di depan publik dengan cara meminta foto dan mengekspos wajah mereka di sosial media.
Seolah engkau menjual mereka sebagai imbalan atas dermamu demi indahnya pujian.
Engkau juga tidak memikirkan bagaimana dia akan menjadi sasaran kejahatan setelah engkau mengekspos seseorang yang kau beri segepok uang itu.
Ah,ini hanya penilainku saja. Tentu setiap kepala memiliki penilaian yang berbeda.
๐
"Pagi ini kamu OT pukul 10.00 WIB menggantikan Desita." pak Arif mengabari.
"Alhamdulillah OT," ucapku merasa bersyukur.
Lelah bekerja lebih baik daripada lelah mencari kerja.
Aku mampir ke SPBU, waktu masih menunjukkan pukul 07.30.
"Dimulai dari angka nol ya bu.." kata operatornya dengan ramah.
"Silahkan mas." jawabku.
"Biar saya yang bayar," tiba-tiba Rafka muncul.
"Jangan, Ka!!" aku menolak. Lalu kuberikan uangku kepada operator tersebut.
"Gue duluan ya," aku langsung cabut.
Aku mampir ke supermarket beli sayur lalu pulang.
__ADS_1
Sampai di rumah kubasuh anggota badanku dengan air wudhu.
Pagi-pagi bu kos sudah bertengger di teras rumah. Seperti biasa aku membayar uang kosan kepadanya.