The Rain Is Pouring

The Rain Is Pouring
Adik Tiri


__ADS_3

Hesti berjalan ke kamar Amel dan mengetuk pintu.


Amel & Aiman : "Masuk.."


Hesti : "Amel,  pagi ini ada yang ingin bertemu denganmu."


Amel : "Benarkah? Siapa?  Aku begitu penasaran.


Hesti : "Maafkan ibu nak,  karena harus mengatakan ini.  Sebenarnya,  ibu telah menikah lagi. "


Sontak pernyataan itu membuat putrinya terkejut. Mata Amel pun  berkaca-kaca seolah tidak percaya.  Akan tetapi,  Amel berusaha menepis semua pikiran negatifnya. Amel membiarkan sang ibu memberi penjelasan.


Hesti : "Dalam waktu yang sangat lama,  ibu tidak tahu jati diri ibu. Aku hanya menjalani hidup sebagai Hesti dalam lembaran baru. Tentu akan banyak hal yang datang dan pergi termasuk seseorang dalam hidupku. Lima tahun yang lalu,  aku memutuskan untuk menerima pinangan seorang pria yang masih keturunan Indonesia asli, bernama Arman William. Dan ibu telah dikaruniai seorang putri,  sekarang umurnya menginjak 4 tahun. Namanya Cassie,  Cassandra William."


Di saat itu,  ia tidak tahu harus bahagia atau kah sedih mendengarnya. Tetapi yang dilakukan ibunya bukanlah sebuah kesalahan. Ia menikah sebelum mendapatkan kembali ingatannya. Semua orang butuh pasangan hidup.  Menjalani kehidupan yang tak pernah ia ketahui di negeri asing adalah sebuah ketakutan. Seseorang butuh rangkulan orang lain untuk melaluinya. Amel mengusap air matanya lalu memeluk sang ibu.


Amel : "Ibu tidak salah,  semua ini adalah jalan takdir yang sudah Allah pilihkan. Ibu sudah melewatinya dengan begitu keras. Aku akan menerima orang-orang yang sudah menyayangi ibuku & merawat ibu dengan baik. Karena berkat mereka, aku masih dapat melihat ibuku hingga saat ini. Ibuku yang sehat,  kuat,  cerdas,  cantik & awet muda. "


Hesti : Rupanya,  anak ibu telah tumbuh dewasa. Engkau tumbuh menjadi anak yang baik.  Pasti berkat nenek & kakekmu. Ibu mengingat semua tentangmu, tetapi tidak banyak tentang ayahmu ibu mengingatnya. Itulah yang membuat ibu bersedih dan menyesalinya hari ini." Hesti menyeka air matanya.


Amel : "Sssttt...  Hiduplah untuk Amel dan Cassie,  ada seorang pria yang harus ibu syukuri,  cukup doakan ayah tiap kali ibu mengingatnya,  selepas sholat & ketika ingin tidur." Amel memeluk ibunya kembali. "Sekarang cukuplah jalani hidup ibu,  Amel sudah bahagia dengan mas Aiman,  kapanpun ibu membutuhkanku, ibu bisa memintanya padaku,  pada mas Aiman. Jangan merasa tidak enak.  Cuma ibu yang Amel punya." Semua menangis mengharu-biru. Aiman dan Amel bersimpuh di lutut Hesti.


Aiman : "Ibu,  restuilah kami,  saya akan menjaga Amel dengan sepenuh hati.  Saya akan berusaha menjadi menantu yang baik untuk ibu."


Hesti : " Ibu merestui kalian, nak.  Semoga bahtera kalian selamat sampai tujuan. Terima kasih telah menjaga anak ibu. Amel,  berbaktilah pada suami & ibu mertuamu. Berbahagialah kalian dalam rahmat-Nya."


Pagi ini bagai diguyur hujan,  air mata mengalir deras di kamar lantai atas.


"Cassie,  cucuku.. Bagaiamana perjalananmu, sayang?" tanya Fatimah.


" I'm tired,  Grandma." Suara anak kecil terdengar di lantai bawah membuat semua orang tertawa.  Fatimah meminta tolong kepada Rafaela agar membuatkan minum untuk menantu dan cucunya.


William : "Dimana istriku?" tanya William.


Fatimah : "Ada di atas. Kurasa Hesti telah memberitahumu."


William : " Benar,  bu."


William menyusul ke atas menggendong Cassie menaiki tangga.


William : "Jangan lupa ucapkan salam kepada ibu dan kakakmu."

__ADS_1


Cassie : "Cassie punya kakak?"


Peri kecil itu bertanya dengan cukup polos. William mengangguk.


William : "Kamu akan segera bertemu dengannya."


Aiman : "Sepertinya Cassie telah tiba."


Hesti : "Benar, putri kecilku telah sampai."


Hesti membuka pintu. Seorang pria berdiri tegap tersenyum menggandeng malaikat kecil yang manis.


William & Cassie : "Assalamu'alaikum."


Hestie,  Amel,  & Aiman : "Wa'alaikumussalam."


Cassie turun dari gendongan sang ayah dan berlari menghampiri ibunya.


Cassie : " Mommy.. I woof yuu.. I miss you."


Hesti : "Miss you somuch,  my princess.."


Tampak ibuku menyambut & mengecup lembut sang suami,  begitu pun sebaliknya. Sepertinya beliau telah menemukan kehidupan yang sempurna dan seorang pendamping yang menyayanginya. Apakah dia lebih baik dari ayahku?  Ibuku pantas untuk bahagia,  aku harus merelakannya.. Meski sebenarnya,  aku masih sangat ingin ada di sekitarnya. Rinduku belum sepenuhnya terobati. Bahagiakanlah dia, Ya Rabbi..  Aamiin ya Rabbal 'alamiin. 


Aku menghampiri Cassie dan berniat untuk pamit dengannya,  walaupun hanya bertemu sehari kami sudah mulai akrab. Dia anak yang manis dan menyenangkan.  Aku senang memiliki adik seperti dia.


"Unch,  peri kecil yang manis.  Kakak pamit yah.. Bye, see you next time." 


"Woof you, sis-te.." (I love you)


Suaranya yang mungil membuatku ingin memeluknya kembali. "Tidak bisakah kita membawanya pulang, Hubby?"


Aiman tersenyum gemas menatap sang istri.


"Aku yang akan membawamu pulang dan kita akan segera menghadirkannya  di rumah kita, " sahut Aiman dengan tatapan nakalnya. Amel tersipu malu. Melihat Cassie membuat Amel ingin segera memiliki seorang bayi.


Aiman menggendong adik tirinya,  Cassie.


"Be the star that shining bright!  Okay, Cassie? Have a nice day,  bye,  bye.. " Aiman mengangkat Cassie dan berputar lalu memberikannya ke pelukan sang ibu,  Hesti.


"Take Care of my daughter,  dude. (Tolong jaga putriku baik-baik, nak) "  William memberikan pesan untuk Aiman dan menepuk-nepuk pundaknya.

__ADS_1


"Of course (tentu)," sahut Aiman.


Mereka berpamitan pulang kepada semuanya. Fatimah memberikan sekeranjang anggur segar dan beberapa kue kering untuk bisa dimakan oleh mereka saat dalam perjalanan.


"Bawalah termos ini,  aku sudah memenuhinya.  Kalian akan membutuhkannya.  Berhati-hatilah," kata Rafaela. Amel terharu dan memeluk Rafaela. Amel melambaikan tangan kepada ibu dan keluarganya.


"Aku kagum padamu Amel,  kamu memiliki  hati yang lapang,  kamu mampu menerima semua takdir burukmu,  dan mampu menjalaninya dengan baik." Olive memuji.


Inggrid : "Bahkan kalau aku ada di posisimu aku bisa menyalahkan semua orang yang ada di sekitarku."


Amel    : "Aku pernah menyalahkan sang Pencipta,  mengapa hidupku tak seindah anak-anak yang lain?"


Aiman : " Lantas apa yang membuatmu berhenti menyalahkan?"


Amel : "Ternyata hidup itu sendiri adalah anugerah,  banyak orang mati dalam penyesalan dan mereka  ingin bisa kembali lagi ke dunia untuk beribadah & beramal soleh.   Akhirnya aku sadar bahwa aku harus mengisinya dengan kebaikan.  Bersyukur adalah pangkal dari segala kebaikan,  dengan begitu Tuhan akan menurunkan rahmatnya.  Terus,  dan terus.. "


Aiman : "Great. Kamu sudah melakukan yang terbaik, sayang. Aku ingin kita menjadi partner di dunia dan akhirat. "


Inggrid & Olivia : "OUUUUUUUUUUUUUNNNNCCCHHHH..."


"Aiman & Amel menyadarkanku bahwa aku hanya butuh partner hidup bukan pacar. Kamu butuh partner hidup yang berkualitas,  Inggrid.  Berhentilah mengikuti kencan-kencan buta, Inggrid.  That useless.. " gumam Inggrid.


"Partner hidup,  Olive. Kamu butuh pasangan yang berkualitas. Tetapi bagaimana aku bisa menemukannya??" semua  orang bergumam, dan memikirkan kembali tentang goals mereka.


Amel : "Partner hidup yang baik bisa mencegah kita dari penyesalan. Dan partner terbaikku  selama ini adalah nenek. Dan sekarang aku yakin,  pria di sampingku akan selalu menjadi partner terbaikku. Hari ini,  esok,  dan nanti."


Aiman : "Masya Allah,  istriku.. bidadariku.."


Olive : "Kalian membuatku iri,  hikkkksss.  Kenapa hanya kalian yang saling memuji? Di mana orang yang bersedia memuji kita, Inggrid?"


Inggrid : "Entahlah.. "


Semua yang ada  di dalam mobil itu tertawa.


Aiman : "Aku tidak akan menyuruhmu untuk cepat-cepat menikah,  tapi jangan mencari pria hanya untung mengisi kebosanan,  kalian bisa mengisinya dengan pengalaman dan prestasi."


Amel,  Inggrid : "Aku setuju!!!"


Inggrid : "Entah mengapa, aku merasa bahwa ini akan  menjadi titik balik dalam hidupku, yang akan mengubah mindsetku. Sepertinya akan terjadi perubahan besar-besaran dalam hidupku,  aku akan memperbaiki kualitas diri,  aku harus menjadi wanita yang punya value.."


"WOWWW GOOD.... !" semua terkejut dan setuju dengan pernyataan Inggrid.

__ADS_1


Mobil safari tersebut terus melintasi perjalanan waktu yang luar biasa melewati senja. Akhirnya mereka bisa sampai di rumah dengan selamat.


"Berjalanlah,  merenunglah... "


__ADS_2