
Idul Adha kali ini aku mendapatkan cuti dari atasanku untuk pulang ke Jogja bersama nenek. Om Yusuf, adik bapak paling tua mengirimi kami tiket pesawat untuk pulang ke Jogja.
Aku membawa 2 buah koper besar di kanan-kiriku. Untung saja koper ini beroda 4 dan bisa menyesuaikan pergerakanku. Setelah selesai checkin aku dan nenek ke ruang tunggu. Tanpa harus menunggu kami langsung masuk pesawat. Sampai di Jogja, kami di jemput. Keluarga besar telah menyambut kedatangan kami di rumah nenek.
Om Yusuf menyampaikan saran untuk nenek agar tinggal di rumah saja tidak usah pergi ke Jakarta. Hal tersebut sudah menjadi kesepakatan semua anak-anaknya yaitu Budhe Sumirah , Om Yusuf, Om Dhani dan Om Yongki. Di situ juga ada banyak cucu-cucunya yang ikut berkumpul.
"Aku mau ikut Amel saja," jawab nenek membuatku terharu.
"Mau ikut Amel bagaimana? Simbok itu sudah tua di rumah saja gausah ngrepoti cucunya!" sahut budhe dengan keras.
"Astaghfirullohal 'adziim.." ceplosku.
"Gak budhe! Nenek sama sekali tidak merepotiku. Amel senang kalau nenek ikut saya," jawabku.
"Nenek itu sudah tua, kalau kesehatannya ga bagus mudah kena Corona. Lihat nek di Jakarta banyak yang mati! ngerti ga?!" sahut Amini anak budhe dengan ketus.
Setelah debat panjang lebar akhirnya aku dan nenek kalah. Aku hanya bisa menuruti kata-kata mereka.
Akhirnya aku akan kembali ke Jakarta tanpa nenek. Rasanya sedih banget.
"Nanti biar aku yang kirim makan, gausah masak-masak lagi," kata budhe Sumirah.
Keesokan paginya nenek memberitahuku simpanan emas nenek. Nenek memintaku untuk melihatnya mumpung tidak ada siapa-siapa.
"Mel,coba hitungkan." kata nenek.
Akhirnya kuhitung semua berjumlah 15 gr cincin. 3 buah dengan berat masing-masing 2 gr dan 3 buah lagi dengan berat masing-masing 3 gr.
"Nenek simpan ini siapa tahu nanti ada kebutuhan mendadak," kata nenek.
"Tadinya, kalau bapak kamu masih hidup. Nenek mau tunjukkan ini ke bapak kamu. Biar kalau nenek tidak ada nanti bisa digunakan. Agar tidak kerepotan." tutur nenek.
"Iya nek," jawabku.
"Kalau budhemu tahu pasti akan cepat dihabiskan," kata nenek.
Aku mengangguk.
"Berapa tabunganmu?" tanya nenek.
"Ada nek walaupun tidak banyak," jawabku.
"Syukurlah," sahut nenek.
"Mel," nenek memanggil.
"Ya?" sahutku.
"Sebenernya, nenek lebih suka tinggal sama kamu. Kalau sama Sumirah hati nenek susah, cuma dibentak-bentak. Watak budhemu itu memang keras begitu." kata nenek.
"Nanti gada lagi teman buat bercerita, Mel. Yang lain beda. Anak laki-laki nenek juga sudah punya kehidupannya sendiri." kesahnya.
"Yang sabar ya nek, Amel tidak bisa melakukan apa-apa untuk saat ini karena itu merupakan keinginan anak-anak nenek. Maafin Amel,nek." aku memeluk nenek dengan berlinang air mata.
Aku tinggalkan nenek di kamarnya dan bergegas mandi . Setelah selesai dandan aku membawa koperku dan pamit ke nenek.
__ADS_1
"Mel, sini nenek beri tahu," katanya.
Aku langsung bergegas menghampiri nenek.
"Budhemu mendengar pembicaraan kita tadi. Dia langsung ingin tahu dimana aku menyimpan emas tadi. Dia meminta semuanya budhemu sendiri yang menyimpannya." kata nenek tampak lesu, kecewa, dan sorot matanya memerah penuh murka.
Aku rasanya ingin menangis. Mengapa dia tega berlaku semena-mena terhadap nenek.
"Sebenarnya, nenek mau kasih 2 buah cincin itu sebagian untuk kamu," kata nenek. (Jika memang telah berniat mau memberikannya untukku kenapa dia tidak memintaku untuk menyisihkannya dari awal).
"Nenek minta 2 buah saja untuk lega-lega, tetapi budhemu mau menyimpannya semua." tutur nenek.
(Baiklah kita lihat saja apakah orang itu amanah untuk menyimpan atau bakal diambilnya semua. Ckckck.. amat serakah)
"Gapapa , nek. Kalau harta itu cuma bikin rame, Amel tidak akan minta ,Amel pilih mundur. Amel ikhlas nemani nenek, tidak sedikitpun hati Amel merasa berat." jawabku.
Mata nenek berkaca-kaca, akupun berusaha menahan air mata yang sudah mendidih di pelupuk mata. Betapa sedihnya hati nenek direbut semua perhiasannya oleh Sumirah yang rakus.
"Jangan begitu Mel, itu adalah tanda sayang nenek ke kamu. Kamu berhak memilikinya, nenek memang mau kasih ke kamu. Nanti biar nenek minta 2 biji sama budhemu gimanapun caranya," kata nenek. Dadaku yang sesak hanya bisa menahan luapan amarah dan air mata yang hendak tumpah.
Bagaimana harta itu akan berkah jika ia mengambil dengam cara merampas, menyakiti hati orang tua.
Ketika dia menguping, itu artinya dia sadar betapa besarnya arti kehadiranku bagi nenek. Mungkin dia takut nenek lebih menyayangiku sehingga takut aku akan mendapatkan banyak harta dari nenek kelak. Karena Sumirah terkenal dengan tipikal iri dengkinya yang sudah tertanam menahun dalam dirinya. Ia juga terkenal suka playing victim. Suka merasa jadi korban padahal pelaku. Dan mulutnya tidak terkontrol ketika mencela orang.
"Padahal , nenek tidak mau budhe kamu tahu. Karena kalau tahu pasti emas itu akan cepat habis dijualnya untuk beli apapun yang bisa membuatnya merasa "wah" sehingga ia akan bertepuk dada di hadapan semua orang. Padahal nenek sudah bekerja keras , menyisihkannya sedikit demi sedikit. Tapi budhemu sungguh keterlaluan. Kalau tidak dituruti bakal ngamuk," ucap nenek merasa sedih.
Aku ikut terluka atas apa yang dilakukan budhe terhadap nenek yang semena-mena.
"Nek, jangan sedih ya. Amel ada sedikit uang untuk pegangan nenek," aku memberikannya uang untuk digunakannya.
"Ga begitu! boros ga cukup ketannya kalau banyak-banyak! nanti di atasnya masih ditaruh apam!" katanya dengan ketus di hadapan semua menantu-menantu nenek dan beberapa tetangga.
Dan bahkan tidak ada seorang pun yang membelaku di sana.
Mungkin mereka juga sudah terprovokatori oleh mulut budhe Sumirah.
"Sudah-sudah, ngelapin piring-piring sama sendok untuk makan nanti di dalam saja," tuturnya
Dalam posisi seperti ini seharusnya dia mengajari.
Dan akhirnya membungkus ketan dilakukan orang lain.
Aku hanya bisa bersabar dan beristighfar. Berusaha tidak memasukkan hati namun tetap saja tidak bisa.
Akhirnya aku pamit kepada nenek dan keluarga besar. Kutatap mata tajam si Serakah yang mengambil perhiasan nenek dengan paksa itu.
Tadinya aku merasa tidak apa-apa jika aku tidak diberi cincin itu, tetapi karena nenek sudah mengatakan yang 2 biji adalah bagianku , rasanya aku menjadi tidak ikhlas.
"Ohhhhhh, kenapa semua ini harus membebaniku," keluhku.
Yang tadinya kupikir keluarga adalah rumah, ternyata aku salah. Sekarang rasanya sudah tidak memiliki rumah. Rumah sesungguhnya hanyalah perantauan, yaitu diri sendiri.
"Ingat Sumirah, di dalam keserakahanmu ada hakku yang belum engkau penuhi. Jangan sampai petaka menimpa engkau dan keluargamu saat engkau menggunakannya tanpa seijinku. Karena sama saja dengan engkau memakan harta saudaramu." kataku dalam hati sambil berlalu dan rasanya ingin berteriak di hadapan wajah munafiknya.
Om Yusuf mengantarku ke Bandara. "Hati-hati, Mel. Om sudah transfer uang jajan untukmu," kata Om Yusuf lalu kulihat pesan dari SMS banking masuk.
__ADS_1
"Terima kasih om.." ucapku dan tersenyum padanya.
Begitu kubalikkan badanku seketika air mataku bercucuran, terbayang kembali ekspresi nenek terakhir kali yang hatinya penuh ketidak ridhoan atas perilaku budhe Sumirah padanya.
Hingga tiba di Jakarta, saat turun pesawat air mataku benar-benar tumpah. Aku pun tidak mengerti pada diriku, aku biasanya tidak pernah mempermasalahkan harta maupun warisan sekecil apapun, rasanya kali ini hatiku pun ikut tergores luar biasa.
Hatiku meradang.
Nenek menelponku, aku tidak kuasa menahan air mata yang bercucuran tanpa jeda. Aku bukanlah orang yang cengeng dan tidak suka memperebutkan sesuatu. Tapi entah mengapa gemuruh guntur di angkasa seolah memenuhi seisi dalam dada, menyambar isi ruang hampa. Hujan itu turun deras dari pelupuk mata mengalir di pipi mungil tak berdaya ini.
Akhirnya aku me WA nenek.
📤Nek, Amel sudah sampai Jakarta. Nanti Amel telpon lagi ya.
Kukenakan kacamata hitamku untuk menutupi mata yang sembab.
Aku langsung naik ke dalam bus.
Aku berhenti di halte dan berjalan menuju kosan yang jaraknya tidak jauh dari situ.
Hujan gerimis turun rintik-rintik di tengah matahari yang bersinar terik. Di situ aku meluapkan emosi yang kutahan sedari tadi, semua berkecamuk jadi satu.
"Dimanakah hati nuraninya itu? Sungguh tidak berperasaan!" aku berjalan sambil menangis.
"Bapak, Ibu.. Amel kangen.." rasanya aku ingin mengutuk saudara perempuan bapak itu.
"Ya Allah, kutitip rasa sakit hatiku kepada-Mu," hatiku terasa sakit.
Sampai di kontrakan aku masih memikirkan nenek.
Sekarang aku melihat sendiri seperti apa warnanya.
Ada pesan masuk dari Aiman..
✉️Mel, apa kamu sudah di Jakarta? Kalau kamu ada waktu temui aku di minimarket depan gang kontrakan kamu ya.
Akhirnya aku menemuinya. Mungkin saja. kehadiran Aiman bisa lebih menentramkan hatiku dan membuat lupa sejenak.
Malam itu kami memesan hot matcha , sushi, dan beberapa snack.
"Maaf ya Mel, aku lagi gabut. Aku lagi butuh temen ngobrol." kata Aiman.
Aku mengangguk.
"Gimana keadaan kamu dan nenek?" tanyanya.
Aku menceritakan bahwa nenek tidak bisa balik ke Jakarta karena ia akan tinggal di kampung mulai saat ini.
Kami juga bercerita kembali mengulang kisah semasa SMA.
Kami ketawa-ketawa bareng.
"Mel, kamu kok nangis?" tanyanya.
"Aku terharu," jawabku.
__ADS_1
Entah mengapa aku semakin kepikiran sama nenek.