
Hati Wang Fei yang sangat bahagia karena kemenangannya. Begitu juga dengan keluarga Kudo yang akhirnya bisa bekerja sama dengan perusahaan yang paling terbaik di kota, yaitu perusahaan Wang.
Wang Fei tersenyum saat hendak memasuki apartemen keluarga Kudo. Rindunya selama ini akhirnya terobati.
" Rann.. aku datang " ujar Wang Fei sambil melangkah masuk ke dalam apartemen.
" Kreaatt " Suara pintu terbuka.
" Riyan .. " Teriak Rann sambil berlari ke arah Wang Fei
Wang Fei yang terkejut karena istrinya Rann tiba tiba lari dan memeluknya. Ia mengingat kejadian sebelum dirinya di usir dari keluarga ini. Wang Fei mengingat bagaimana istrinya dulu memperlakukan dirinya, dulu ia di perlakukan seperti babu. bahkan tidur pun Mereka tidak pernah bersama. Wang Fei selalu mengerjakan semua pekerjaan rumah. sedangkan istrinya bekerja di perusahaan ayahnya. dulu istrinya yang tau mau sama sekali memeluk dirinya, Jangankan memeluk memegang tangannya saja masih kena marah.
Tapi apa yang terjadi sekarang.. kenapa tiba-tiba istriku Rann memelukku.
" Aku merindukanmu suamiku ". Ucap Rann sambil menangis di pelukan Wang Fei.
"Hah.. entah apa yang sebenarnya terjadi selama ini. ini pertama kalinya aku di panggil suami oleh istriku sendiri, dan juga tadi Rann berkata apa ?.. rindu apa yang sebenarnya terjadi.. apapun yang terjadi aku tidak perduli, aku bahagia sekali saat ini detik ini "
Sudah lama sekali sejak Wang Fei di usir dari keluarga Kudo. Banyak sekali perubahan, Yang utama adalah perubahan Rann.
" Untuk hari ini.. aku sangat bersyukur Tuhan. terimakasih aku sangat bahagia, Bahkan aku merasa aku adalah orang paling bahagia untuk saat ini. "
__ADS_1
" Tok tok tok.. presiden permisi ".
" Maaf nona.. apakah nona mencari seseorang ? ".
" iya Bu.. tapi ibu ini siapa yah ?"
" Aku pemilik Rumah kos ini nona, apakah nona mau menyewa atau ada keperluan lain? "
" Maaf Bu . saya ingin bertanya.? Kemana perginya penghuni kos ini Bu ?. "
" Maksudmu nak Riyan, dia sudah pergi sejak tadi pagi, dia juga sudah membayar semua biayanya, ini kunci kosnya sudah ada pada saya nona."
" Eh.. Astaga dasar presiden, datang secara tiba-tiba pergi juga tanpa pamit. " Guman doxin dalam hati.
" maafkan aku Bu, aku lupa memperkenalkan diri padahal tadi ibu sudah memperkenalkan diri ibu , Nama saya Doxin Bu, dan saya temannya Riyan. "
" Oh kamu nona Doxin. sebentar dulu nona, sebelum pergi nak Riyan menitipkan barang kepada ibu, ia juga mengatakan berikan barang ini kepada orang yang bernama Doxin. "
" Arghh ... sepertinya aku tidak usah mengawatirkan orang seperti dia " Ujar Doxin dalam hati.
" ini nona barang barangnya . "
__ADS_1
" Hah.. sebanyak ini.. Sepertinya aku benar benar sudah di bodohi oleh presiden. "
" Anak muda jaman sekarang memang manis. ya sudah ibu pergi belanja dulu nona."
" Baik Bu.. terimakasih ".
" yosh.. sepertinya aku akan sibuk di rumah kali ini ". ujar Doxin sambil menghela nafas.
Seminggu berlalu setelah presiden Wang Fei kembali kekeluargaan Kudo. Hari-hari bahagia masih berlalu. Rann dan Riyan masih tertawa bersama, Rindu yang begitu berat, rasa bersalah yang begitu besar akhirnya semua terbayarkan. Senyuman masih terukir, rasa bersalah kian berkurang bahagia terus bertambah.
" Plakkk " suara tamparan begitu keras.
" apakah kamu bodoh.. lihatlah karena perbuatan dirimu lihatlah apa yang sudah terjadi.. dasar anak bodoh ." Shinchin berkata dengan marahnya.
" Bukan begitu ayah.. aku tidak bermaksud seperti itu. Habisnya nona Doxin Begitu cantik, Dan badannya begitu seksi apakah ayah tidak tertarik dengannya ?. " ujar Ryder memohon kepada ayahnya.
" PLakkk ".. Tamparan keras mengarah ke wajah Ryder.
Orang yang ada di ruangan itu seketika terdiam hening. semua orang terkejut dengan apa yang terjadi.
" Ehhh.. apa yang aku lakukan... kenapa aku menamparnya.. apa yang terjadi padaku. kenapa aku begitu marah ketika orang lain melihat Doxin dengan tatapan mesum. Doxin sudah ku anggap sebagai adikku, tidak bahkan dia keluarga ku satu satunya. " ujar Riyan dalam hati.
__ADS_1
" Dasar menantu tak tahu diri.. Apa hak dirimu menampar anakku, kamu disini hanyalah seorang babu. kamu diterima kembali disini untuk menjadi babu, Berani sekali kau menampar anakku, Sekarang kau pergi dari rumah ini. angkat kakimu sekarang."
Wang Fei kira deritanya sudah berakhir. ia sudah di hormati di keluarga mertuanya. namun kini semua hilang karena kesalahannya sendiri. Dirinya mengira semua deritanya sudah berakhir. namun ternyata Belum Berakhir.