
Disebuah pertemanan pasti ada yang berniat baik dan ada juga yang berniat buruk, lalu bagaimana yang sedari awal sudah merencanakan hal demikian? Apakah hubungan pertemanan tersebut akan berjalan rukun? Dan bagaimana jika pelaku nya lebih dari satu? Pasti akan sangat sulit untuk menebak dan hanya akan menimbulkan hancurnya hubungan pertemanan.
Dan mungkin itulah yang para pelaku inginkan.
Kesimpulan nya, jangan mudah percaya begitu saja dengan teman atau bahkan sahabat mu sekalipun, kita tidak tahu pasti apa yang dia atau mereka sembunyikan.
Disini kepercayaan diri sangat dibutuhkan, atau kau akan terjerat kedalam nya, dan mungkin kau akan menjadi korban untuk kesekian kalinya.
Jangan menyesal telah bergaul dengan mereka, mereka semua memang memakai topeng diawal namun akan berangsur angsur terbuka dengan sendirinya, dan sifat aslinya akan terungkap.
(☞゚ヮ゚)☞
"Ekanta, emang lu pernah liat dia ngelakuin hal licik kayak begitu ke Gion?" Tanya seorang pemuda yang kini tengah melahap makan siangnya sedang bertanya kepada temannya yang ia sebut Ekanta itu
"Iya, dia ngejek Gion dibelakang nya, Untung aja gue liat kelakuannya waktu itu" balas pemuda bernama Ekanta tersebut dengan raut sinis, seperti kenapa temanku ini tidak percaya?
"Kalo dipikir-pikir si Kenan emang kegitu anaknya, suka julid tapi yaa.. jangan dimasukin hati lah" balas Pemuda lawan bicara Ekanta
"Ch, terserah lu ah, gue mau balik ke kelas udah kenyang" kata Ekanta lalu melenggang pergi meninggalkan temannya itu dikantin.
"Keras kepala banget sih tu bocah, udah gue bilang Kenan itu emang suka julid cuman dianya aja baperan" gumam pemuda tersebut masih setia menghadap sebuah piring berisi nasi goreng yang masih termakan setengah.
"Hanan!..." Teriak seseorang dari belakang berhasil membuat pemuda tersebut kaget dan langsung menghadap belakang, dilihatnya seorang pemuda tengah berjalan pincang menghampiri nya.
"Dion, kaki lu kenapa? Kok lu jalan nya begitu?" Tanya Hanan kepada pemuda yang ia sebut Dion itu.
Hanan dan Dion sudah duduk di kursi kantin, Dion terengah-engah sembari menyeruput air putih yang ada dimeja itu.
"Dion jawab" kata Hanan mulai tegas karena Dion mengabaikan nya sedari ia datang.
"Gue... Abis berantem sama... Jian" balas Dion dengan menundukkan kepalanya.
Hanan menghembuskan nafas lelah. "Dion, lu buat masalah apa lagi sih sama dia hah? Lu gaada kapok-kapoknya berantem sama tu anak"
"Dih, kata siapa? Orang dia duluan yang mulai" balas Dion dengan sinis.
"Emang kenapa?" Tanya Hanan mulai kepo.
"Tadi Jian sempet ngejek gue waktu di taman deket kelas 11 IPA 2 dan lu tau kan kalo gue ankanya mudah kepancing jadinya gue berantem sama dia, dan untungnya gaada guru yang tau" jelas Dion.
"Tapi dia temen kita Dion, lu gaseharusnya bersikap dan berperilaku kegitu ke temen Lo sendiri" ujar Hanan.
"Teman? Lu lupa dia pernah bunuh Fanza? Gue gak nganggep dia temen setelah kejadian tersebut, dasar pembunuh gak punya otak" jawab Dion dengan smirk nya yang terlihat jahat.
"Kita gatau apa maksud dan tujuannya bunuh Fanza. Dion, gue harap Lo gak usah deket-deket Jian dulu apalagi sampe buat masalah sama dia, gue takut Dion" ujar Hanan mulai resah.
Dion menatap manik sang sahabat, enggan untuk membalas, dia berfikir sahabat nya ini peduli dan sayang dengannya jadi takut jika dia kenapa-kenapa.
"Ya.. gue bakal coba, makasih" balas Dion pada akhirnya.
"Kalo dipikir-pikir apa tujuan Jian bunuh Fanza? Apa mereka ada dendam?" Tanya Hanan.
"Yagatau, gue juga gatau apa-apa tentang hubungan mereka yang membuat Fanza tewas, tapi gue yakin kalo yang bunuh dia itu si Jian" balas Dion yakin.
"Karena Jian nyembunyiin pisau bercak darah? Ch.." ucap Hanan dengan tawa yang menyusul dibelakang.
__ADS_1
"Iyaa... Sebelum Fanza tewas juga hubungan mereka udah koyak dan ga rukun kan, ya udah jelas lah kalo pelakunya si Jian" jelas Dion dengan yakin nya.
"Lalu kenapa Jian gak ditangkap aja waktu itu?" Tanya Hanan dengan polosnya.
"Ya lu mikir lah bego, waktu itu dia masih umur 16 tahun, belum bisa dipenjara" balas Dion.
"Hanan, lu lupa ingatan apa gimana sih? Kok lu kayak lupa sama kejadian setahun yang lalu?" Lanjut Dion mengganti bertanya.
"E-em?.. enggak gu-" balas Hanan terpotong karena tiba-tiba Dion menyela jawabannya. "Lu mencurigakan"
(ノ゚0゚)ノ→
"Malv... Lu tau nggak tadi gue sempet liat si Jian berantem sama Dion didepan kelas 11 IPA 2, mana gaada yang ngelerai lagi, gue juga gaberani kalo udah bersangkutan sama si Jian" ujar Kenan kepada teman yang ia panggil Malv yaitu panggilan nya ke Malvin.
"La terus siapa yang menengahi?" Tanya Malvin yang masih sibuk dengan gamenya, tampak acuh dengan sang lawan bicara.
"Gatau, tapi tadi mereka langsung udahan pas ada segerombol anak 11 IPA 1 dateng" balas Kenan.
"Bukan urusan gue Kenan, Dion bukan temen gue lagi" kata Malvin yang malah semakin sibuk dengan gamenya.
Kenan semakin kesal, dia pikir teman sekelasnya ini berpihak kepadanya namun malah berpihak pada Jian.
Perlu diketahui, Malvin dan Kenan itu satu kelas yaitu kelas 11 IPS 3. Dan Hanan, Dion dan juga Ekanta kelas 11 IPS 1. Kelas mereka memang berjauhan.
Perihal kenapa beberapa dari mereka tidak menganggap teman adalah karena peristiwa satu tahun yang lalu dimana teman mereka Fanza ditemukan tewas di kamar mandi belakang, disitulah hubungan pertemanan mereka mulai goyah, dimana mereka sedari awal sudah bersahabat ber delapan, namun kini hanya ber tujuh saja.
Usut punya usut Dion mencurigai Jian sebagai pelakunya karena dia melihat pisau bercak darah berada di kantong celananya, disitu Dion berfikir bahwa Jian yang membunuh Fanza.
Circle mereka pun bubar namun masih berkelompok. Kenan, Gion dan Dion berpihak pada kebenaran bahwasanya pembunuh Fanza adalah Jian.
(\=`ェ´\=)
Seperti dihari-hari biasa masuk sekolah, para siswa-siswi masuk sekolah guna mencari ilmu. Sebuah pagi yang cerah dimana sinar matahari terlihat menyenangkan dan juga langit biru yang indah. Namun hari ini sepertinya bukan hari yang menyenangkan bagi Dion.
"Akh.." rintih pemuda yang kini sudah tersungkur ke lantai setelah badan nya tak sengaja tersenggol oleh anak yang berpapasan dengannya di lorong sekolah.
"Kalo jalan pake mata dong anj, Lo cari masalah lagi hah?!" Kata pemuda yang berada diatasnya.
"Eh, lu yang seharusnya hati-hati, udah tau ada orang malah ditabrak, tolol" balas pemuda itu tak terima.
"Dion, gue capek berurusan sama Lo, jadi sebaiknya Lo minggir atau gue hajar" kata pemuda diatas.
"Terserah gue lah, orang gue gak salah Lo yang cari masa-"
Bugh...
"Ini masih pagi ya anj, gue gamau bikin masalah!.." kata pemuda yang memukulnya.
"Jian, Lo bisa nggak sih jangan baperan gini hah? Lo itu kalo salah akuin kesalahan Lo, jangan kayak begini" kata Dion yang mengusap luka nya di bagian pipi.
"Lo yang cari masalah Dion, kenapa Lo nuduh gue sebagai pelaku pembunuh nya si Fanza? Bukan gue orangnya" geram Jian.
"Jian, gue gak bilang Lo pembunuh nya Fanza, kenapa Lo ngaku-ngaku?"
(☉。☉)!→
__ADS_1
"Gi, lu paham gak apa yang tertulis disini?" Tanya Kenan kepada Gion setelah menemukan secarik kertas ada di dalam loker nya.
"Emang apa isinya?" Gion kembali bertanya namun disambut baik oleh Kenan dan segera membalas nya.
"Clue: hitung garisnya,
1+1\=6
1+4\=8
2+4\=8
Maksudnya gimana sih ini?" Kata Kenan membaca tulisan yang ada di kertas.
"Kalo dipikir secara matematis ini salah, gaada 1+1\=6" balas Gion.
"Laiya, makanya gue bingung" kata Kenan sembari menggaruk tengkuknya bingung.
"Tapi disini tertulis, clue nya hitung garisnya, disini kan ada 1+1\=6 berarti yang bergaris itu 1 dan 1 lalu tambahnya juga dihitung dan sama dengannya juga jadi hasilnya 6" jelas Gion.
"Em bisa jadi sih, lu kok paham sih? Otak gue ngelag" kata Kenan.
"Emang siapa sih yang buat kek gini? Kurang kerjaan banget" ujar Gion.
"Gatau, gue nemu ini di loker gue" balas Kenan tanpa ragu, dia tidak berbohong tentang yang ia ucapkan.
"Apa ada hubungan dengan sesuatu? Gue mikirnya begitu, tapi apa?" Tanya Gion dengan raut muka penasaran.
"Emang ini bersangkutan sama apa gitu? Kayaknya enggak ada deh" balas Kenan.
"Atau mungkin ini cuman teka-teki biasa yang dibuat orang iseng" kata Gion.
"Sebentar, ini bukan cuman satu pertanyaan tapi disini ada tiga, 1+4\=8 dan 2+4\=8, otak lo bisa nggak cerna ini semua?" Ujar Kenan bertanya.
"Kita bisa hubungin apa yang terjadi saat ini sama apa yang tertulis disini. Maksud gue tuh kita kan berteman berdelapan dan satu pergi, kalo 1+1\=6 bisa jadi pelaku nya ada 2, sedangkan yang 1+4\=8, dan 2+4\=8 bisa jadi yang 8 itu jumlah kita yang dulu atau sebelum kejadian tersebut terjadi" jelas Gion dengan otak lancarnya.
"Tetep aja lah anjg gue gak paham" kata Kenan frustasi.
"Hadeeh... Kita kayak detektif anjay" sahut Gion dengan tawanya diakhir kalimatnya.
"Tapi kira-kira apa ya? Apa ini tuh cuman iseng atau emang ada maksud dan tujuannya?. Tauah gue bingung" ujar Kenan lalu melipat secarik kertas tersebut menjadi kecil lalu memasukkan nya lagi kedalam lokernya.
ƪ(‾.‾“)┐
"Dion, lu abis ngapain sih kok babak belur begitu? Cari masalah lagi sama Jian?" Sambut Hanan saat melihat kedatangan Dion sedang memegangi rahang sebelah kanan nya.
"Biasa, si ajg" balas Dion enteng lalu duduk di sebelah Hanan.
"Lo yang cari masalah apa Jian dulu yang cari masalah?" Tanya Hanan kembali.
"Dia gak sengaja nabrak gue pas di lorong, gue malah ditonjok, kampret ajg" balas Dion, matanya terpejam karena merasakan sensasi perih di bagian rahang sebelah kanan.
"Ini gabakal kejadian kalo Lo gak cari masalah duluan" ucap Hanan.
"Terserah lu ah, Lo kan sepihak juga sama si Jian, gausah sok baik Lo sama gue, yang ada Lo jadi infiltran" kata Dion lalu melenggang pergi sembari memegangi rahang sebelah kanan nya, berjalan sempoyongan kearah kelasnya.
__ADS_1
Apakah kata Dion tadi ada benarnya? Sebuah infiltran dari pihak lain yang ikut campur dengan pihaknya? Hanan baik or jahat?