
"Mel, makasih ya udah mau ngobrol sama aku," kata Aiman sebelum pamit.
"Iya, Man. Sama-sama." kataku.
"Mel, biar aku antar." kata Aiman berdiri seolah ingin aku berkata "ya".
"Gausah , Man. Deket kok. Makasih," jawabku.
Akhirnya aku berjalan sendirian. Gerimis tipis-tipis mulai turun lagi. Aku merasa ada seseorang yang mengintip dari kaca mobil. Saat aku menoleh mobil itu sudah berjalan. Namun, kulihat sebuah amplop biru dengan tanda love di tengah.
"Amplop anda terjatuh!" teriakku.
Amplop itu mungkin terjatuh dari sedan mewah tadi.
Amplop itu juga tidak direkatkan oleh lem. Aku melihat isi di dalamnya.
"Apa ini sepucuk surat?" gumamku. Aku merasa penasaran.
"Maaf, aku kurang beretika karena membuka amplop ini tanpa seizin anda," kataku.
"You're a gift from the sky, my beloved daughter. You're not alone."
BRUUUUUUUUKKKK!!! (Seseorang menyenggolku namun orang itu yang terjatuh, sedangkan aku masih bisa menjaga keseimbangan).
"So sorry.." wanita dengan kacamata hitam dan outfit serba hitam itu langsung beranjak pergi setelah meminta maaf.
"It's okay!" jawabku. Lalu aku melihat kembali tulisan di dalam amplop tadi.
"Sungguh beruntung sekali gadis ini memiliki seorang ibu seperti ibunya." Mataku berkaca-kaca teringat wajah ibuku yang sering memancarkan aura. Aura yang tidak pernah kulihat di wajah orang-orang pada umumnya. Wajah itu seolah memiliki cahaya yang berpendar.
"Kenapa wajah ibu seperti lampu di taman?" tanyaku dahulu. Ibu hanya tersenyum dan menjawab ,"Entahlah, mungkin Tuhan sedang menyayangiku".
"Apa yang harus aku lakukan agar Tuhan juga bisa menyayangiku?" tanyaku.
"Jangan biarkan hatimu kotor karena sibuk menilai orang lain. Maka, Tuhan akan menyayangimu," jawabnya.
"Allah juga akan mencintai orang-orang yang sabar dan ikhlas , dan juga orang-orang yang tolong menolong dalam kebaikan," tutur ibuku kala itu.
Namun aku terbangun dari lamunanku, tiba-tiba aku teringat bahwa aku harus mengabari om Yusuf.
A few momments later..
Aku sudah lega karena telah mengabari om Yusuf kalau aku sudah sampai di rumah sejak tadi. Sepertinya hanya nenek dan Om Yusuf yang peduli dengan keadaanku.
__ADS_1
Sekarang aku merasa tidak punya siapa-siapa lagi setelah melihat sifat asli orang-orang di rumah. Pulang tidak membawa lega hanya menabur kecewa. Aku merasa hanya sebatang kara. Rasanya hatiku sudah tidak ingin pulang lagi ke keluarga besar.
"Bapak.. Ibu.. Amel harus kuat dan bertahan di kehidupan yang keras ini seorang diri."
Sebatang kara..
Bahkan aku masih merasakan aura ibuku yang terus hidup di dalam hatiku, seolah dirinya masih ada di sekitarku. Entah apa itu hanya perasaanku saja, karena aku juga tidak menemukan jawabannya.
"Udah ga ada Junot lagi," aku menangis teringat muka konyol Junot yang selalu ada menghibur di saat aku merasa gundah. Orang baik itu sekarang sudah tidak di sini.
Lalu kutengadahkan tanganku dan kukirim doa untuk orang-orang yang aku cintai, yaitu bapak, ibu , dan Junot.
"Aku hanyalah manusia yang harus menjalani kehidupan ini dengan sebaik mungkin," ucapku.
"Tuhan, bimbinglah hamba-Mu yang hina ini ke jalan yang lurus." ucapku dengan jujur karena aku benar-benar butuh peta kehidupan dari Tuhan agar tidak tersesat untuk menjalani kehidupan yang rumit ini.
Sampai di gang sebelum masuk rumah aku melihat Oxcel dengan segala keterbatasannya sedang duduk di teras rumahnya. Ia begitu senang melihat rintik-rintik hujan yang turun dengan menunjuk-nunjukkan jari telunjuk ke arah luar.
Aku malu, bahkan Oxcel saja sungguh bersyukur dengan apa yang ia jalani. Begitu bahagia dengan anugerah yang turun dari langit malam ini.
"Aku harus move on. Aku harus mencari kebahagiaanku sendiri. Tetapi apalah arti bahagia jika aku bekerja keras hanya untuk diriku sendiri, itu namanya bukan kehidupan. Aku haruslah menjalani hidupku seperti bunga tasbih. Aku harus mewujudkan harapan kedua orang tuaku yang telah tersemat di dalam namaku. Amelikana..
"Kamu pasti bisa, Amel!" aku menyemangati diri sendiri.
"Tante Winda? Apakah nenek sudah tidur, tumben tidak mengangkat telponku?" tanyaku ke istri Om Yusuf dalam telpon.
"Yasudah, kalau begitu. Salam buat semuanya. Assalamu'alaikum." aku menutup telpon.
"Hmmmm." jawabnya begitu dingin.
Tiada harga diri sedangkan hidupku terus bertahan.. (lagu Last Child terdengar dari kontrakan sebelah seakan tahu bagaimana perasaanku saat ini).
Semakin kamu dewasa kamu semakin sadar bahwa sesuatu yang kamu anggap keluarga ternyata tidak ada, karena tidak lagi seramah di masa kanak-kanak.
Semakin dewasa kamu bisa menilai mana yang tulus dan penuh tipu muslihat.
Semakin dewasa semakin sadar bahwa mencari uang sebanyak-banyaknya lebih penting karena dengan kamu memiliki banyak uang semua akan dengan mudah menganggapmu sebagai keluarga.
Kamu akan seperti magnet yang menarik kutub-kutub berlawanan.
Terkadang orang yang tidak memiliki hubungan darah malah lebih pantas untuk dianggap keluarga karena mampu menerima kita dengan baik.
Semua ini menyadarkanku bahwa aku harus hidup mandiri , tidak perlu menggantungkan diri kepada siapapun.
__ADS_1
Keluarga , hanya status tanpa makna yang terus mengikat namum saling menikam. Itulah yang aku rasakan saat ini.
Pada akhirnya aku menyadari bahwa keluarga besar kami berbeda tidak seerat hubungan keluarga orang lain. Bukan seperti jarum yang menyatukan ,namun malah seperti gunting yang memisahkan, dan justru menjadi toxic bagi satu sama lain.
Pada akhirnya aku memutuskan dengan penuh kesadaran untuk menarik diri dari toxic circle ini.
"Aku harap bisa membangun keluargaku sendiri suatu hari nanti seperti keluarga orang lain yang memiliki tali persaudaraan erat, guyub rukun sampai akhir hayat." aku menghela napas.
Aku tidak habis pikir apakah ibuku dahulu mengalami sebuah diskriminasi mengerikan di keluarga bapak seperti ini? Lalu mengapa ibuku sanggup bertahan sampai sejauh ini. Bukankah itu sangat menyakitkan.
Aku terbangun dari renungan panjang ini. Aku harus cuci muka, sholat isya, dan istirahat.
Setelah sholat isya, entah mengapa aku terusik oleh tas itu. Aku membuka tasku.
Aku terkejut karena ada kantong biru dengan inisial PAA dengan warna emas yang timbul.
"Sejak kapan aku memiliki ini?" gumamku mengeluarkan isi di dalamnya.
"Apa ini buku tabungan?" gumamku lalu membukanya.
"Hestiana Arumsari".
"Tidak mungkin.." aku shyock.
"Ibu...?!!!" airmataku menetes.
Semakin terkejut lagi saat aku melihat tanggal rekening ini dibuat. 01 Juli 2021. Use this money wisely - sebuah post-its kecil menempel di sampul belakang buku tabungan itu.
Ia menuliskan catatan agar menggunakan uang ini secara bijak.
Aku terkejut bahwa saldo rekening ini dalam bentuk AUSD (Dollar Australia). 100,000 AUSD. Disitu terdapat ATM dan PIN yang masih tersegel.
"Masya Allah,, ini banyak banget. Bagaimana ini bisa masuk ke dalam koperku?" hatiku bertanya-tanya.
Sesekali mencubit lenganku. "Awww!!!" aku merasa ini bukanlah mimpi.
Aku mengingat-ingat kembali dari aku naik pesawat di YIA hingga bagaimana aku turun di Soetta (Soekarno-Hatta) hingga di dalam bus dan perjalanan ke rumah.
"Ah, yaa... aku rasa wanita yang menabrakku sepulang dari minimarket tadi," pikirku.
Aku berpikir bahwa wanita itu tadi adalah ibuku. Aku semakin yakin bahwa ibuku masih hidup dan menapak di tanah yang sama.
"Alhamdulillah," ucapku penuh syukur.
__ADS_1
Lalu bagaimana aku bisa menemukan ibuku? Kenapa ibu baru muncul sekarang selama belasan tahun ini? Mengapa uang itu dalam Dollar Australi?
Apakah selama ini ibuku di Australi?