The Riddle

The Riddle
15. Accusation


__ADS_3

Se usai sekolah mereka menepati janji untuk berkumpul dahulu di parkiran sekolah karena Hanan ingin mereka menunggunya sebentar saja karena ada rapat dadakan yang diadakan setelah pulang sekolah bagi anak OSIS.


"Hanan nyusahin banget anjr, buang-buang waktu" kata Kenan kesal menunggu.


" Ah elah baru aja 13 menit rapat udah di harepin keluar aja, gak paham gak usah berkomentar" sahut Malvin yang memang sedari tadi emosinya naik turun.


"Heh, kenapa malah jadi panas gini sih, padahal kemaren-kemaren adem ayem" lerai Jian.


"Karena Gion di bunuh" jawaban serentak oleh Malvin dan Kenan.


"Dan kita belum tahu siapa pelakunya" tambah Malvin dengan ekspresi kurang suka kepada Kenan.


"Jadi Lo nuduh gua? Lo pikir gua tega bunuh temen-temen gue sendiri? Gue bukan sikopat cok.." ujar Kenan berdiri.


"Kalian ngapain sih? Buang-buang tenaga, pelakunya sama kayak yang bunuh Fanza, Aleena, Dion dan Gion. Kalau kalian simak clue yang di temuin waktu kejadian pasti kalian tahu siapa pelakunya" kata seseorang yang entah sejak kapan sudah berada di belakang mereka.


"Han, Lo tau dari mana heh?" Panik Eka yang langsung berbalik menghadap Hanan.


"Dari clue waktu kejadian" balas Hanan santai.


Disini, dua orang sedang panik atas apa yang di ucapkan Hanan.


╮(╯_╰)╭


Suasana sendu dan Isak tangis yang menjadi melodi dari pemakaman siang hari ini. Sangat di sayangkan salah satu anak yang terpandai di antara mereka harus pergi. Namun itulah yang di rencanakan oleh sang pelaku, dimana ia mencari orang-orang yang sudah mengetahui banyak hal tentang kejadian Fanza waktu itu dan yang sudah mengetahui identitas nya.

__ADS_1


Kalau begitu, apa yang di ketahui oleh Gion sampai ia dibunuh?


Sebuah misteri yang makin hari bukannya terselesaikan malah terus bertambah, yang seharusnya usai ternyata menyimpan tanda tanya yang besar.


Bukankah setiap awal pasti ada akhir? Namun apa ini? Kenapa tidak kunjung usai dan berakhir? Salah apa mereka dahulu sampai mendapat mala petaka seperti ini?


Semakin banyak korban yang terbunuh makin banyak teka-teki dan tanda tanya besar yang selalu terselip di dalamnya, entah sekecil apapun itu pasti ada. Dan itulah yang membuat masalah tak kunjung usai dan terus kian bertambah.


Padahal teka-teki kematian Fanza saja belum terpecahkan dan di tambah oleh kematian Dion yang juga mengagetkan karena mendadak hanya karena darah yang tak kunjung berhenti keluar dari hidungnya.


Gion mendapat sebuah pencerahan yaitu ia harus menemukan sebuah buku diary milik Fanza yang katanya tersimpan di ruang OSIS yang sampai sekarang belum ditemukan keberadaan nya.


Dan dengan bodohnya ia meninggalkan jasad temannya dan memilih untuk menemukan buku diary yang entah benar atau tidak disimpan di ruang OSIS. Dimana Fanza dahulu adalah salah satu anggota OSIS juga yang lalu terbunuh akibat kesalahpahaman.


(˘・_・˘)


"Ada hal yang gue anggap hanya bercandaan, tapi malah terjadi" ucap Kenan sayu menundukkan kepala.


"Apa?" Tanya mereka serentak.


"Gue pernah buat candaan Gion bakal mati kalau terlalu pintar, dan sekarang?" Lanjutnya.


"Dan Lo pikir ucapan Lo di kabulin sama tuhan? Itu kan udah takdirnya Ken, Lo jangan bersusah hati, itu bukan doa Lo dan keinginan Lo jadi itu bukan salah Lo" sahut Malvin yang kini merangkul pundak Kenan.


"Tetep aja gue ngerasa bersalah, mau gimana pun gue udah bicara begitu dan kejadian, gimana gak takut" balas Kenan bingung campur panik dan gelisah.

__ADS_1


"Kalo itu bukan salah Lo yaudah jangan di pikirin, dia juga gak bakalan hantuin Lo cuman gara-gara pernah bilang begitu ke dia, dia kan temen Lo dan juga temen kita, gausah takut, kecuali Lo punya salah" ujar Hanan.


"Lihat, kita sisa segini dan mungkin bakalan bertambah berkurang, asal korban selanjutnya bukan gua" ucapan asal-asalan terucap dari mulut Eka yang terlihat hilang kendali.


"Ka! Jangan macem-macem!" Teriak Jian saat Eka yang kini memegang sebuah pisau yang entah darimana ia dapat, menyodorkan nya ke arah Jian, tentu Jian panik.


"Ka! Lu apa-apaan sih? Taroh gak pisaunya?!" Panik Hanan juga yang posisinya dekat dengan Jian, alhasil ia juga yang menjadi target.


"Kenan.. Kenan munafik!!... Jauhin dia segera!.." geram Eka yang... Bukan seperti Eka.


"Tch, dia kerasukan ternyata" kata Malvin yang lalu berdiri mencoba menarik tubuh Jian dan Hanan.


Sedangkan Kenan yang namanya di sebut hanya bisa terbelalak tak percaya atas apa yang diucapkan oleh Eka.


"Ken!!.. apa-apaan coba, minggir bagsat, Lo yang jadi target dia!..." Panik Jian yang menyadari arah pisau itu mengarah ke arah Kenan berada.


"Fanza, itu Lo?" Pertanyaan lembut terucap dari Malvin yang kini berada di belakang tubuh Eka.


"F-fanza?.."


"Kalian temen-temen gue, gue wajib jaga kalian, terkecuali Kenan..." Kata Eka, ah bukan, kerasukan arwah Fanza.


"Kenan salah apa sama Lo?" Tanya Hanan, yang tangannya tak lepas dari tangan Jian yang ia genggam erat.


"Aleena hampir mati gara-gara di racun oleh Kenan, karena gue udah tahu apa motifnya jadi dia ber keinginan bunuh gue dan berhasil, namun ternyata obsesi buat bunuh Aleena terlaksana beberapa hari yang lalu, dia buat gue kecewa. Awalnya dia pengen rebut Aleena dari gue namun gagal dan percobaan pembunuhan Aleena yang gagal, lalu gue di bunuh, lalu Aleena. Dia bener-bener munafik" geram Fanza dengan tatapan yang tak lepas dari Kenan.

__ADS_1


__ADS_2