
Jakarta, September 2021.
Akhirnya aku dinyatakan lulus. Sekarang sudah tidak perlu lagi memikirkan tutorial online, UAS, dan lain-lain.
"Assalamu'alaikum.." ucapku kepada teman-teman.
"Wa'alaikumussalam..." jawab teman-teman.
"Sepertinya ada yang seneng banget toh hari ini." kata Didit.
"Bagi kabar gembiranya dong.." kata Pak Arif.
"Oke baiklah..." jawabku.
"Jadi begini.." semua mata tertuju padaku siap-siap memasang telinga.
"Aku lulus.. Aku sudah menyelesaikan kuliahku yaaaaayyyy!!!" kataku.
"Wah, keren!!! Aku bangga padamu Mel!" kata Niken.
"Makasih Niken.." ucapku.
Teman-teman sembari memberiku tepuk tangan yang meriah...
Sepertinya bakal ada yang traktiran..
"Semua mata saling memandang sambil menahan senyum seolah kode.."
"Harap tenang.. sudah saya persiapkan untuk semuanya.. ehm..."
"Tada...." kataku menunjukkan satu box batang coklat cashew.
"Wah, makasih... jadi makin manis deh, bisa ga sih manisnya dikurangin dikit.." kata Didit.
"Ya sudah, jatah lo buat gue aja!" kata Lestari nyolot.
"Enak ajah!" sahut Didit tidak mau kalah.
"Selamat ya Amel semoga ilmunya berkah bermanfaat dunia akhirat, salam sukses selalu.. Btw makasih ya coklatnya, mau bapak kasih ke anak yg nomer 2." Pak Arif memulai memberi ucapan selamat.
"Terima kasih , Pak Arif. Salam buat keluarga Pak Arif di rumah ya.." ucapku.
Lalu yang lain menyusul memberikan selamat. Aku merasa bersyukur sekali.
Pak Arif mengajak kami berfoto dan membuat video. Aku sangat terharu.
Pulang kerja aku menelpon nenek, ia senang sekali mendapat kabar kelulusanku.
"Hati-hati di sana, Mel. Kalau ada waktu luang sesekali pulang.. ini tempatmu.." kata nenek.
"Insya Allah nek, nenek makannya yang teratur ya biar sehat terus." ucapku.
Jakarta, 10 Oktober 2021
Hari ini aku wisuda. Aku bersyukur bisa mencapai titik ini. Meskipun kedepannya aku tidak pernah tahu akan menjadi apa.
Teman-temanku sudah banyak yang menikah dan memiliki anak. Mereka juga sudah memiliki kehidupan dan karir yang mapan.
__ADS_1
Ada yang kaya setelah mendapat warisan, ada yang kaya karena menikah dengan pasangan yang mapan, ada yang sukses dengan kerja kerasnya dan banyak yang menjadi PNS (pekerjaan idaman mertua banget).
"Bisakah aku lebih baik dari hari kemarin?" gumamku melihat ke arah lobi.
Kulihat hari ini keluarga Junot juga menghadiri acara wisuda. Junot berhasil lulus dengan IPK di atas 3.
Meskipun aku tahu itu adalah kerja kerasku. (Kamu berdosa Junot, kamu juga Amel. Kita adalah simbiosis mutualisme..).
Sepertinya ia akan sedikit membayar kebohongannya di dalam kubur. Maafkan aku Tuhan.. aku telah berkontribusi atas dosa ini. Tetapi bukankah membuat seorang ibu bahagia juga pahala meski dengan cara yang palsu. Tetapi jika ibu Junot tahu ini, ia akan kecewa & sangat bersedih. Lagi-lagi kembali jadi dosa🙄). Astaghfirullohal 'adziim.
"Junot, apakah kamu sedang disiksa karena membohongi ibumu?" gumamku.
"Sampaikanlah kepada Tuhan , aku sangat memohon ampun. Aku takut sekali Dia akan mengazabku." gumamku lagi.
Mataku menatap ke langit yang begitu tinggi. Besar harapanku, Tuhan mendengar gejolak di hatiku.
Kulihat....
Tampak senyum bangga dari wajah orang tua mendiang Junot saat serah terima kelulusan.
Oh Junot..
Bahkan mau meninggal pun masih sempat mengusahakan kebahagiaan untuk ibunya.
Aku..? Bahkan aku belum sempat berbuat banyak untuk kedua orang tuaku. Tuhan mengujiku dengan banyak hal, dan aku sudah banyak melaluinya.
Awalnya terasa berat sekali. Dan masih terasa sangat berat untuk menuju di titik ini.
Aku rindu orang tuaku.
Orang terdekat? Wait..wait.. apakah aku memiliki orang terdekat? Sepertinya tidak. Jika keluarga hanya sebatas status, teman hanya sekedar rekan kerja..
Aku iri padamu Junot, kamu selalu menang dariku. Menang waktu, menang fasilitas, menang duit dan menang kasih sayang.
But it's OK. Nevermind.
Lalu bagaimana dengan Aiman? Tentu saja dia hanya sebatas.... itu...
"Mel..." seseorang memanggil. Aku menoleh ke samping.
"Aiman?" aku terkejut ia datang di hari spesial ini.
"Selamat ya Mel, semoga ilmunya berkah." ucap Aiman membawa bunga dan kado.
Aku tersenyum melihat kehadirannya. Auto smile. Aku merasa bersyukur sekali atas kedatangan Aiman. Tamu yang tak diundang, seperti jalangkung.
"Bagaimana kamu tahu hari ini aku merayakan wisuda?" tanyaku.
"Tadi pagi aku liat kamu pake kebaya bawa toga. Aku ngikutin kamu, eh beneran dong kamunya ke kampus , dan aku tahu kamu seangkatan sama temen aku, dia cerita sama aku. Lihat itu Rasya." kata Aiman.
"Sya!" panggil Aiman.
"Man!" sahut Rasya.
"Hai, Mel..," sahut Rasya.
"Hai,..." sahutku.
__ADS_1
"Selamat ya buat kalian berdua.." kata Aiman.
"Terima kasih.." ucap kami.
"Jadi lo dateng buat siapa nih?" tanya Rasya.
Aiman cungir-cungir.
"Buat Amel dong." jawab Aiman dengan tegas.
"Ya Allah.." sahut Rasya dengan mimik yang lucu.
Kami foto bertiga.
Indah banget...
_*_
"Setelah jadi sarjana, apakah aku akan tetap menjadi waitress dan kembali ke kafe itu? Atau aku akan melanjutkan S2 ke Australi mencari ibuku lagi?"
"Tabungan itu.." gumamku.
"Ibuku dan Australi yang terus menghantui.."
"Bu..... sepertinya aku harus terbang jauh untuk bisa menemuimu. Ibu.."
Ada banyak hal yang ingin kutanyakan. Ada banyak hal yang mau kuceritakan pada ibu. Ibulah semangatku, bertahanlah sebentar bu, jangan kemana-mana kita akan segera bersatu kembali.
Keesokan harinya aku izin, aku mengikuti test IELTS. Tentu harganya tidak murah. Aku juga tidak ada persiapan khusus.
"Kalau memang ini jalan yang engkau tunjukkan padaku ya Allah, engkau pasti akan memudahkan. Bismillahirrahmanirrahiim." ucapku.
Seminggu kemudian aku mendapatkan skor IELTS-ku.
"Alhamdulillah, aku lolos.. aku bisa ke Australi." seruku bahagia.
"Tetapi, bagaimana aku bisa mendaftar beasiswa? Bahkan satu kampus pun aku belum mendaftar.. Sepertinya proses ini akan sangat panjang."
Akhirnya aku mencari info kampus dan beasiswa ke Australi.
Desember, aku dinyatakan GAGAL.
Aku hanya bisa menghela napas. Bagaimana ini..😭😭😭.
Apa aku harus mengikuti seleksi tahun depan..
Lalu kucari-cari lagi info beasiswa.
"Tidak harus di Sidney, yang penting aku bisa diterima."
"Bismillah.. bantu hambamu yang tidak punya apa-apa selain harapanku pada-Mu ya Allah.."
Aku sadar kalau living cost di sana sangatlah tinggi. Setidaknya aku juga bisa mencari part time. Walaupun kata orang tidak semudah yang kita bayangkan. Lebih baik mencoba daripada hanya sekedar mendengar.
Adelaide, Canberra.. apapun itu yang penting aku punya tujuan dan tempat bergantung. Ada harapan yang tergantung di sana dan kulibatkan Allah untuk memohon petunjuk agar tidak salah arah.
Ayo semangat Amel kamu pasti bisa!
__ADS_1