
...16. Sejarah keluarga wang...
Malam pun tiba.. terlihat mobil Mewah berhenti di depan penginapan Wang fei.. Turun lah dari mobil seorang wanita seksi yaitu Doxin.. sesuai janji yang di buat oleh Wang Fei.. Doxin datang untuk menjemput Wang Fei di penginapannya. Wang Fei yang melihat dari jendela penginapannya.. terlihat Doxin yang sedang berjalan menuju pintu penginapannya.. Wang Fei langsung turun dan menghampiri Doxin.. seperti biasa Doxin selalu tersenyum dan membungkukan badannya saat bertemu dengan Presiden Wang Fei.. namun Doxin sedikit terkejut karena respon dari Wang Fei.. Wang Fei tidak merespon Doxin yang saat itu membungkukkan badannya.. Wang Fei langsung berjalan menuju mobil dan tak acuh terhadap Doxin.
" apa.. presiden mengabaikankan ku?.. apa yang sebenarnya terjadi.. apakah Presiden mengalami masalah besar ?". Guman Doxin.
Doxin masih memikirkan tentang presiden Wang Fei yang tadi tidak merespon dirinya. Bahkan saat berkendara pun Doxin masih memikirkan tentang itu..
sampailah mereka di rumah Doxin. sebenernya rumah ini adalah rumah milik keluarga Wang. namun Wang Fei satu satunya keluarga Wang yang tersisa menyembunyikan identitas dirinya selama ini. akhirnya rumah ini di tinggali oleh Doxin. Turun lah Wang fei dan Doxin dari dalam mobil.
sesuai perintah dari presiden Wang Fei. Doxin membeli beberapa minuman alkohol untuk dirinya dan presiden Wang Fei.
Doxin yang saat itu ingin bertanya apa yang terjadi pada presiden Wang Fei tidak berani. Doxin hanya menyimpan rasa penasaran tersebut.
" Tuangkan minuman Untuk ku!". ujar Wang Fei..
Doxin langsung menuangkan minuman ke dalam gelas kaca dan memberinya kepada presiden Wang Fei.
Doxin dan Wang Fei mulai meminum alkohol itu. Hingga pada akhirnya Doxin dan Wang Fei dalam keadaan mabuk. Doxin yang dalam keadaan mabuk itu tiba tiba berani mengatakan rasa penasaran pada dirinya. " hey tuan Presiden.. kenapa kau tidak merespon ku waktu di penginapan mu.. apa kah kau tau.. aku memikirkannya hingga saat ini.. dasar bodoh ."
Wang Fei kemudian tertawa.. " hey sejak kapan kau pintar menyembunyikan rasa penasaran mu".
" Jawab lah bodoh.. aku tidak butuh ocehan mu ".
" apakah kau ingat tadi pagi aku menelpon mu?"
" tentu saja aku ingat.. kau pikir aku sudah pikun hah?"
" Tadi sore aku melihat seorang ibu yang memohon kepada aparat kepolisian untuk tidak menghukum anaknya supaya tidak di hukum mati.. lucunya anak dari kedua orang tua itu hanya mencuri sepeda motor.. ada apa dengan hukum di kota ini ".
Doxin yang saat itu sedang mabuk.. langsung sadar.. kalau presiden Wang Fei sedang tidak mabuk.. ia berkata dengan jelas dan jujur.
" Apakah kau merindukan ibu mu ? " Tanya Doxin.
" benar sekali.. entah apa yang terjadi pada diriku.. aku tiba tiba saja emosi.. aku lepas kendali saat aparat itu melakukan kekerasan kepada ibu anak tersebut."
Doxin saat itu menangis meneteskan air mata.. Wang Fei yang melihat Doxin menangis langsung memeluknya. " Maaf kan aku.. aku tidak bermaksud melukai hatimu ". ujar Wang Fei sambil mengelus - elus kepala Doxin.
" Ingatkah saat dulu keluarga ku di ajak kemari oleh keluarga mu. di situ dimana keluarga kita sangat bahagia." setelah mendengar perkataan Doxin Wang Fei langsung berdiri dan bersujud di kaki Doxin.
" maafkan aku.. gara gara keluarga ku.. ayah dan ibumu harus mati ". Wang Fei benar benar meminta maaf kepada Doxin. Wang Fei menangis dan terus bersujud di kaki Doxin.
" Tidak apa apa. kalau saja aku tidak pindah dari sini mungkin aku tidak akan mengenal dunia luar.. dan aku tidak akan bisa seperti sekarang ini."
" Tapi keluarga ku yang membuat ayah dan ibumu terbunuh...maaf Doxin." tangis Wang Fei semakin keras dan semakin erat memegang kaki Doxin.
Dulu.. saat keluarga Wang pergi jalan jalan ke Jepang.
__ADS_1
saat itu hari menjelang malam.. Dengan mobil sebuah mobil mewah.. Yang membawa keluarga Wang.. saat itu keluarga Wang habis pergi ke gunung Fuji.. ayah Fei alias Riyan mungkin lupa mengisi bahan bakar mobilnya.. hingga saat perjalanan pulang.. Mobil yang di pakai keluarga Wang kehabisan bahan bakar.. Di tengah antara Gunung Fuji dan kota.. pemandangan pinggir jalan hanya pohon dan pesawahan.. tidak ada satu rumah sekalipun..
turun lah ayah Fei alias Riyan dari dalam mobil.. Melihat sekeliling untuk mencari bantuan.. tidak ada orang sekalipun.. Dan semua keluarga Wang turun dari mobil.
Terlihat dari kejauhan Lampu sepeda motor terlihat.. Semua keluarga Wang melambaikan tangan untuk meminta bantuan kepada pengguna sepeda motor tersebut.. namun orang yang mengendarai sepeda motor tersebut tidak berhenti. wajar saja.. Waktu yang menjelang malam.. membuat khawatir pengguna Motor tersebut.. ia takut mungkin saja mereka menipu.. mungkin saja mereka Begal.. pikir pengendara sepeda motor tersebut..
Hari mulai gelap.. Fei yang saat itu berusia 5 tahun pun takut.. karna itu pengalaman pertama berada di negeri orang.. Terlihat sebuah lampu mobil dari kejauhan bercahaya.. Semua keluarga Wang melambaikan tangan berharap mobil tersebut berhenti untuk membantu.. Namun mobil tersebut hanya membunyikan klakson dan melaju lalang.. hari semakin gelap.. tiba tiba.. dari dalam pepohonan terlihat bayangan manusia berjalan menuju mereka.. untung saja saat itu keluarga Wang membawa senter.. di ambilah senter tersebut dari dalam mobil.. Dan ayah Wang Fei menyalakan senter tersebut dan mengarahkan kepada bayangan manusia.. terlihat seorang pria paruh baya berdiri.. yaitu ayah Doxin.
ayah Wang Fei : " Siapa kamu ?".. tanya ayah Wang fei
" wah kamu berbahasa Indonesia.. apakah kamu orang Indonesia ?.. tenanglah aku kesini untuk membantu" Ujar ayah Doxin.
" Maaf saya lancang.. saya terkejut tadi.. loh kok kamu bisa berbahasa Indonesia?.. apakah kamu juga orang Indonesia?." tanya ayah Wang Fei.
" Tinggalkan saja mobilmu.. pergi ke rumahku hari sudah mulai gelap.. kita lanjut ngobrol di rumahku saja." sahut pria paruh baya ( ayah Doxin ) tersebut..
karna hari sudah mulai gelap.. ayah wang Fei mengiyakan saja.. dan meninggalkan mobilnya di pinggir jalan..
"sini nak ibu gendong." ujar ibu Wang Fei..
Bermodalkan satu senter.. mereka semua berjalan menerobos pepohonan.. di tengah perjalanan ayah Wang Fei bertanya.
" maaf pak.. apakah benar rumah anda disini.. setahu saya di sekitaran sini tidak ada rumah sekalipun."
" ikuti saja aku pak.. rumah saya di depan.. bapak ga usah takut.. saya bukan hantu pak.." sahut pria paruh baya tersebut..
" apakah itu rumah bapak..?". tanya ayah Wang Fei..
" betul sekali.. maaf ya kalo rumah saya jelek.. di rumah saya tidak ada listrik.. saya dan keluarga hanya memakai lampu lentera saja pak.. maaf ya pak.. tapi itu saja yang saya punya." jawab pria paruh baya tersebut..
sampailah mereka di depan rumah gubuk milik pria paruh baya tersebut..
" pak.. apakah bapak sendiri di sini.. saya lihat hanya rumah bapak saja.. disini.." tanya ayah Wang Fei.
" betul pak.. saya menjauh dari kota.. karna saya tidak bisa bayar uang pajak bulanan pak..maaf pak kalo rumah saya seperti ini " jawab pria paruh baya tersebut.
" Saya ingin sekali seperti bapak.. walaupun bapak tidak punya apa-apa.. namun bapak masih mau membantu.." sahut ayah Wang Fei..
pria paruh baya tersebut hanya membalas dengan senyuman..
kreeaatt..!! suara pintu terbuka.. terlihat tangan yang mungil.. terlihat sosok anak kecil yang anggun dan cantik..
" ibu ayah pulang .." ujar anak kecil tersebut. anak kecil itu adalah nona Doxin.
setelah melihat orang yang bersama ayahnya anak kecil tersebut kabur ketakutan.. wajar saja.. rumah yang jauh dari kota.. membuat anak tersebut ketakutan melihat orang asing.
" maafkan Anakku.. dia belum pernah melihat orang asing.. mungkin dia ketakutan." ujar pria paruh baya tersebut..
__ADS_1
" tidak malah kami yang merepotkan." sahut ayah wang Fei..
Keluar lah seorang wanita dari dalam rumah gubuk.. Wanita tersebut adalah istri dari pria paruh baya itu..
" Wah.. ayah bawa tamu.. aduh maaf rumah kami seperti ini.. silahkan masuk pak ." ujarnya sambil membungkukkan badan...
" Hangat.. hangat sekali keluarga ini.." ujar ibu Wang Fei..
Keluarga pria baya tersebut hanya tersenyum..
keluarga Wang Fei masuk ke dalam gubuk milik pria paruh baya tersebut..
Dinding yang terbuat dari kayu.. dan atap rumah yang berlobang lobang.. sempit dan sederhana..
Namun keluarga Wang berasa berada dalam istana yang megah.. bukan karna inventori dan harta.. Namun kehangatan yang langka.. wajar saja mereka betah tinggal di tengah tengah pesawahan... kehangatan keluarga mereka.. mampu mengalahkan ramainya kota.. kemiskinan mereka jauh sekali dengan kerasnya kota..
" Maaf Bu kami hanya punya teh saja..kami tidak punya minuman yang lain ." ujar istri pria paruh baya tersebut.
" makasih Bu.. maaf saya merepotkan ibu dan keluarga" sahut ibu Wang Fei.
" Adek ganteng sini.. kamu tidur disini ya sama anak ibu" ujar istri pria paruh baya tersebut sambil mengelus elus rambut Wang Fei..
" Bapak belum menjawab pertanyaan saya.. bapak bisa berbahasa Indonesia.. apakah bapak orang Indonesia ?". ujar ayah Wang Fei..
menarik nafas dalam berkata pria paruh baya tersebut : " sebenarnya saya adalah orang Indonesia.. Saya pergi ke Jepang untuk kuliah.. suatu hari saya mendengar kabar bahwa pabrik keluarga saya kebakaran.. dan ayah saya meninggal dalam peristiwa itu.. saat itu adalah saat - terburuk saya.. saya tidak punya apa-apa.. tidak punya siapa-siapa lagi.. ibu saya meninggal di saat saya duduk di bangku SMA.. Saya tidak punya uang untuk pulang di Indonesia.. saya dulu hidup hanya memegang sebuah keyakinan.. dulu saya pernah tidak makan selama tiga hari.. mengambil makanan dari tempat sampah.. Mau bagaimana lagi.. saya tidak punya apa-apa untuk di jual.. mau bekerja saya tidak di terima..karna masih di bawah umur.. Dari emperan toko ke toko yang lainya..itu lah tempat saya tidur dulu.. dari tempat sampah ke tempat sampah lainya.. itu lah saya mencari makanan.. hidup bagaikan kuda.. dengan matanya tertutup namun dia yakin akan apa yang ia lakukan.. hingga suatu hari di musim salju.. aku bertemu dengannya.. saat itu keadaan saya tidak berdaya karena dinginnya salju.. dulu istri saya menolong saya yang tidak berdaya tersebut.. dia membawa saya ke rumahnya.. saat itu saya pingsan.. saya terkejut saat terbangun.. dalam pikiran saya.. apakah aku sudah ada di rumah.. aku ingin pulang.. aku tidak punya apa-apa disini.. itulah isi pikiran saya saat itu.. saya terkejut saat melihat seorang wanita mendekati saya.. saat itu saya membernya diri untuk bertanya.. " Siapa kamu..? " namun wanita tersebut hanya tersenyum dan menyuruh saya meminum segelas air hangat yang di bawanya.. Di situ saya sadar bahwa saya telah di tolong ya.. setelah meminum segelas air hangat yang di berikan wanita tersebut.. saya mengucapkan terimakasih karena telah menolong saya.. " Terima kasih nona Karena Telah menolong saya.. namun.. saya meminta maaf.. saya tidak punya apa-apa untuk membalas Budi kebaikan nona" itu adalah ucapan terima kasih serta maaf dari saya.. wanita tersebut menjawab " Sudahlah.. itu bukan apa-apa.. apakah kamu punya tempat tinggal ?." saya seketika terdiam.. saya berpikir.. apakah yang harus saya katakan.. namun wanita tersebut berbicara lagi " kalau kamu tidak punya tempat tinggal.. tinggal lah di sini bersamaku..". saat itu saya seakan melihat sebuah bidadari di hadapan saya.. terdiam dan tidak bisa berkata.. seakan semua kesakitan selama ini yang saya rasakan menghilang.. seakan saya melihat sebuah cahaya dalam kegelapan.. namun setelah saya menginap di rumahnya selama satu Minggu.. tiba " kerumunan orang datang ke rumah wanita Tersebut.. Mereka semua menuntut saya dan wanita tersebut Alias istri saya untuk menikah.."
" bukan kah dulu anda tinggal di kota.. dan istri anda mempunyai pekerjaan tetap.. lantas mengapa keluarga anda pindah kesini ?" tanya lagi ayah Wang Fei..
ayah Wang Fei kira Pria paruh baya tersebut tidak akan menjawab.. karna ia hanya tersenyum.. namun dia menghela nafasnya dan berkata
" karna saya bukan orang asli di kota ini.. di situlah saya menjadi buron.. namun.. istri saya yang baru saja menikah dengan saya rela meninggalkan semua jabatan dan hartanya demi saya.. saya rasa itulah balasan dari semua penderitaan yang saya alami saat ini.. dia belum pernah mengeluh dari dulu keluarga saya pindah ke sini hingga sekarang . ujar pria paruh baya sambil tersenyum..
Saat itu Doxin tidak tahu siapa pria yang sedang mengobrol dengan ayahnya.. Doxin yang sedang mengintip dari balik pintu kamar di kaget kan oleh ibunya..
" Nak.. sedang apa kamu .? " tanya ibu Doxin..
Doxin hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya..
" Malam ini kamu tidur sama teman baru kamu ya ." Ujar ibu Doxin.. sambil mengelus kepala Doxin..
Dengan wajah polosnya Doxin melirik ke arah ibunya dan mengangguk kan kepala nya..
" Nak Fei sini.. Malam ini kamu tidur dengan anak ibu ya.. maaf ya nak kamarnya tidak seperti di rumahmu". ujar ibu Doxin dengan senyum..
Sampai ke esok kan paginya.. ayah Doxin pergi ke kota untuk membeli bensin untuk keluarga Wang. saat itu lah keluarga Wang mengajak Keluarga Doxin pergi ke Indonesia untuk tinggal bersama. Karena kebaikan dari keluarga Doxin. keluarga Wang mengajak Keluarga Doxin untuk tinggal secara gratis. bahkan semua biaya pesawat keluarga Wang yang membayarnya.
keluarga Wang menawarkan mereka untuk tinggal bersama.. dan mereka tidak perlu kerja lagi. mereka di tugaskan untuk mengurus Wang Fei. dan keluarga Wang juga menawarkan sekolah untuk Doxin sampai ia lulus nanti. Keluarga Wang juga menambahkan nama keluarga Doxin sebagai pemilik kekayaan nya..
__ADS_1
Ayah Doxin yang dari dulu ingi pulang ke Indonesia akhirnya mau dengan tawaran mereka. Mereka semua berangkat dan meninggalkan Rumah sederhana milik keluarga Doxin.