
Januari 2022
Hai tahun baru, aku masih sendu dan terus menunggu. Menunggu kapan aku bisa segera menemukan ibuku. Begini rasanya tumbuh tanpa ibu bapakku.
Sepanjang perjalanan ia melihat seorang anak yang digandeng dan dielus sang ibu.
"Semoga ibumu berumur panjang agar engkau senantiasa merasakan kasihnya.." bisiknya dalam hati melihat anak kecil tersebut yang begitu disayangi.
Ia mampir ke toserba langganan untuk membeli matcha. Ia menghirup uapnya yang masih panas. Menyeruputnya pelan-pelan. "Aaaaaahhhh.... nikmat sekali..." bisiknya.
MEL, SIBUK GAK? KALO FREE AKU JEMPUT KAMU KITA DINNER DI NORTH KAFE NANTI MALAM JAM 7 YA?
Aiman texting ke Amel.
OK OK.
Semakin hari Amel semakin membuka pintu untuk Aiman. Entah apa yang sudah ia sadari belakangan ini. Mungkin hidupnya yang terlalu sepi, membuat ia belajar menerima kehadiran orang lain.
NORTH KAFE pukul 07:00 PM
"Bentar, Mel." Aiman membukakan pintu mobil untuk Amel.
"Makasih, Man. Harusnya kamu ga perlu melakukan hal ini , Man." kata Amel.
"Karena kamu spesial buat aku." kata Aiman. Amel hanya tersenyum.
"Eeehhhh, jangan duduk di situ. Tempat kita di atas." Aiman mencegah Amel yang hendak duduk di sebuah kursi. Amel tertegun sejenak.
"Loh, kamu ngebooking meja?" tanya Amel.
"Iya, Mel. Aku bersyukur dengan kenaikan laba perusahaan yang sangat signifikan. Karena aku senang, aku traktir kamu." jawab Aiman.
"Makasih, baik banget." sahut Amel.
"Eh, ayoook ke atas." ajak Aiman.
Amel belum pernah naik ke lounge atas, namun konon katanya, biasa dibooking oleh para elite.
"Waowwwww... bagus banget kafenya," kata Amel.
"Iya, Mel kafenya semi outdoor jadi masih bisa melihat gemerlap gedung di luar sana. Kamu suka?" tanya Aiman.
"Iya, suka banget.." jawab Amel antusias.
"Eh, Man... tapi kok cuma kita aja di sini ya?" tanya Amel.
"Ya bagus dong, enggak rame.. bisa makan & ngobrol dengan tenang." jawab Aiman.
__ADS_1
Amel manggut-manggut. Dalam hati Aiman merasa lega dan bersyukur karena bisa bikin Amel senang, sedikit demi sedikit Amel juga sudah mulai menerimanya.
"Kamu yang udah bikin aku gabisa menyukai orang lain lagi, Mel." bisik Aiman dalam hati tersenyum menatap Amel yang asik melihat pemandangan.
"Ibu, bapak, mau pesan apa? Silahkan untuk melihat menu," kata seorang pelayan.
"Sini aku bantu pilihin menu. Kamu suka beef apa ayam? Atau seafood?" tanya Aiman.
"Aku suka steak.." jawab Amel.
"Okay, berarti beef ya..?" tanya Aiman.
"Yups.." jawab Amel.
"Mbak, steak sm paket yang ini.." kata Aiman.
Amel mengintip ke arah menu yang dipilih Aiman.
"Man... itu banyak banget.." kata Amel.
"Tenang aja, kita berdua yang habisin." kata Aiman.
"Apa sanggup?" celetuk Amel.
"Pasti bisa," Aiman tersenyum.
Aiman membayangkan saat dirinya mampu mengucapkan kata-kata keramat itu di hadapan Amel.
"Mel.." Aiman dengan gugup memanggil.
"Kenapa?" Amel melihat ke arahnya.
Lidah Aiman pun jadi kelu.
"Eh, lihat itu bintangnya terang banget ya.." Aiman menunjuk ke arah luar.
"Itu Venus man.." sahut Amel.
"Oh, iya. Disebut bintang kejora juga ya?" sahut Aiman yang gagal mengungkapkan perasaannya.
"Iya, betul, Man." sahut Amel.
"Konon katanya, pada planet tersebut ada awan yang menyelimuti permukaan dan memiliki tingkat pantulan yang tinggi. Jenis awan tersebut juga memiliki kandungan titik-titik asam belerang. Karena itu, cahaya matahari bisa memantul dengan mudah dan membuat Venus jadi sangat terang," kata Aiman.
"Aduh, kok gue jadi kek guru IPA ya. Susah banget cuma mau bilang I love U doang." bisik Aiman dalam hati.
"Wah, kamu pinter sains ya, Man.." Amel memuji pengetahuan Aiman yang luas.
__ADS_1
"Aku pernah baca artikel itu.." jawab Aiman.
Amel mengangguk, tidak heran ia begitu berwawasan luas.
Tiba-tiba Amel berdiri dan menatap kaca jendela luar.
"Eh, Man..lihat deh ada bintang jatuh... make a wish yukkk!" kata Amel langsung memejamkan mata. Aiman bergegas menyusul Amel.
"Eh, bukannya bintang jatuh itu alat pelempar setan yang berusaha mencuri percakapan rahasia langit ya? Lah kok bego banget gue ngajak make a wish.." Amel tersadar ada yang salah dan sedikit menahan tawa.
"Make a wish aja deh, semoga aku bisa bertemu ibuku." bisik Amel dalam hati.
"Semoga Amel bisa nerima perasaan gue." Aiman sangat berharap.
"Gimana, Man udah make a wish?" Amel terkejut ketika melihat ke belakang untuk memastikan Aiman.
"Sumpah demi apa dia menyodorkan kalung ke gue????? Lutut gue lemes banget niiihhhh...." Amel tidak percaya.
"Mel, aku cuma mau nyampein perasaan aku. Aku takut tidak akan sempat. Maaf kalau terlalu cepat, tapi seperti yang kamu tahu kalau aku suka sama kamu. Aku menolak perjodohan mamaku , karena aku udah suka sama kamu sejak kita kenal di Jogja. Mau kah kamu ngasih kesempatan ke aku buat jadi bagian hidup kamu. Maukah kamu jadi partner relationship aku? Aku tidak mau memaksa, agar tidak tergesa-gesa menjawab, kamu bisa berpikir 1-3 hari ke depan untuk kasih jawabannya." Aiman kneel to her.
"Woahhhhhhh.. ini di luar kendaliku ya Tuhan.." dalam hati ini bener-bener surprise.
Amel berpikir cukup lama...
"Yes, i will.."
"I will try my best.." jawab Amel.
"Sungguh, Mel..?" Aiman terharu dan tidak menyangka.
"Tapi, bagaimana dengan mama kamu?" tanya Amel.
"Ayo kita usaha sama-sama untuk meyakinkan mama dan keluarga aku." kata Aiman meyakinkan.
Amel mengangguk dan yakin bahwa pria tersebutlah yang mampu menyempurnakan hidupnya.
Usaha yang sudah dia lakukan selama ini sudah cukup untuk menjadi bukti atas kegigihannya untuk memenangkan hati Amel.
Aiman memasang kalung tersebut di leher Amel yang terbalut hijab.
Malam itu menjadi dinner yang indah, pelayan telah menyiapkan seluruh menu di meja yang hanya ada 2 insan yang saling menerima.
Aku tidak pernah tahu, lelaki seperti apa yang akan datang kepadaku. Ternyata, ia yang selama ini aku kenal. Pria yang tak pernah pergi meski aku tidak peduli. Pria yang terus mencoba meyakinkanku bahwa dia sungguh-sungguh mencintaiku. Aku selalu pergi darinya, tetapi ia selalu datang kepadaku.Jika aku melewatkannya, aku sungguh akan menyesalinya. Aku bersyukur belum terlambat untuk menyadarinya.
"Orang yang tak mahir membaca kedua matamu, tak mampu mendengar kata hatimu."-Jalaludin Rumi.
Aiman, pria yang selalu melihat ke inti mataku. Tak pernah bertanya, namun selalu tahu apa yang berkecamuk di dalam hatiku.
__ADS_1