
Selama ini tidak ada yang menyadari kejadian barusan, dan tak ada yang merasa kehilangan seseorang diantara mereka. Membuat sang pembuat gaduh tadi merasa senang karena tidak ada yang melihat, mendengar, dan sekedar tahu.
"Emm.. ada yang tahu dimana Gion?"
Nah ini baru ada yang sadar ternyata.
"Gatau, gak masuk sekolah mungkin hari ini" balas Malvin cuek, ia tengah serius dengan buku sosial miliknya.
"Tapi tadi dia sempet chat gue kalo nanti jam istirahat pertama mau ngajakin gue ketemuan di kantin belakang, masa sih dia ingkar janji dan gak masuk sekolah?" Ujar Hanan yang kebingungan.
"Mungkin ada acara mendadak jadi gabisa kabarin" sahur Kenan yang tiba-tiba saja berada bersama mereka.
"Lu jangan kayak hantu bisa gaksih Ken, gue jantungan mulu setiap ada Lo. Kata-kata Lo itu pasti buat gue tagang dan merinding, apalagi kehadiran Lo yang ngaget-ngagetin" ucap Malvin yang kini memegangi dadanya seraya mengatur napas.
"Hehe maap" balas Kenan dengan kekehan kecil.
"Tumben Lo baru Dateng, biasanya Dateng pagi" kata Hanan.
"Ya karena gue kebangun agak siangan, tadi malem begadang soalnya" balas Kenan lalu duduk di kursi yang masih kosong, bergerombol dengan ketiga temannya.
"Btw Ekanta sama Jian kemana?" Tanya Malvin membangun lagi percakapan.
"Gue tadi liat mereka berdua di kantin depan, lagi sarapan sama ngobrolin sesuatu gatau, soalnya gue gak denger" sahut Kenan.
"Kenapa gak Lo ajak aja kesini? Kantin belakang lebih luas kita bisa ngobrolin semuanya disini" sahut Hanan.
"Gue lewat loh gak pada gubris gue, keknya lagi serius banget sampe gak memperhatikan sekitar" balas Kenan yang kini menyedot teh hangat yang ia pesan ke ibu kantin barusan.
__ADS_1
"Telpon gih, kita gak boleh jauh-jauhan di keadaan begini, takut-takut ada hal yang kalian sembunyikan" ujar Hanan yang berhasil membuat ketiganya menatapnya.
"Duh Lo bilang begitu gue jadi was-was Han, yaudah gue aja yang nelpon Jian" kata Malvin lalu mengeluarkan ponselnya dan memanggil Jian dari sambungan telepon.
"*Wah beruntung Lo nelpon gue duluan, gue gak berani nelpon seseorang sekarang, tangan gue gemeter, Eka udah pingsan duluan*"
"Hah?! Apa yang Lo omongin? Kok... Sus?"
"*Lebih jelasnya Lo sama yang lain ke gedung belakang sekolah yang bertingkat itu, kalo bisa lari yang kenceng dan hampirin patokan pohon Pinus, disitu ada hal yang buat Lo meremang*"
"Ji... Jangan-jangan..."
"*Iya. Udah ayo buruan biar lebih cepet di proses*"
"O-oke"
Sambungan telepon pun terputus dengan Malvin yang menatap kosong ponselnya, masih tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"A-ayo ke gedung belakang sekolah yang bertingkat itu dan hampirin pohon Pinus disana!"panik Malvin yang seakan memaksa mereka untuk berdiri dan berlari.
"Malv, jelasin dulu jangan main tarik-tarik!" Kata Hanan dikala tangannya di remat kuat karena ia tak kunjung bangun dari tempat duduknya.
"Gi-gion... Buruan... Hiks..."
"Jangan nangis, yaudah oke ayok"
Mereka berlari dengan kencang dan tak menghiraukan orang-orang sekitar yang menatap mereka penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Pohon Pinus yang mana?" Tanya Kenan yang kini mulai masuk belakang gedung dan mendapati pohon Pinus berjejeran namun dengan jarak yang lumayan.
"Yang ada Jian nya, dia nunggu kita disitu" balas Malvin.
"Eits... Tunggu, disini gak ada orang selain kita. Jangan-jangan kita di jebak?" Kata Hanan yang kini berhenti.
Ucapan Hanan barusan juga membuat Kenan dan Malvin berhenti. Malvin kebingungan, "hah? Jelas-jelas tadi gue telpon Jian dan dia bilang disini nemuin Gion, bahkan cara bicaranya aja ketakutan. Gak mungkin sih dia bohong"
"Inget Malv, siapapun bisa jadi pelaku jadi Lo harus tetep hati-hati dan jangan mudah percaya" balas Hanan.
"Jadi gimana ini?" Tanya Kenan yang tiba-tiba jadi nyamuk.
"Kita lanjut telusuri sampe ketemu mereka, jalan santai aja dan kalo kita nemu jangan bilang siapa-siapa atau pihak sekolah, kita bawa dia ke rumahnya" sahut Hanan.
"Oke lah nurut" balas Kenan
Yang mengira belakang gedung sekolah ini tidak luas itu salah, di sekolah ini terdapat dua gedung yaitu gedung pertama yang berada di kanan gerbang masuk adalah gedung lab dan praktek juga terdapat aula dan ruangan-ruangan seperti ruang musik, ruang teater dll. Dan gedung yang berada di tengah adalah gedung tempat mereka belajar, diisi dengan kelas-kelas, perpustakaan dan ruang guru. Sedangkan yang berada di kiri itu adalah parkiran.
"Guys, itu kok ada dua sih? Bukannya Gion doang ya? Parah banget dua langsung di embat" kata Kenan.
"Astaga, gue gak bisa liat darah" ujar Malvin lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Eka, oh dia pingsan bukan koid" ucap Kenan saat memegangi tubuh mereka berdua yang terkapar di tanah bawah pohon Pinus.
Hanan menatapnya sendu, korban ketiga? Rasanya baru saja ia kehilangan Fanza dan Dion sekarang orang yang cerdas seperti Gion harus menjadi korban ketiga.
"Malv, kata Lo Jian kan yang bilang dan suruh nunggu di sini? Jian kemana?" Tanya Hanan yang mulai sadar akan kondisi sekitar.
__ADS_1
"Emm, gatau juga tadi dia nyuruh kita kesini tapi dia malah gaada. Bentar gue telpon dulu" balas Malvin lalu berbalik memunggungi jasad yang terkapar tak bernyawa di tanah itu dan langsung membuka sambungan telepon.
(●´⌓`●)