
Di sisi lain Jian sedang menelusuri ruang seni yang berada di gedung sebelah. Ia menemukan petunjuk.
"Ini gue gak salah ruangan kan? Ini ruang seni kan?" Gumamnya seraya membuka pintu ruangan yang ia pikir adalah ruang seni.
"Anjr, kotor banget, perasaan dulu gak kayak begini deh" katanya yang tak sengaja membuka suara agak keras.
Gedung ini kosong tidak ada orang lain selain dia seorang. Gedung se besar ini hanya digunakan saat ada event atau acara-acara tertentu, jelas saja gedung ini terbengkalai.
"Gue disuruh ngapain tadi?" Gumamnya bingung.
Jian terus menjelajah dan sesekali membuka pintu-pintu yang berada disana, berharap sesuatu yang ia cari ketemu.
"Tapi masa sih ada buku diary nya Fanza disimpen disini? Bukannya di rumah ya?" Gumamnya sembari menggeledah lemari yang ada di ruang sekretariat.
Ketika sedang asik menggeledah, tiba-tiba saja Jian tersentak kaget karena suara pintu yang dibuka. Ia tahu jika seseorang sedang memasuki gedung ini karena juga ia berada di ruang sekretariat yang letaknya tak jauh dari pintu depan.
"Loh, siapa yang baru aja masuk? Kok pintu ruang seni terbuka?" Tanya seseorang itu yang kedengarannya sedang berjalan ke ruang seni.
Dengan sigap Jian menutup pintu ruangan dan menguncinya dari dalam, ia takut ada yang memergokinya sedang berada disini dan tidak mengikuti pelajaran. Ya, Jian bolos walau masuk sekolah ia tidak mengikat pelajaran.
"Ck, ruang sekretariat kok di kunci sih? Mau ada rapat ini kok malah dikunci, eh, kok dikunci dari dalem?" Tiba-tiba ada suara di depan ruangan yang Jian tempati untuk bersembunyi.
*Anjng, gimana nih? Mau ada rapat tapi gue gak bisa kemana-mana, ketauan pasti nanti* gumam Jian merutuki diri nya yang dengan bodohnya mengikuti apa yang disuruh kertas itu.
__ADS_1
Flashback...
Jian dan Eka sedang berjalan-jalan di sekitar sekolah karena jam kos di awal pelajaran, setelah mereka ke kantin Jian memutuskan untuk mengajaknya berjalan-jalan.
Tiba-tiba Eka penasaran dengan apa yang ia temui saat berjalan, seperti se tetes darah yang kelihatan baru di tanah.
"Ji, ini darah kan?" Tunjuk Eka ke tanah yang ia maksud.
"I-iya, darah apaan woe?" Balas Jian yang balik bertanya.
"Ayo ke kiri, firasat gue kok aneh ya"
Setelah berhasil berjalan separuh jalan Eka tiba-tiba tersentak saat melihat seseorang yang terbaring lemah di bawah pohon Pinus.
"Ji, Ji.. apaan itu? Dia masih hidup kan? Kok tiduran di tanah?" Tanya Eka yang mulai panik, masa yang ia temui mayat?
"Aaaahmp.." teriak Eka yang lalu di bekap oleh Jian yang reflek karena kaget.
"Ka, jangan bikin gue tambah panik, ini Gion, Gion temen kita" usai mengucapkan kalimat tersebut Eka tumbang.
Tak tahu apa yang akan ia lakukan karena saking paniknya, ia memutuskan untuk duduk di samping pohon yang satu dan membelakangi mayat tersebut. Merenungi apa yang telah terjadi, sungguh buruk.
Jian tak berdaya untuk melakukan apapun, kakinya lemas, jantung berdetak kencang, tubuhnya seakan di tahan disana dan tidak di izinkan untuk kemana-mana. Namun syukurlah Malvin menelepon nya lebih dulu, langsung deh ia keluarkan unek-unek nya.
__ADS_1
"Setelah selesai menelepon, sebuah kertas mendarat tepat diatas kepalanya, reflek ia menangkapnya dan membuka.
Sebuah diary yang di sembunyikan oleh anggota OSIS yang kini terbunuh berada di dalam gedung tersebut
"Hah? Anggota OSIS yang telah terbunuh? Fanza maksud Lo?" Tanyanya sendiri.
"Oh iya Fanza kan dulu anggota OSIS. Oke lah bakal gue cari selagi itu bisa dan kalo ketemu juga bisa mempermudah penyelesaian kasus" lanjutnya lalu beranjak pergi ke gedung sebelah.
Tak lama Malvin, Hanan dan Kenan datang mendapati mayat Gion dan tubuh Eka yang terbaring di atas tanah.
Flashback off
"Huh... Hampir aja ketauan" gumamnya yang sedang berhenti berlari dari ruang sekretariat, kini ia berada di lorong.
"Tapi sialnya gue gak ketemu apa-apa, gue harus cari kemana lagi? Oh ya ruang OSIS" katanya yang lalu mengendap-endap menuju lorong yang akan membawanya kesana.
"Ya seharusnya kita bikin event ini buat adek kelas nantinya, secara ini event yang baru jadi kita harus mempelajari dahulu"
Reflek Jian langsung berhenti dan menutup mulutnya, ia sudah sampai di depan ruang OSIS namun kelihatannya anak OSIS sedang rapat juga.
Jian tak punya pilihan selain berada di gedung ini lebih lama lagi, jika ia keluar dan masuk kelas di jam pelajaran yang ada ia akan di hukum karena tidak masuk kelas saat jam pelajaran. Tentu Jian tak sebodoh itu.
Kembali ia ingat dengan ruangan tak berpenghuni yang berada di paling ujung yaitu ruang teater yang luasnya bukan maen.
__ADS_1
Disana ia bisa tiduran karena ada banyak kursi yang terpampang dan tak di rubah setelah acara tiga bulan yang lalu.
"Ah... Semoga tu buku bisa cepat keemu biar mempermudah penyelesaian kasus" katanya sembari membaringkan diri di kursi teater yang sudah berselimut kain.