
Ini adalah UAS terakhirku. Aku bekerja sambil mengerjakan UAS online. Tinggal MK Pendidikan Kewarganegaraan saja. Sesekali terhenti karena harus melayani pelanggan.
"Mel, banyak sekali soalnya. Sepertinya kamu membutuhkan jawaban yang sangat panjang," kata Pak Arif melihat ke layar laptopku.
"Iya ,Pak. Tidak apa-apa . Aku akan mengejar waktu." kataku.
"Kerjakan dulu ,Mel. Serahkan pelanggan kepadaku." kata Didit.
"Benarkah?" tanyaku.
"Benar, jangan khawatir. Lihatlah ini sudah jam 14 . Waktumu 4 jam lagi." kata Didit.
Tak berapa lama, pelanggan pun banyak berdatangan. Teman teman kewalahan. Sesekali aku meninggalkan laptopku dan menyajikan minuman.
"Makasih ya Mel," kata Niken yang begitu kewalahan.
"Oke.." jawabku.
Lalu ada Lestari yang sibuk mengambil piring-piring kotor. Aku membantunya memunguti satu per satu.
"Sabar ya, sabar.." Pak Arif mencoba menenangkan kami. Agar tetap hati-hati dalam bekerja.
Aku merasa pikiranku begitu semrawut. Karena tidak tega, aku membantu Kak Didit mencuci piring-piring itu. Pak Arif juga turun tangan mengelap meja-meja di depan.
Apapun kondisinya , tempat kami harus terlihat bersih dan higienis.
"Ah gawat sudah jam setengah empat," gumamku. Aku berlari ke mushola untuk shalat Ashar.
"Amel, kamu kerjakan saja ujian kamu. Yang lain akan kami handle." kata Pak Arif.
"Baik Pak, terima kasih." ucapku.
Selesai sholat ashar aku langsung menghadap layar laptop.
"Kenapa tidak ada referensi yang akurat.." gumamku.
Aku terus mencari sumber di internet.
Aku mersa gugup, takut tidak terkejar.
Pukul 17.49 WIB.
"My Godness..."
Pukul 17.58 WIB.
"Gak mungkin.."
Pukul 18.00 WIB.
"Aduh gimana ini.." aku masih mengerjakan 2 poin lagi.
"Allahu Akbar..Allahhu Akbar.."
"Astaghfirulloh hal 'adzim..apa masih bisa diunggah?" rasanya aku ingin menangis.
Saat aku mereload page ujian ternyata waktunya sudah habis.
"Aku tahu ini akan telat." aku lemas menyesal kenapa tidak dari tadi ku unggah biarpun hanya separuh jawaban.
"Kenapa dengan mata kuliah satu ini?" aku kesal.
Tidak, ini bukan salah MK. Salah aku yang mengambil job joki untuk temanku, aku memprioritaskan miliknya.
__ADS_1
Aku memiliki pemikiran yang keliru selama ini , bahwa tinggalkan yang tidak menghasilkan uang.
Alhasil apa yang seharusnya menjadi prioritasku jadi terbengkalai.
Aku menyesal Tuhan.. tapi aku juga lagi butuh uang untuk bayar kontrakan tanggal 20 nanti. Ini salahku..
Dan aku terus menyalahkan diriku sendiri.
"Gimana Mel ujian kamu?" tanya Pak Arif.
"Done! Yayyy!!!" sorakku menyembunyikan senyum palsu.
"Saya ikut senang kalau kamu berhasil, Mel.." kata Pak Arif.
"Oiya berarti kamu sudah selesai tahun ini kan,Mel? Berarti besok bisa ikut wisuda?" tanya Pak Arif.
"Insya Allah Pak, jika tidak ada MK yang mengulang." jawabku.
"Masya Allah.. Semoga lancar ya Mel." kata Pak Arif.
"Makasih Pak." jawabku.
Pak Arif lalu membriefing kami, beliau menyemangati kami. Setelah itu kami segera berberes dan tutup pukul 20:00 WIB.
Aku tidak menyangka jika ini akan terjadi, auto E. Padahal aku berniat memperbaiki nilai D ku di semester 3 waktu itu. Amel kamu bodoh.
Aku terus meratapi kesalahanku.
Lagi-lagi aku harus menunda wisuda. Aku harus bagaimana. Aku tidak mau menjadi mahasiswa abadi.
Aku merasa bukanlah mahasiswa panutan. Aku melakukan pelanggaran. Aku bersedia menjadi joki ujian dengan bayaran mahal.
Temanku sangat membutuhkanku untuk mencetak nilai A dan mendorong IPK miliknya yang hancur setiap semesternya karena sibuk bekerja dan mempriorotaskan ambisinya untuk menjadi youtuber tetkenal, namun sampai sekarang belum juga terlihat hasilnya.
"Mel, jangan begitu. Itu ga boleh lo. Kenapa kamu bangga mencetak nilai orang lain?" Aiman sempat menegurku dengan keras kala tahu kalau aku menjadi joki ujian. Gara-gara aku keceplosan.
Aiman benar..
Maafkan aku ya Allah.
Kutendang kaleng minuman di depanku.
"Siapa masih membuang sampah sembarangan seperti ini!!" gerutuku kesal.
"Aw!" teriak seseorang.
"Raka?" aku terkejut.
"Amel...Amel.... ada -ada aja ulah kamu." katanya kesakitan.
"Maaf, Ka. Aku tidak bermaksud. Aku cuma menendangnya ke pinggir. Aku tidak tahu di situ ada kamu. Lagian kamu ngapain sih di situ?" kataku.
"Aku mencari kunci mobilku," kata Raka.
"Kamu baru pulang?" tanyanya.
"Iya," jawabku.
"Eh, udah dulu ya aku pulang." aku langsung berlari.
"Tapi Mel,.." kudengar Raka berteriak.
Aku berhenti di gang menuju kosan karena napasku ngos-ngosan.
__ADS_1
"Pulang-pulang-pulang, dicari ibumu." Pak Yono menyuruh Oxcel untuk pulang. Terlihat Oxcel keluar dari pintu rumah Pak Yono.
Oxcel (laki-laki) adalah anak yang terlahir dengan cacat mental, usianya sekarang 20 tahun.
Lalu anak itu berjalan ke rumah tetangga yang satunya. Rumah mas Denis.
"Pulang.. Pulang.." Mas Denis pun mengusirnya.
Hatiku merasa sedih melihat kondisi Oxcel. Dia tidak memiliki teman bermain. Padahal dia hanyalah bocah yang hanya menjalani kehidupanya. Ia pun tidak bisa memilih harus terlahir dalam kondisi seperti apa. Dari keluarga seperti apa.
Seandainya ia bisa memilih tentu dia juga ingin terlahir seperti anak-anak normal lainnya.
Memiliki anak yang cacat tentu tidak mudah bagi kedua orang tua dan saudara-saudaranya. Karena mereka harus mempersiapkan mental untuk menerima cemoohan dan perilaku tidak menyenangkan dari orang lain terhadap anak atau adiknya.
Mereka akan sakit jika melihat anaknya tidak diterima di lingkungan mereka. Kasihan Oxcel.
Aku menangis melihat kejadian ini.
"Nak, pulang Nak.. sudah malam." Ayah Oxcel memanggil dari pintu rumah.
Angin malam berhembus kencang menerbangkan dedaunan.
Di situ aku menyadari..
Dan bahkan daun yang jatuh dari pohon pun atas izin Tuhan Yang Maha Kuasa.
Apapun yang terjadi dalam hidup ini atas kehendak-Nya.
Sehingga jika aku harus menunda keikutsertaanku untuk wisuda tahun ini juga atas kehendak-Nya.
Allah pasti memiliki rencana yang lebih baik dari ini.
Jadi kapan kamu lulus?
Lama sekali kuliah gak lulus-lulus.
Terkadang aku merasa bodoh jika ada yang bertanya seperti itu.
Tetapi, aku tidak merasa bahwa diriku bodoh karena nilai-nilai yang kuciptakan baik untuk diriku dan untuk orang lain selalu A dan B selama 3 semester ini. Hanya saja di semester awal karena aku terlalu sibuk bekerja sehingga aku tidak sempat belajar dan akhirnya...
Ah sudahlah.. intinya aku tidak bodoh..
Bahkan jika kalian menilai seekor ikan dari cara dia memanjat pohon maka ikan itu akan merasa bodoh selamanya.
Jadi tolonglah mulut kalian saat mengomentari hidup orang lain. Kalian tidak tahu hal-hal apa saja yang telah ia lalui dengan sekuat tenaga hingga dapat bertahan di titik ini.
Lalu..
Aku berjanji dalam hati, aku akan segera menamatkan S1 ku yang tertunda-tunda karena kondisi keuanganku yang tidak cukup baik ini.
Aku Petrichora Amelikana Azizah akan kutunjukkan kepada semua orang kalau aku bisa jadi orang yang sukses, hebat, dan berguna bagi nusa dan bangsa!
DHUARRRRRRRRRRRRRR.......GLEEEERRRRRRRRRR.....
Suara petir menggelegar.
Bresssssss.......... hujan deras mengguyurku malam ini.
"Yes!!! langit mendengar doaku!" teriakku sambil berlari pulang.
Sepertinya Tuhan akan mengabulkan doa kamu saat ada hujan dan petir.
⛈️⛈️⛈️⛈️
__ADS_1
NAMA, TEMPAT, KEJADIAN, DAN ORGANISASI MERUPAKAN FIKTIF SEMATA.