
Ping...
Ada update informasi dari pembimbing kampus.
DAFTAR PESERTA UJIAN ULANG
Setelah kelalaianku mengunggah tugas , aku langsung menghubungi Bu Indi, pembimbing kampus.
3 hari kemudian ada form pengisian alasan tidak mengunggah/ tidak mengikuti ujian.
Saat itu aku merasa beruntung. Allah memberiku kesempatan sekali lagi. Betapa Allah telah bermurah hati kepada insan yang sering lalai dalam mengingatnya ini. Tetapi Allah tidak pernah berhenti dalam memberi, seburuk apapun diri ini.
Dan hari ini tepat seminggu setelahnya, pihak kampus memberi kesempatan bagi mahasiswanya yang belum ikut ujian.
"PETRICHORA AMELIKANA AZIZAH."
"Masya Allah.. Alhamdulillah."
Minggu depan aku ikut UAS susulan.
"Ya Allah, jadikanlah aku hamba-Mu yang selalu beruntung." ucapku.
Tiba-tiba malam ini kilat menyambar-nyambar. Tepat 1 Agustus 2021 langit Jakarta bergemuruh dan menurunkan hujan.
Aku berharap ujianku lancar, aku berharap bisa segera menemukan ibuku. Aku berharap bisa mendapatkan IPK 3.00. Setidaknya kamu tidak akan dianggap sebagai manusia bodoh.
IPK 3,00 pun masih belum pantas dijadikan kebanggaan. Setidaknya bisa menyelamatkanku dari asumsi orang bahwa aku ini bodoh jika IPK yang ku dapat kurang dari itu. Bahkan jika hanya kurang dari 0,01. Masih akan terlihat jelas 2,99. Tidak akan ada HR yang mau merekrutmu, kecuali ia seorang malaikat yang tahu akan potensi dirimu. Camkan ini teman-teman.
Seandainya mereka tahu bahwa di balik IPK yang tidak sempurna itu terdapat banyak pengalaman berharga. Aku kuliah sambil bekerja. Bekerja untuk membayar uang semester dan bertahan hidup. Ada banyak keringat yang mengucur dan wajah yang kucel di balik almamater kampus yang kukenakan saat ujian.
Kurang tidur dan tidak sempat belajar. Yang pada akhirnya kamu belajar untuk bisa diterima bekerja dengan posisi yang lebih baik dan bisa lebih dihargai.
Bukankah semua itu bentuk prestasi dalam bertahan hidup? Tetapi mengapa kita sering kalah hanya dengan angka pada IPK.
Kuharap aku bisa segera menyelesaikan kuliahku. Aku juga tidak mau menjadi mahasiswa pejuang S1 berlama-lama.
Aku akan lulus untuk diriku dan orang-orang yang menyayangiku. Karena dari mereka lah akan kudapatkan senyuman kebanggaan.
Ibu, bapak, nenek, Junot, Om Yusuf...Aim....
Mungkin Aiman akan bangga atas prestasiku, tetapi aku tidak ingin mengharapkan hal itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 22 .00 WIB. Sebelum tidur aku sholat hajat & witir. Aku takut tidak akan terbangun di sepertiga malam terakhir.
"Tuhan, izinkanlah aku bermunajat, berikanlah aku petunjuk agar aku bisa menemui ibuku," aku menangis memohon.
(Petir menyambar-nyambar)
__ADS_1
#
Mataku terbuka perlahan. Aku merasa berada di tempat yang sangat terang, namun semua berwarna putih. Lalu terdapat sebuah pintu. Aku memasuki pintu tersebut.
Klekkkk... aku menutupnya dari balik pintu, dan membalikkan badanku.
"Bukankah aku di rumahku sendiri?" gumamku. Ini rumah nenek.
Terdapat bayi di ayunan. Aku berjalan menghampirinya. Aku terkejut karena bayi itu memiliki mata dan pipi yang mirip denganku.
Terdengar seseorang merintih kesakitan. Aku menuju pada sebuah kamar dengan cat pintu warna putih.
"Ibu?" aku terkejut melihat sosok ibuku ada di dalam kamar itu.
Aku bingung kenapa ia tak melihat ke arahku.
"Ibu? Ini Amel ,bu.. Amel di sini bu.. Amel di depan ibu kenapa ibu tidak melihatku?" Aku mencoba menyentuhnya tapi tak bisa.
Aku menangis di hadapannya yang tak menyadari kehadiranku.
"Ibuku tidak bisa mendengarku , ia juga tidak melihatku, lalu apakah aku ini?" aku merenunginya sendiri.
Beliau seperti menahan kesakitan di dadanya.
"Kenapa dada ibu sakit?" tanyaku kepada jiwa yang tak bisa ku sentuh itu.
Lalu beliau menahan kesakitan di bagian perutnya juga.
Terdengar suara bayi yang menangis kencang.
Minie me..
(gumamku)
Dia segera berdiri lalu menuju ke depan menggendong bayi itu.
"Amel, anak ibu..." katanya sambil menimang bayi yang masih merah itu.
"Amel? jadi benarkah aku sedang berada di masa lalu?" gumamku tidak percaya.
Aku menangis sejadi-jadinya.
Di manakah semua orang? Kenapa hanya ada ibuku sendiri? Apakah bapakku sedang mengajar? Lalu di mana nenek dan kakek?
Lalu aku berdiri , sekali lagi menatap wanita itu.
Ia masuk ke kamar.
__ADS_1
"Maafkan, ASI ibu belum keluar lagi rupanya. Ibu belum makan nak, ibu merasa sulit nak.." ia menangis bersama bayinya yang kehausan.
"Perempuan itu jangan hanya di kamar terus. Cucian menumpuk. Punya anak juga ga bisa ngemong, kalau anak haus itu langsung susui gausah tunggu teriak-teriak!" aku langsung menengok ke arah suara yang menyakitkan itu. Sepertinya tak asing dengan suaranya. Air mataku langsung tumpah.
"Nenek?" Aku terkejut. Kenapa nenek sejahat itu kepada ibuku.
Aku melihat air mata ibu yang mengalir deras bercucuran. Ia terlihat cantik di usia mudanya. Wajahnya berseri meski sedang bersedih.
"Apa-apa kok ga bisa ." nenek terus mengata-ngatai ibuku.
Ibuku langsung mengusap air matanya, membuatkanku susu formula. Nenek menggendong aku yang masih kecil nan mungil. Terlihat bahwa nenek sangat menyayangiku tapi juga membenci ibuku.
Kenapa hidup ibuku terlihat sulit sekali..
Tidak sengaja tubuhku terdorong ke pintu lainnya.
"Budhe Sumirah? Nenek?" aku melihat mereka sedang duduk di ruang makan.
"Bukankah barusan nenek sedang menggendongku?" aku bingung.
"Hamil besar kok tidak punya apa-apa. Menyulitkan orang tua saja." kata Budhe Sumirah yang masih berambut hitam legam. Katanya sambil memicingkan mata.
"Siapa yang sedang dia katai?" aku penasaran.
"Akhirnya ya pake uangku. Bayangkan, adikmu gajinya tak seberapa. Apa-apa ya "mbok", dikit-dikit ya panggil "mbok".
Lalu aku memasuki berbagai macam pintu dimana aku melihat 2 orang yang selalu menebarkan fitnah tentang ibuku. Dia Budhe Sumirah & nenekku sendiri. Seolah terdapat rasa iri dan dengki di hati mereka.
Aku menangis tersedu-sedu menyudut di lantai.
"Ibu, ini tidak adil untuk ibu.. bahkan aku rela kembali untuk ketiadaan asal ibuku jangan pernah menikah dengan ayahku yang memiliki keluarga jahanam seperti ini." Aku menangis dan terus menangis.
Dari pintu ke pintu bahkan Budhe Sumirah dan suaminya aktif menyebarkan fitnah kepada semua orang, mereka memprovokasi semua orang untuk mebenci ibuku.
"Demi Allah aku tidak ikhlas atas perlakuan kalian. Aku ingin kesengsaraan di akhir hidup kalian, kalian harus membayar dosa-dosa kalian kepada ibuku. Terkutuk kalian!!!!!" teriakku.
"Aaaaaaaaahhhhhhh..." aku terbangun.
Aku mengusap pipiku yang basah.
"Mimpi apa aku malam ini.. apakah itu benar-benar pernah terjadi pada ibuku?"
Saat terbangun dadaku terasa sakit sekali. Apakah aku telah melihat ke masa lalu?
Jam berapa ini?
Waktu menunjukkan pukul 02.00 WIB.
__ADS_1
Akhirnya aku menangis tersedu-sedu. Lalu aku mengambil air wudhu dan sholat tahajud.
"Ibuku yang malang. Ya Rab, jika kedua orang tuaku masih hidup, pertemukanlah kami. Sematkanlah kebahagiaan dalam hidup mereka, ampunilah dosa-dosa mereka. Aamiin."