The Rain Is Pouring

The Rain Is Pouring
LOVE


__ADS_3

Sidney, 30 November 2022


Malam ini tampak Aiman sedang sibuk dengan tabletnya. Ia juga sibuk mengurus company keluarganya.


Aku suka melihatnya memakai piama dan melihatnya sibuk dengan bisnisnya. Sebentar lagi perusahaan akan shutdown,  tentu banyak planing yang harus disiapkan untuk ke depannya. Aku membuatkannya wedang jahe,  meletakkannya di meja marmer.


Aku mendekat duduk di sampingnya dan bersandar di bahunya,  melihat grafik-grafik yang tidak kumengerti. Ia meraih tanganku dan menciumnya. Ia juga mencium keningku.


 "Sayang,  udah ngantuk ya?  Aku masih lama,  berbaringlah dahulu," kata Aiman lalu meraih cangkir jahenya. 


"Makasih sayang ya," ucapnya. 


"Aku ingin membuat sup ayam," kata Amel.


"Pas banget ni udara lagi dingin," sahut Aiman.


"Oke,  aku akan menyajikannya untukmu,," sahut Amel.


Amel mengambil ayam dari kulkas dan mencairkannya. Ia mula mengiris bumbu dan sayuran. Aiman terus memandangi sang istri, Antara ingin memeluk istrinya atau melanjutkan pekerjaannya.


"Aaaaawwww!!!" teriak Amel.


"Sayang?"Aiman terkejut dan bergegas ke dapur.


"Kenapa sayang?" tanya Aiman khawatir.


"Tanganku teriris, mas," jawab Amel.


"Aduh, banyak banget darahnya. Mas bersihin dulu ya," Aiman menyesap darah yang keluar  dari jari sang istri dan menuntun Amel menuju kursi, lalu mengambil kotak P3K. Sang suami membersihkan lukanya dengan ethanol dan membalutnya. Ia mengelus-elus kepala sang istri. Amel masih terkejut, jari telunjukknya pun mulai terasa perih.


"Gapapa, sayang. Udah baikan kok. Aku mau lanjutin masak dulu


"Jangan, biar mas aja yang masak ya..." Aiman segera bangun dari kursi. Amel menahannya , ia memeluk suaminya dari belakang.


"Sayang, selesaikan dulu pekerjaan kamu. Please..," pinta Amel.


Aiman menggenggam kedua tangan mungil yang masih melingkari perutnya, ia membalikkan badan dan menatap wajah manis yang menggemaskan itu.


"Aku menyerah kalau begini caranya," ucapnya kepada sang istri, membuat sang istri tersipu. Aiman meraih bibir manis sang istri dan mengecupya.


"I need you badly.." ucap sang suami memeluknya.


"Sepertinya aku bisa hidup lebih lama lagi, karena aku menikahi pria yang selalu memberiku energi. Batteryku yang melemah selalu terisi kembali sebeum habis. Aku merasa sangat beruntung. Terima kasih suamiku," ucap Amel padanya.


Pernikahan bukan tentang siapa yang cepat, tetapi dengan siapa engkau menikah. Menikahlah dengan seseorang yang memiliki kesabaran seluas samudera, yang bisa menghujanimu dengan kasih sayang, bukan pukulan atau pun  makian. Menikahlah dengan seseorang yang mampu menghargaimu dan melindungimu.


"Pekerjaan-pekerjaan kecil yang selesai diakukan akan lebih baik ketimbang rencana-rencana besar yang hanya didiskusikan," gumam Aiman yang telah selesai dengan pekerjaannya.


Amel pun menyajikan sup ayamnya yang sudah matang lalu memanggil sang suami ke meja pantry. "Bagaimana rasanya?" tanya Amel ingin tahu . "Ini adalah masakan terenak di seluruh dunia..." jawab sang suami.


"Ah, bisa aja. tapi, terima kasih atas pujiannya,," sahut Amel.


"Anytime. Apapun yang kamu masak aku akan memakannya, karena aku tahu masakan istriku adalah masakan terlezat di seluruh dunia," kata Aiman.


"Yakin bisa mengalahkan masakan mama kamu?" tanya Amel.


"Kalian semua sama-sama enaknya, tapi semenjak menikah aku lebih suka masakan kamu deh , sayang.." kata Aiman.

__ADS_1


Amel tersenyum puas. "Itu artinya masakanku juga bukan yang ter---------enakkk," gumam Amel.


"Oiya , bagaimana kabar nenek? Apakah kamu sudah menghubunginnya seharian ini?" Tanya Aiman.


"Ya, siang tadi aku menelponnya. Nenek bilang kangen. Aku juga merindukannya," jawab Amel.


"Liburan semester nanti kita temui nenek," sahut Aiman.


"Terima kasih sayang. I can't live without you," Amel menggapai tangan sang suami.


Amel tidur dalam dekapan hangat sang suami. Meski sebenarnya, ia sudah sangat ingin memiliki momongan, namun demi kelancaran studi dan melihat situasi, mereka bersedia  menundanya atas kesepakatan bersama.


"Sayang.." ucap Aiman.


"Ya, sayang?" sahut Amel.


"Mari kita patahkan perjanjian kita," kata Aiman. Amel menatap sang suami.


"Aku ingin menjadi seorang ayah. Aku  berjanji takkan membiarkan kalian hidup susah," kata Aiman.


Amel menitikkan air mata haru. "Sungguh?" tanya sang istri terkejut dengan pengakuan suaminya.


"Aku ingin sekali ia memanggilku ayah," ucapnya. Ia tahu bahwa sang istri ingin sekali memiliki seorang bayi.


"Terima kasih, sayang.," Amel menangis tersedu-sedu bercampur rasa  bahagia.


"Apa kamu ingin anak cewe atau cowo?" tanya Amel.


"Aku ingin anak pertama cowo, agar bisa meindungi adik-adiknya. Yang kedua dan seterusnya cewe juga boleh," jawab Aiman.


"Aku setuju denganmu," sahut Amel yang sepemikiran dengan suaminya.


Sepulang dari kampus Amel ke toko kue milik ibunya yang ada di Sidney, mulai sekarang ia yang bertanggung jawab mengelola. "Alhamdulillah, hari ini kue terjual banyak," Amel mengucap syukur atas limpahan rezeki hari ini.


Amel sedikit terusik  karena Julie yang tampak murung. Julie mengangkat telepon ke luar.


"Julie, hari ini kita harus membayar sewa rumah atau kita akan diusir. Aku baru saja  membayar uang kuliah adikmu," seseorang denga nada buruk berbicara di telepon.


"Itu bukan urusanku, mulai sekarang aku hanya akan mengurus diriku sendiri. Hiduplah engan ketamakanmu!" sahut Julie. Ia menutup telepon lalu menangis tersedu. Ia menghabiskan tangisannya, lalu mengusap bersih dengan sapu tangan.


"Apakah ibu tirimu lagi?" tanya Andrew. Julie mengangguk.


Hari ini gaji telah masuk ke rekening masing-masing karyawan, Amel membagikan slip gaji mereka.


"Thank's, Mrs.Amel," ucap Julie dan Andrew yang senang sekali menerimanya.


"Terima kasih atas kerja keras kalian. Aku membungkus roti ini untuk kalian. Aku senang memiliki karyawan yang jujur dan smart seperti kalian. Anggaplah ini sebagai bentuk terima kasihku. Doakan saya, semoga kedepannya bisa memberi lebih banyak reward untuk kalian," kata Amel.


"Siap, Nyonya!" seru mereka berdua. Akhirnya mereka menutup toko. Aiman datang tepat waktu.


"Assalamu'alaikum.."ucap Aiman.


"Wa'alaikumussalam,"jawab semua termasuk Julie dan Andrew yang sudah terbiasa menjawabnya, karena mereka paham arti salam adalah doa keselamatan. Amel mencium tangan suaminya, Aiman pun mengecup kening sang istri.


"Mereka harmonis sekali," kata Julie.


"Yaps! Aku bahagia melihat pasangan seperti mereka,"sahut Andrew.

__ADS_1


"Julie, Andrew.. hati-hati!" kata Aiman.


"Siap Tuan, Tuan dan nyona hati-hati di jalan juga.." kata Andrew. Julie melambaikan tangan kepada atasan.


"Apa kau akan membayar uang sewa ibu tirimu lagi?" tanya Andrew.


"Tidak, mulai sekarang aku tidak akan membayar apapun yang berkaitan dengan mereka. Sebanyak apapun kuberikan hatiku, takkan membuat mereka bisa menyayangiku.


"Aku setuju denganmu.." sahut Andrew.


"Lebih mudah mengubah gunung menjadi debu daripada menanamkan cinta di hati yang dipenuhi kebencian," kata Julie.


"Engkau bijak sekali, Julie.." kata Andrew.


"Aku tak sengaja membaca kutipan yang ada di layar tablet nyonya, oleh Ali bin Abi Talib," jawab Julie.


"Siapa dia?" tanya Andrew.


Julie menggeleng-gelengkan kepalanya. "Akan tetapi banyak orang muslim mengambil nasehat dari kata-kata Ali yang indah," jawab Julie.


Sampai rumah..


"Sayang, sepertinya aku sedang tidak enak badan.." kata Amel.


"Kenapa? Kamu pasti kecapean, aku buatkan wedang  jahe ya," kata  Aiman. Ia bergegas ke pantry.


"Hoekkkkkkk..hoekkk..." terdengar amel muntah-muntah di toilet.


Aiman bergegas memapah sang istri ke tempat tidur. Ia juga menyiapkan baskom berisi air hangat untuk merendam kaki sang istri.


"Pelan, sayang.." Aiman membasuh kaki sang istri dan merendamnya di baskom.


"Aku memasukkan sedikit garam di dalamnya," kata Aiman.


"Terima kasih, sayang. Ini enak sekali," ucap Amel yang terlihat  lemas dengan tangan menumpu di pundak sang suami yang duduk di kursi rendah.


"aku akan meminumnya," Amel meraih secangkir wedang jahe. Setelah itu amel bersandar di ranjang.


Aiman mencari piyama di almari, lalu mengelap tubuh sang istri dengan air hangat. Ia juga menciumi kening sang istri. "Ia sangat manis jika tidur begini, bagaimana aku tidak jatuh cinta dengan wanita yang sederhana dan patuh kepadaku. I Love You," gumam Aiman tersenyum.


"Bos, kita profit besar. Bentar lagi siap-siap dapat bonus dollar.." Arsyah mengabari lewat chat.


"Alhamulillah.." bisik Aiman dalam hati.


Aiman bergegas membasuh baskomnya. Saat ia memasuki toilet ia terkejut melihat botol urin yang ada test packnya.


"Garis 2, positive? Istriku hamil..Alhamdulillah...." ia keluar dan sujud syukur. Aiman menyelimuti sang istri, mengurai rambutnya. "Aku akan melindungi kalian sampai akhir, kalian harus bahagia dua malaikatku," kata Aiman.


"Mama... Aiman jadi ayah!" Aiman mengirim pesan suara kepada ibunya tengah malam. Malam itu Aiman terbangun di sepertig malam, ia mengambil air wudhu, memebaca quran, dan berdzikir sambil meniupkan doa di perut sang istri. Amel terbangun , heran menatap suaminya. "Kenapa mas mengelus-elus perutku?" tanya Amel.


Aiman menunjukkan hasil test pack semalam.


"Masya Allah, Alhamdulillah....sayang..." serunya bahagia. Ia menangis  dan sangat bersyukur. "Gimana , sekarang sudah enakan?" tanya suami.


"Iya sayang, aku lapar," kata Amel.


"Oke, aku akan menyiapkan makanan lezat untuk kalian berdua," kata Aiman.

__ADS_1


"Alhamdulillah, aku jadi ibu..' kata Amel. Ia bergegas mengambil wudhu.


"Jika ia seorang putra, aku ingin ia menjadi anak yang soleh. Jika ia seorang putri, jadikanlah ia anak yang solehah ya Allah.." doanya begitu tulus melambung ke langit.


__ADS_2