
Mereka sudah membawa Gion ke rumahnya dan menjelaskan dengan baik-baik apa yang sedang terjadi kepada keluarganya.
"Memangnya kalian ada masalah dengan seseorang? Jika iya seharusnya kalian selesaikan dengan baik-baik bukan seperti ini" kata sang ibunda Gion.
"Kita gak tahu siapa pelakunya jadi kami tidak bisa asal menyimpulkan dan menuduh, Yang ada kita akan bermusuhan dan berpisah. Lebih baik kita selidiki bersama-sama" balas Hanan.
Sang ibunda Gion hanya bisa menghembuskan napas pasrah, anak bungsunya sudah meninggal karena dibunuh, tidak bisa mengulang nya kembali.
"Yasudah makasih sudah mau membawanya kesini, terimakasih sudah mau menjadi teman yang baik untuk Gion" kata ibunda Gion.
"Iya Tante, nanti kita kesini lagi setelah pulang sekolah" balas Hanan lalu berpamitan kembali ke sekolah lagi.
Tanpa basa-basi lagi mereka segera berlari menuju kendaraan mereka yang berada di depan rumah Gion.
"Eka, lu udah mendingan kan? Bisa masuk sekolah lagi? Atau gue anterin pulang biar Lo istirahat?" Tanya Hanan kepada Eka.
"Gue mau sekolah, ngapain pulang toh di sekolah juga nyantai" balas Eka lalu duduk dahulu di bangku belakang motor Kenan.
"Ka, lu tau Jian kemana nggak? Soalnya tadi pas kita temuin Jian gaada di lokasi kejadian" tanya Kenan.
"Enggak tahu, soalnya pas Jian balik tubuh Gion yang udah berdarah-darah gue langsung pingsan dan gak tahu kelanjutannya" balas Eka apa adanya.
"Ya udahlah nanti di sekolah aja kita carinya, palingan juga Jian masih disana kemana gitu" kata Malvin yang sudah siap diatas motornya dengan helm yang terpasang di kepalanya, artinya ia ingin pembicaraan usai.
"Yaya"
( ͡°ᴥ ͡° ʋ)
"Duh, ruang OSIS kok panas banget ya, AC nya mati kali, au ah..." Gumam Jian kala ia menggeledah kembali ruang OSIS yang kini sudah tak dipakai untuk rapat.
"Loker nya Fanza sebelah mana sih? Gue gatau soalnya gak pernah ikut dia maupun Hanan kesini" katanya lagi sembari mengobrak abrik setiap loker yang ia bisa buka. Tenang, ia akan memberesinya nanti.
Tanpa ba-bi-bu, ruang OSIS dibuka dengan keras membuat Jian yang berada di dalam tersentak kaget.
__ADS_1
"Jian? Ngapain Lo disini? Dicariin guru kelas lu tuh" ujar seseorang yang baru saja masuk ruangan.
Jian gelagapan di buatnya, banyak berkas dan dokumen yang berantakan ia takut jika siswa itu melapor.
"G-gue disuruh... A itu apasih namanya..." Bingung Jian sembari berfikir alasan yang cocok.
"Jian, lu ngapain disini?..." Tanya seseorang lagi yang baru saja datang juga, suaranya sudah tak asing lagi di telinga Jian.
"Maaf sebelumnya lancang masuk ruangan OSIS, gue cuman mau cari Hanan" balas Jian mulai tenang kala melihat Hanan yang sedang kebingungan dengan apa yang terjadi dan, Jian?
"Ji, kesini deh" panggil Hanan dan Jian langsung menurut.
Setelah menggapai tubuh Jian, Hanan lantas membawanya ke ruang seni yang tak jauh dari ruang OSIS.
"Lu cari apaan disini?, Kan jelas-jelas tadi Lo di telpon Malvin dan lu sendiri yang bilang suruh nunggu di belakang gedung sekolah dan sekarang Lo disini ngapain?" Tanya Hanan.
"Gue kesini karena ada clue yang nyuruh gue buat nemuin buku diary nya Fanza yang tersimpan di ruang OSIS, makanya gue cari karena pengen kasus secepatnya selesai" balas Jian serius.
"Lalu... Kenapa loker Fanza di kunci?" Tanya Jian yang langsung membuat Hanan membulatkan mata.
"Lu tahu dari mana kalau itu lokernya Fanza?" Panik Hanan.
"Karena, semua anggota OSIS lokernya gak dikunci lalu loker Fanza terkunci sendiri, mencurigakan kan" balas Jian yang kini mencurigai Hanan yang menyembunyikan buku diary itu.
"Berfikir secara logis Ji, Lo inget kan Fanza udah gaada, pasti kuncinya ada di dia, wajar dong kalau terkunci karena orangnya udah gaada"
Tok, tok, tok...
"Permisi, berkas rapat hari ini ada di loker gue, Han Lo bisa cek dan baca disitu, kita punya waktu 14 menit sebelum bel masuk bunyi dan Lo udah harus selesein itu. Besok kita udah ada kegiatan persiapan jadi Lo udah harus tahu apa yang seharusnya dilakuin besok" kata OSIS senior yang masuk ke ruang OSIS hanya memberitahu itu lalu pergi.
"Ehm, maaf tapi gue lagi sibuk. Besok kalau ada keperluan di sini Lo bisa hubungin gue jangan nyelonong masuk aja" kata Hanan yang kedengarannya mengusir namun dengan sopan.
"Iya. Han, nanti abis pulang sekolah kita ngelayat kan?" Ujar Jian sebelum membuka pintu OSIS.
__ADS_1
"Iya, kita bareng-bareng kesana, gak ada yang pulang duluan pokoknya selesai sekolah kita kumpul lalu berangkat bareng-bareng" balas Hanan.
"Oke lah" jawab Jian lalu menutup pintu ruangan OSIS.
"Huh... Kenapa ada-ada aja masalah dan kepentingan lain sih? Gue pusing..." Gumamnya.
◖⚆ᴥ⚆◗
"Gii... Gue kangen elo.." gumam seorang pemuda yang tengah meringkuk di lantai.
"Ka, lu kenapa dah? Aneh banget dari pagi" sahut seorang siswi yang kebetulan duduk di bangku belakang dekat dengan pemuda tadi duduk di lantai.
"Dari pagi? Tadi pagi dia masuk bahkan tas nya ada di bangku tapi gak ikut pelajaran, gatau kemana, dateng-dateng udah kayak orang gila" sahut siswi yang satu.
"Bolos palingan, udahlah"
"Woy!.. kalian berdua ngapain nggibahin Eka hah! Lo belom tau aja kalau dia baru aja kehilangan, dasar bodoh!" Lantang seorang pemuda yang kini berdiri di depan papan tulis, otomatis menjadi tontonan bagi seluruh murid di kelas tersebut.
"Malv udah, jangan bikin geger" kata seorang siswi di bangku depan.
"Siapa Lo ngatur-ngatur?! Siapapun yang ganggu temen-temen gue gak bakal gue biarin" sahut Malvin yang kini berjalan ke bangku belakang, bukan, menghampiri temannya yang terbaring lemah.
"Ka, jangan begini, kasian Gion" lirih Malvin menenangkan Eka yang sedari tadi tubuhnya bergetar.
"Hah?!.. Gion?! Gion... Crush gue? Kenapa Gion?" Panik seorang siswi yang mengaku Gion adalah crush nya.
"Gion di bunuh tadi pagi di belakang gedung ini, gue juga gak tahu asal muasal kejadiannya" balas Malvin tenang lalu menggendong Eka ke bangkunya.
"Fanya, lu boleh gak percaya, tapi gue yang nganter jasadnya ke rumahnya" tambah Malvin yang mampu membuat tubuh Fanya melemas.
Brukk...
"Drama banget, tcih"
__ADS_1