The Riddle

The Riddle
09. Funeral day


__ADS_3

Pagi hari di hari Minggu yang cerah, dimana ini adalah hari yang paling dinantikan karena libur sekolah.


Tak ada hal yang spesial disini, rumah berantakan, kamar berantakan dan juga hatinya bergemuruh rasa penyesalan dan rasa sedih setelah kehilangan. Siapa yang tidak berduka atas kematian kedua orangtuanya? Pagi ini hari pemakamannya, ia patut bersedih kan?


Dirundung rasa marah dan tersirat rasa benci kepada seseorang yang kemarin malam ia temui di bawah lampu jalan. Lantas ia berfikir, apakah seseorang kemarin yang membuat kedua orangtuanya mengalami kecelakaan? Lantas bagaimana dia bisa tahu bahkan sebelum sang Tante menelepon?


Baiklah mungkin ia akan menaruh curiga juga dendam padanya.


"Malvin, ayo pergi membeli bunga sebelum mereka datang dengan ambulans" teriak sang Tante dari dapur. Sang Tante memang langsung pergi menemani keponakannya ini setelah mendengar kabar kalau sang adik yaitu ibu dari Malvin dan suaminya ayah Malvin mengalami kecelakaan.


Malvin. Iya Malvin.


Malvin tak menjawab, lantas ia bangkit dari kasur dan sedikit merapikan rambutnya yang berantakan lalu keluar dari kamar. Jangan lupakan penampilan nya yang kini sangat lusuh dengan wajah membengkak dan mata sayu setelah menangis.


Malvin bukan anak yang lemah sebelumnya, namun di keadaan seperti ini ini adalah hal wajar kan?


Saat sukses menutup pintu kamarnya ia langsung disambut dengan dekapan erat dari belakang. Sangat erat.


"Dek, gue tahu apa yang Lo rasain soalnya gue pernah berada di posisi Lo" bisik seseorang dari belakang. Siapa? Kakak keponakan laki-laki nya, anak dari tantenya yang kini berada dirumah nya.


"Bang, jangan bahas itu lagi tolong, gue belom sanggup lupain" balas Malvin dengan raut malasnya, ia mencoba melepaskan tangan yang melingkar di perutnya.


"Masih inget kan waktu itu lo Dateng ke rumah gue, Lo waktu itu masih kecil banget, dan gue nangis sesenggukan di pojokan kamar? Rasanya kehilangan gak sehari doang bisa hilang, Malv" kata seseorang yang Malvin panggil bang alias Abang atau kakak.


"Waktu itu Abang masih umur lima tahun?" Tanya Malvin yang mulai tertarik dengan obrolan yang dibangun kakaknya itu.


"Iya, paman mu juga korban lakalantas, hari itu gue terpukul baget waktu denger berita kematian ayah, apalagi tantemu yang langsung pingsan. Gue udah kehilangan ayah sedari umur lima tahun sampe sekarang usia gue sembilan belas tahun" ucap sang kakak.


"Bang, kalau sekaligus dua gimana bang? Gue sekarang udah yatim-piatu" kata Malvin yang langsung mendapat taplokan keras dibibir oleh sang kakak.


"Hust omongannya! Gak boleh bilang yang aneh-aneh, Lo juga kan punya Tante, punya gue, punya keluarga yang senantiasa ada sama Lo, jangan merasa sendiri, Malv, gue tahu, tuhan tahu kalau Lo kuat, makanya Tuhan kasih cobaan yang berat buat Lo, tuhan mau tau seberapa kuatnya Lo hadapin dunia tanpa mereka orang tua Lo" jelas sang kakak.


"Gue boleh gak setelah ini ikut Abang sama Tante aja? Gamau tinggal sendiri, takut" ujar Malvin sedikit merengek.


"Takut gimana maksudnya? Mereka orang tua Lo masa Lo takut sih?" Sang kakak malah balik bertanya.


"Bukan gitu, kemaren- ehm, enggak jadi" balas Malvin yang langsung ingat dengan kejadian tadi malam, bisa bahaya kalo abangnya tahu.


"Kemaren kenapa? Lo nangis? Lo syok? Atau ada kejadian yang buat Lo gimana-gimana setelah dapat kabar?" Pertanyaan bertubi-tubi ia lontarkan dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Iya, kemaren syok abis itu nangis" balas Malvin yang mulai netral tidak panik lagi.


"Ooh.."


"Bang, katanya Tante mau beli bunga, gue cabut dulu ya" kata Malvin lalu melepaskan tautan mereka. Apa? Kan sebelumnya di dekap dari belakang sama Abang nya. Mikir apa Lo?!


"Mau aja dipancing, emang ya kalo suasana kayak begini otak itu gak fokus dan bawaannya serius mulu" sahut sang kakak dari belakang yang sudah di tinggal Malvin agak jauh.


"Ha?..." Bengong Malvin kala ia tak paham apa yang dimaksud sang kakak.


"Tadi pagi banget gue udah beli, Lo di panggil cuman buat keluar kamar doang, udah sana mending mandi ganti baju yang rapi" ucap sang kakak.


Malvin yang sudah terlanjur memasuki area dapur pun lantas berbalik, yakali mandi gak bawa handuk.


/ᐠ。ꞈ。ᐟ


Di hari gemuruh nya Malvin, malah ada yang sedang berpesta. Yang hari ini ulang tahun. Orang paling misterius nan cuek. Ekanta.

__ADS_1


"Kak... Mau coklatnya... Copotin buat aku..." Rengek Sherina yang dengan susah payah menggoda sang kakak untuk memberikan sebongkah coklat yang menjadi toping kue.


"Nanti dek, Lo diajarin sabar gak sih?! Ngeyel mulu dari tadi, kayak ayam, berisik" cemooh sang kakak yang langsung meninggalkan sang adik di dapur. Karena ia tahu kalau sang adik pasti tidak bisa meraih kue yang berada di meja, secara meja tersebut tinggi dan juga kursinya tinggi, mustahil bagi adik sepertinya bisa naik.


"Ck, kenapa perasaan gue gak enak ya hari ini, kayak ada sesuatu yang mengganjal di hati" gumam Eka sembari memegangi dada sebelah kiri nya.


"Gue tebak ada sesuatu yang udah terjadi, entah itu siapa tapi yang jelas diantara temen-temen gue kena musibah" lanjutnya, ia lantas mengambil ponselnya yang ia taruh di atas meja belajar.


Dan membukanya, jreng jreng jreng...


Kemarin


Jangan jadi sesat


Hanan


|Guys, gue tadi dapet kabar bahwasanya orang tua dari Malvin terlibat kecelakaan dan kehilangan nyawa. Doa buat mereka berdua ygy🤲


Kenan


|Heh beneran?! Dua? Sekaligus? Wah gila..


Gion


|Iya apa yang di ketik Hanan itu bener, baru aja tadi jam 18:47


Jian


|Jan bikin gemuruh, disuruh doain ya doain bukan malah gibahin


Hanan


Kenan


|@Ekanta, lu dimana bangsat?


Gion


|Kenn....


Kenan


|Yya


Jian


|Alfatihah buat ortunya Malvin, @Malvin🤲


Hanan


|🤲


Gion


|🤲


Kenan

__ADS_1


|🤲


Kenan


|Tumben si Jian gak sesat


Malvin


|Makasih semuanya doanya, semoga Khusnul khatimah, kalian emang temen terbaik gue


Jian


|Sans Malv 😉


Kenan


|Ini si Eka kemana sih? Udah turu mungkin ya, gimana sih gak ngucapin


Hanan


|@Kenan, ini bukan waktunya bercanda, Ken


Kenan


|Maaf


Hari ini


Hanan


|Guys, nanti pukul 07:00 semua harus udah ada di rumahnya Malvin ya, kita ikut ke pemakaman


Gion


|Siap...


Jian


|Ya, nanti gue nyusul


Kenan


|@Jian, Lo dimana?


Jian


|Gua lagi di rumah nenek, hari ini pulang pagi, tapi bakal gue usahain jam 7 udah disana


Kenan


|Owh...


Eum... Sedikit syok ya si Eka, baru buka hp buka chat grup tiba-tiba di suguhi sama berita kematian.


Mumpung masih bisa menuntut waktu ia pun langsung beranjak mengambil handuk dan segera mandi, tak mengindahkan kalau hari ini hari ulangtahun nya dan sang adik yang bersusah payah mengambil coklat diatas meja dapur.


Melihat bayangan sang kakak lewat, Sherina lantas berteriak, "kak coklat!!..."

__ADS_1


Mampus.


__ADS_2