
Sidney, 2022.
"Sorry, we are the new owners of this apartment. We bought it 4 months ago." kata seorang pria pemilik yang baru appartemen tersebut.
Dengan ekspresi kecewa Amel mencoba menghela napas. Pemilik yang baru menyarankan untuk menanyakan langsung ke kantor penjualan unit tersebut. Tak putus asa, Aiman & Amel menemui bagian pemasaran. Benar, sebelumnya bangunan tersebut atas kepemilikan Hestiana Arum Sari.
Pihak pemasaran memberikan nomor telepon ibu Hesti yang masih aktif.
"Ibu.. Ibu dimana.. Amel sudah sampai Sidney. " Amel menangis di dalam mobil.
Aiman mencoba menghiburnya.
"Kita pasti akan menemukan Ibu. Kita harus yakin," kata Aiman mengusap air mata sang istri dengan selembar tissu.
Amel bersyukur ada Aiman yang selalu di sampingnya untuk menguatkan, kesabaran sang suami yang seluas samudra, tidak pernah membentak ataupun menunjukkan ekspresi kesal.
Amel mencoba menghubungi nomor telpon tadi.
"Assalamu'alaikum.. "
"Wa'alaikumussalam.. dengan siapa?"
"Ibu.. " Amel tak kuasa meluapkan air mata.
"Ibu.. ini Amel.. anak ibu.. "
"Amel... " air mata bu Hesti mengalir, suasana hatinya menjadi kacau.
"Ibu, jangan tutup telpon Amel bu.. bolehkah amel ngobrol sama ibu? Amel mohon.. " kata Amel.
Lalu tangisan keduanya pecah. Aiman turut menangis haru.
"Amel, putri kecil ibu, maafin ibu nak.. maafin ibu... maafkan ibu.. semua salah ibu.. " Bu Hesti menangis tak tertahan.
"Amel udah maafin ibu, Amel tidak membenci ibu.. Amel cuma pengen ketemu sama ibu.. udah, itu aja. Amel sama suami, mas Aiman ingin menyapa ibu.. "
"Iya nak.. iya.. "Tangisan bu Hesti yang semakin pecah terdengar keras di telepon.
"Ibu, Assalamu'alaikum. ."
"Wa'alaikumussalam, nak.. "
"Ini Aiman, menantu ibu.. Ibu apa kabar?"
"Ibu baik-baik saja nak, Ibu merestui kalian, tolong jaga baik-baik anak ibu ya, nak... "
Akhirnya mereka membuat janji temu di Perth weekend ini.
Satu minggu kemudian..
Perth, 2022
"Nyonya Fatimah, hari ini mereka akan sampai," kata asisten cantiknya Rafaela, Mrs.Fatimah pemilik perkebunan anggur terkaya di Perth.
"Apakah hidangan sudah siap?" tanya Mrs. Fatimah.
"Sudah, nyonya.. " jawab.
*_*
"Apakah ini benar rumahnya?" tanya Olive.
"Benar, ini nomor 7," sahut Amel.
Aiman memencet bel. "Permisi, any body home?" tanya Inggrid.
"Sepertinya ibumu kaya raya," kata Inggrid melihat rumah mewah klasik tersebut.
"Sssst... ," Amel berbisik.
__ADS_1
Seorang wanita cantik tampak membuka pintu.
"Ibu... " Amel mengenali wajah wanita itu, ia langsung memeluk sang ibu dengan erat.
"Amel, anak ibu.. " bu Hesti memeluk anaknya dengan erat.
"Maafkan ibu, Amel.. sampai kapanpun ibu takkan pernah bisa menebus dosa-dosa ibu.. " bu Hesti histeris.
"Engga bu.. Amel ga pernah membenci ibu," kata Amel.
" Amel bisa mengenali ibu dengan cepat, nak.. " kata bu Hesti.
"Bagaimana mungkin Amel tidak mengenali ibu, setiap mau tidur & bangun tidur selalu menatap foto wajah ibu & bapak. Keinginan Amel cuma satu, bapak & ibu bisa pulang ke rumah," Amel terus menangis. Suasana menjadi mengharu biru. Semua ikut menangis.
Bu Hesti memeluk anak-anak termasuk menantunya , Aiman. Beliau juga meminta mereka masuk ke dalam.
"Aiman, terima kasih banyak telah menyayangi anak ibu," tutur bu Hesti.
Lalu seorang nenek-nenek berhijab tersenyum manis menemui mereka. Anak-anak memberi salam, dengan ramah beliau menjawabnya.
"Ini mama angkat ibu, bu Fatimah," kata bu Hesti.
"Ini pasti Amel? Wajah kalian memang mirip. Aduh cucu nenek sudah dewasa," Bu Fatimah memeluk Amel.
"Ayo kita makan dulu, nenek sudah menyiapkan hidangan untuk kalian. Ibumu sendiri yang memasaknya.. "kata nenek Fatimah.
"Terima kasih, maaf merepotkan," kata Aiman.
"Tentu saja tidak, kalian adalah tamu spesialku," bu Fatimah tidak merasa direpotkan sama sekali.
"Kalian pasti belum pernah merasakan kari kalkun kan? Hari ini Hesti memasakkannya untuk kalian, ayo.. " kata bu Fatimah.
"Wahh, pasti enak. Lama sekali tidak pernah merasakan masakan ibu," kata Amel sambil berkaca-kaca.
Terima kasih ya Rabb, engkau telah memberikan anugerah terindah yang tak ternilai. Hari ini aku bisa bertemu dengan ibuku.
"Saya tidak menyangka kalkunnya akan seempuk ini, " kata Aiman.
"Ini benar-benar enak, rempahnya terasa, seperti masakan Indonesia," kata Aiman.
"Syukurlah, ibu banyakin bumbu rempahnya.. " kata bu Hesti.
Selesai makan mereka berkumpul ke ruang tamu.
"Kenalkan, ini ajudanku, Rafaela.. " kata nenek.
Amel shyock melihat wanita berdress hitam memasuki ruangan.
"Tas itu... " Amel serasa pernah melihatnya.
"Maaf, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Amel.
Rafaela tersenyum lalu menjawab, "benar, malam itu. "
Amel terkejut mendengar jawabannya. "Apakah anda yang ada di dalam mobil mewah itu?" tanya Amel.
"Benar," ia tersenyum.
"Aku yang memasukkan buku tabungan itu ke dalam tasmu," ucap Rafaela.
"Rafaela adalah ajudanku," kata Mrs.Fatimah.
"Selama 14 tahun ini Hestu kehilangan waktu dan anggota keluarganya, ia baru mendapatkan ingatannya kembali 3 tahun yang lalu. Aku tidak tega melihat mata ibumu yang depresi penuh dengan penyesalan," tutur Bu Fatimah.
"Kami tidak bisa membantu banyak, melihatnya masih bisa hidup kembali sudah merupakan keajaiban yang luar biasa. Setelah ibumu berhasil mengingat kembali semua memorinya, kami berupaya mewujudkan keinginannya untuk menemukan keluarganya lagi."
"Sudah banyak hal yang telah ia lewatkan, ia juga baru sadar jika ia telah kehilangan sang suami & anak dalam waktu yang cukup lama."
"Nak, sebelum ibumu ingin menemuimu, ia ingin memberi sesuatu yang berharga untukkmu, walaupun takkan bisa menebus waktu yang telah hilang di masa lalu."
__ADS_1
Hesti berhasil mengembangkan cabang cakenya.
"Ibu..." Amel merasa speechless.
"Kami tidak pernah mendaki.. " kata Hesti.
------
"Seseorang telah menculik kami dalam perjalanan menuju pendakian, saat terbangun aku tidak tahu lagi ada dimana. Aku sudah berada di ranjang yang nyaman dan hidung yang terpasang selang. Rupanya aku sudah koma selama 1 bulan. Aku tidak mengingat siapa diriku, aku lupa semuanya. Bu Fatimah memberiku identitas yang baru namun tetap dengan nama yang sama," tutur Hesti.
Rafaela memberi kode kepada Amel agar tidak banyak bertanya tentang kejadian di masa lampau, karena hal tersebut dapat memicu kesedihan yang mendalam di hati Mrs. Hesti.
"Bagaimana kabar kakek dan nenekmu?" tanya sang ibu.
"Kakek meninggal, sebulan setelah kalian dinyatakan hilang. Tetapi, nenek merawatku dengan sangat baik," kata Amel.
"Inalillahi, wa innailaihi roji'un. Apakah nenek sehat? Ibu harus berterima kasih kepadanya karena telah menjaga anak ibu dengan baik," ucap Hesti.
"Sepertinya tidak ada kebencian atau kekesalan di hati ibu terhadap nenek, biarpun perlakuan nenek di masa lalu sangat buruk kepada ibu. Tetapi aku tidak bisa hanya percaya terhadap mimpi. Bukankah kebanyakan mimpi haya sebatas bunga tidur saja?" gumam Amel yang masih menatap dalam-dalam wanita yang saat ini ia panggil ibu.
Aiman melakukan video call dengan ibunya di Jakarta, ia mengabarkan bahwa mereka telah bertemu dengan bu Hesti.
"Lihat sayang, mereka tampak begitu hangat saat berbincang, " kata Aiman.
"Seperti sudah lama saling mengenal, berkat mama kamu yang juga welcome, sayang. Aku bersyukur banget bisa punya mertua seperti mama, " Amel memeluk suaminya. Aiman mencium kening sang istri. "Katanya mencium kening istri bisa membuatnya hidup lebih lama lagi, aku ingin kamu di sampingku lebih lama lagi, aku tidak bisa hidup tanpa kamu, " kata Aiman.
"Sepertinya aku akan hidup lebih lama lagi, karena dayaku selalu bertambah setiap kali di sampingmu. Love you," Amel mencium sang suami.
"Apa yang membuatmu jatuh cinta padaku?" tanya Amel.
"Hatimu jujur, tidak dibuat-buat. Selebihnya, aku hanya mengikuti kata hatiku," kata sang suami.
"Kenapa dulu engkau tidak menyukaiku?" tanya Aiman. "Aku minder, kita bagaikan bumi dan langit. Kamu kaya sekali, aku takut keluargamu akan menentangku, " kata Amel.
"Lantas kenapa pada akhirnya engkau menerimaku?" tanya Aiman.
"Kamu berhasil meyakinkanku bahwa kamu adalah pria yang bisa menerimaku & keluargaku dengan baik," jawab Amel.
"Terima kasih ya Rabb engkau telah mengirimkan jodoh seperti yang kumau, wanita sederhana di depan mataku ini, " bisik Aiman dalam hati.
Aku dan Aiman sepakat untuk menunda momongan, kami juga sudah membicarakannya dengan ibu dan mama. Kami sepakat untuk membawa pulang ibu ke Indonesia saat liburan semester nanti.
Kedua besan selesai berbincang.
"Bolehkah ibu menelpon nenekmu? " tanya Hesti kepada putrinya.
"Tentu boleh," Amel memeluk ibunya.
TUUUUUTTT.. TUUUTTTT.... (berdering)
Amel melakukan VC. "HALLO, ASSALAMU'ALAIKUM .. " nenek mengangkat panggilannya.
"Wa'alaikumusalam, nek.. Gimana kabar nenek?" tanya Amel.
"Alhamdulillah baik, cuma badan nenek agak pegel, tadi sudah dipijitin om kamu (Om Yusuf)," kata nenek. Nenek bertanya balik bagaimana kabar Amel & Aiman di sana. Amel mengatakan bahwa ia berhasil menemukan ibunya, sontak membuat sang nenek terkejut. Budhe Sumirah yang tak sengaja mendengarnya pun ikut terkejut.
"Biar nenek ngobrol sama Hesti," pinta nenek.
"Assalamu'alaikum, ibu... " Hesti melihat wajah keriput mertuanya. "Alhamdulillah Hesti, kenapa baru sekarang muncul, dimana suami kamu?" tanya nenek dengan nada bergetar dan matanya yang senja berkaca-kaca.
"Maafin Hesti, bu. Ayah Amel belum diketahui keberadaannya sampai saat ini," dengan berat hati Hesti harus mengatakan ini.
"Hesti minta maaf tidak bisa menjaga anak ibu, Hesti juga turut berduka cita atas meninggalnya bapak," tutur Hesti.
"Mantuku, ibu sudah ikhlas, ibu hanya bisa berdoa untuk kebaikan kalian semua. Ibu sudah menerimanya," kata nenek.
Keduanya beruaraian air mata. Seolah semua kekhilafan telah lebur di malam itu juga.
Mereka semua duduk di ruang keluarga bersama bu Fatimah. Nenek Fatimah mendengarkan satu per satu kisah mereka.
__ADS_1
"Aku akan sangat bersedih jika Hesti meninggalkanku, tetapi aku bisa apa.. " kata nenek Fatimah sambil tertawa.
"Aku akan menemui keluargaku di Indonesia suatu hari nanti, aku tidak akan meninggalkanmu Fatimah. Engkau sudah kuanggap sebagai orang tuaku," kata Hesti.