
Setelah perjalanan yang cukup jauh dari rumah, anak-anak pun sampailah di sekolah mereka. Tidak ada hal baru dan unik sedari tadi pagi, namun entah nanti.
Terdapat dua siswa yang mukanya pucat pasi dengan peluh membasahi sekujur tubuh walau ini masih sangat pagi untuk berolahraga.
Yang satu hanya diam membisu di bangku miliknya, namun peluh tak ada hentinya mengalir. Sedangkan yang satu memang berkeringat banyak namun tidak seperti yang pertama, ia duduk di bangkunya dengan satu buku besar yang ia hadap.
"Ji, Lo gapapa kan?"tanya Hanan yang menghampiri bangku Jian yang sedari tadi diam membisu Bertumpu tangan.
"Gue gapapa, cuman hari ini kurang enak badan" balas Jian yang kini beralih menaruh kepalanya dalam dekapan kedua tangannya yang ia taruh di atas meja.
"Terus ngapain nekat masuk sekolah kalo sakit? Mending istirahat di rumah" kata Hanan.
"Em, katanya hari ini bakal ada ulangan harian sebelum ujian praktek, makanya gue paksain masuk" balas Jian.
"Yaudah, semoga kuat seharian ya, gue mau balik dulu" ucap Hanan lalu meninggalkan Jian.
"Huh... Sebenarnya gue gak ada niat buat masuk sekolah, cuman si tua bangka malah ngertak, gak tahu apa gue lagi gaenak badan malah maksa" gumam Jian kesal sembari menyenderkan kepalanya di atas meja.
"Eh, tu bocah kenapa sih anjm" seru seorang siswa sembari menunjuk salah satu bangku.
"Woy, dia gak sadar!" Teriak seorang siswa lagi yang tengah menghampiri seseorang yang mereka tunjuk sebelumnya.
Sontak seisi kelas langsung penasaran dengan apa yang terjadi dan langsung mengerumuni seseorang yang dimaksud demi tahu apa yang terjadi.
"Ini gaada tisu gitu?! Darahnya banyak banget" kata seorang siswi yang kini tengah bersama seseorang yang dikerumuni.
"Ada di laci depan, ini gimana? Harus panggil guru gitu?" Kata seorang siswi kelas tersebut.
"Ya lapor ke wali kelas lah, ini dia udah gak sadar" sahut siswi yang sedang menangani siswa yang terkapar lemas dengan darah yang terus mengalir dari hidung.
Siswi tersebut pun langsung berlari keluar kelas demi ingin memberi tahu kan ke wali kelas keadaan salah satu muridnya.
"Renata! Lo kok panik sih? Ada apa?" Tanya Hanan yang kebetulan berada di luar kelas.
"Ituh, aduh gimana ya, Dion pingsan udah gitu darah terus keluar dari hidungnya, gatau lagi ah gue mau lapor ke wali kelas" balas seorang siswi yang bernama Renata tersebut.
Hanan yang selaku teman dekat. Dion pun langsung ikutan panik dan langsung masuk kelas Dion.
Apa yang ia lihat? Seorang siswa tengah duduk berpangku tangan lemah tak berdaya dengan bersimbah darah, sampai mejanya berwarna merah. Sebenarnya ia kenapa?
"Eh ini Dion kenapa kok bisa gini?" Tanya Hanan kepada anak-anak yang mengerumuni meja Dion.
"Gatau, tadi pagi dia dateng-dateng lemes gitu, mukanya pucet, eh sekarang malah begini" balas salah satu siswa menanggapi pertanyaan Hanan.
"Duh... Tisu nya habis! Siapapun tolong beliin yang gede biar cukup" seru salah satu siswa yang menangani Dion.
__ADS_1
Dibalik kepanikan dan keriwehan tersebut, terdapat seseorang yang tengah menyeringai puas dengan apa yang telah ia perbuat.
"Gue harap Lo mati sekarang juga, salah siapa ganggu rencana gue mulu, udah gitu suka ngajak berantem, cih" gumam seseorang.
( ꈨຶ ˙̫̮ ꈨຶ )
Disisi lain, mereka yang tidak mengetahui hal apa yang kini tengah terjadi disalah satu kelas 11 pun seperti khalayak anak-anak pada umumnya. Ada yang di kelas tengah bersantai dan ada juga yang berada di kantin guna mengisi perut.
"Lo pada liat si Dion gak sih? Sedari tadi pagi gue gak liat dia" tanya Ekanta kepada Gion teman ke kantin nya.
"Gatau, coba aja chat Hanan, dia emang gak sekelas sama Dion tapi mereka deket siapa tahu dia lagi sama Dion" balas Gion.
"Hem, kok firasat gue gak enak ya, ini yang lain juga pada kemana sih heran gue lama-lama" ucap Eka.
"Jangan mikir aneh-aneh, mungkin aja mereka lagi sibuk" sahut Gion.
"Gue telfon Kenan ya biar kesini, dia jago banget kalo soal mencair kan suasana" kata Gion dengan senyuman jahilnya.
"Terserah lu dah, kalo gue mau nelpon Jian" sahut Eka lalu mengeluarkan ponselnya.
"Jian, Lo masih dikelas?"
*Halo ka, iya gue ada dikelas tapi suasana lagi gak mendukung*
"Hah maksudnya?"
"Yang bener aja Lo?! Jangan ngaco ji"
*Iya, disini udah ada Hanan, Kenan sama Malvin, lu sama Gion suruh kesini dah mendingan kita lagi kumpul dikelas gue*
"Oke-oke, gue sama Gion otw"
Tut.. Tut...
Setelah panggilan usai dan Eka menaruh ponselnya ia reflek menatap Gion yang tengah menatapnya juga bahkan sedari tadi ia panggilan dengan Jian.
"Gi, Lo kenapa? Sakit?" Tanya Eka was-was.
Tak ada jawaban, namun Gion terus menatap kearah belakang dengan raut muka ketakutan.
"Gi, Lo kenapa heh?!" Panik Eka yang melihat pergerakan Gion yang mulai aneh.
"L-lo tadi abis panggilan sama Jian dan dia bilang kalo Dion dibawa ke rumah sakit kan?" Tanya Gion mulai buka suara.
"Iya bener, ayo apa lagi yang mau Lo sampaikan?" Balas Eka dan terus menggiring Gion agar mau melanjutkan ucapannya lagi.
__ADS_1
"Gue barusan liat Dion kulit nya pucet dengan darah membasahi sekujur tubuhnya bahkan seragam putihnya udah berubah jadi merah darah. Dion gak itu kan?" Ucap Gion ketakutan.
"Gi, mungkin Lo halusinasi deh, ini minum air putih yang banyak" kata Eka sembari menyodorkan sebotol air mineral.
"Duh gue takut terjadi sesuatu sama Dion... Kita ke kelas nya Jian aja yok"
Tanpa basa-basi mereka pun bergegas berlari menuju kelas Jian dimana teman-teman yang lain berada.
"Huh... Terlambat, udah terlambat" gumam Malvin dengan tatapan kosongnya menatap kearah pohon dekat kelas.
"Apa yang terlambat?" Tanya Eka tak paham.
"Terlambat sudah, kita kehilangan" ucap Jian juga dengan tatapan kosong.
"Eh ini ada yang bisa jelasin? Kita ga paham" tanya Gion yang juga kebingungan.
Tiba-tiba saja Hanan menarik tangan Gion dan Eka keluar kelas.
"Hanan, sebenernya apa yang terjadi? Kalo masalah Dion gue udah tahu, tapi kenapa mereka bilang sudah terlambat? Gue gak paham" tanya Eka yang sudah tak sabar mendengar jawaban dari Hanan.
"Dion kehabisan darah, dan kalian seharusnya tahu apa yang kemungkinan terjadi kan" balas Hanan.
"Gamungkin!" Seru Gion tak percaya.
"Dion... Kita kehilangan dia?" Tanya Eka lirih.
"Iya, seharusnya tadi kita bisa cepat sedikit pasti Dion selamat" balas Hanan dengan sayu.
"Berarti gue tadi abis liat arwahnya Dion dong? Tadi pas dikantin dia hampiri gue dengan seragam yang udah berlumuran darah dan kulitnya pucet banget" kata Gion seraya mengingat-ingat.
"Tadi Dion kondisinya emang begitu, seragam nya udah berlumuran sama darah sampe mejanya udah warna merah, itu udah ditutup sama gorden yang di lepas buat nutupin mejanya dia" sahut Hanan.
"Astaga... Gue gak nyangka bakal kehilangan Dion, kita sebelumnya aja udah kehilangan Fanza eh sekarang ada yang nyusul. Nyesek banget" seru Eka yang kini duduk di teras kelas.
"Dion... Gue gamau Lo pergi.." rintih Malvin, ia sedang menangis.
"Kalian pada mikir gasih kalo Dion itu sebenarnya dibunuh sama seseorang?" Tanya Gion dengan serius.
"Hah? Jelas-jelas dia tadi dikelas-" balas Eka namun langsung di sela oleh Gion.
"Kayak dikasih racun gitu, atau sesuatu seperti obat yang bisa bikin mimisan parah, gue juga gapaham tapi mungkin aja bisa begitu" lanjut Gion.
"Atau mungkin dia diancam terus saking paniknya mimisan parah jadi kehabisan darah" ucap Hanan.
"Apa Dion punya polip? Kalo punya bisa jadi karena itu" seru Gion.
__ADS_1
"Weh, anjng siapa Lo?!"