
Pagi ini aku pulang dari pasar. Kubelikan nenekku sayur-mayur. Sampai di rumah nenekku bilang," Mel, ada anak laki-laki ke sini menitipkan banyak sekali makanan untuk kita."
"Baik sekali anak itu." kata nenek.
"Apakah namanya Aiman?" tanyaku.π
"Iya," jawab nenek.
"Kebiasaan.." gumamku.π
"Sepertinya dia sangat menyukaimu," kata nenek.
"Bagaimana nenek bisa tahu kalau dia menyukaiku? Nenek kan baru bertemu dengannya." kataku.ππ
"Tentu saja nenek bisa tahu dari sorot matanya yang berbinar-binar itu," jawabnya. Aku tertawa.
"Dia sungguh keras kepala," gumamku menahan air mata haru.
"Bilangnya, semoga kamu cepat sembuh. Apa itu teman kamu di kafe?" tanya nenek.
"Bukan, nek. Dia teman aku dari SMA sewaktu di Jogja. Dia memang baik pada semua orang, padahal kami tidak terlalu dekat." jawabku.
"Cucuku, terkadang yang dekat itu sebenarnya jauh, tapi adakalanya yang jauh itu yang paling dekat. Bukan tentang jarak, tetapi hati." kata nenek. Aku termenung.
Dia menyukaiku sudah sangat lama tetapi aku sama sekali tidak menyukainya, padahal ia sangat baik bukan? Aku pernah melarang keras dirinya untuk menyukaiku.
Aku merasa tidak pantas, dia anak orang kaya. Pasti orang tuanya juga berharap siapapun yang berhubungan dengannya adalah seorang gadis yang tumbuh di bawah didikan orang tua dengan baik dan free financial. Tidak sepertiku yang entah berantah.
Aiman..
Setiap hari ia selalu pulang melewati tempatku bekerja. Ia tersenyum dari kejauhan dengan sangat manis, aku tahu itu. Dan aku pun membalikkan badanku, aku tidak ingin dia tahu kalau aku tersenyum untuknya.
Entahlah, apa-apaan kami ini. Aku telah menyia-nyiakan orang sebaik dia. Siapapun akan setuju dengan hal ini.
Sejujurnya, aku merasa bahagia saat melihatnya melewati trotoar di seberang sana dan menatap ke arah kaca setiap pukul 17.30 WIB. Selalu seperti itu baik sejak saat ia kuliah maupun sudah bekerja di perusahaan seperti saat ini. Dimana ibunya adalah pemegang saham terbesar di perusahaan itu.
Kalau dipikir-pikir kenapa dia tidak membawa mobil saja. Alih-alih begitu, justru ia memilih berjalan menelusuri trotoar. Ia tinggal di sebuah perumahan elit yang tidak jauh dari kantornya dan tempatku bekerja.
Kami jadi tampak seperti di drama-drama Korea. Apakah aku baru saja menolak Han Ji Pyeong? Lalu siapa kah yang akan jadi Nam Do San? Sayangnya ini sangat jauh dari drama Startup. Dan aku bukanlah Seo Dal Mi yang secantik dan secerdas Bae Suzy.
Aku hanyalah orang yang harus realistis terhadap keadaan seperti sekarang ini. Bukalah matamu lebar-lebar dan bekerja keraslah untuk mengumpulkan uang. Karena tidak punya uang itu rasanya seperti mau mati.
Aiman seperti air yang lembut dan terus-menerus mengikis permukaan batu yang cadas ini. Ya, batu itu adalah aku. Kurasa sekarang aku sudah menjadi batu yang lunak berkat kegigihannya yang pantang menyerah meski aku sudah berusaha bersikap dingin.
Di sisi lain aku merasa, bahwa sebenarnya ia takut untuk mendekat. Ia takut jika kehadirannya akan membuatku merasa terganggu. Dia sangat berbeda, unik dan si pemerhati.
Ia satu-satunya orang asing yang ingat hari kelahiranku. Dia selalu meletakkan 3 batang Toblerone di dalam laciku saat kami masih SMA dan kami juga duduk di kelas yang sama. Bahkan setelah aku lulus dan bekerja ia selalu memberiku coklat. Ia juga selalu tahu keberadaanku.
Aku tidak tahu kata-kata apa yang tepat untuk mendeskripsikannya. Dia tampak peduli meskipun juga tampak dingin. Anehnya kami tidak membeku bersama. Kurasa justru aku yang mencair. Tidak, dia tidak dingin, dia hanya tegas dan berprinsip.
Biarlah tetap seperti ini sampai kapanpun. Bahkan jika suatu saat kamu sudah menikah dengan wanita lain. Tetaplah melihat ke arah kaca ini dengan anak dan istrimu karena aku akan selalu mengingat kebaikanmu. Walau hanya begitu aku sudah merasa senang.
Hmmm.. kurasa tidak bisa seperti itu terus, karena suatu hari nanti kita akan sampai pada tahap tidak saling mengingat lagi.
SALAH SATU FASE YANG KUBENCI DALAM HIDUP INI.
Pertanyaannya.. Apakah aku akan tetap terus menjadi karyawan di tempat ini? Tentu tidak, lain kali aku akan menjadi pemilik caffe ini. Aku bercanda..
Tapi kalau sampai aku kaya raya, akan kubeli tempat ini! Noted.
Lalu jika aku menjadi pemilik kafe ini apakah aku akan terus memandangimu seperti itu? Bukankah itu sangat membosankan dan terlalu drama?
Aku benci jika harus mengenal seseorang lalu menjadi asing lagi. Terkadang aku menyesal , mengenal orang baik tetapi tidak mampu membalas kebaikannya.
"Aiman.. kenalkan nak, ini anak teman mama namanya Chika." Ibumu mengatur pertemuan kalian di White Caffe dimana aku bekerja.
Entah mengapa aku bersedih, bukankah itu yang selalu kuinginkan selama ini agar kamu menjauh dariku. Aku rasa kalian adalah pasangan yang cocok. Sungguh beruntung menjadi Chika.
Di situ kamu menatap ke arah mataku dan aku menundukkan pandanganku.
Aku pergi agar tidak mengganggu konsentrasimu.
Seharusnya aku tidak bersedih, tetapi kenapa aku terus-menerus kecarian.
Aku merasa ini perih sekali.
Sepertinya aku patah hati, sungguh ini di luar kendaliku.
Bagaimana aku harus membuang perasaan tidak mengenakkan ini?
Sungguh menyulitkan hati.
Lalu aku mengambil bawang bombay dan sebuah pisau. Air mataku terus jatuh. Aku berusaha tegar seperti tidak terjadi apa-apa.
"Kenapa rasanya jadi begini?" gumamku.
"Kamu kenapa?" tanya Niken.
"Aduuuhh..perih banget uap bawangnya sampai ke mata," jawabku.
"Cuci tangan dulu ,Mel. Cucilah matamu. Aku akan menggantikannya," kata Niken.
"Baiklah. Dasar aku!" aku mencuci mata sambil menangis.
Di balik derasnya air kran tidak ada yang tahu jika yang mengalir adalah air mata.
KAMUFLASE YANG SEMPURNA.
"Kasihannya, matamu sampai merah seperti itu.." kata Niken.
"Hhhhhhhgggggggg...hhhhhhhhhhgggggg.." aku sesenggukan.
"Mel? Kamu nangis?" tanya Niken.
"Engga, Nik. Aku cegukan." jawabku
"Suara cegukan gak gitu deh," sahutnya.
"Mel, tolong antarkan saja minuman ini ke meja 14," kata Niken.
"Awww.. itu meja Aiman." gumamku.
"Oke baiklah," jawabku.
"Aiman, ajaklah Chika jalan-jalan malam ini." pinta ibunya.
"Permisi, lemontea 1 dan cappucino 2, sudah benar ibu, bapak?" tanyaku.
"Yaps, benar. Terima kasih," jawab Aiman.
"Terima kasih ya mba," kata Chika dan ibunya Aiman.
"Maaf mah, malam ini aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Chika, lain kali gapapa kan?" kata Aiman.
Aiman melihat ke arahku, aku hanya melihatnya barang sedetik lalu pergi.
"Chika sudah meluangkan waktunya untuk kamu lho." kata ibunya Aiman yang terus menerus membujuk.
"Amel, tolong isikan tokennya. Nomernya sudah saya kirim ke kamu.." kata chiefku.
Akhirnya aku keluar ke depan untuk mengisi token.
1276-
Ah.. tanganku tidak sampai. Aku melihat sekeliling juga tidak ada orang yang lewat.
Tiba-tiba Aiman melihatku dari dalam kaca. Lalu kulihat ke bawah bahwa kakiku masih jinjit-jinjit. Kiri kanan juga tidak ada kursi.
"1276-4418-1002-1021," tiba-tiba Aiman sudah berdiri di belakangku dan memegang hapeku. Tanganku ikut tertarik ke atas.
Tiit..tiiit... accept..
"Maaf, Mel. Aku permisi dulu." katanya.
"Aa.. Aiman.." panggilku.
__ADS_1
Aiman berhenti, hidungnya yang mancung itu menoleh.
"Sama-sama.." ucapnya.
"Tapi aku belum mengatakan apapun." kataku.
"Aku tahu," jawabnya kemudian pergi.
"Apakah dia sedang menggodaku?" pikirku.
Entah mengapa aku merasa senang.
BRAAAAAAAAKKKKKKKKKK!!!!!!
Tiba-tiba seseorang menabrakku hingga hampir jatuh. Untung saja orang itu langsung menangkapku sebelum aku jatuh tersungkur.
Aku terkejut melihat wajahnya.
"Si brengsek...???????" gumamku.
"Amel???? Kamu juga di Jakarta?" Raka terkejut.
Aku segera bangun dari dekapannya. Kulihat Aiman sedang memperhatikan kami berdua, lalu membalikkan badannya.
"Amel!" Raka memanggil.
"Maaf,Mel aku tadi tidak melihat kamu berdiri di situ. Bisa temani aku makan?" tanyanya.
"Amel, bisa bantu saya memilih menu?" tanya Aiman yang langsung memintaku. Aku jadi bingung mau pilih yang mana. Akhirnya aku memilih untuk membantu Aiman terlebih dahulu.
"Maaf Raka, lain kali akan kubantu." jawabku.
"MMMm.." dia hendak mengatakan sesuatu terapi Aiman memintaku untuk segera masuk.
Muka Raka terlihat buruk sekali saat melihat aku dan Aiman pergi. "Angin apa yang membawanya kemari?" gumamku.
Sayang sekali Tuhan tidak mengabulkan permintaanku yang satu ini, padahal aku tidak ingin melihatanya lagi.
Dalam Budhisme, siapapun yang kita temui di kehidupan saat ini, tidak ada sesuatu yang kebetulan.
Konon katanya, ada sebab yang berkaitan erat dengan karma kita di masa lampau (kehidupan sebelumnya).
Karma itu akan terus bertaut di kehidupan setelahnya sampai kita bisa membayarnya dengan lunas.
Seperti itulah bagaimana karma itu bekerja di kehidupan setelahnya. Ini berdasarkan drama Thailand yang pernah aku tonton sebelumnya.
Yang jadi pertanyaan, punya hutang apakah aku pada si brengsek ini di kehidupanku sebelumnya? Apakah ini yang disebut samsara atau penderitaan? Kenapa tiada akhir? Lalu kapankah seorang Amel akan mencapai nirwana? Aku merasa ini sebuah kutukan.
"Rakaaa...!!!!!! RRRRRRRRRGGGGGHHHHH..!!!"
Mari kita putuskan rantai karma ini. Aku akan membayar lunas di kehidupan ini agar kita tidak lagi bertemu di kehidupan kita selanjutnya.
Tetapi paham ini menjadi tidak relevan ketika kita yang bukan penganut Budhisme ataupun Hinduisme turut serta mempercayai hal-hal seperti ini, karena dalam Islam tidak ada yang namanya reinkarnasi.
Aku pikir setelah lulus SMA aku bisa tenang selamanya karena tidak akan bertemu lagi dengan si dia. Sayangnya, itu menjadi impian yang fana setelah hari kemarin.
πΊπ
"Menu apakah ini?" tanya Aiman.
Kemudian aku menjelaskannya.
"Baiklah aku akan memesannya. Chika dan mama pesan apa?" tanya Aiman.
"Sup jamur dan kentang goreng," jawab Chika dengan pembawaan yang tenang.
"Mama akan memesan ikan Nila goreng," jawab ibunya.
"Baiklah kalau begitu, kami akan segera memproses orderan anda. Permisi," kataku.
"Amel," Raka memanggilku.
"Amel!" Aiman juga memanggilku. Aduh bagaimana ini.
"Maaf, sebentar Pak.." kataku kepada Aiman.
"Pizza, kentang goreng 2, lemontea 2, dan sup jamur 2. Bisakah kamu menemaniku untuk menghabiskannya malam ini?" kata Raka.
"Aku? Kenapa harus aku?" tanyaku terkejut.
"Kamu kan temanku, kita juga sudah lama tidak bertemu," jawab Raka.
"Raka, sepertinya kamu lupa kalau kita TIDAK PERNAH BERTEMAN."
Kutegaskan sekali lagi.
"Kamu mengejarku, lalu pergi begitu saja. Dan kita adalah kutub yang sama dan saling bertolakan bukan?" Aku mengatakannya.
Ia salting menggaruk-garuk kepalanya.
"Dan bukan tidak bertemu tetapi kamu yang ngeghosting!! Kita sering bertemu di lorong yang sama tetapi selalu membisu karena sudah terlanjur asing." gumamku.
"Mmm.. Raka, maaf ya tapi saya sibuk harus melayani pelanggan lainnya," jawabku.
"Tenang, aku sudah bilang kepada chief kamu.Okay?" katanya dengan wajah tidak berdosa.
"Be-benarkah?" Aku sungguh tidak percaya dia segila ini. Aku melihat ke wajah chiefku yang mengangguk penuh ketenangan seperti Tong San Chong.
"Damn!" bisikku.
"Mba Amel.." panggil Aiman.
"Sebentar aku ke sana dulu," kataku kepada Raka. Raka menahanku.
"Baiklah, aku akan segera kembali," kataku.
Akhirnya ia melepaskan lenganku.
"Mba, bisa pesankan ini lagi untuk kami kah? Dan tolong bungkuskan pulang yang ini untuk saya 2 ya." kata Aiman.
"Aiman, yang benar saja kamu memesan sebanyak ini?" ibunya terkejut.
"Aiman, aku kenyang. Aku ga bisa makan lagi." kata Chika.
"Aku yang akan menghabiskannya. Aku butuh energi banyak untuk lembur malam ini." ucapnya.
"Jadi kamu ingin mengusir mama dan Chika?" tanya ibunya.
"Chika, mama .. pliss..kali ini aku harus mengejar deadline," kata Aiman memohon.
"Baiklah," kata ibunya.
"Baik pak, saya akan segera memproses pesanan bapak." kataku.
Aku kembali ke meja Raka.
"Setelah sekian lama kita baru ketemu sekarang," nada si buaya yang telah lupa akan dosa-dosanya.
"Ehee... kamu keren udah jadi dokter." kataku sambil melihat meja Aiman yang telah kosong.
"Aku harus berterima kasih kepada orang tuaku yang sudah bekerja keras mengumpulkan uang untuk biaya pendidikan dokterku yang sangat mahal." ucapnya.
"Kamu beruntung," sahutku.
"Bisa dikatakan seperti itu. Aku sangat mensyukurinya karena tidak semua orang bisa mendapatkan anugerah sepertiku," dia selalu meroket hingga lupa memijak tanah.
Dia tidak pernah memperhatikan bagaimana perasaan orang yang menjadi lawan bicaranya. Raka tidak pernah berubah. Ia selalu meninggikan diri di depan orang lain.
Aku sangat membenci karakter seseorang yang seperti ini.
"Ka--" kata-kataku terpotong karena Raka berbicara tanpa titik.
"Aku juga bersyukur bisa traveling ke luar negeri. Ke Thailand, Korea , dan Singapura," katanya.
"WAaahhhhh... daebakkk!!!" seruku.
__ADS_1
"Wah, kamu juga bisa bahasa Korea ya.." katanya.
"Iyy---" aku belum selesai bicara dia terus nerocos.
"Tapi udah biasa sih di jaman sekarang. Udah ga heran lagi kalau banyak anak-anak yang bisa bahasa Korea karena KPOP." sahutnya.
Dia juga tidak tahu bagaimana caranya mengapresiasi usaha orang lain.
"Ap--" lagi-lagi terpotong karena ia tidak memberiku celah.
" Apa kamu tahu cadaver? Kamu tahu berapa harganya?" tanyanya. (Di sini aku sudah kehilangan kesabaran).
"Mayat, mayat untuk praktik kedokteran." jawabku.
"Benar, itu mahal banget bisa 10 sampai 20 juta. Gila." ucapnya.
"Bbbb--" kata-kataku terpotong lagi.
Sumpah.. Aku tidak punya space sedikitpun untuk berpendapat. Akhirnya kuteguk air es di depanku.
Glekkk.glekk.glekkk..gleekkkk...
"Oiya, apakah kamu melanjutkan kuliah?" tanyanya.
BUUUURRRRFFFFFFFFFF!!!
OMG aku kesedak dan air es itu nyembur dari mulutku ke muka dia. Dan muka dia kaya kaget gitu.
"Raka, aku minta maaf. Aku ga bermaksud.." dia langsung mengusap mukanya pakai sapu tangan.
Aiman yang lewat entah sedang dari mana dan teman-temanku yang melihatnya kejadian itu tidak bisa menahan tawa. Ada yang sampai lari ke dapur dengan ketawanya yang sangat kriukkkkk sampai kedengeran.
"Gapapa, Mel." jawabnya tetap mencoba tersenyum padaku.
"Aku kuliah online." jawabku.
"Kenapa tidak memilih kampus konvensional saja?" tanyanya.
"MAHALLLLLLLLL, sedangkan aku harus bekerja keras untuk membiayai hidupku. Aku tidak seberuntung kamu," kataku.
"Ohh," katanya.
"Aku akan menghabiskannya," kataku.
"Yaps, habiskanlah," ucapnya.
"Aku kenyang sekali, bisakah aku pergi sekarang?" tanyaku. Dia menatapku tajam.
"Ohh, kamu mengagetkanku." aku terkejut dia memandangiku.
"Aku senang melihat kamu makan dengan lahap," kata Raka.
Dia tidak tahu bahwa aku melakukan ini agar cepat pergi dari hadapannya.
"Kamu ga marah kan?" tanyaku sekali lagi.
"Marah? Atas apa?" tanyanya.
"Atas insiden tadi aku ga sengaja nyembur ke muka kamu." kataku.
"Aelah.. santai aja. Kamu kaya mbah dukun ya suka nyembur." jawabnya.
"Hhhhhghhh.." Temanku Didit yang sedang membersihkan meja di sebelah kami tertawa.
"Makasih ya." kataku.
"Eh, sumpah.. kamu masih seimut dulu ya. hahahha." ketawanya renyah.
"Heee.." aku cuma nyengir.
"Raka, aku pergi dulu ya. Terima kasih banyak traktirannya," kataku.
"Iya, makasih juga udah nemenin gue makan ya," jawabnya.
π₯
"Amel, kamu ditunggu pak Aiman." kata Niken
"Lihat.. betapa hebatnya kamu membuat 2 pria sekaligus memborong makanan untukmu. Aku sangat iri padamu." kata Niken.
"Kalau begitu mari kita bertukar posisi agar kamu tahu bagaimana rasanya jadi aku." sahutku.
"Niken dan teman-teman yang lain sampai bergeleng-geleng takjub.
"Kamu tidak bisa menggenggam 2 sekaligus. Kamu harus memilih satu." kata Chiefku pak Arif.
"Entahlah pak, ini di luar kendaliku." jawabku. Pak Arif masih geleng-geleng memperhatikanku.
Sepertinya malam ini aku menjadi pusat perhatian orang-orang.
Aku datang kepadanya , Aiman.
"Duduklah, kamu membuat saya menunggu." ucapnya.
"Apa-apaan ini," gumamku melihat meja yang penuh hidangan.
Aku duduk dan melihat ke arah matanya.
"Bantulah aku untuk menghabiskannya." kata Aiman.
"Maaf, tetapi saya sudah kenyang," kataku.
"Mba tolong bungkuskan semua ini ya," kata Aiman meminta kepada waitress.
"Baik,pak.." jawab waitress.
"Jadi, anda mau pulang?" tanyaku.
Dia mengangguk. Sepertinya aku telah mengecewakannya hari ini.
"Aku minta maaf, lain kali aku akan mentraktirmu." ucapku.
Dia tersenyum dan pergi. "Maafkan aku.." kataku dalam hati.
Kemudian caffe kami tutup. Aku keluar.
"Amel.." sebuah mobil mewah perlahan berjalan mendekatiku.
"Aiman? Bukankah anda sudah pulang dari setengah jam yang lalu?" tanyaku terkejut.
"Aku akan mengantar kamu pulang," kata Aiman. Rupanya dia sudah mulai berani menampakkan diri.
"Tapi," kataku.
"Sebenarnya saya kecewa sama kamu tadi," ucapnya.
Akhirnya aku naik ke mobilnya.
Sampai di lampu merah..
"Sepertinya makanan ini kebanyakan untukmu, bolehkah kuambil 1 untuk anak kecil itu?" kataku.
"Masya Allah, tentu aja boleh Mel," jawabnya.
"Terima kasih," kataku.
"Sama-sama," kata Aiman.
"Terima kasih, kak," kata anak kecil itu dengan wajah yang riang.
Aiman mengantarku sampai rumah.
"Mel, tolong bawa semua ini ya bagi juga buat nenek. Salam untuk nenek ya." kata Aiman.
Aku meminta maaf kepadanya karena telah merepotkan.
__ADS_1
"Tidak, Mel. Kamu sama sekali tidak merepotkanku." jawabnya.
NAMA, TEMPAT, KEJADIAN DAN ORGANISASI MERUPAKAN FIKTIF SEMATA.